JIKA SAJA DIA…

Suasana di luar Jozen Kaatje Cafe hanya terdapat beberapa gelintir orang yang tengah lalu lalang. Bumi Netherland diselubungi rerintik salju. Menatapi satu per satu bulir putih salju yang jatuh itu, ada keinginan besar yang melonjak-lonjak dalam dadaku yang semakin kencang berdebar. Hanya Tuhan yang paling tahu apa dilema yang bertasbih dalam hatiku.

Bagaimana ini? Aku dan dirinya berada dalam satu ruangan yang sama, hanya berdua saja. Hatiku tampak kebat-kebit. Kurapatkan mantel berbahan polar tebal dengan corak ungu gelap itu di badanku. Kuhentakkan burai rambut coklatku yang panjangnya sudah melebihi batas pinggang. Dari balik kaca, di samping tempatku duduk, kuamati lamat-lamat ia tampak menatap sekilas ke arahku. Lalu kembali menenggelamkan tatapnya dalam buku. Menekuri tarian kata-kata yang berbaris rapi di situ.

Dia seorang arsitek muda yang dingin, sama sekali tak bermurah hati pada perempuan, dan kaku seperti tak memiliki sentuhan perasaan bernama kasih sayang. Aku selalu keki dibuatnya. Takut tak dianggap dan selalu tak yakin untuk memulai percakapan lebih dulu. Entahlah, aku memilih untuk tak terlalu memusingkan keadaan terjepit seperti ini. Tapi lama-kelamaan ini toh menggangguku juga.
“Nona Muda, pesananan Gile Great-mu datang.” Sapa seorang waitress sembari mengangsurkan segelas minuman paduan sari ginger, lemon, dan green tea. Memungkasi pagar lamunanku.
“Aaah, iya. Terima kasih.” Aku menyambutnya dengan mengalihkan kepala yang sedari awal kuatur miring ke arah jendela menjadi mengarah pada sirobok matanya. Sang waitress kembali menyuguhkanku senyuman dalam.

Kutambahkan sepotong dadu gula—sengaja hanya sepotong, aku suka sensasi rasa segar ginger, asam lemon, dan sepatnya green tea—lalu kuaduk-aduk ringan segelas pesananku itu sebelum kunikmati. Tentu saja, kepalaku ikut merunduk saat melakukannya. Sang waitress masih di dekatku, belum juga beranjak dari tempatku duduk. Dia lantas mengambil kursi, mengatur arah duduknya berhadapan denganku. Mencuri pandang pada wajahku sekilas.
“Tampaknya ada yang mengganggu kenyamanan hatimu, Nona? Apa kau baik-baik saja?” tanya sang waitress tampak khawatir atau jangan-jangan hanya sekadar ingin tahu. Aku kembali mendapatinya dengan wajahku yang sedikit menyimpan kejut.
“Tidak. Tidak. Aku baik-baik saja.” Aah, sial. Kenapa saat mengatakannya aku malah menatap ke arah lain? Saat di mana kedua lensa matanya bersitatap langsung dengan kedua layar pandangku. Sorot mata dengan tanda tanya yang begitu besar.

Waitress itu seakan paham dan berusaha menghargai privasiku. Meskipun belum mendapat jawaban yang memuaskan, dia kemudian kembali ke bilik kitchen room-nya yang terbuka pada bagian depan. Kudengar samar-samar, rekan kerjanya menanyainya kenapa wajahnya tampak berkerut begitu. Dikatakannya bahwa hatinya turut sedikit khawatir akan keadaanku.

Diberi setangkai mawar berwarna merah darah di hadapan sahabat-sahabatmu beberapa hari lalu itu rasanya seperti melayang. Perlakuan seperti itu akan membuat kata-katamu bersembunyi di balik tercekatnya tenggorokkan, dada berdebur kencang, dan dont know what to do. Ada bongkah-bongkah rasa yang meruah penuh dalam jiwa. Meski sederhana, selalu terasa istimewa saat hadirmu dianggap begitu berharga olehnya. Namun, saat bertemu berdua begini, kau seolah-olah orang asing di hadapannya? Kau akan sedikit kesal, menahan gurat-gurat kecewa yang meskipun kecil, dan di dalam hati akan uring-uringan sendiri. Saking bingungnya apa hal terbaik yang mesti kau laku.

Haruskah aku menyapanya duluan? Memanggilnya? Menyebut namanya? Dan…
“Mau membaca buku astronomi bersamaku?” tawarnya kemudian.
“Boleh. “ Deg… Deg… Deg… Ya Tuhan. Hatiku berdebur semakin riang. Matanya kembali menarik persetujuanku.
“Buku apa yang kau suka?” Diangkatnya kemudian tubuh tinggi itu dari kursi duduk. Lantas mengambil tempat duduk di depanku, ah bukan… setelah di dekatku, ia memilih untuk duduk di sampingku.

Oh Tuhan. Hati ini sudah mau lepas kiranya. Syukurlah dia tidak jadi duduk di depanku. Aku akan kehilangan konsentrasi membaca, akan lebih gugup kalau didadapatinya dengan jelas rona wajah ini memerah, akan terus-terusan terpesona kalau wajahnya searah pukul 12 denganku.
“Pemandangan di luar kelihatan sangat indah ya dari jendela ini. Pantas dari tadi betah menatapi jendela.” Wajahnya mengukir senyum jenaka. Nyengir kuda.
“Begitulah.” Sahutku agak malu. Rupanya ulahku ketahuan. Mati aku.
Dibukanya buku Astronomi Pole itu. Saat bertemu pada halaman yang berpapar tentang Andromeda, ditunjukkannya buku itu kepadaku. “Jelaskan padaku tentang sejarah andromeda.” Telunjuknya menunjuk-nunjuk materi yang dimaksud. “Kudengar ayahmu seorang astronom terkenal di negeri ini? Tidak mudah rasanya buatku untuk memahami hal ini sendirian…” Candanya kemudian.
“Ah, kau bercanda, Mister Arsitek. Sepertinya kau tengah mengujiku?” Balasku. Kukatakan ini dengan ringan karena hampir sebagian besar desain ruang atau bangunan yang diciptakannya kerap berbau hal-hal astronomi. Aku tahu itu, aku selalu mengamati perkembangannya. Stalker setia web desainnya.

