Guilin: Antara Takjub dan Malu

 

prayer_2014_02_07-850x707.jpg

Tahu bukit-bukit yang acapkali didaki Pho dan kawan-kawan pada film Kungfu Panda? Sudah tak sabar rasanya menyaksikan bukti-bukit melayang indah sebagaimana selalu dikisahkan dalam film Kungfu panda itu, juga dalam bentangan pertempuran film Avatar, dan gambaran perbukitan pada puisi-puisi klasik China.

Inilah aku sekarang, berdiri di ruang lobi Bandara negeri Hongkong. Aku tak sempat merasakan jetlag atau mabuk udara oleh gencatan desingan mesin pesawat. Aku yang semalaman tak bisa sekejap pun menganyam bulu mata sebab amat bahagianya untuk mengunjungi tujuan utama kami di negeri bambu, China. Maka Hongkong ini adalah transit perjalanan udara kami untuk selanjutnya menuju ke Guilin. Mewujudkan harapan itu.

Satu jam lagi penerbangan kami akan dilakukan. Maklum, jam terbang pesawat kami harus delay. Kabut menebal dan cuaca yang tidak kunjung istiqomah, kadang mendung kadang cerah. Aah, lamanya… Coba saja lihat, apa yang bisa kulakukan untuk membunuh waktu 3600 detik ini?

“Tenang. Santai. Kita bayangkan begitu tiba di Guilin nanti semua perjuangan menunggu ini akan terbayar oleh pesona Guilin yang indaaaaaaah betul.” suara Pak Pras memecah bisu.

“Beneran lho, asli gak sangka banget Prodi bakal meng-ACC liburan kita ke Guilin ini. Usul Bu Putri nih, keren. Kapan-kapan promote Belanda ya, Put. Biar namamu itu tersegel di sana juga. Gak cuma di China doang…” senggol Bu Vera kepadaku.

Duh, Mbak Vera. Ini kan tugas juga kali…” ralat Bu Rara. “Kita diminta membuat laporan perjalanan dan penelitian inspirasi geologis pembuatan puisi-puisi klasik negeri ini.”

“Waduh, Ibu-ibu… Bapak-bapak, kira-kira nanti dari Guilin itu apa ya yang bisa kita boyong buat pelajaran abadi di tanah air kita sana? Kayaknya, terlalu mainstream deh ya, kalau kita cuma punya dokumentasi foto-foto, belanja pernak-pernik, atau sekadar memenuhi tugas penelitian doang…” sekonyong-konyong Pak Sastro memberondong isi pembicaraan.

Otomatis pertanyaan sekaligus penyataan diplomatik Pak Sastro itu menyeret pemikiran kami secara mendalam. Bahkan, Bu Rara yang tadinya meralat pun sekarang sudah move on ekspresi. Yang awalnya cemberut, kini menjadi mengerutkan kening. Oke fix transfer pikiran ini berhasil memutihkan suasana.

***

Lima belas menit sebelum keberangkatan.

Kami masih mencatat target masing-masing di dalam Android kami tanpa saling memberi tahu satu sama lain. Kami hanya menulis dan menulis banyak target.

Hingga ada seseorang yang menawari aku kotak teh kemasan.

“Ooh, terima kasih. Mohon maaf karena saya sedang puasa…” tolakku dengan bahasa Inggris sesantun mungkin.

Lelaki berbadan tinggi itu tampak tak mengerti penolakan halusku. Ia masih mengangsurkan teh kemasan itu kepadaku.

Suasana mendadak sedemikian tegang.

“Makasih, Brur.” ujar Bu Vera mengambil kendali suasana. Dia memakai bahasa Inggris gaulnya. Diambilnya kemasan yang diangsurkan lelaki tinggi itu lalu dicekalkan pada salah satu tanganku.

Sesegera mungkin Bu Vera pamit pada lelaki itu dan buru-buru menggandeng koperku untuk membantu.

