PAYUNG DEWI PELANGI

🌂☔🌂☔🌂☔🌂☔🌂
Mentari terbit di ufuk timur, menjelmakan sirobok resah di celah-celah pohonan jati samping rumah. Angin fajar dusun menyisir sumilir, sebentar pelan sebentar tergesa. Menggebah-gebah dedaunan teh-tehan yang keempat pohonnya berdiri kokoh dengan 2 bentuk runcing segitiga ala-ala cemara dan 2 bentuk bulan setengah purnama. Pohon itu ditanam sejak awal tahun 1992. Tentu saja di pertengahan tahun 1995 ini teh-tehannya sudah berjuntai bunga-bunga wangi berwarna ungu dan putih dengan biji-biji kuning cerah nan cantik. Kembang-kembang beugonia berwarna merah muda rontok, jatuh kebawah menghiasi area sekitar batang pohonnya. Bunga asoka dalam barisan warna orange, putih, merah, dan pink terlihat membasah, sisa-sisa tetesan embun masih meninggalkan jejak di keempat kelopaknya yang mungil-mungil itu. Di sisi kiri depan rumah, tampak mayang-mayang kelapa gugur, mengotori permadani asli halaman rumah yang terbuat dari suket Jepang. Terlihat seorang ibu berkulit kunkng langsat memboyong sapu lidi, serok besar dari daun kayu jati lebar berwarna kuning kecoklatan, dan seember teko bekas untuk menyiram kembang setaman.
“Air panasnya tolong nanti diangkat ya Pak, kalau udah mendidih.” Pesannya melongok ke dalam rumah berukuran sederhana itu.

Ciiiiit! Jeees! Tak lama, dari arah dapur terdengar bunyi cerek air panas yang terutup rapat di atas bara api tungku kayu. Air mendidih. Suaranya berdenyar dalam getar tekanan 95-100°C. Asap air panas yang dibawa di atas pucuk moncong cerek berpusar-pusar nanar. Bapak yang sedang memenuhi berember-ember air untuk mandi anaknya dan untuk membantu mencuci meringankan tugas istri pun beralih fokus.

Dipontalkan tali katrol timba, dan whuuut bersuara menyentak laju timba saat itu terjadi. Diangkatnya cerek air panas mendidih, diisinya termos untuk menjaga suhu panas air mendidih jika sewaktu-waktu ada tamu berkunjung hendak dibuatkan teh atau kopi, dipenuhinya poci besi bercorak vintage dalam balutan warna hijau putih. Hendak mengambil lap kain, karena tangkai pegangan poci berbahan besi itu panasnya menyengat telapak tangan. Tiba-tiba…
“Awwwwwh!” anak perempuannya mengaduh dengan posisi badan terperosok menggelosor di lantai depan sumur, dekat tempat pencucian piring.
Innalillah! Masya Allah, Naak!” Bapaknya yang baru kembali mengambil lap kontan berlari bersamaan dengan sang ibu yang telah membanting ember hitam khusus penyiram tanaman. Menuju Annisa Puspa Wulaning Syafi’i yang mengaduh dalam tangis. Setengah tubuhnya memerah lebam terguyur tumpahan air panas. Saat tadi bapaknya lengah belum menutup teko poci berbahan besi, entah kenapa Puspa, bocah kelas dua SD itu, usai melepas baju hendak mandi berniat melompati sebaris cerek, teko poci, dan termos di pelataran sumur.

Dengan tergopoh-gopoh, Puspa dibopong bapaknya yang telah berurai air mata. Dipakaikan baju seadanya, hendak dibawa lari ke pak mantri yang jaraknya cukup jauh, sekitar dua kilometer dari rumah. Beruntung pakde, kakak kedua ibunya, muncul dengan menaiki motor vespa yang kebetulan mesti lewat di depan rumahnya jika akan mengunjungi kampung neneknya, mengambil hasil cangkokan dari batang sawo tua.
***
Bertemu di rumah pak mantri.
Pak Anjar, mengusap-usap kepala bocah kelas dua SD itu miris. Kasihan… Anak sekecil ini harus menderita kerusakan kulit begini, batin sang mantri.
“Pak, anak saya bakal cepet sembuh, kan? Kulitnya bisa normal lagi kan, Pak? Gak ada bekasnya kan, Pak. Anak gadis saya.” Cecar bapaknya sesenggukan dalam tangis penuh sesal.
“Tenang saja. Sabar ya, Nduk…” Ujar Pak Anjar, pak mantri itu, sembari meyuntikkan antibioti kedalam pantat Puspa. “Insya Allah, dua bulan lagi juga sembuh,” Imbuh Pak Anjar sembari menjentik kecil hidung mancung Puspa.
“2 bulan?” Bapak sudah terpukul, makin terjungkal lagi perasaannya.
Sungguh malang nasib anaknya ini, pikirnya.