Selanjutnya, ia menunjukkan scetch book yang penuh berisi desain rancangan arsitekturnya. Ada kilau hijau, biru cerah, pink, ungu, dan putih yang akan menjadi corak warna-warni dinding ruangan pada sebuah rumah.
“Rumah buat siapa, sih?” Tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Rumah?” Sergahnya halus, seraya menggelengkan kepala. “Ini kafe, kok. Kafe Jozen Kaatje tiga tahun lagi.” Aku mau tak mau terperangah. Terus kenapa ditunjukkan kepadaku?

Dijelaskannya bahwa betapa ingin rasanya kafe terfavorit dekat Keukenhof Park ini menjadi tempat istirahat yang nyaman, rujukan utama orang-orang untuk mencari inspirasi, tempat menuang segala kenangan lewat sajian makanan dan minumannya yang terkesan klasik, sederhana, dan terus akan membuat rindu.
Kuantar segala pemaparan mimpi itu dengan sebaris senyuman bangga. Rupanya, aku disukai oleh seseorang yang dari luar tampak sederhana, sangat kaku, namun di dalam hatinya sangat hangat begini. Saat kemudian kutanya apakah mewujudkan Jozen Kaatje Cafe menjadi seindah rancangan arsitekturnya itu pasti akan membuatnya bahagia?
“Tentu saja. Kafe ini kan punyaku.“ Jawabnya sembari membelai lembut kepalaku. Jawaban yang begitu mencengangkan hati dan perasaanku.
“Jadi? Kafe ini? Buku-buku itu? Kamu?” Berondongku dalam pertanyaan yang seakan-akan tak pernah habis untuk dilontarkan.

Dia tampak tertawa. Penuh suka ria. Dan baris-baris mutiara putih itu membuatku bersalawat. Betapa, karisma apa adanya dari orang satu ini sungguh membuatku tertawan.
***
Kuberikan buku-buku astronomi itu kepada siapa pun yang dengan sengaja memintaku. Kupecahkan botol kaca yang di dalamnya tertulis puluhan mimpi kami berdua. Kubuang kotak-kotak hadiah penuh barisan love berwarna bebungaan musim semi itu di dalam bak sampah depan rumah. Kubakari surat-surat cinta kami di dalam kobaran api yang menyala-nyala. Dalam nyanyian isak tangis dan derasnya dawai air mata.

Hanya dua saja yang masih tertinggal. Satu, lukisan bungan teratai dengan banyak ikan koi putih berpalet orange muda kemerah-merahan yang sedang asyik berenang kesana-kemari. Lukisan kenangan berukuran 2 x 1 meter itu itu masih bertengger rapi di dinding ruang tamu, ayahku sangat menyukainya. Dua, sketsa seorang gadis muda tersenyum anggun dan manis saat berdiri di samping seorang lelaki yang tengah asyik menabur rancangan gedung-gedung tinggi, yang tergambar pada tampak muka kaos panjang putih. Kaos itu pun masih tersimpan rapi di dalam lemari baju, kakak perempuanku memintaku menyimpannya untuk keponakanku.

Apa memang begini rasanya ditinggalkan mantan? Seminggu. Sebulan. Setahun. Dua tahun. Tiga tahun. Hatiku masih memiliki perasaan yang sama, luka. Luka lama itu akan seperti digariti cuka saat beberapa hari lalu dari kepulangannya, aku bisa dari jauh menatap wajahnya yang kini justru semakin tampan ketika kami tak lagi bersama.

Mengerikan.

Dan batinmu akan semakin tercekik lebih mengerikan tatkala begitu ingin kau datang ke kafe indah miliknya, tapi takut disangka dalam hatimu ini masih berseliweran namanya.

Bukankah di depan beranda kafe itu juga engkau dilupakan? Dia pergi, pamit pada semua orang. Menitip pesan singkat pada sahabat-sahabatmu, pada karyawan-karyawannya, tapi tak satupun yang ia tinggalkan sebagai kenangan manis terakhir untukmu. Bahkan saat kau hubungi lewat SMS, undelivered. Kau telfon, tak aktif. Kau WA, kau hidupkan surel, semua line medsosnya off. Pedih, bukan? Kepergiannya terlalu halus, sekaligus terlalu menyakitkan.

Dia. Aah, dia memang selalu terlihat cuek, tapi penuh perhatian. Dan kau yang terlihat perhatian, tapi sebenarnya begitu cuek. Hubungan kalian itu terlalu membingungkan, tahu. Dan kau ingin kembali kesini? Untuk sekadar mengenang? Kau sungguh… Hei, kau perempuan. Kau tahu kata itu, bukan? Yang dengannya, kau harus pandai-pandai menjaga harga diri. Protes keras ini membetot-betot dalam hati. Tapi aku sudah tak tahan. Sampai kapan aku akan dihantui kenangan demi kenangan yang terus berkejaran di labirin otak kanan? Sampai kapan…

Sampai di sini aku berdiri bersiap menghadap pintu yang terbuka, dibukakan oleh waitress kafe dari dalam ruangan. Kutarik nafas dalam-dalam. Bersiap bertemu atau tak bertemu siapa pun yang aku kenal. Kubenahi letak sisi jilbab biru safirku saat kedua tatapku bersirobok dengan langkah-langkah seseorang. Pipiku hanya bisa mengukir senyum sekilas saat dia melambai ke arahku.

Aku memilih duduk di tempat yang sama dengan beberapa tahun lalu. Di tempat terpojok, paling dekat pada sisi jendela kaca. Hanya bedanya kini adalah musim semi. Semoga musim ini berpengaruh baik untuk hatiku. Semoga Tuhan menambahkan kebersihan dan kemurnian di dalam jiwa, seperti nama tempat ini: Jozen Kaatje Cafe.
“Mau membaca buku ini bersamaku?” Tawarnya kemudian saat mengambil tempat duduk searah jam dua belas denganku. Bibirku masih lumpuh kata. Terlalu terkejut dengan keberaniannya.
“Boleh. Kau suka buku apa?” Sial. Kenapa saat mengatakannya aku malah menatap ke arah lain? Dia jadi mengikuti arah pandangku. Serta-merta langsung mengambil langkah duduk di sampingku.

Di luar jendela, tampak berdiri sesosok lelaki berperawakan gagah, manis, dan tinggi. Saat di mana kedua lensa matanya bersitatap langsung dengan kedua layar pandangku, sorot bahagia memancar sempurna pada bola matanya yang berwarna hijau zamrud. Diukirnya tulisan semu di kaca dengan jari telunjuknya.

Titip sebentar ya. I miss you.

