Bulat Cinta Sang Magenta

 

Payung_Modis_di_Waktu_Hujan3.jpg

“Lagi sibuk?” tanyanya spontan.

Aku mengangguk kikuk. Sebetulnya malas untuk kutanggap. Karena bahkan tanpa kujawab pun kupikir mahasiswa ambisius ini sudah sangat paham betapa maratonnya aktivitas keseharianku. Di sini…

“Nanti sore ada waktu?” hmm, pertanyaan menyebalkan ini lagi. Sergahku dalam hati.

“Ada apa?” sahutku akhirnya. Jengah.

“Enggak. Cuma kita sudah lama tidak….” kedua jarinya menunjuk kepada dua bola matanya lalu bola mataku.

“Oooh. Wow… romantisnya!” cibirku. Satir.

Dia menertawaiku. Salah satu kapabilitasnya untuk membalik kenyataan. Ngeri.

Ya, memang begitu. Seperti tak ada waktu bagi kami untuk berdamai. Sekadar bercengkrama atau saling bertatap lama. Apa dia berharap aku merindukannya bercerita, bersaing teka-teki silang, menyaksikan pertandingan debatnya di kelas MKDU Bahasa Indonesia, atau bahkan mengacak-acak konsentrasi bacanya di ruang perpustakaan dengan tes-tes kokologi saat kebetulan kami bertemu di kampus pendidikan paling bergengsi ini? Tidak mungkin. Takkan kuberikan secuil pun kerinduan atau bahkan perhatian buat mahasiswa menyebalkan itu. Aku menjadi sangat bersyukur karena pekerjaan menjadi dosen di kampus ini cukup menyita waktu kesendirianku dan memberangus kebersamaan kami. Meskipun ya, kami masih berada pada atap universitas yang sama. Aku yang seorang dosen muda, sementara ia adalah mahasiswa tingkat akhir yang dari dulu tak lulus mata kuliahku.

***

“Hai… sini!” volume suara gentle-nya tiba-tiba merakit rasa terkejut di dalam sini. Hati.

Timbre bicara tetap kuatur senormal mungkin. Dan aku memastikan kalau yang dipanggil memang bukan aku. So, aku tak peduli…

Karena masih terpaku di tempatku berpijak, mahasiswa jurusan Matematika yang bermata jenaka itu itu pun menghampiriku.

“Tempat peralatan tulis. Lihat, sini…” pintanya.

“Berani-beraninya dia!” umpatku dalam hati.

Demi tidak menciptakan suasanan keributan di ruang perpustakaan, tanganku pada akhirnya memang merogoh tas. Ada cepuk etnik berwarna hitam, tempat alat tulis.

“Apa kamu tidak melihat, aku sedang mengajar mahasiswa sekarang? Senang sekali sih, jadi pusat perhatian banyak orang!” bisikku ketus.

Dan benar saja kulihat mesin mata para mahasiswa di perpustakaan kampus ini seolah memindai laku kami berdua.

“Selesai.” tanggapnya girang. “Kamu masih sama, tempat alat tulismu tidak rapi…” ledeknya.

Heeh… Dasar makhluk tak sopan. Dia menyebutku apa tadi? Kamu. Sadar tidak sih, aku ini dosen MKDU-nya.

“Urusi saja pekerjaanmu sendiri.” aku tak kalah menaikkan harga diri setelah merebut cepuk alat tulisku. Selintas lalu berjalan meninggalkannya.

“Dasar keras kepala…” ledeknya padaku. Lalu setrengginas mungkin ia berlari dan kini posisinya sudah menjajari langkahku.

“Masih suka buku-buku klasik? Butuh bantuan untuk mencari?” tawarnya berusaha mengambil kendali atasku.

Thanks. Bisa Ibu cari sendiri genre buku lain yang Ibu suka. Sampai bertemu lain waktu dan urusi saja kuliahmu…” aku mengusirnya sehalus mungkin. Itulah yang bisa kulakukan. Membuat jarak dengan menyebut diriku sendiri‘Ibu’, ya Ibu Dosen…

“Oh ya… Ada sebuket bunga dan coklat di meja kerjamu. Dari aku. Selamat usia perak.”