“Ayo, pesawat kita sudah mau berangkat…” aku merasa seperti orang linglung. Karena… yaa, gak ngerti aja. Kenapa tuh orang mesti maksa  aku buat menerima tehnya.

***

90 menit kemudian. Sesaat sebelum mendarat.

Aku buka tas kecil bawaanku. Android-ku mengeluarkan suara Canopus. Tanda khusus kalau ada pesan WA yang masuk.

“Hati-hati. Selamat menikmati perjalanan ke Guilin. Minum air yang cukup. -Putra Kuswendra-

Sontak saja aku kaget. Ini kan kiriman WA dari calon suamiku. Tahu darimana dia aku mau ke China?

Bingung aku mau jawab apalagi, kecuali terima kasih. Kumasukkan kembali smart phone ke dalam tas. Tanpa sengaja, tanganku menyenggol kemasan teh.

Upz. Ya ampuun!” pekikku.

“Kenapa?” tanya Bu Vera heran.

“Teh ini sewaktu di bandara Hongkong tadi… Ini dari calon suamiku, Bu. Itu Mas Putra yang pernah aku ceritakan. Dia memang tugasnya di Hongkong. Aduuh, tengsin banget aku. Gak kenal dia sama sekali lagi…” terangku sembari tersipu. Sumpeh… sumpeh. Aku maluu.

“Lah kok bisa gak kenal, sih?” Bu Vera tampak merasa janggal dengan penjelasanku.

“Aku tuh ketemu cuma sekali-kalinya, Bu. Dan itu tiga bulan lalu. Singkat banget! Pas proses ta’aruf doang. Kami juga baru kali ini saling berkirim pesan…”

“Ooh. Dijodohkan tho maksudmu?”

“Iya.”

“Parah juga ya memori kamu… “ aku semakin tak kuasa menahan malu. Bagaimana ya kalau aku bertemu dengannya nanti?

***

Ternyata, bayangan-bayangan indah itu betul adanya. Panorama Guilin yang dibelah sungai indah dengan gugusan bukit dan gunung-gunung itu tampak menjulang. Dan lihatlah itu, pemandangan setiap gunung serta bebukitan yang terjejer bagai piramid tajam, mereka dibalur lumut dan tumbuhan liar berwarna hijau.

Saatnya menuju tempat seperti terowongan serta goa-goa… Hoho, di dalamnya lebih memukau kalbu. Di mana keberadaan stalagtit dan stalagnit terhampar indah. Kristal-kristal bebatuan dengan pesona yang penuh warna.

“Wooow! Here I am.” ketakjuban yang berhasil membabat segerumbul malu akibat tak mengenali calon suami sendiri. Tadi.

***

Vadenfah Rerisla adalah nama pena dari Eva Dewi Nurkholifah sejak di bangku madrasah aliyah. Penulis yang akrab disebut sebagai Bidadari Bermata Jeli ini akan genap berusia 27 tahun pada 22 Juni 2015 mendatang. Aktivitas keseharian penulis saat ini adalah mengajar Bahasa Indonesia, Bengkel Sastra, dan Tahsin-Tahfizh di SMPIT/SMAIT Mentari Ilmu Karawang. Untuk memenuhi curious yang sangat tinggi, penulis paling suka jajan buku,  jalan-jalan hunting ide, ikut serta seminar pendidikan, dan menulis cerita-cerita fiksi. Buku perdana penulis yang berjudul “Skandal Cinta Kelas Bahasa” telah diterbitkan oleh Leutikaprio Yogyakarta, tahun 2012 lalu. Puisinya yang berjudul “Sebuah Oh’ dinyatakan sebagai Juara I dalam lomba tulis puisi Hardiknas 2015. Kunjungi FB/twitter/instagram Vadenfah Rerisla, atau bisa juga di blog vadenfahrerisla.wordpress.com/vadenfahrerisla.tumblr.com untuk lebih dekat dengan penulis.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s