Aah, mantan! Ingin rasanya aku menjitak orang itu jika posisinya berada dalam jangkuangku. Sayangnya…
“Tante, aku mau diceritakan yang ini…” pintanya manja sembari menunjuk-nunjuk materi bacaan berjudul Andromeda. “Rasanya aku kesulitan deh, untuk memahami bacaan ini sendirian.”
Aku nginyem. Menggerutu dalam hati. Merasa greget, seolah diambrukkan kembali dalam kejadian kebersamaan masa lalu.

Ooh, Tuhan. Sebetulnya, bukan orangnya yang kadang-kadang suka susah membuat move on. Melainkan kenangan-kenangan kecil seperti ini. Kenapa sih susah sekali berdamai dengan kenangan yang sebelumnya sempat indah dirasakan? Semoga ini ikatan terakhir dari sebuah perusahaan hati yang bernama perasaan. Ya, semoga.

*****Ini, nyebelin ih ngebuat tulisan kayak gini. Lama banget selesainya, banyangin aja dari pukul 11.00-15.41 WIB. Susahnya amit-amit ya kalau gak memiliki pengalaman real mah.****

#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOORChallenge9‬
‪#‎MultiPotmagneticWriter‬

BG

WINTER MURAJA’AH

Maka aku mendatangi masjid besar itu. Tempat di mana aku merasa paling nyaman untuk menghafal pelajaran Biologi atau tahfizh qur’an, selain di belakang kandang ayam yang telah dialihfungsikan sebagai tempat mojokku dalam belajar.

Dan di antara sekian tempat yang luas dalam masjid jami’ Islamic Center, aku paling nyaman memilih tempat di balik hijab hijau tua yang tebal dan tentu saja sangat lebar, sebagai pertanda batas antara jama’ah laki-laki dan perempuan. Di masjid inilah aku pertama kali bertemu dengannya. Menyapai punggungnya dari jauh yang selalu saja terlihat tanpa sengaja.
Bahkan kali ini pun… Punggung tegapnya tetap khusyu merunduk. Melakukan murajaah pada ayat-ayat suci Al-Qur’an, tepatnya juz 27. Surat yang tengah dilantunkannya adalah surat An-Najm. Barisan bintang-bintang. Aku sangat menyukai bunyi surat ini. Aku selalu jatuh hati pada gugusan bintang. Sinarnya kemerlap sederhana menyinari kegelapan malam.

Aku seketika dibuat merinding. Merasa bergidik sendiri, dengan getar halus yang berdesir di dalam hati. Bibirku begitu erat merapal istighfar. Aku merasa sangat berdosa, datang ketempat ini untuk malah secara tak sengaja mengotori hati. Sebab apa? Telah kuhafal pula surat itu. Malah baru kemarin kusetorkan pada ukhti mudabbirah. Dan aku semakin merasa malu pada diriku sendiri, pada Tuhan. Betapa halus tipu daya setan melemparkan aku pada perasaan seperti ini. Apalagi, saat di pikiran ini melayang-layang pada awal surat juz 29, surat Al-Mulk ayat 5. Yang di dalamnya dikatakan bahwa sebenarnya Allah telah menjadikan bintang-bintang itu sebagai senjata untuk melempari setan.

Bergeragaplah hatiku untuk segera mundur dari tempat ini. Menjauh, sejauh-jauhnya untuk menolong hatiku yang sudah dibuai angan-angan duniawi. Besok, besok, dan besoknya lagi aku tak pernah belajar di masjid ini seorang diri, kecuali bersama barisan teman-teman atau para muslimah mualaf untuk mengikuti kajian bulanan.

Karena aku yakin tak ada seorang pun yang bisa menolong kemurnian hatiku jika bukan aku sendiri. Tak kuceritakan risau ini pada siapa-siapa, sebab keluhan hanya akan menambah deret permasalahan. Sementara target hafalanku yang masih 20 juz lagi harus segera aku rampungkan.
***

Miniatur besar bertulis ‘I AMSTERDAM’ menyambut hadirku. Hembusan angin winter menderai-deraikan syal biru tebal yang tengah aku kenakan. Aku mengenakan winter coat tebal sepanjang mata kaki yang berwarna blue lagoon, sepatu tebal anti ceblok salju, dan kupluk klasik berbahan bulu domba halus yang kusarangkan di atas kepala. Penutup hijab panjang pashminaku. Tanganku menggenggam erat sarung tangan yang telah dengan rapat menutupi keseluruhan jemari dan tanganku. Hari ini dingin sekali. Aku buru-buru menuju tempat yang kumaksudkan untuk kutandangi.

Seminggu lagi, aku akan mengikuti ujian hafizhah untuk 30 juzku. Seminggu itu seolah masih lama karena berbilang tujuh hari, tapi rasanya akan begitu cepat terlalui. Sehingga kembali ke sinilah aku sekarang. Dengan kekuatan hati yang lebih berani. Dengan semangat kuat dan tekad baja. Ooh, sudah begitu lama kiranya diri ini tak merasai tempat indah ini. Masjid Jami’ di Islamic Center Amsterdam City.

Tidakkah aku takut untuk bertemu seseorang yang dulu sempat mengobrak-abrik hati? Tidak. Karena aku sudah lupa seperti apa saat itu, tidak lagi berfokus akan hal itu, dan begitu yakin kalau lelaki yang dulu itu tidak akan datang atau bahkan berada di sini.
“Akhi bla…bla…bla… Lulus seleksi jadi dokter di Rumah Sakit Palestina, loh! Keren ya. Dia jihadkan ilmu dan hafalan Al-Qur’annya untuk mengabdi pada tanah darah para syuhada di sana.”
“Hmm. Begitu. Baguslah.” Apresiasiku saat itu.

Dengan tenang, kubolak-balik lembar-lembar murajaahku dari mulai juz 1. Alhamdulillah lancar. Setiap satu juz hanya berkisar antara 20-30 menit. Jadi, dalam waktu dua jam berada di masjid ini aku bisa menyelesaikan muraja’ah sebanyak 4-5 juz. Nanti sisanya bisa dilanjutkan seusai salat fardhu. Aah, kapan lagi, bisa berlama-lama di sini, coba….

