Paket Misterius

 

satu

Aish! Hari yang melelahkan. Seharusnya, aku sudah pulang menggunakan Yamaha pribadiku dan sekarang aku masih harus melewati lift kantor jurusan.

Jreg! Jreg! Jreg! Seketika lift yang aku tumpangi tak berjalan, macet, dan berhenti di lantai II.

Ouh… Ada apa ini? Apa yang terjadi? Aku merasakan panik dalam hati. Kutekan tombol keluar agar pintu lift terbuka. Berkali-kali… satu… dua.. tiga…

“Halo, seseorang!” teriakku sambil menggedor-gedor pintu lift. “Bantu saya, tolooong…”

Dug. Dug. Dug. Aku masih berusaha menggedor dan berteriak dari dalam untuk mencari bantuan.

Haaah. Waktu di arloji biru metalikku sudah menunjukkan pukul 16.45. Hopeless. Aku mengobrak-abrik isi Oriflame bag-ku. Ya Allah, android mati pula. Aaah, habislah aku! Berapa lama aku akan bertahan terkurung di sini?  Sampai magrib? Larut malam? Besok pagi?

Aku masih menggedor-gedor pintu lift dan separuh badanku mulai menggelosor di lantai lift.

Dug! Dug! Dug!

“Ada orang di dalam?” tanya seseorang.

Dug! Dug! Dug! “Saya… Ada saya, Pak… terjebak di dalam sini…” balasku sekuat mungkin.

“Sabar ya. Kami sedang berusaha membuka dan memperbaiki lift ini. Rusak. Semoga Anda bisa bertahan di dalam…”

Rusaak! Ya Tuhan…

Shruut! Akhirnya terbuka juga. Seorang satpam, OB, beberapa mahasiswa jurusan Bahasa Asing, dan pegawai TU jurusan tampak memelasi keadaanku. Aku masih belum beranjak dari TKP. Memandangi pintu lift yang terbuka dan meyayangkan kok bisa-bisanya aku terjebak di dalamnya. Setelah menanti 10 menit perbaikan lift dan ini berarti tepat sudah 45 menit aku terkurung di dalam lift menyebalkan itu.

Setelah menyaksikan permintaan maaf mereka berkali-kali, aku pun tak mau kehilangan kesempatan berbicara.

“Lain kali seharusnya jika ketahuan rusak dari tadi siang, diberi plang atau notice keterangan bahwa lift ini memang sedang dalam perbaikan deh, Pak…” mereka mengangguk penuh penyesalan dan aku pun bergegas menggunakan tangga untuk menuju ke lantai 4.

“Wah, Bu… Darimana saja kamu? Itu ada Green Packet menunggu dari tadi.” Kerling Bu Citra kepadaku

“Ooh… Tadi ada insiden kecil jadi terjebak di lift.” jelasku.

“Apa? Terjebak di lift? Hahaha. Kasihan sekali. Aku juga pernah lho merasakannya. Gimana rasanya, asyik dan mendebarkan, bukan?” aku mengendikkan bahu sekaligus berusaha mendeteksi maksud respon yang diberikan Bu Citra.

“Satu cobaan Allah datangkan–ya anggaplah terjebak di lift itu begitu—tapi Allah datangkan pula nikmat yang lain, kan? Buktinya, mendadak dapat kiriman Green Packet ini.” wajahnya tersenyum amat cerah.

“Thanks.”

“Nah… sekarang ayo buka paketmu itu. Aku penasaran deh, siapa pengirimnya. Hampir dua tahun di sini, kamu selalu mendapatkan paket misterius.” tangannya membimbingku untuk menyentuh Green Packet yang dimaksud.

“Tahun lalu kan Blue Packet. Kan, sudah lihat sendiri isinya beberapa novel best seller dari Tereliye…”

Sreet. Aku robek sampul hijau paket itu dengan cekatan. Kepo deh, isinya berat banget!

“Aaapeel?” kejut Bu Citrasasmi.

