JIKA SAJA DIA…

Suasana di luar Jozen Kaatje Cafe hanya terdapat beberapa gelintir orang yang tengah lalu lalang. Bumi Netherland diselubungi rerintik salju. Menatapi satu per satu bulir putih salju yang jatuh itu, ada keinginan besar yang melonjak-lonjak dalam dadaku yang semakin kencang berdebar. Hanya Tuhan yang paling tahu apa dilema yang bertasbih dalam hatiku.

Bagaimana ini? Aku dan dirinya berada dalam satu ruangan yang sama, hanya berdua saja. Hatiku tampak kebat-kebit. Kurapatkan mantel berbahan polar tebal dengan corak ungu gelap itu di badanku. Kuhentakkan burai rambut coklatku yang panjangnya sudah melebihi batas pinggang. Dari balik kaca, di samping tempatku duduk, kuamati lamat-lamat ia tampak menatap sekilas ke arahku. Lalu kembali menenggelamkan tatapnya dalam buku. Menekuri tarian kata-kata yang berbaris rapi di situ.

Dia seorang arsitek muda yang dingin, sama sekali tak bermurah hati pada perempuan, dan kaku seperti tak memiliki sentuhan perasaan bernama kasih sayang. Aku selalu keki dibuatnya. Takut tak dianggap dan selalu tak yakin untuk memulai percakapan lebih dulu. Entahlah, aku memilih untuk tak terlalu memusingkan keadaan terjepit seperti ini. Tapi lama-kelamaan ini toh menggangguku juga.
“Nona Muda, pesananan Gile Great-mu datang.” Sapa seorang waitress sembari mengangsurkan segelas minuman paduan sari ginger, lemon, dan green tea. Memungkasi pagar lamunanku.
“Aaah, iya. Terima kasih.” Aku menyambutnya dengan mengalihkan kepala yang sedari awal kuatur miring ke arah jendela menjadi mengarah pada sirobok matanya. Sang waitress kembali menyuguhkanku senyuman dalam.

Kutambahkan sepotong dadu gula—sengaja hanya sepotong, aku suka sensasi rasa segar ginger, asam lemon, dan sepatnya green tea—lalu kuaduk-aduk ringan segelas pesananku itu sebelum kunikmati. Tentu saja, kepalaku ikut merunduk saat melakukannya. Sang waitress masih di dekatku, belum juga beranjak dari tempatku duduk. Dia lantas mengambil kursi, mengatur arah duduknya berhadapan denganku. Mencuri pandang pada wajahku sekilas.
“Tampaknya ada yang mengganggu kenyamanan hatimu, Nona? Apa kau baik-baik saja?” tanya sang waitress tampak khawatir atau jangan-jangan hanya sekadar ingin tahu. Aku kembali mendapatinya dengan wajahku yang sedikit menyimpan kejut.
“Tidak. Tidak. Aku baik-baik saja.” Aah, sial. Kenapa saat mengatakannya aku malah menatap ke arah lain? Saat di mana kedua lensa matanya bersitatap langsung dengan kedua layar pandangku. Sorot mata dengan tanda tanya yang begitu besar.

Waitress itu seakan paham dan berusaha menghargai privasiku. Meskipun belum mendapat jawaban yang memuaskan, dia kemudian kembali ke bilik kitchen room-nya yang terbuka pada bagian depan. Kudengar samar-samar, rekan kerjanya menanyainya kenapa wajahnya tampak berkerut begitu. Dikatakannya bahwa hatinya turut sedikit khawatir akan keadaanku.

Diberi setangkai mawar berwarna merah darah di hadapan sahabat-sahabatmu beberapa hari lalu itu rasanya seperti melayang. Perlakuan seperti itu akan membuat kata-katamu bersembunyi di balik tercekatnya tenggorokkan, dada berdebur kencang, dan dont know what to do. Ada bongkah-bongkah rasa yang meruah penuh dalam jiwa. Meski sederhana, selalu terasa istimewa saat hadirmu dianggap begitu berharga olehnya. Namun, saat bertemu berdua begini, kau seolah-olah orang asing di hadapannya? Kau akan sedikit kesal, menahan gurat-gurat kecewa yang meskipun kecil, dan di dalam hati akan uring-uringan sendiri. Saking bingungnya apa hal terbaik yang mesti kau laku.

Haruskah aku menyapanya duluan? Memanggilnya? Menyebut namanya? Dan…
“Mau membaca buku astronomi bersamaku?” tawarnya kemudian.
“Boleh. “ Deg… Deg… Deg… Ya Tuhan. Hatiku berdebur semakin riang. Matanya kembali menarik persetujuanku.
“Buku apa yang kau suka?” Diangkatnya kemudian tubuh tinggi itu dari kursi duduk. Lantas mengambil tempat duduk di depanku, ah bukan… setelah di dekatku, ia memilih untuk duduk di sampingku.