Kututup kitab Al-Qur’anku yang sangat muat dikantongi saku itu. Tetap aku masukkan kembali dalam tas ransel berbahan jins yang hendak aku gendong.
“Ukhti, sudah selesai?” Tanya Mister juru rawat masjid.
“Sudah.” Sahutku santun. Kuamati gerak-geriknya seperti hendak bersih-bersih. “Waah, maaf ya kalau sudah membuat menunggu. Mau dibersihkan ya, Mister?” Dia tampak menggeleng seraya tersenyum.
Mister Salim, selanjutnya dia memperkenalkan dirinya demikian kepadaku, mengatakan bahwa sedari tadi ada tiga orang yang tengah menungguku di ruang perpustakaan Masjid Jami’ Islamic Center ini.

Aku beranjak menuju ruang perpustakaan yang dimaksud. Benar, di situ sudah ada seorang perempuan dan dua orang laki-laki. Aku tampak mengernyitkan dahi. Karena yang kuhafal hanya wajah Ukhti mudabbirahku, yakni sang perempuan itu. Sementara, dua lelaki ini? Aku serta-merta mengernyitkan dahi.
“Yang berkulit putih itu suami Ukhti.” Ukhti berbisik kepadaku dengan Bahasa Melayu-Netherlandnya.
Aku lantas tersenyum takzim untuk menyapa sang suami yang dimaksud. Suami Ukhti berarti guruku juga.
“Sudah dapat berapa juz muraja’ahnya?” Sambut suami Ukhti. Mengurai keheningan di antara kami.
“Baru lima juz, Ustad.” Sahutku jujur. Aku bingung mau menyapanya bagaimana agar setara dengan panggilan Ukhti.
“Tadinya kami mau langsung memotong muraja’ahmu di tengah-tengah…” Jelas Ustadz. “Tapi Akhi satu ini sabar sekali. Meminta kami agar menunggumu sampai selesai.” Sambung Ustad lagi sembari tersenyum dan menepuk-nepuk bangga pundak sang lelaki yang terus menunduk dengan senyum sekilas di sebelahnya itu.
“Wah! Gak kebayang kalau saya memutuskan terus lanjut muraja’ah.” Selorohku kemudian.

Lantas kemudian Ukhti mudabbirahku menjelaskan segala sesuatunya. Bla. Bla. Bla. Panjang lebar, sangat sederhana, sekaligus membuat aku agak-agak speechless dibuatnya.

Aku hanya diberi waktu 3 hari untuk istikharah. Semua pemaparan visi-misi hidup tinggal aku baca-baca.
“Lha wong, mumpung Dokter ini sedang liburan. Cuma satu bulan ada di Amsterdamnya. Untuk selanjutnya, bakal kembali ke Palestina…”
“Palestina? Jadi dokter ini?” Aku menimbang-nimbang pemikiranku. Mendekap amplop biodatanya semakin erat.
“Iya. Akhi bla…bla…bla… ini kan sudah 2 tahun bertugas ke Palestina. Jadi dokter di rumah sakit sana. Beritanya heboh loh. Masa kamu gak tahu..” Heboh? Aku tidak tahu? Ya Allah, aku memang benar-benar tidak tahu lagi, perasaan macam apa yang sedang berkejaran dalam hati ini.
“Saya sudah kenal kamu lama. Sering melihatmu belajar di masjid ini. Sejak dua tahun lalu.”
Masha Allah…” Cuma itu. Hanya kalimat agung penuh ketakjuban ini yang bisa aku ucapkan.
“Ibuku memimpikan wajahmu. Berturut-turut selama tiga malam, beberapa bulan lalu.” Paparnya, cukup mengejutkanku. “Ibu lalu menceritakan mimpi itu pada paman kami yang ahli menggambar wajah dan mahir psiognogami. Saat digambar, jadinya terlihat seperti ini…” Sebentar kemudian, dia tampak merogoh sesuatu di dalam black ranselnya.

Saat dikeluarkannya kertas bergambar wajah seorang perempuan berlesung pipi dalam itu, dengan refleks kusentuh wajahku. Aku takjub. Itu aku. Ya Allah… Aku dan dia kan sama sekali tak pernah bersitatap wajah. Hanya menatapi punggung tegapnya dari jauh. Hanya begitu. Tapi kuasa-Mu, sebegitu indah begini. Sampai sedetil begini.
“Saat aku dikirimi Ibu gambar wajah di kertas itu, yang langsung aku pikirkan adalah Mister Karst-jan.” Sebutnya pada Ustad, suami Ukhtiku itu. “Kukirimkan screenshoot picture ini kepada beliau sebulan lalu. Mr.Kaarts-jan meminta istrinya melakukan penyelidikan. Lalu akhirnya, ya begitulah hingga pertemuan ini sekarang.”
Aku memandang wajah Ukhtiku dengan tatapan sangat dalam.
“Aku menyeleksi para mutadabir di sekelilingku. Berdasarkan sifat-sifat dan karakter yang dituturkan ibunya. Aku bahkan langsung berkunjung ke rumahnya untuk secara langsung bertemu sang ibu.”
“Lalu?” Pancingku kemudian.
“Aku hanya yakin dan menemukan kalau karakter yang dimaksud ibunya itu jelas-jelas kamu.” Lontar Ukhti puas. “Lihat saja, nih!” Telunjuknya mengetuk-ngetuk sesuatu yang dekik pada bagian wajah di kertas gambar itu. “Lesung pipi ini kan kamu banget.”
Aku tersipu.

Ya Allah… Mimpi apa aku semalam? Hingga hari ini ujug-ujug aku mendapati orang-orang ini sudah Engkau atur untuk mengatur masa depanku. Mana seminggu lagi ujian tahfizh pula.
“Rabu kan hari pertama Cooling Day. Rencananya mau kemana, nih?”
“Mau muraja’ah saja. Di Masjid Jami’.”
Sahutku riang sekali.

Aah, andai aku tahu apa yang ada di pikiran Ukhti Lesliej saat itu. Sayangnya, beberapa hari lalu, dia sudah merekam dengan baik apa rencanaku, sedangkan aku santai-santai saja membeber tempat tujuanku, tanpa sedikitpun berpikir akan dipertemukan untuk hal ini. Di sini.

***Kalau nulis yang misterius gini, baru suka… Yay, akhirnya bisa buat cerita tentang gambar Winter Muraja’ah
‪#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOOORChallenge11‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬

1916997_10203950645285955_6303695817865547887_n.jpg

SERENDIPITI YANG BERBAHAYA

 

Masih ingat enggak? Beberapa hari lalu saya pernah menulis status begini.

Finally, I find the serendipity. Finding the person who had taken care of me seven years ago, drew an unic classy picture, and on and on… This architect will always be my best friend.

