WINTER MURAJA’AH

Maka aku mendatangi masjid besar itu. Tempat di mana aku merasa paling nyaman untuk menghafal pelajaran Biologi atau tahfizh qur’an, selain di belakang kandang ayam yang telah dialihfungsikan sebagai tempat mojokku dalam belajar.

Dan di antara sekian tempat yang luas dalam masjid jami’ Islamic Center, aku paling nyaman memilih tempat di balik hijab hijau tua yang tebal dan tentu saja sangat lebar, sebagai pertanda batas antara jama’ah laki-laki dan perempuan. Di masjid inilah aku pertama kali bertemu dengannya. Menyapai punggungnya dari jauh yang selalu saja terlihat tanpa sengaja.
Bahkan kali ini pun… Punggung tegapnya tetap khusyu merunduk. Melakukan murajaah pada ayat-ayat suci Al-Qur’an, tepatnya juz 27. Surat yang tengah dilantunkannya adalah surat An-Najm. Barisan bintang-bintang. Aku sangat menyukai bunyi surat ini. Aku selalu jatuh hati pada gugusan bintang. Sinarnya kemerlap sederhana menyinari kegelapan malam.

Aku seketika dibuat merinding. Merasa bergidik sendiri, dengan getar halus yang berdesir di dalam hati. Bibirku begitu erat merapal istighfar. Aku merasa sangat berdosa, datang ketempat ini untuk malah secara tak sengaja mengotori hati. Sebab apa? Telah kuhafal pula surat itu. Malah baru kemarin kusetorkan pada ukhti mudabbirah. Dan aku semakin merasa malu pada diriku sendiri, pada Tuhan. Betapa halus tipu daya setan melemparkan aku pada perasaan seperti ini. Apalagi, saat di pikiran ini melayang-layang pada awal surat juz 29, surat Al-Mulk ayat 5. Yang di dalamnya dikatakan bahwa sebenarnya Allah telah menjadikan bintang-bintang itu sebagai senjata untuk melempari setan.

Bergeragaplah hatiku untuk segera mundur dari tempat ini. Menjauh, sejauh-jauhnya untuk menolong hatiku yang sudah dibuai angan-angan duniawi. Besok, besok, dan besoknya lagi aku tak pernah belajar di masjid ini seorang diri, kecuali bersama barisan teman-teman atau para muslimah mualaf untuk mengikuti kajian bulanan.

Karena aku yakin tak ada seorang pun yang bisa menolong kemurnian hatiku jika bukan aku sendiri. Tak kuceritakan risau ini pada siapa-siapa, sebab keluhan hanya akan menambah deret permasalahan. Sementara target hafalanku yang masih 20 juz lagi harus segera aku rampungkan.
***

Miniatur besar bertulis ‘I AMSTERDAM’ menyambut hadirku. Hembusan angin winter menderai-deraikan syal biru tebal yang tengah aku kenakan. Aku mengenakan winter coat tebal sepanjang mata kaki yang berwarna blue lagoon, sepatu tebal anti ceblok salju, dan kupluk klasik berbahan bulu domba halus yang kusarangkan di atas kepala. Penutup hijab panjang pashminaku. Tanganku menggenggam erat sarung tangan yang telah dengan rapat menutupi keseluruhan jemari dan tanganku. Hari ini dingin sekali. Aku buru-buru menuju tempat yang kumaksudkan untuk kutandangi.

Seminggu lagi, aku akan mengikuti ujian hafizhah untuk 30 juzku. Seminggu itu seolah masih lama karena berbilang tujuh hari, tapi rasanya akan begitu cepat terlalui. Sehingga kembali ke sinilah aku sekarang. Dengan kekuatan hati yang lebih berani. Dengan semangat kuat dan tekad baja. Ooh, sudah begitu lama kiranya diri ini tak merasai tempat indah ini. Masjid Jami’ di Islamic Center Amsterdam City.

Tidakkah aku takut untuk bertemu seseorang yang dulu sempat mengobrak-abrik hati? Tidak. Karena aku sudah lupa seperti apa saat itu, tidak lagi berfokus akan hal itu, dan begitu yakin kalau lelaki yang dulu itu tidak akan datang atau bahkan berada di sini.
“Akhi bla…bla…bla… Lulus seleksi jadi dokter di Rumah Sakit Palestina, loh! Keren ya. Dia jihadkan ilmu dan hafalan Al-Qur’annya untuk mengabdi pada tanah darah para syuhada di sana.”
“Hmm. Begitu. Baguslah.” Apresiasiku saat itu.

Dengan tenang, kubolak-balik lembar-lembar murajaahku dari mulai juz 1. Alhamdulillah lancar. Setiap satu juz hanya berkisar antara 20-30 menit. Jadi, dalam waktu dua jam berada di masjid ini aku bisa menyelesaikan muraja’ah sebanyak 4-5 juz. Nanti sisanya bisa dilanjutkan seusai salat fardhu. Aah, kapan lagi, bisa berlama-lama di sini, coba….

Kututup kitab Al-Qur’anku yang sangat muat dikantongi saku itu. Tetap aku masukkan kembali dalam tas ransel berbahan jins yang hendak aku gendong.
“Ukhti, sudah selesai?” Tanya Mister juru rawat masjid.
“Sudah.” Sahutku santun. Kuamati gerak-geriknya seperti hendak bersih-bersih. “Waah, maaf ya kalau sudah membuat menunggu. Mau dibersihkan ya, Mister?” Dia tampak menggeleng seraya tersenyum.
Mister Salim, selanjutnya dia memperkenalkan dirinya demikian kepadaku, mengatakan bahwa sedari tadi ada tiga orang yang tengah menungguku di ruang perpustakaan Masjid Jami’ Islamic Center ini.