Aku tersenyum manis sekali dan berjalan mendekat ke arahnya. “Apa kamu tahu apa itu cinta bertepuk sebelah tangan?” tantangku kemudian.

“Entahlah.” Paparnya cuek seraya mengendikkan bahu.

“Ya, kayak kamu sekarang. Setiap hari kamu mengejar-ngejar Ibu, memberi perhatian berlebihan pada Ibu, tapi Ibunya biasa saja gak nanggepin kamu…”

“Ya enggak apa-apa. Terserah Ibu aja itu mah. Yang penting kan perasaan saya ke Ibu.” tegasnya dalam kebulatan tekad.

Oh My God…” aku merasa speechless dan kehabisan bahan bicara sebelum benar-benar mengambil jarak yang jauh darinya.

***

Sudah sejak setahun lalu mahasiswa ahli matematika itu merecoki hidupku. Selalu ada saja inisiatifnya untuk dekat-dekat denganku. Terkadang aku bingung, kenapa sudah kutolak beberapa kali ia tetap ceria, optimis, dan terus memotivasi aku. Dia yang sangat cerdas, tapi tak pernah lulus ujian mata kuliahku. Dia yang selalu baik dan perhatian menghampiriku saat kuliah. Dia yang tak tahu kompromi. Menawariku untuk bisa membantunya ini itu. Memaksaku agar mau menerimanya menjadi bodyguard-ku. Melarangku makan malam agar tak semakin menambah berat badan. Menasihatiku agar tidak menjadi perempuan kepala batu. Mengingatkan untuk selalu memakai manset panjang di kedua pergelangan tangan. Membelikanku makan siang. Membuat beberapa kali humor agar aku mau berkunjung ke rumahnya pada hari Minggu, bertemu sang ibu.

Dan hari ini. Dunia kampus serasa dilarung muram. Suasana kelas perkuliahan tak sehidup biasanya. Dia yang biasanya berkarakter seimbang, kini diam seribu bahasa. Aku? Bahkan sudah nyaris tiga hari aku sengaja mendiamkannya. Sama sekali tak berkeinginan memandang wajahnya atau bahkan memanggil daftar presensi namanya, kecuali dengan sangat terpaksa. Dan itu amat memukul jiwanya.

Aku toh terpukul oleh sikap impulsif dan posesifnya. Saat itu ujug-ujug dia mengusap kepalaku yang dibalut kerudung selebar ini. Hanya gara-gara dia merasa cemburu aku menerima konsultasi semantik dari mahasiswa lain.

“Tuuut…” tiba-tiba bunyi asing terdengar di ruang perkuliahaan. Disambut bau busuk. Kentut. Kontan seisi kelas gaduh, saling tuduh. Seseorang terbirit-birit sembari mengucap maaf ke arahku. Keluar ruangan. Meninggalkan rasa puyeng.

“Saya tahu kok, Ibu sebenarnya kangen kan sama saya…” mahasiswa penyuka warna magenta itu berbicara sedikit formal di sampingku. Eneg bercampur geli beradu dalam hatiku.

***

Vadenfah Rerisla adalah nama pena dari Eva Dewi Nurkholifah sejak di bangku madrasah aliyah. Penulis yang akrab disebut sebagai Bidadari Bermata Jeli ini akan genap berusia 27 tahun pada 22 Juni 2015 mendatang. Aktivitas keseharian penulis saat ini adalah mengajar Bahasa Indonesia, Bengkel Sastra, dan Tahsin-Tahfizh di SMPIT/SMAIT Mentari Ilmu Karawang. Untuk memenuhi curious yang sangat tinggi, penulis paling suka jajan buku,  jalan-jalan hunting ide, ikut serta seminar pendidikan, dan menulis cerita-cerita fiksi. Buku perdana penulis yang berjudul “Skandal Cinta Kelas Bahasa” telah diterbitkan oleh Leutikaprio Yogyakarta, tahun 2012 lalu. Puisinya yang berjudul “Sebuah Oh’ dinyatakan sebagai Juara I dalam lomba tulis puisi Hardiknas. Kunjungi FB/twitter/instagram Vadenfah Rerisla, atau bisa juga di blog vadenfahrerisla.wordpress.com/vadenfahrerisla.tumblr.com untuk lebih dekat dengan penulis.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s