Saya kira status semacam ini cukup berbahaya. 😀

Alasannya?

Hmm, seseorang menafsirkan bahwa saya akhirnya menemukan pendamping hidup sejati. Padahal, asli saya sama sekali enggak mengarahkan pada opini ataupun perspektif itu. Itu pure perasaan bahagia karena saya menemukan sesuatu yang tak saya sangka-sangka. Serendipiti. Gak saya cari-cari, tapi malah ketemu sendiri.

Teman lama saya yang komen, “Akhirnya… Ini jawaban dari statusmu toh…” itu, tampak begitu lega karena pada akhirnya saya share foto keluarga. What? Apa anehnya coba dari posting sebuah foto keluarga? Iya, foto keluarga besar  kami di ruang tamu saya share di muka buku. Orang-orang yang  belum tahu bagaimana keseharian dekorasi rumah kami, pasti menyangkanya sedang ada perhelatan acara besar—dengan tampilan cat berwarna cerah ceria, banyak bunga, penuh warna-warni. Aah, belum juga itu saya tempeli wall paper bergambar panorama indah Belanda, pesona alam Edensor atau daun-daun maple bercorak atumn.

Nah. Satu hal yang bikin saya agak tersentuh. Ketulusan perhatian. Hahai. Rupanya selama ini si mastah senior masih mengamati status-status saya. Gak geer sih saya, sudah punya bidadari dan buntut dia. haha. Saya hanya merasa cukup bahagia saja.

Udah  ah gitu aja.

#MyHomeMyParadise

1437104692793

 

KADANG

Kadang, kita suka tak mengerti apa yang dimau hati. Sampai ayat-ayat indah Allah membisik di dalam sini, memberikan sebuah petunjuk yang begitu terang untuk diikuti. Apa-apa yang menentramkan hati.

Kadang, kita tak paham seberapa dalam makna kehidupan yang sudah Allah berikan. Sampai banyak masalah membuat kita berbenturan dengan setiap sisi kehidupan. Entah manis, entah pahit atau bahkan asam, asin, dan sepat rasanya. Barulah kita rasa bahwa kesempatan hidup seberharga ini kapan lagi akan kita punya. Maka kembali kepada-Nya dalam selaksa kepasrahan rasa tetaplah menjadi rujukan paling utama.

Kadang, kita akan begitu kesal bahkan sangat marah saat plot twist terjadi dan alur hidup kita seperti dibanting, dibolak-balik, rasa percaya kita diangkat lalu dijatuhkan lalu diangkat kembali… Mulailah kita seakan menderita dengan menaruh kesalahan pada diri sendiri atau bahkan pada lingkungan sekitar—semoga bukan pada Tuhan yang telah menciptakan segalanya. Sampai akhirnya, semua berlalu, segenap kepedihan, bongkahan sakit hati, bahkan tumpukan hinaan berganti dengan keberhasilan yang amat melegakan hati. Kita ukir senyuman indah itu menghiasi hari-hari.

Kadang, kita tak mengerti saat kita pernah disakiti atau bahkan ditinggalkan seseorang atau banyak orang berarti yang justru Allah ujikan pada saat-saat terapuh kita, saat-saat terpuruk kita, saat-saat betapa tak berartinya kita. Di situ baru kita akan tahu siapakah kawan, siapakah lawan, pun siapakah musuh kita sebenarnya.

Kadang, kita bahkan lebih tak mengerti saat-saat tersulit dalam hidup kita, Si Dia kembali menguji keyakinan iman. Yang pada saat-saat seperti ini kita justru dibuat memilih untuk berpura-pura menyakiti seseorang—yang kalau dipikir-pikir akibatnya justru menyakiti diri sendiri lebih dalam. Atau pada saat seperti ini ada keputusan tersulit yang harus kita lakukan, meninggalkan seseorang. Untuk menjaganya dalam sebaris panjang doa-doa. Untuk melihatnya, apakah saat komunikasi sama sekali tak ada, telepati hati masih akan tetap kuat terjaga.

IMG_87629751871835.jpeg

Dan ternyata, semua tak sesederhan itu. Dan ternyata semua juga tak sesulit apa yang dipikir begitu. Karena apa? Karena, aah Allah saja Sang Mahatahu mengukur semua yang sudah dibuat secara sengaja sesuai kadar kita. Ya, kadar kita. Barulah setelah semua kita rasa, kenikmatan hidup untuk menjadi semakin dekat kepadanya kian kita rasa.

Sebab sungguh bukan untuk menguji seberapa besar kekuatan kitalah semua ujian hidup itu dihadiahkan-Nya pada kita, melainkan untuk melihat seberapa sungguh-sungguh kedekatan kita untuk terus memilih-Nya. Menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sandaran yang diibadahi dan diandalkan.

“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu pulalah kami meminta pertolongan.”

Saat kita menangis merasai semua ini. Menghapus bulir-bulir air mata yang berleleran di pipi. Selalu, kembali pada kalimat paling pamungkas ini, segalanya lebih mentramkan dan maknyes di rongga-rongga hati. (Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih sekali lagi, lagi, dan lagi…)

#VadenfahRerisla

#VIP

#DOORChallenge8

#MultiPotMagneticWriter

 

YANG KECIL ITU…

 

download

Lagi bete.

Bingung bangetlah kehabisan ide mau menulis apa lagi.

Aah, kau. Tahu kau kenapa kuajak untuk bergabung di sini? Untuk kaya? Untuk eksis? Untuk terkenal? Atau bahkan untuk panen like plus komentar? Bukan. Bukan itu tujuanku.

Simak baik-baik kisah kecil ini. Semoga kau dapati jawabannya di dalam sini.

Suatu ketika aku dan temanku mengobrolkan perkara mencuci. Dasar seorang guru di Karawang dan pejabat yayasan di Bandung! Jadi apa-apa kita bahasakan dalam metode dan teknik yang pas. Bahkan pekerjaan mencuci yang mestinya lumrah dilakukan sebagian besar ibu rumah tangga ini—kami masih pakai mesin otot tangan, bukan mesin cuci—selalu hampir menuai keluhan. Kau bayangkan saja saat sebelum memiliki mesin cuci, terus-terusan seseorang akan mengeluh capek mencucilah, letihlah, sibuk tak ada waktulah. Sehingga ujung-ujungnya cucian menumuk tinggi di akhir pekan, tepat pada hari Sabtu atau Minggu. Tak percaya? Tanyakan saja itu pada kebanyakan kaum ibu bahkan kau sendiri. Apakah benar begitu?

