SERUMPUN BAMBU KENCANA UNGU

🌾🌳🌾🌳🌾🌳🌾🌳🌾🌳
“Sst, di tempat itu kamu bisa prosotan, mendengar Putri Bung menyanyi buat bayi, mencium wangi yang hmm, haruuum.” Suara itu diaturnya membisik pelan dan magis.

Hari ini seharusnya ia mengunjungi hutan bayur bersama teman-teman SD dari sebelah rumah. Berkeliling setiap pohon bayur rendah, mencari dua atau tiga potong daun muda, dan menikmati jeruk pasar manis yang suka rontok di hutan. Tapi ia urung. Rasa penasaran dan penuh ingin tahu membuktikan ucapan itu. Ucapan dari teman SD-nya sendiri. SDN 1 Kelaten.

Ya, ada dua area sekolah dasar di kampungnya ini. Pertama, gedung SDN 2 Kelaten yang terletak persis samping rumahnya yang hanyan terpisah oleh belahan bantaran sungai Sidorejo. Sekolah ini tempat para kebanyakan anak orang kaya, suka kemewahan, modernisitas, cewek-ceweknya centil, cowok-cowok Pahabung asli yang ‘ganas’ bahasanya, dan kurang ramah. Kedua, gedung SDN 1 Kelaten yang menjadi tempat orang-orang susah bersekolah, siswanya gigih, rajin belajar, masih tradisional, dan kerap jadi juara umum di tingkat mana-mana. Tempat sekolahnya dan sekolah di samping rumahnya hanya di batasi oleh lebar lapangan kampung yang biasa digunakan untuk pelaksanaan salat Idul Fitri. Luas lapangannya bisa menampung seluruh penduduk 5 bahkan sampai 6 kampung.

Sebenarnya tidak hanya letak geografis dan psikologis para siswanya yang berbeda, namun jenis naturalisme pasokan tanaman yang tumbuh dari kedua sekolah pun berbeda. Sekolah dasar persis di samping rumahnya banyak ditanami pohon kakao merah dan hijau. Sementara, sekolah SD-nya sendiri tumbuh pohon beringin, albasiah, alkasia, mlanding, pohon pisang, ubi jalar, singkong, dan terhampar sawah hijau yang luas di bagian timur sekolah.

Dan di sinilah ia sekarang. Masih di sekitar area timur sekolah. Tempat ini banyak tumbuh serumpun bambu hijau, tinggi, rimbun, dan teduh. Kali kecil berair jernih yang suaranya bergemericik mengalir dalam alunan damai. Sebatang pohon kencana ungu yang tinggi, dan tanah sekitar itu berkarpet daun-daun bambu kering berwarna coklat, kuning, atau abu-abu.

Ditungguinya suara tangisan Putri Bung yang katanya cantik jelita besuara merdu. Tapi yang keluar hanya induk kucing yang sedang melalui masa nifas karena sepertinya baru saja melahirkan 6 ekor kucing. Dihirupnya aroma kembang kencana wungu yang tengah mekar dan dipungutinya kelopak-kelopak berwarna ungu itu dalam setangkup telapak tangan.
“Hatchii!” Bukannya merasa nikmat mencumbui wangi, hidungnya malah sepertinya lebih tepat merasa alergi. “Ha-hatchii! Hatchh-chi!”
Diusap-usapnya pelan-pelan hidung mancung itu dengan ujung-ujung jemari. Tentu saja setelah, setangkup kelopak mung kencana wungu ia buang, berhamburan di atas karpet daun-daun bambu kering yang berserakan.

Ia lalu bernyanyi-nyanyi sendiri di bawah pohon bambu. Berkeliling, berputar-putar kecil, dan aah, menyebalkan. Ia lantas terdiam. Pikirnya lebih baik pulang saja daripada tak menemukan apa-apa. Tak ada Putri Bung yang menyanyi, tak ada lagu yang menidurkan bayi, yang ada malah cuma bayi-bayi kucing. Sial…

Ia pun memutuskan untuk memanjat dinding tangga dari undak-undakan tanah. Kembali ke atas dataran. Karena tempat yang dkunjungi kali ini berada di bawah, hampir bisa disebut jurang kecil. Terdengar bunyi berkerasak di balik rimbunan bambu. Hilang begitu ia tengok. Saat ia naik satu undakan tanah lagi. Terdengar bunyi kerasak lagi. Lebih keras dari yang tadi. Ia turun beberapa tangga. Hilang suara. Ia berhenti. Setelah celingak-celinguk tak ada apa-apa. Deg. Deg. Deg. Jantungnya memburu. Ada yang aneh ini, batinnya. Ia sedikit gemetar menaiki undakan lagi. Berkerasak lagi. Semakin kencang. Kencang. Kencang. Terdengar lebjh dekat.
“Whhaaaaaaaaaak!!!” Teriaknya kaget. Penuh ketakutan melihat makluk melata bersisik tebal itu matanya melotot ke arahnya, membuat kakinya terus menghentak undak-undakan tanah.
“Mbaaah! Mbaaaah!” Panggilnya keras-keras pada kakek-nenek yang sedang menyemprot pupuk di sawah dan mencabuti tumbuhan genjer, begitu ia sampai ke tanah bagian atas. Kakek nenek yang dimaksud menoleh kaget. Kok, ada bocah kecil dari bawah jurang sih? Pikir mereka. “Mbaah, cepat panggil Bapaak, Mbah! Ada trenggiling. Gede, Mbaaah! Tangkap, Mbaah…” Terangnya kemudian masih terengah-engah.
Yang disebut Mbah langsung meninggalkan pekerjaannya. Kakek meletakkan tangki semprot, berlari ke arahnya. Nenek langsung berlari ke sekolah. Setelahnya akan menyeberang lapangan, SD samping rumahnya, sungai, dan ke rumahnya. Bertemu Bapaknya, sang penakluk trenggiling.

***To Be Continued***
“Sang Penakluk”

‪#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOORChallenge17‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬

g

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s