TENTANG GADIS PENCARI KUTU

Gadis ini orang kampung. Semenjak SD darah bisnis sudah mulai mengaliri nadinya. Ia terpaksa harus pandai membaca keadaan keluarga, tetangga, dan masyarakat saat itu… Untuk mendapatkan tambahan uang jajan karena memang terlahir dari keluarga tak mampu.

Hal yang paling ngetrend dan meruyak di kalangan anak-anak kecil seusianya saat itu adalah kemunculan genderuwo, si Buto Ijo, bahkan Vampir. Mungkin karena efek film layarbtancap Suzana atau film Hongkong jadul. Banyak fenomena anak-anak hilang yang konon kabarnya disinyalir sebagai tumbal pembuatan jembatan pembatas daerah Lorkali. Jembatan pembatas Lorkali ini menjadi tanda bahwa kira-kira hanya sampai situlah tempat ini dihuni banyak manusia.

Oya, Ada yang tahu dari nama Lorkali itu maksudnya apa? Ini adalah semacam hutan bergerumbul yang tak berpenghuni rumah manusia, tempat penduduk kampungnya dan beberapa kampung tetangga bertanam jagung serta sejenisnya, dan tempat untuk mencapainya keluarganya harus selalu menyeberangi derasnya air sungai yang dalamnya kira-kira setinggi bahu orang dewasa. Allah yang Mahatahu sehingga menjadikan anak-anak seusia kelas tiga bahkan sampai kelas 6 SD atau SMP hanya bisa kesana saat air sungai menyurut, kira-kira setinggi ketiak bocah-bocah.

Oleh karena berita menggemparkan mengenai jembatan berdarah itu, ia selalu tak nyaman jika harus melewati jembatan kayu hutan, jembatan rotan, atau jembatan gantung, dan semacamnya. Karena yang terbayang adalah pembunuhan rekan-rekan seusianya. Maka dari itu, ia tak pernah sanggup untuk setiap kali diajak ke ladang nun jauh di antah berantah itu. Ia akan kleyengan karena panas, kadangkali pingsan, tak ceria, dan lantas murung setiap kali ditanya. Dan itu tidak sekali dua kali, tetapi terjadi berkali-kali. Dia baru akan senang kalau diminta berburu buah-buahan (waktu itu banyak tumbuh buah nanas, mangga pakel/limus dan arum manis, jambu batu, buah salam, loba-lobi, buni, dan anggur dawet), memetik bebungaan hutan, atau menyate singkong bakar. Tapi dia akan lantas kembali merasa resah dan bersalah saat diganggu sekawanan kalanggrang dan menjadi berang hingga dengan tanpa sadar menyatai kalanggrang itu dengan serta-merta di atas bara panas. Baru kemudian menangis karena telah merasa begitu tega pada makhluk-Nya.

Lantas kemudian, ia tak pernah mau lagi ikut ke ladang hutan karena semakin dirasa semakin sedih pula hatinya saat setiap hari merekam betapa kurus, lelah, dan pontang-pantingya orang tua menghidupi kehidupan keluarganya. Dengan pergi dari pukul 05.30 pagi, membawa bekal makan dan peralatan salat yang harus disunggi di atas kepala dengan satu tangan sebab tangan satunya digunakan kedua orangtuanya untuk saling bergandengan menyeberangi sungai dalam, setelah kemudian pulang lekas-lekas hingga sampai rumah pada pukul setengah enam petang.

Hidup yang amat keras.

Hidup yang amat keras itu membuatnya tak setiap hari mendapat uang jajan. Hingga kala itu seratus perak harus digunakannya untuk biaya jajan selama 4 hari sekolah. Sebab untuk makan keluarganya saja–gaji PNS bapaknya–hanya sanggup untuk makan telur sebulan dua kali yang digoreng tebal dengan campuran tepung terigu dan sengaja diberikan banyak garam agar bisa dibuat lauk makan hingga siang hari.
Protein hewani seperti ayam, daging kambing/kerbau/sapi, dan ikan laut hanya didapat dari punjungan hajatan tetangga atau oleh-oleh hasil kenduri karena bapaknya diundang sebagai pemanjat doa. Iwak Pe alias ikan layang lebar hanya baru bisa keluarganya nikmati sebulan atau dua bulan sekali. Itu pun jika jualan terong, sawi, dan bayam yang keluarganya tanam di halaman depan dan belakang rumah terpanen dengan sangat baik.

Maka bapaknya yang seorang guru agama itu bekerja semakin keras, dibantu ibunya yang sangat taat beribadah sehingga kerap didapati keduanya setiap malam berlama-lama menangis dalam sujud sepertiga malam. Ia pun tak kalah bersusah-payah saat menanti pulang orang tuanya di rumah. Ia memasak, menimba, memenuhi berbak-bak air untuk mandi orang tuanya, mencuci piring, mengucak baju-baju kotor, membersihkan penjuru rumah, menyiram bebungaan kesayangan ibunya, menyiapkan makan malam, dan menuntaskan hal-hal lain yang sudah harus beres agar kedua orang tuanya senang hati meskipun sangat lelah setelah seharian penuh bekerja di ladang Lorkali. Dan itu sudah rutin dilakukannya semenjak kelas 4 SD.