Saat hendak dipeluknya, bapaknya mengurungkan niat. Dia lalu sontak mencekal lengan, pundak, dan melihat paha, serta kaki kiri anak gadisnya dengan tatapan bingung, sedih, kasihan, dan marah pada diri sendiri. Kini kulit-kulit pada bagian tubuh anaknya yang dicekal tadi sudah melepuh berwarna putih merah, menggembungkan air dari balik selaput kulit yang tampak setipis membran, dan sudah ia ketahui bahwa jikalau pecah maka bau anyirnya akan sangat luar biasa.
“Ini tablet buat diminum rutin 3x sehari setelah makan.” Jelas Pak Anjar seraya mengangsurkan kertas bercap izin praktiknya, kertas kantong kecil itu berisi pil tablet besar-besar, bubuk amphysilin, dan lain-lain.
“Terima kasih, Pak.” Sahut Bapak santun. Sudah bisa menguasai diri sehingga tak sepanik tadi.
“Sampai di rumah, baiknya jangan pakai baju. Tidur jangan langsung di kasur. Ndak nanti lukanya mlecet. Terus pecah, nyeri. Alasi pakai sesuatu yang teksturnya licin-lincin buat kulit aja.” Pak Anjar tampak menghelas nafas panjang sesaat. “Yo, nunggu dua bulan, bener-bener sembuh. Dua mingguan lagi paling luka melepuhnya kempes. Terus tinggal nunggu pengeringan, sembuh total. Nanti baru mbok olesi masker tumbukan jagung muda, biar cacat lukanya memudar. Nanti kapan-kapan tak tengok anakmu ke rumah.”
Bapak mengangguk. Setelah membayar pengobatan, bersalaman, baru kemudian pamit.
***
Berhari-hari makannya disuapi. Makan tak terasa enak sama sekali. Makannya pun mulai berkurang porsi. Tak bisa sesemangat biasanya. Pelupuk matanya berurai air mata. Kantung matanya bengkak, menahan sakit. Tangisnya jatuh tanpa suara. Ia anak yang sangat bawel, ceriwis, dan energik ketika sehat.

Tapi saat begini? Tak bisa ia merengek manja, bagaimana mungkin dia anak orang tak berpunya… Meski tubuh kecilnya yang ringkih nyeri setengah badan, tak kuasa bangun. Tidurnya hanya bisa beralaskan plastik putih bening di atas kasur kapuk padat yang kalau ditiduri justru membuat sakit badan–saking padat dan kerasnya kasur murah buatan tangan kedua orang tuanya sendiri.

Tentang alas tidur daruratnya… Kadangkali, untuk menjaga tetap bersih dari anyir air luka lepuhan yang pecah dari gesekan kulit, sewaktu-waktu bapak-ibunya akan mengganti alas tidurnya dengan selembar pelepah daun pisang yang dipangkas dari kebun di pekarangan belakang.

Hari ini nafsu makannya libas. Belum ada secuil makanan pun yang masuk. Bahkan biskuit bala-bala jadul pemberian pemberian neneknya, yang bundar-bundar besar dan selama ini selalu jadi rebutan ia dan adiknya pun sama sekali tak berhasil mampir di mulutnya. Susu Bendera coklat yang diseduh dengan air hangat, sebagai kiriman besuk dari pakdenya juga hanya ditanggapi dengan gelengan kepala. Jadi sudah setengah harian ini lambungnya kosong.
“Kamu mau maem apa, Nduk?” Tanya sang ibu penuh welas asih.
“Enggak.” Kepalanya menggeleng lemah.
“Bubur kacang ijo, ya?” Tawar ibunya masih tak menyerah. Ia tahu, ibunya akan dapat itu di mana? Kemana? Beli pakai apa? Maka ia pun menggeleng lagi.
“SUN? Anggur? Jeruk? Apel merah ini. Ini dari pakdemu.” Gigih usaha ibu sembari membelah apel membentuk sabit bulan. Meski buah-buahan mahal yang sangat enak ini tak pernah kebeli oleh ibunya, nihil nafsu makan masih dirasanya. Ia tetap menggeleng lemah.
“Biat cepet sehat Nak, cepet kering lukanya. Bisa ikut ngaji di masjid lagi sama teman-teman.”