Oh Tuhan. Hati ini sudah mau lepas kiranya. Syukurlah dia tidak jadi duduk di depanku. Aku akan kehilangan konsentrasi membaca, akan lebih gugup kalau didadapatinya dengan jelas rona wajah ini memerah, akan terus-terusan terpesona kalau wajahnya searah pukul 12 denganku.
“Pemandangan di luar kelihatan sangat indah ya dari jendela ini. Pantas dari tadi betah menatapi jendela.” Wajahnya mengukir senyum jenaka. Nyengir kuda.
“Begitulah.” Sahutku agak malu. Rupanya ulahku ketahuan. Mati aku.
Dibukanya buku Astronomi Pole itu. Saat bertemu pada halaman yang berpapar tentang Andromeda, ditunjukkannya buku itu kepadaku. “Jelaskan padaku tentang sejarah andromeda.” Telunjuknya menunjuk-nunjuk materi yang dimaksud. “Kudengar ayahmu seorang astronom terkenal di negeri ini? Tidak mudah rasanya buatku untuk memahami hal ini sendirian…” Candanya kemudian.
“Ah, kau bercanda, Mister Arsitek. Sepertinya kau tengah mengujiku?” Balasku. Kukatakan ini dengan ringan karena hampir sebagian besar desain ruang atau bangunan yang diciptakannya kerap berbau hal-hal astronomi. Aku tahu itu, aku selalu mengamati perkembangannya. Stalker setia web desainnya.

Selanjutnya, ia menunjukkan scetch book yang penuh berisi desain rancangan arsitekturnya. Ada kilau hijau, biru cerah, pink, ungu, dan putih yang akan menjadi corak warna-warni dinding ruangan pada sebuah rumah.
“Rumah buat siapa, sih?” Tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Rumah?” Sergahnya halus, seraya menggelengkan kepala. “Ini kafe, kok. Kafe Jozen Kaatje tiga tahun lagi.” Aku mau tak mau terperangah. Terus kenapa ditunjukkan kepadaku?

Dijelaskannya bahwa betapa ingin rasanya kafe terfavorit dekat Keukenhof Park ini menjadi tempat istirahat yang nyaman, rujukan utama orang-orang untuk mencari inspirasi, tempat menuang segala kenangan lewat sajian makanan dan minumannya yang terkesan klasik, sederhana, dan terus akan membuat rindu.
Kuantar segala pemaparan mimpi itu dengan sebaris senyuman bangga. Rupanya, aku disukai oleh seseorang yang dari luar tampak sederhana, sangat kaku, namun di dalam hatinya sangat hangat begini. Saat kemudian kutanya apakah mewujudkan Jozen Kaatje Cafe menjadi seindah rancangan arsitekturnya itu pasti akan membuatnya bahagia?
“Tentu saja. Kafe ini kan punyaku.“ Jawabnya sembari membelai lembut kepalaku. Jawaban yang begitu mencengangkan hati dan perasaanku.
“Jadi? Kafe ini? Buku-buku itu? Kamu?” Berondongku dalam pertanyaan yang seakan-akan tak pernah habis untuk dilontarkan.

Dia tampak tertawa. Penuh suka ria. Dan baris-baris mutiara putih itu membuatku bersalawat. Betapa, karisma apa adanya dari orang satu ini sungguh membuatku tertawan.
***
Kuberikan buku-buku astronomi itu kepada siapa pun yang dengan sengaja memintaku. Kupecahkan botol kaca yang di dalamnya tertulis puluhan mimpi kami berdua. Kubuang kotak-kotak hadiah penuh barisan love berwarna bebungaan musim semi itu di dalam bak sampah depan rumah. Kubakari surat-surat cinta kami di dalam kobaran api yang menyala-nyala. Dalam nyanyian isak tangis dan derasnya dawai air mata.

Hanya dua saja yang masih tertinggal. Satu, lukisan bungan teratai dengan banyak ikan koi putih berpalet orange muda kemerah-merahan yang sedang asyik berenang kesana-kemari. Lukisan kenangan berukuran 2 x 1 meter itu itu masih bertengger rapi di dinding ruang tamu, ayahku sangat menyukainya. Dua, sketsa seorang gadis muda tersenyum anggun dan manis saat berdiri di samping seorang lelaki yang tengah asyik menabur rancangan gedung-gedung tinggi, yang tergambar pada tampak muka kaos panjang putih. Kaos itu pun masih tersimpan rapi di dalam lemari baju, kakak perempuanku memintaku menyimpannya untuk keponakanku.

