YANG KECIL ITU…

 

download

Lagi bete.

Bingung bangetlah kehabisan ide mau menulis apa lagi.

Aah, kau. Tahu kau kenapa kuajak untuk bergabung di sini? Untuk kaya? Untuk eksis? Untuk terkenal? Atau bahkan untuk panen like plus komentar? Bukan. Bukan itu tujuanku.

Simak baik-baik kisah kecil ini. Semoga kau dapati jawabannya di dalam sini.

Suatu ketika aku dan temanku mengobrolkan perkara mencuci. Dasar seorang guru di Karawang dan pejabat yayasan di Bandung! Jadi apa-apa kita bahasakan dalam metode dan teknik yang pas. Bahkan pekerjaan mencuci yang mestinya lumrah dilakukan sebagian besar ibu rumah tangga ini—kami masih pakai mesin otot tangan, bukan mesin cuci—selalu hampir menuai keluhan. Kau bayangkan saja saat sebelum memiliki mesin cuci, terus-terusan seseorang akan mengeluh capek mencucilah, letihlah, sibuk tak ada waktulah. Sehingga ujung-ujungnya cucian menumuk tinggi di akhir pekan, tepat pada hari Sabtu atau Minggu. Tak percaya? Tanyakan saja itu pada kebanyakan kaum ibu bahkan kau sendiri. Apakah benar begitu?

Lalu saat mesin cuci itu bisa terbeli, entah dari kau yang menang jackpot undian, atau bahkan hadiah dari pasangan, atau sengaja ayah bundamu beli. Akan tetap kau jumpai hal menarik dari keluhan baru. Capek banget ih, bilasnya itu loh ribet, gak ada waktu buat mencuci, pekerjaan lain menanti, kabel selang atau bahkan kabel mesin cucinya digerogoti tikus, dan tetap saja toh tumpukan cucian meninggi di penangsangan cucian. Padahal toh, sebelumnya bilang bahwa akan lebih mudah mencuci kalau sudah ada mesin cuci. Nah loh! Jadi masalahnya itu apa?

Masalah itu cuma ada di kepalamu. Apa? Cuma di kepalaku…

Hmm, inilah yang membuat kami berbincang lama hingga terbetiklah sebuah kesimpulan.

“Aku melakukannya sehari sekali, bahkan dua kali. Setiap pagi sebelum bebersih diri atau bahkan setiap sore setelah pakaian seharian dikenakan.”

Saat kujelaskan aku tak pernah lagi keletihan mencuci, dia bertanya bagaimana metode mencuciku. Pakaian kotor kuguyur dengan air kran, kucelupkan dalam seember kecil atau bahkan segayung detergen—bergantung banyaknya pakaian kotor harian—kukucek-kucek ringan saja lalu membilasnya sebaik mungkin. Tak perlu banyak-banyak menghamburkan tenaga.

Tapi tunggu, bukan itu yang menjadi inti dari pengalihan bete ini. Selalu ada yang lebih spesial dari perbincangan kecil seperti ini.

“Benar juga, sih. Sedikit-sedikit setiap hari itu kan lebih ringan. Dan bukannya itu yang Allah suka. Amalan kecil yang istiqomah itu lebih baik. Amalan yang dilanjutkan terus-menerus.”

Masha Allah. Merinding aku. Kepikiran sampai kesitu ya. Takjub aku. Indah sekali, benang emas kesimpulan yang ditariknya.

Lalu kau, pahamkah kenapa kuajak kau bergabung di Komunitas Multi Pot Magnetic Writer ini? Untuk menulis setiap hari itu… bukan terkait popularitas, pamer talenta menulis, bagusnya tulisan, banyaknya like, memanen banyak pujian dari para komentator. Aah, apalah itu semua karena bernilai semu dan hanya bersifat tentatif dari hal-hal duniawi. Sementara pahala Allah, bayangkan banyaknya pernak-pernik pahala yang akan kau temukan. Berkantung-kantung pahala itu semoga cukup untuk menjadi tambahan uang saku amalan baikmu bertemu-Nya di surga. Dengan amalan-amalan kecil dari aktivitas menulismu yang istiqomah itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s