Lalu saat mesin cuci itu bisa terbeli, entah dari kau yang menang jackpot undian, atau bahkan hadiah dari pasangan, atau sengaja ayah bundamu beli. Akan tetap kau jumpai hal menarik dari keluhan baru. Capek banget ih, bilasnya itu loh ribet, gak ada waktu buat mencuci, pekerjaan lain menanti, kabel selang atau bahkan kabel mesin cucinya digerogoti tikus, dan tetap saja toh tumpukan cucian meninggi di penangsangan cucian. Padahal toh, sebelumnya bilang bahwa akan lebih mudah mencuci kalau sudah ada mesin cuci. Nah loh! Jadi masalahnya itu apa?

Masalah itu cuma ada di kepalamu. Apa? Cuma di kepalaku…

Hmm, inilah yang membuat kami berbincang lama hingga terbetiklah sebuah kesimpulan.

“Aku melakukannya sehari sekali, bahkan dua kali. Setiap pagi sebelum bebersih diri atau bahkan setiap sore setelah pakaian seharian dikenakan.”

Saat kujelaskan aku tak pernah lagi keletihan mencuci, dia bertanya bagaimana metode mencuciku. Pakaian kotor kuguyur dengan air kran, kucelupkan dalam seember kecil atau bahkan segayung detergen—bergantung banyaknya pakaian kotor harian—kukucek-kucek ringan saja lalu membilasnya sebaik mungkin. Tak perlu banyak-banyak menghamburkan tenaga.

Tapi tunggu, bukan itu yang menjadi inti dari pengalihan bete ini. Selalu ada yang lebih spesial dari perbincangan kecil seperti ini.

“Benar juga, sih. Sedikit-sedikit setiap hari itu kan lebih ringan. Dan bukannya itu yang Allah suka. Amalan kecil yang istiqomah itu lebih baik. Amalan yang dilanjutkan terus-menerus.”

Masha Allah. Merinding aku. Kepikiran sampai kesitu ya. Takjub aku. Indah sekali, benang emas kesimpulan yang ditariknya.

Lalu kau, pahamkah kenapa kuajak kau bergabung di Komunitas Multi Pot Magnetic Writer ini? Untuk menulis setiap hari itu… bukan terkait popularitas, pamer talenta menulis, bagusnya tulisan, banyaknya like, memanen banyak pujian dari para komentator. Aah, apalah itu semua karena bernilai semu dan hanya bersifat tentatif dari hal-hal duniawi. Sementara pahala Allah, bayangkan banyaknya pernak-pernik pahala yang akan kau temukan. Berkantung-kantung pahala itu semoga cukup untuk menjadi tambahan uang saku amalan baikmu bertemu-Nya di surga. Dengan amalan-amalan kecil dari aktivitas menulismu yang istiqomah itu.

APAKAH AKU CANTIK?

Rasanya aku perlu menanyakan ini kepadanya. Dan lagi-lagi seperti sediakala ia hanya tersenyum dikulum dan berkata tentu saja kau cantik. Selalu begitu. Tak pernah lebih atau bahkan bertambah beberapa senti kata.

Di kali lain aku pernah dengan sengaja mengajaknya berjalan-jalan menikmati waktu di tempat ternyaman dan paling damai dari negeri ini. Taman Nasional Hoge Veluwe. Di sini kami bisa tahu bahwa taman inilah salah satu cagar alam terbesar yang sangat terawat di negeri Belanda. Saat kedua pasang bola mata kami sempurna menatap padang rumput, bukit pasir, dan hutan akan kau temukan banyak kedamaian bebas di baris setiap pepohonan yang ada. Disini, kami bisa menggunakan sarana sepeda secara gratis sebagai pengunjung Hoge Veluwe, karena banyak daerah di tempat ini yang tidak dapat kami akses dengan mobil. Saat itu tempat wisata inilah yang menjadi tujuan terfavorit kami karena kami berdua sangat mencintai keindahan alam. Dan salah satu misi terbesarku menanyainya soal cantik atau tidaknya aku ini.

Berdua saja. Ya, saat itu kami hanya berdua saja. Taman Nasional Hoge Valuwe sedang sangat sepi. Tak banyak pengunjung yang datang. Bagi kami yang baru saja menikah, tentu hal ini menjadi bulan madu terindah. Tak ada buah hati. Ooh, belum ada buah hati maksudnya. Yaah, kami baru setahun melalui kebersamaan ini. Bukankah indah rasanya menjamu diri di masa-masa pacaran usai pernikahan? Indah. Kau tahu? Sangat indah. Itulah dari dulu alasan kami kenapa tak mau menanggung rasa rindu pada seseorang yang belum sah untuk menjadi hak kami. Syukurlah, prinsip kami sama. Sama-sama saling menjaga rasa dari keterikatan nafsu remaja.

Hmm, dan apa aku cantik tetap menjadi pertanyaan terfavorit sepanjang kami bersepeda. Aku memancing-mancing jawaban yang lebih panjang dari sekedar, “Ya, engkau cantik.” Tapi tak kudapat. Tak kudapat. Aaaargh, aku gemas. Aku ingin jawaban yang lebih panjang, lebih spesifik, lebih membuatku melambung atau bahkan wajahku dipenuhi semu-semu bunga berwarna merah jambu.

Oleh karena itu, kali ini aku harus berhasil. Aku harus tahu jawaban sebenarnya. Jawaban terjujur yang keluar dari lisannya yang begitu terjaga. Maka di sinilah kami sekarang di tengah-tengah pusat keramaian kota Leiden. Leiden adalah tempat kelahiran Rembrandt dan tentu saja memiliki kanal-kanal yang indah. Dia terus menggandeng tanganku saat kami berjalan di antara selisir banyak orang. Gandengan itu akan semakin erat saat kami—terutama aku, bersisian dengan lelaki Belanda totok dengan postur tinggi, bermata biru kelabu, dan bergaya menawan. Aah, tidak aku ralat. Tak ada yang menawan dibanding seseorang yang saat ini tengah menggandeng erat tanganku ini.