Aku beranjak menuju ruang perpustakaan yang dimaksud. Benar, di situ sudah ada seorang perempuan dan dua orang laki-laki. Aku tampak mengernyitkan dahi. Karena yang kuhafal hanya wajah Ukhti mudabbirahku, yakni sang perempuan itu. Sementara, dua lelaki ini? Aku serta-merta mengernyitkan dahi.
“Yang berkulit putih itu suami Ukhti.” Ukhti berbisik kepadaku dengan Bahasa Melayu-Netherlandnya.
Aku lantas tersenyum takzim untuk menyapa sang suami yang dimaksud. Suami Ukhti berarti guruku juga.
“Sudah dapat berapa juz muraja’ahnya?” Sambut suami Ukhti. Mengurai keheningan di antara kami.
“Baru lima juz, Ustad.” Sahutku jujur. Aku bingung mau menyapanya bagaimana agar setara dengan panggilan Ukhti.
“Tadinya kami mau langsung memotong muraja’ahmu di tengah-tengah…” Jelas Ustadz. “Tapi Akhi satu ini sabar sekali. Meminta kami agar menunggumu sampai selesai.” Sambung Ustad lagi sembari tersenyum dan menepuk-nepuk bangga pundak sang lelaki yang terus menunduk dengan senyum sekilas di sebelahnya itu.
“Wah! Gak kebayang kalau saya memutuskan terus lanjut muraja’ah.” Selorohku kemudian.

Lantas kemudian Ukhti mudabbirahku menjelaskan segala sesuatunya. Bla. Bla. Bla. Panjang lebar, sangat sederhana, sekaligus membuat aku agak-agak speechless dibuatnya.

Aku hanya diberi waktu 3 hari untuk istikharah. Semua pemaparan visi-misi hidup tinggal aku baca-baca.
“Lha wong, mumpung Dokter ini sedang liburan. Cuma satu bulan ada di Amsterdamnya. Untuk selanjutnya, bakal kembali ke Palestina…”
“Palestina? Jadi dokter ini?” Aku menimbang-nimbang pemikiranku. Mendekap amplop biodatanya semakin erat.
“Iya. Akhi bla…bla…bla… ini kan sudah 2 tahun bertugas ke Palestina. Jadi dokter di rumah sakit sana. Beritanya heboh loh. Masa kamu gak tahu..” Heboh? Aku tidak tahu? Ya Allah, aku memang benar-benar tidak tahu lagi, perasaan macam apa yang sedang berkejaran dalam hati ini.
“Saya sudah kenal kamu lama. Sering melihatmu belajar di masjid ini. Sejak dua tahun lalu.”
Masha Allah…” Cuma itu. Hanya kalimat agung penuh ketakjuban ini yang bisa aku ucapkan.
“Ibuku memimpikan wajahmu. Berturut-turut selama tiga malam, beberapa bulan lalu.” Paparnya, cukup mengejutkanku. “Ibu lalu menceritakan mimpi itu pada paman kami yang ahli menggambar wajah dan mahir psiognogami. Saat digambar, jadinya terlihat seperti ini…” Sebentar kemudian, dia tampak merogoh sesuatu di dalam black ranselnya.

Saat dikeluarkannya kertas bergambar wajah seorang perempuan berlesung pipi dalam itu, dengan refleks kusentuh wajahku. Aku takjub. Itu aku. Ya Allah… Aku dan dia kan sama sekali tak pernah bersitatap wajah. Hanya menatapi punggung tegapnya dari jauh. Hanya begitu. Tapi kuasa-Mu, sebegitu indah begini. Sampai sedetil begini.
“Saat aku dikirimi Ibu gambar wajah di kertas itu, yang langsung aku pikirkan adalah Mister Karst-jan.” Sebutnya pada Ustad, suami Ukhtiku itu. “Kukirimkan screenshoot picture ini kepada beliau sebulan lalu. Mr.Kaarts-jan meminta istrinya melakukan penyelidikan. Lalu akhirnya, ya begitulah hingga pertemuan ini sekarang.”
Aku memandang wajah Ukhtiku dengan tatapan sangat dalam.
“Aku menyeleksi para mutadabir di sekelilingku. Berdasarkan sifat-sifat dan karakter yang dituturkan ibunya. Aku bahkan langsung berkunjung ke rumahnya untuk secara langsung bertemu sang ibu.”
“Lalu?” Pancingku kemudian.
“Aku hanya yakin dan menemukan kalau karakter yang dimaksud ibunya itu jelas-jelas kamu.” Lontar Ukhti puas. “Lihat saja, nih!” Telunjuknya mengetuk-ngetuk sesuatu yang dekik pada bagian wajah di kertas gambar itu. “Lesung pipi ini kan kamu banget.”
Aku tersipu.

Ya Allah… Mimpi apa aku semalam? Hingga hari ini ujug-ujug aku mendapati orang-orang ini sudah Engkau atur untuk mengatur masa depanku. Mana seminggu lagi ujian tahfizh pula.
“Rabu kan hari pertama Cooling Day. Rencananya mau kemana, nih?”
“Mau muraja’ah saja. Di Masjid Jami’.”
Sahutku riang sekali.

Aah, andai aku tahu apa yang ada di pikiran Ukhti Lesliej saat itu. Sayangnya, beberapa hari lalu, dia sudah merekam dengan baik apa rencanaku, sedangkan aku santai-santai saja membeber tempat tujuanku, tanpa sedikitpun berpikir akan dipertemukan untuk hal ini. Di sini.

***Kalau nulis yang misterius gini, baru suka… Yay, akhirnya bisa buat cerita tentang gambar Winter Muraja’ah
‪#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOOORChallenge11‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬

1916997_10203950645285955_6303695817865547887_n.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s