Apa memang begini rasanya ditinggalkan mantan? Seminggu. Sebulan. Setahun. Dua tahun. Tiga tahun. Hatiku masih memiliki perasaan yang sama, luka. Luka lama itu akan seperti digariti cuka saat beberapa hari lalu dari kepulangannya, aku bisa dari jauh menatap wajahnya yang kini justru semakin tampan ketika kami tak lagi bersama.

Mengerikan.

Dan batinmu akan semakin tercekik lebih mengerikan tatkala begitu ingin kau datang ke kafe indah miliknya, tapi takut disangka dalam hatimu ini masih berseliweran namanya.

Bukankah di depan beranda kafe itu juga engkau dilupakan? Dia pergi, pamit pada semua orang. Menitip pesan singkat pada sahabat-sahabatmu, pada karyawan-karyawannya, tapi tak satupun yang ia tinggalkan sebagai kenangan manis terakhir untukmu. Bahkan saat kau hubungi lewat SMS, undelivered. Kau telfon, tak aktif. Kau WA, kau hidupkan surel, semua line medsosnya off. Pedih, bukan? Kepergiannya terlalu halus, sekaligus terlalu menyakitkan.

Dia. Aah, dia memang selalu terlihat cuek, tapi penuh perhatian. Dan kau yang terlihat perhatian, tapi sebenarnya begitu cuek. Hubungan kalian itu terlalu membingungkan, tahu. Dan kau ingin kembali kesini? Untuk sekadar mengenang? Kau sungguh… Hei, kau perempuan. Kau tahu kata itu, bukan? Yang dengannya, kau harus pandai-pandai menjaga harga diri. Protes keras ini membetot-betot dalam hati. Tapi aku sudah tak tahan. Sampai kapan aku akan dihantui kenangan demi kenangan yang terus berkejaran di labirin otak kanan? Sampai kapan…

Sampai di sini aku berdiri bersiap menghadap pintu yang terbuka, dibukakan oleh waitress kafe dari dalam ruangan. Kutarik nafas dalam-dalam. Bersiap bertemu atau tak bertemu siapa pun yang aku kenal. Kubenahi letak sisi jilbab biru safirku saat kedua tatapku bersirobok dengan langkah-langkah seseorang. Pipiku hanya bisa mengukir senyum sekilas saat dia melambai ke arahku.

Aku memilih duduk di tempat yang sama dengan beberapa tahun lalu. Di tempat terpojok, paling dekat pada sisi jendela kaca. Hanya bedanya kini adalah musim semi. Semoga musim ini berpengaruh baik untuk hatiku. Semoga Tuhan menambahkan kebersihan dan kemurnian di dalam jiwa, seperti nama tempat ini: Jozen Kaatje Cafe.
“Mau membaca buku ini bersamaku?” Tawarnya kemudian saat mengambil tempat duduk searah jam dua belas denganku. Bibirku masih lumpuh kata. Terlalu terkejut dengan keberaniannya.
“Boleh. Kau suka buku apa?” Sial. Kenapa saat mengatakannya aku malah menatap ke arah lain? Dia jadi mengikuti arah pandangku. Serta-merta langsung mengambil langkah duduk di sampingku.

Di luar jendela, tampak berdiri sesosok lelaki berperawakan gagah, manis, dan tinggi. Saat di mana kedua lensa matanya bersitatap langsung dengan kedua layar pandangku, sorot bahagia memancar sempurna pada bola matanya yang berwarna hijau zamrud. Diukirnya tulisan semu di kaca dengan jari telunjuknya.

Titip sebentar ya. I miss you.

Aah, mantan! Ingin rasanya aku menjitak orang itu jika posisinya berada dalam jangkuangku. Sayangnya…
“Tante, aku mau diceritakan yang ini…” pintanya manja sembari menunjuk-nunjuk materi bacaan berjudul Andromeda. “Rasanya aku kesulitan deh, untuk memahami bacaan ini sendirian.”
Aku nginyem. Menggerutu dalam hati. Merasa greget, seolah diambrukkan kembali dalam kejadian kebersamaan masa lalu.

Ooh, Tuhan. Sebetulnya, bukan orangnya yang kadang-kadang suka susah membuat move on. Melainkan kenangan-kenangan kecil seperti ini. Kenapa sih susah sekali berdamai dengan kenangan yang sebelumnya sempat indah dirasakan? Semoga ini ikatan terakhir dari sebuah perusahaan hati yang bernama perasaan. Ya, semoga.

*****Ini, nyebelin ih ngebuat tulisan kayak gini. Lama banget selesainya, banyangin aja dari pukul 11.00-15.41 WIB. Susahnya amit-amit ya kalau gak memiliki pengalaman real mah.****

#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOORChallenge9‬
‪#‎MultiPotmagneticWriter‬

BG

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s