Dan selalu. Menjadi cantik di depan pasangan yang dicintai itu sangatlah berarti. Bahkan rasanya amat membutuhkan semacam pengakuan di hadapannya. Seperti ya, apakah aku terlihat sangat cantik di matanya? Apakah hari ini aku cantik? Apakah besok, besok, dan besoknya lagi aku masih tetap akan cantik. Kadang-kadang aku merasa takut untuk menjadi tua dan wajahku berkeriput. Karena semakin hari kulihat lelaki di sampingku ini kian menawan. Hingga, rasanya tak hendak berpaling dari menatap pesonanya walau hanya sejenak. Meski tak banyak kata yang diucapkan, aku selalu merasa lebih nyaman saat jemari tangan kami saling bertautan. Dan saat itu terjadi aku akan selalu lupa dibuatnya untuk bertanya apakah aku ini cantik atau tidak.

“Kau ini, takut sekali kehilangan aku ya?” candaku berpura-pura sedikit berusaha melonggarkan genggaman jemari tangan.
“Jangan begitu.” dia melepas genggaman tangannya lebih dulu. Beralih memegang kedua pundakku. Aku, aah aku selalu merasa ada barisan kupu-kupu yang melabirin dalam perutku. “ Kita harus sangat berhati-hati. Ini sangat ramai, Sayang. Aku tidak mau kita saling kehilangan.”

Ada kuas berwarna merah jambu bersemilir panas yang menari-nari melukisi wajahku.

Sebelum terlalu jauh rasaku, ia sudah buru-buru menggamit jari-jemariku lagi. Lantas langkah-langkah kaki kami mengambil arah menuju sampan dari dua cabang sungai Old Rhine yang masuk ke kanal Leiden di sebelah timur dan bersatu di pusat kota yang juga berisi beberapa kanal kecil. Pusat kanal tua Leiden ini adalah salah satu yang terbesar ke-17 di pusat kota abad di Belanda dan hanya kedua dari Amsterdam, sehingga sudah menjadi rahasia umum jika tempat ini menjadi tempat wisata di Belanda selain Amsterdam yang paling banyak di kunjungi wisatawan. Pasti kami akan menemui banyak orang di sini. Dan aku akan tahu apakah sesungguhnya aku ini cantik atau tidak di mata suamiku.

Ia mengajakku memilih sampan yang khusus berbayar untuk kami berdua saja. Aku menolaknya secara halus. Kukatakan dengan lembut bahwa ini adalah saat yang baik bagi kami untuk saling berkomunikasi dengan penduduk asli. Agar aku, istrinya, yang dari Indonesia ini bisa semakin lihai dalam beradaptasi. Lagi pula jadwal persidangan dan S3 suamiku ini padat sekali. Kapan lagi coba kalau bukan saling berkenalan dengan banyak orang pada hari ini?
“Hallo. Nama saya Starla dari Indonesia. Ini suami saya, Jaksa Laurens. Asli Belanda totok.” Sebutku agak berbisik pada beberapa wanita dan ibu-ibu yang ada di sampingku.
“Ya Tuhan, jadi ini jaksa muda yang terkenal detil, bijaksana, dan sangat baik itu. Apa kabar, Jaksa Laurens? Kami sekeluarga mengagumi Anda. Semoga Anda sehat-sehat saja.” Aku nginyem menyenggol kecil sikunya. Merasa bangga dengan pujian tulus sang ibu yang barusan bicara.
Ia tersenyum santun dan bersetangkup tangan di dada.
“Kau dari Indonesia?” tanyanya berbahasa Belanda, aku mengangguk. “Kau cantik sekali, Nyonya Laurens. Aura kecantikan tropis. Bahagia heh, bersuamikan Jaksa muda setampan dan segagah ini?”

Aku tertawa dalam lautan terima kasih. Suamiku tak kuasa menatapku dalam kejut penuh pesona. Air kanal yang jernih seolah bersinar tertimpa cahaya matahari pagi yang semakin tinggi. Angin halus mengelus hijab warna burgandi yang kukenakan, turut mengamini galur-galur syukur penuh bahagia yang kurasa. Tak kusangka ada yang memujiku sedemikian rupa di depan suamiku. Waah? Jadi aku ini cantik dan bahagia karena mendapat aura ketampahan dan kegagahan dari suamiku. Aku mengambil jemari tangan suamiku. Menautkan jari-jari lentik panjangku di sela-selanya. Melengkapi kekuatannya.
“Lalu, apakah aku ini sangat cantik di matamu, Mr.Laurens?” tanyaku berbisik, tentu saja menggunakan Bahasa Indonesia.
“Selamanya. Karena karena kau milikku… Dan wajahmu terpelihara dengan air wudhu.” Ia, suamiku, menggenggam jemari tanganku lebih erat. Diiringi sorot mata hijau teduh mendalamnya menatapku dengan tatapan paling maut untuk membuatku selalu jatuh dalam lingkaran batinnya yang suci.

Rasanya gelora rasa berdebar penuh kencang mendobrak-dobrak ingin dimuntabkan keluar dari dalam dada. Putaran kupu-kupu membelit-melintang mengobok-obok isi perut. Aku melambung, terbang tinggi, dan tak ingin mendarat lagi—kecuali bersamanya untuk diterbangkan lebih tinggi lagi.
‪#‎DOORChallenge6‬
‪#‎VIP‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬

Kanal-Leiden.jpg

MENUNDA

“Jangan pergi…” lelaki berpostur jangkung bermata bening bak telaga kanal Keukenhof Park itu mencegah tas ransel Starla.

Starla dibabat keraguan hebat. Antara bertahan mendampingi lelaki yang kini di sampingnya ini atau pergi membantu dosen favoritnya yang saat ini sedang terlibat masalah literasi karena telah membimbingnya. Ia tak mengerti setelah perdebatan hebat yang panjang dan melelahkan beberapa menit lalu, kenapa wujudnya masih setia bertahan di sini.

“Aku mohon. Kau bisa bersamaku. Sidangku dimulai sebentar lagi. Kau bisa memotret seperti sediakala.”

“Hhhaaah? Apa itu menyenangkan buatmu?” Wajah Starla tampak terperangah.

Jaksa Laurens mengangguk mantap.

“Ya, Jaksa Laurens, kau tahu? Kau ini hanya… selalu saja memikirkan persoalanmu sendiri.” Emosi Starla sudah naik ke ubun-ubun. Tak habis pikir dengan sikap Jaksa Laurens yang akhir-akhir ini sedikit agak posesif.

Starla duduk. Rautnya lelah, sangat lelah. Jaksa Laurens masih tak mengerti kenapa akhir-akhir ini Starla begitu sering marah. Diam seribu bahasa menjadi pilihan Jaksa Laurens. Hanya semilir angin yang berbisik melalui sela-sela gendang telinga. Mendadak susana kaku, beku, dan dingin merayapi dinding-dinding hati keduanya.