Beritanya sebagai anak SD yang harus matang, gigih, dan menjalani hidup dalam disiplin dan kesahajaan hidup yang sangat keras ini terdengar oleh segenap tiga penjuru, dari tiga kampung tetangga. Sehingga tetangga-tetangganya mengasihi keluarganya dengan mengirimkan jantung pisang, buah gori nangka muda, kluih, labu sayur hijau nan panjang, dan buah labu hallowen berwarna kuning.

Allah yang Maha Pengasih, memberikan keluarganya hadiah yang sangat baik juga untuk pemenuhan kebutuhan protein keluarganya dengan mendatangkan segerombol lebah madu yang bersembunyi, membangun benteng sarang lebah, dan beranak-pinak sangat banyak di belakang lemari baju dan perabot yang mendepis di samping kanan pintu belakang rumah. Istana penangkaran lebah madu itu dipanen keluarganya kadang seminggu sekali, kadang sebulan sekali. Cangkang putih tempat madunya diperas dalam beberapa botol bekas limun, setelahnya beberapa cangkang disayur santan pedas, lebahnya digoreng atau dibotok dengan campuran bumbu kelapa muda berbungkus daun pisang untuk kemudian dipanggang sebagi lauk makan berhari-hari.

Menghadapi hal itu, ia yang amat menyukai opak telo, lontong sayur, dan kemplang memutuskan untuk mencari tambahan uang jajan. Setiap pagi saat musim jambu tiba, ia berkeliling memunguti jambu tetangga Nasraninya yang jatuh tergelepak di atas tanah dan sudah dihalalkan.

Berhari-hari hingga genap satu minggu didapatkannya sekantung dua kantung jambu air itu untuk dijual pada beberapa teman. 4 jambu air putih atau jambu air hijau semu untuk 25 perak. Namun, dipekan kedua ibunya mengetahui tindakannya. Dengan menangis sang ibu menasihati untuk jangan meminta-minta atau mengambil jambu tetangga seperti pengemis. Harta punya sendiri dari keringat sendiri itu lebih baik daripada meminta-minta belas kasih pada tetangga. Maka ia menangis, dibuangnyalah dua keresek jambu air jualannya itu ke sebuah aliran sungai di samping rumah. Dan mulai mencari-cari, ia harus kerja apa untuk bisa menghasilkan uang yang banyak. Tak membebani kedua orang tua dalam hal uang saku hariannya. Ya, begitulah pikiran anak-anak yang dididik untuk kuat dan tangguh menanggung keperihan hidup…

Siangnya, rezeki Allah yang tak diduga-duga itu datang lewat permintaan seorang ibu kaya di kampung yang memiliki banyak harta, membangun warung, rumahnya luas, namun tak pernah bisa menikmati tidur siang digeleber-geleber angin kampung. Ia pun diminta untuk ‘petan’, membelai-belai rambut kepala ibu itu dan mencari-cari sesuatu yang mengganggu di kepalanya.

Dengan lihai ditemukannya beberapa rambut putih yang berdasarkan pesanan si empunya mesti dicabuti, mengambil rambut-rambut pendek tebal dan agak keriting yang sangat menentramkan kalau dicabut karena adanya selama ini membuat gatal kepala menjadi terasa menjadi tiada tara.

Dari situlah, ia memulai jejak bisnisnya ditambah kemahiran mencari, menangkap, dan memitas kutu-kutu kepala. Menemukan lisa yang menjepit di area terdekat dengan akar rambut, mencari lisa yang berada di antara ribuan helai rambut panjang orang dewasa, dan membunuh kor merah (anak kutu rambut) yang selalu membuat gatal kepala terasa luar biasa.

Ia seorang anak cadel yang bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah sebesar 50, 100, 200, 500 atau jika sedang sangat banyak pesanan bisa sampai 1.200 perak. Dan itu terhitung pendapatan yang lumayan besar bagi seorang anak SD di kisaran tahun 1996-1998. Sementara anak-anak lainnya masih asyik bermain teplek wayang, adu jangkrik atau kinjeng capung, bermain undur-undur, melempar kelereng, bermain tingtong bongkar pasang, dipunji di atas leher bapak masing-masing, atau pasar-pasaran ala anak kecil perempuan.

Ya, orang tuanya memang berbeda. Ia pun dari kecil sudah dididik keras dengan cara berbeda sehingga tak heran jikalau tampak pulalah ia sebagai anak yang berbeda.
“Suatu saat kamu akan jadi orang besar, Nduk. Yang bisa memuliakan keluargamu, menyantuni semua orang yang ada di sekelilingmu.”

Dan itulah ia. Betapa ia sangat senang karena akan bisa membeli sepeda untuknya memudahkan pergi kemana-kemana. Dengan uang kerja kerasnya sebagai gadis pencari kutu.
‪#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOORChallenge13‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬

prayer_2014_02_07-850x707

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s