Tuk! Aku menyentil dahi terdepannya. “Ini buah persik, tahu. Memang bentuknya agak sama seperti apel, tapi sensasi rasanya beda. Lebih enak ini. Mau coba sekarang?”

“Hei, tunggu. Cari dulu pengirimnya. Jangan-jangan kayak di cerita-cerita detektif, buah persik ini mengandung racun.”

Ckckck. Aku geleng-geleng kepala. Kayaknya Dosen Bahasa Indonesia yang satu ini kebanyakan baca cerita dongeng zaman dulu, deh.

Aku mengangkat dus pada lapis kedua paket ini, karena di dalamnya terdapat 2 dus. Tergeletak di bagian dasar paket itu, sepucuk surat. Green letter.

Dear Hollanda Putri Preludia,

Sudah sampai di tanganmukah paket ini? Selamat mencicipi sensasi lezat Persik Hongaria ini! Tahukah kamu? orang Cina yang mempopulerkan persik ini memiliki kepercayaan kuno bahwa buah ini adalah simbol persahabatan dan kehidupan abadi. Terlepas dari apa pun dasar kepercayaan itu, aku juga memaksudkannya sebagai titipan Ibu sepulang liburan dari Hongaria bersamaku. Makan segera buah persik ini karena di dalamnya tersimpan belasan manfaat bagi kesehatanmu. Aku rasa kamu perlu melakukan diet. Karena profile terakhir yang kau unggah di instagram dan FB menunjukkan betapa chubby pipimu. Persik ini sangat cocok untuk itu. Kau tahu, buah ini rendah kalori dan tanpa lemak. Jangan sesekali memancing orang lain untuk gemas mencubiti pipi tembammu. Hahha. Hindarilah perasaan stres dan tertekan. Nah, makanlah buah ini. Persik ini terkenal sebagai “Buah Penenang” di Hongaria. –Secret Admired-

“Yaah! Apa katanya? Pipimu tembam? Berani-beraninya orang ini. Haha…”  sama dengan si pengirim Green Letter, setelah protes toh Bu Citra juga menertawaiku.

Cekrek!

Tiba-tiba blitz jepretan kamera DSLR memotret laku kami.

“Siapa di situ?” aku sempat menatap kejut kedua layar mata yang empunya kamera.

Dia langsung lari tunggang langgang. Aku dan Bu Citra lantas mengejarnya. Tapi kami hanya sempat mengejar sampai turun tangga ke lantai tiga. Lift diplang tahap perbaikan.

Anehnya, selintas tadi aku seperti mengenal si yang empunya mata, tapi siapa? Lelaki berperawakan tinggi. Pakaian serba gelap. Wajahnya tertutupi cadar seperti guru Kakashi dalam kartun Naruto. Mungkinkah ia seorang paparazi atau pengirim paket misterius? ***

 

***

Vadenfah Rerisla adalah nama pena dari Eva Dewi Nurkholifah sejak di bangku madrasah aliyah. Penulis yang akrab disebut sebagai Bidadari Bermata Jeli ini akan genap berusia 27 tahun pada 22 Juni 2015 mendatang. Aktivitas keseharian penulis saat ini adalah mengajar Bahasa Indonesia, Bengkel Sastra, dan Tahsin-Tahfizh di SMPIT/SMAIT Mentari Ilmu Karawang. Untuk memenuhi curious yang sangat tinggi, penulis paling suka jajan buku,  jalan-jalan hunting ide, ikut serta seminar pendidikan, dan menulis cerita-cerita fiksi. Buku perdana penulis yang berjudul “Skandal Cinta Kelas Bahasa” telah diterbitkan oleh Leutikaprio Yogyakarta, tahun 2012 lalu. Puisinya yang berjudul “Sebuah Oh’ dinyatakan sebagai Juara I dalam lomba tulis puisi Hardiknas. Kunjungi FB/twitter/instagram Vadenfah Rerisla, atau bisa juga di blog vadenfahrerisla.wordpress.com/vadenfahrerisla.tumblr.com untuk lebih dekat dengan penulis.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s