Selang beberapa saat, Jaksa Laurens baru kembali menata suara.

“Bicaralah…”  keduanya mengatakan secara bersamaan dan lantas saling bersitatap tanpa aba-aba.

Starla malu. Terpergoki secara bersamaan. Ia memalingkan wajah. Lalu hening lagi. Dan untuk saat seperti ini jelas bahwa tak ada kata-kata yang lebih berarti dari bahasa diam.

Jaksa Laurens mencoba sekali lagi. “Starla, kumohon. Bicaralah.” Suaranya halus selembut kain sutera.

Starla masih tampak merunduk. Tak bermaksud sekalipun untuk menatap atau mau membuka suara.

“Kau marah?” tanya Jaksa Laurens, masih sangat hati-hati.

Starla menegakkan kepalanya. Matanya menatapkan sembilu tajam. Di hatinya masih bersetangkup sebuah rasa. Ya, marah.

Starla lantas menerawangkan pandangannya jauh, jauh sekali.

“I dont mind when you bothered me. But actually, I… I feel so depressed and not be lucky when you stoped me to care others. I dont know what in your mind. I can’t believe it. I cant reflect, aren’t you?”

Starla menelan ludah dengan susah payah usai mengatakannya. Hatinya perih.

“Maaf. Hanya itu yang bisa aku katakan. Sekali lagi maaf.”

Starla tahu dan sangat tahu bahwa itu adalah permintaan maaf yang terdengar tulus. Tapi entahlah, dia tak ingin menyelanya. Bahkan untuk saat ini. Starla masih menunggu ada kata-kata lain yang lebih panjang, lebih menenangkan, dan membuatnya bertahan lebih lama di sini. Tapi hingga sunyi kembali menyapa, Starla tak lagi mendengarkan kata-kata yang diharapkannya itu.

“Aaah… Baiklah Jaksa Laurens…” Starla tampak menepuk-nepuk rok polka berbahan tebal yang dikenakannya. Selama duduk tadi beberapa daun musim gugur berwarna orange kemerah-merahan sempat mampir di roknya. “Aku sudah selesai. Kampus sudah menungguku. Dan aku baik-baik saja. Tak perlu mengantarku. Nikmati saja persidanganmu.”

“Kau benar-benar tak mau mendampingiku? Ini sidang tersulit. Sesuatu yang sangat berat…” Jaksa Laurens masih tampak berusaha mencairkan suasana.

“Hei, apa kau mau mulai lagi mengajakku ribut?” Kali ini Starla mengatakannya untuk menggoda Jaksa Laurens. Ya, sedikit menggoda. “Lalui karirmu dengan baik, Jaksa Laurens. Dulu kau bisa melakukannya tanpa aku. Sekarang pun seharusnya begitu. Bahkan seharusnya kau sangat bisa.”

“Tidak sebaik jika ada kamu.”

“Aaauft. Nanti kulakukan kalau kita sudah menikah, oke. Aku ada kelas sekarang.” Starla tampak berlari kecil usai mengucap selamat tinggal. Padahal, ini ia lakukan untuk menutupi rasa hati yang ingin terbang ke langit paling tinggi. Hatinya sedikit berbunga.

Kemudian langkahnya terhenti. Ia berbalik. Lalu berjalan mendekat lagi ke arah Jaksa Laurens.

“Jangan mengikutiku dari belakang. Jangan pernah. Dan untuk beberapa bulan kedepan aku butuh waktu sendiri. Jangan coba-coba menemuiku di kampus atau di mana pun. Kau paham?”

Jaksa Laurens tampak terkejut dan ia hanya menahan tawa.

Ia tak pernah habis pikir.

Gadis magister itu. Belum menyandang MBa saja dia sudah seberani itu padanya. Seorang Jaksa dengan wibawa yang tinggi, life for pride, dan begitu menjaga nama baik di depan rekan kerja bahkan klien.  Dan ia hanya bertekuk lutut pada si Nona Magister yang tinggal satu atap dengan rival kerjanya, sang pengacara yang sangat ceriwis membeber pembelaan. Nona Evelien.

***

Starla turun dari commuter line. Ia berjalan tergesa-gesa. Di hatinya masih bertanya-tanya. Apa yang dikatakannya semua tadi benar? Apa yang dilakukannya tadi tak akan menyakiti Jaksa Laurens? Akankah Jaksa Laurens sakit hati, berpaling lalu meninggalkannya? Baikkah keputusannya untuk tak bertemu sama sekali dengan  Jaksa Laurens selama beberapa bulan kedepan?

Starla merekatkan outfit sweeter pink polka yang dikenakannya. Sebentar lagi musim dingin. Cuaca mendadak mengirimkan udara yang temperaturnya melebihi hari-hari biasanya.

Tetiba beralunlah nada Canopus. Androidnya berbunyi. Dirogohnya saku sebelah kanan outfit. Saat WA-nya terbuka, ada pesan mencengangkan berbunyi di sana.

Nanti kita akan lebih banyak bertemu. Akan kita lakukan itu kalau kita sudah menikah.

-Jaksa Laurens-

Ooouh, unbelievable. Starla geleng-gelengkepala. Jaksa keras kepala itu. Jaksa yang kata banyak orang bahkan Nona Evelien sendiri bilang sangat bijaksana, look so cool, dan begitu menjaga wibawa diri. Jaksa yang sangat lembut itu akhir-akhir ini memperketat pendekatannya. Starla tampak senang—hei, siapa sih yang tak senang didekati oleh orang yang disukai—namun, Starla sekaligus merasa ada yang salah dan masih sangat kurang nyaman.

Dan hari ini, Starla membuat keputusan untuk menunda pertemuan dala waktu beberapa bulan. Semacam sebuah metode menjauhi untuk mengenalnya lebih dalam. Apakah ini sebuah perasaan yang tulus karena Tuhan ataukah hanya sebuah perasaan nyaman dan senang karena terus-menerus diberi bibit perhatian secara mendalam? Bukankah ini, maksudnya perasaan cinta ini, hanya sebuah sarana. Ya, ini hanya sarana untuk menjadi lebih dekat pada-Nya. Bukan sebuah pencapaian atau tujuan akhir. Tentu saja bukan, karena muara akhir bagi keduanya dalah mengharapkan surga. Meraih rida-Nya.