Kata-kata ibunya menggantung di bawah saraf pendengaran. Berebutan untuk disimak bersama tumpahan kristal dari langit yang melebur jadi air hujan deras tanpa nyana. Ibunya tampak bangkit menyerukan ingatannya sendiri pada jemuran pakaian di pekarangan samping rumah. Sementara ia, sudah memejamkan mata. Bayangannya telah menari-nari bersama payung dambaan hati yang dijanjikan Tuhan.
“Aisyah! Aisyah!” Sapa seseorang saat tubuh kurus tinggi, bercaping anyaman mendong emas, dengan rambut digelung anggun itu masuk rumah sembari menggaungkan nama ibunya. Pakaian kebayanya yang bercorak kembang ceprok merah besar, keproh, sedikit kuyup. Nenek bersuara cempreng dan ramah itu tampaknya kehujanan di luar. Ia lantas masuk ke kamar tempat cucu jauhnya, terbaring menanggung sakit. Mengelus-elus kepala si cucu.
“Oalah Ngger-Ngger, nasibmu kok apik temen…” Kata-katanya sungguh berlainan dengan keadaan yang kini dialami si cucu.
“Loh, Mbok Sum? Kok ndak ngabari kalau mau kesini?” Sapa ibunya sambil mencium takzim tangan Mbah Sum.
“Lho ya wong sekalian lewat seko Pendowo e. Mumpung bubar dagang, tak ketemu puthu wedok.” Sebaris senyum tersampir dari wajah tua Mbok Sum itu, adik dari nenek ibunya.
“Oalah. Yo wis, tak buatkan minuman dulu. Teh nopo kopi, Mbok?”
“Alaah, yo teh noh! Kok, ndadak repot.” Timpalnya, merasa senang karena dihormati.

Ibunya berjalan menuju dapur. Mencatut sesendok teh Bung, menambahi satu setengah sendok gula putih, menuang air panas kedalam gelas besi gendut bercorak vintage, berwarna ungu sulur kembang terong. Setelah diaduk-aduk, dibawanya segelas minuman itu dengan nampan. Disuguhkan pada Mbok Sum, di meja dekat pembaringan si cucu.

“Puus… Puspa!” Setelah menyeruput sedikit teh hangat, suara Mbah Sum disambung dengan menggoyang-goyang dipan kayu, ranjang tempat si cucu, Puspa terbaring. “Kamu ndak mau bangun ketemu Mbah toh, Pus? Iki loh Mbah Sum bawain kamu oleh-oleh banyak. Anggur merah, jeruk Bali, Apel, sama Payung Dewi Pelangi.” Goda Mbah Sum kemudian.

Tiga kata terakhir ucapan Mbah Sum seolah-olah bergetar menjadi berkali-kali kata di telinganya. Payung Dewi Pelangi. Payung Dewi Pelangi. Payung Dewi Pelangi.

Demi mendengar sebutan Payung Dewi Pelangi yang seolah-olah memanggilnya, suara itu akhirnya mengetuk alam bawah sadarnya juga. Serta-merta ia tergeragap bangun dan kedua matanya terjaga.
“Mana Payung Dewi Pelangiku, Mbah? Payung cantikku…” Mbah Sum dan ibunya saling bersitatap aneh. Lantas mengambil payung yang dimaksud di karung dagangan.

Payung berwarna-warni tujuh pelangi yang besar dan masih terbungkus plastik putih bening baru itu diberikan padanya. Dipandangi dengan tatapan dalam, dipeluk, dan diciumnya berulang-ulang sambil bulir matanya merepih dalam tetes-tetes keharuan. “Terima kasih payungnya, Ya Allah. Bapak… Benar kata Bapak, Engkau baik sekali…” Ia seperti tengah berbicara pada bapaknya. Padahal, sedang berbicara sendiri.

Payung Dewi Pelanginya. Payung dambaan hati, buah harapan dari meminjamkan jambu brongsongannya untuk membahagiakan teman-temannya selama beberapa bulan ini.

Payung barunya yang indah. Bukankah Allah, Tuhan Yang Maha Menepati janji? Dikembalikan-Nya sesuatu yang telah dipinjamkan hamba-Nya. Payung itu, ya Payung Dewi Pelangi itu dihadiahkan-Nya melalui Mbah Sum, untuk turut menjadi saksi bahagia di masa hari-hari penyembuhan setengah tubuhnya yang melepuh tersiram air mendidih.

‪#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOORChallenge16‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬
Payung_Modis_di_Waktu_Hujan4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s