KADANG

Kadang, kita suka tak mengerti apa yang dimau hati. Sampai ayat-ayat indah Allah membisik di dalam sini, memberikan sebuah petunjuk yang begitu terang untuk diikuti. Apa-apa yang menentramkan hati.

Kadang, kita tak paham seberapa dalam makna kehidupan yang sudah Allah berikan. Sampai banyak masalah membuat kita berbenturan dengan setiap sisi kehidupan. Entah manis, entah pahit atau bahkan asam, asin, dan sepat rasanya. Barulah kita rasa bahwa kesempatan hidup seberharga ini kapan lagi akan kita punya. Maka kembali kepada-Nya dalam selaksa kepasrahan rasa tetaplah menjadi rujukan paling utama.

Kadang, kita akan begitu kesal bahkan sangat marah saat plot twist terjadi dan alur hidup kita seperti dibanting, dibolak-balik, rasa percaya kita diangkat lalu dijatuhkan lalu diangkat kembali… Mulailah kita seakan menderita dengan menaruh kesalahan pada diri sendiri atau bahkan pada lingkungan sekitar—semoga bukan pada Tuhan yang telah menciptakan segalanya. Sampai akhirnya, semua berlalu, segenap kepedihan, bongkahan sakit hati, bahkan tumpukan hinaan berganti dengan keberhasilan yang amat melegakan hati. Kita ukir senyuman indah itu menghiasi hari-hari.

Kadang, kita tak mengerti saat kita pernah disakiti atau bahkan ditinggalkan seseorang atau banyak orang berarti yang justru Allah ujikan pada saat-saat terapuh kita, saat-saat terpuruk kita, saat-saat betapa tak berartinya kita. Di situ baru kita akan tahu siapakah kawan, siapakah lawan, pun siapakah musuh kita sebenarnya.

Kadang, kita bahkan lebih tak mengerti saat-saat tersulit dalam hidup kita, Si Dia kembali menguji keyakinan iman. Yang pada saat-saat seperti ini kita justru dibuat memilih untuk berpura-pura menyakiti seseorang—yang kalau dipikir-pikir akibatnya justru menyakiti diri sendiri lebih dalam. Atau pada saat seperti ini ada keputusan tersulit yang harus kita lakukan, meninggalkan seseorang. Untuk menjaganya dalam sebaris panjang doa-doa. Untuk melihatnya, apakah saat komunikasi sama sekali tak ada, telepati hati masih akan tetap kuat terjaga.

IMG_87629751871835.jpeg

Dan ternyata, semua tak sesederhan itu. Dan ternyata semua juga tak sesulit apa yang dipikir begitu. Karena apa? Karena, aah Allah saja Sang Mahatahu mengukur semua yang sudah dibuat secara sengaja sesuai kadar kita. Ya, kadar kita. Barulah setelah semua kita rasa, kenikmatan hidup untuk menjadi semakin dekat kepadanya kian kita rasa.

Sebab sungguh bukan untuk menguji seberapa besar kekuatan kitalah semua ujian hidup itu dihadiahkan-Nya pada kita, melainkan untuk melihat seberapa sungguh-sungguh kedekatan kita untuk terus memilih-Nya. Menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sandaran yang diibadahi dan diandalkan.

“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu pulalah kami meminta pertolongan.”

Saat kita menangis merasai semua ini. Menghapus bulir-bulir air mata yang berleleran di pipi. Selalu, kembali pada kalimat paling pamungkas ini, segalanya lebih mentramkan dan maknyes di rongga-rongga hati. (Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih sekali lagi, lagi, dan lagi…)

#VadenfahRerisla

#VIP

#DOORChallenge8

#MultiPotMagneticWriter

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s