APAKAH AKU CANTIK?

Rasanya aku perlu menanyakan ini kepadanya. Dan lagi-lagi seperti sediakala ia hanya tersenyum dikulum dan berkata tentu saja kau cantik. Selalu begitu. Tak pernah lebih atau bahkan bertambah beberapa senti kata.

Di kali lain aku pernah dengan sengaja mengajaknya berjalan-jalan menikmati waktu di tempat ternyaman dan paling damai dari negeri ini. Taman Nasional Hoge Veluwe. Di sini kami bisa tahu bahwa taman inilah salah satu cagar alam terbesar yang sangat terawat di negeri Belanda. Saat kedua pasang bola mata kami sempurna menatap padang rumput, bukit pasir, dan hutan akan kau temukan banyak kedamaian bebas di baris setiap pepohonan yang ada. Disini, kami bisa menggunakan sarana sepeda secara gratis sebagai pengunjung Hoge Veluwe, karena banyak daerah di tempat ini yang tidak dapat kami akses dengan mobil. Saat itu tempat wisata inilah yang menjadi tujuan terfavorit kami karena kami berdua sangat mencintai keindahan alam. Dan salah satu misi terbesarku menanyainya soal cantik atau tidaknya aku ini.

Berdua saja. Ya, saat itu kami hanya berdua saja. Taman Nasional Hoge Valuwe sedang sangat sepi. Tak banyak pengunjung yang datang. Bagi kami yang baru saja menikah, tentu hal ini menjadi bulan madu terindah. Tak ada buah hati. Ooh, belum ada buah hati maksudnya. Yaah, kami baru setahun melalui kebersamaan ini. Bukankah indah rasanya menjamu diri di masa-masa pacaran usai pernikahan? Indah. Kau tahu? Sangat indah. Itulah dari dulu alasan kami kenapa tak mau menanggung rasa rindu pada seseorang yang belum sah untuk menjadi hak kami. Syukurlah, prinsip kami sama. Sama-sama saling menjaga rasa dari keterikatan nafsu remaja.

Hmm, dan apa aku cantik tetap menjadi pertanyaan terfavorit sepanjang kami bersepeda. Aku memancing-mancing jawaban yang lebih panjang dari sekedar, “Ya, engkau cantik.” Tapi tak kudapat. Tak kudapat. Aaaargh, aku gemas. Aku ingin jawaban yang lebih panjang, lebih spesifik, lebih membuatku melambung atau bahkan wajahku dipenuhi semu-semu bunga berwarna merah jambu.

Oleh karena itu, kali ini aku harus berhasil. Aku harus tahu jawaban sebenarnya. Jawaban terjujur yang keluar dari lisannya yang begitu terjaga. Maka di sinilah kami sekarang di tengah-tengah pusat keramaian kota Leiden. Leiden adalah tempat kelahiran Rembrandt dan tentu saja memiliki kanal-kanal yang indah. Dia terus menggandeng tanganku saat kami berjalan di antara selisir banyak orang. Gandengan itu akan semakin erat saat kami—terutama aku, bersisian dengan lelaki Belanda totok dengan postur tinggi, bermata biru kelabu, dan bergaya menawan. Aah, tidak aku ralat. Tak ada yang menawan dibanding seseorang yang saat ini tengah menggandeng erat tanganku ini.

Dan selalu. Menjadi cantik di depan pasangan yang dicintai itu sangatlah berarti. Bahkan rasanya amat membutuhkan semacam pengakuan di hadapannya. Seperti ya, apakah aku terlihat sangat cantik di matanya? Apakah hari ini aku cantik? Apakah besok, besok, dan besoknya lagi aku masih tetap akan cantik. Kadang-kadang aku merasa takut untuk menjadi tua dan wajahku berkeriput. Karena semakin hari kulihat lelaki di sampingku ini kian menawan. Hingga, rasanya tak hendak berpaling dari menatap pesonanya walau hanya sejenak. Meski tak banyak kata yang diucapkan, aku selalu merasa lebih nyaman saat jemari tangan kami saling bertautan. Dan saat itu terjadi aku akan selalu lupa dibuatnya untuk bertanya apakah aku ini cantik atau tidak.

“Kau ini, takut sekali kehilangan aku ya?” candaku berpura-pura sedikit berusaha melonggarkan genggaman jemari tangan.
“Jangan begitu.” dia melepas genggaman tangannya lebih dulu. Beralih memegang kedua pundakku. Aku, aah aku selalu merasa ada barisan kupu-kupu yang melabirin dalam perutku. “ Kita harus sangat berhati-hati. Ini sangat ramai, Sayang. Aku tidak mau kita saling kehilangan.”

Ada kuas berwarna merah jambu bersemilir panas yang menari-nari melukisi wajahku.

Sebelum terlalu jauh rasaku, ia sudah buru-buru menggamit jari-jemariku lagi. Lantas langkah-langkah kaki kami mengambil arah menuju sampan dari dua cabang sungai Old Rhine yang masuk ke kanal Leiden di sebelah timur dan bersatu di pusat kota yang juga berisi beberapa kanal kecil. Pusat kanal tua Leiden ini adalah salah satu yang terbesar ke-17 di pusat kota abad di Belanda dan hanya kedua dari Amsterdam, sehingga sudah menjadi rahasia umum jika tempat ini menjadi tempat wisata di Belanda selain Amsterdam yang paling banyak di kunjungi wisatawan. Pasti kami akan menemui banyak orang di sini. Dan aku akan tahu apakah sesungguhnya aku ini cantik atau tidak di mata suamiku.

Ia mengajakku memilih sampan yang khusus berbayar untuk kami berdua saja. Aku menolaknya secara halus. Kukatakan dengan lembut bahwa ini adalah saat yang baik bagi kami untuk saling berkomunikasi dengan penduduk asli. Agar aku, istrinya, yang dari Indonesia ini bisa semakin lihai dalam beradaptasi. Lagi pula jadwal persidangan dan S3 suamiku ini padat sekali. Kapan lagi coba kalau bukan saling berkenalan dengan banyak orang pada hari ini?
“Hallo. Nama saya Starla dari Indonesia. Ini suami saya, Jaksa Laurens. Asli Belanda totok.” Sebutku agak berbisik pada beberapa wanita dan ibu-ibu yang ada di sampingku.
“Ya Tuhan, jadi ini jaksa muda yang terkenal detil, bijaksana, dan sangat baik itu. Apa kabar, Jaksa Laurens? Kami sekeluarga mengagumi Anda. Semoga Anda sehat-sehat saja.” Aku nginyem menyenggol kecil sikunya. Merasa bangga dengan pujian tulus sang ibu yang barusan bicara.
Ia tersenyum santun dan bersetangkup tangan di dada.
“Kau dari Indonesia?” tanyanya berbahasa Belanda, aku mengangguk. “Kau cantik sekali, Nyonya Laurens. Aura kecantikan tropis. Bahagia heh, bersuamikan Jaksa muda setampan dan segagah ini?”

Aku tertawa dalam lautan terima kasih. Suamiku tak kuasa menatapku dalam kejut penuh pesona. Air kanal yang jernih seolah bersinar tertimpa cahaya matahari pagi yang semakin tinggi. Angin halus mengelus hijab warna burgandi yang kukenakan, turut mengamini galur-galur syukur penuh bahagia yang kurasa. Tak kusangka ada yang memujiku sedemikian rupa di depan suamiku. Waah? Jadi aku ini cantik dan bahagia karena mendapat aura ketampahan dan kegagahan dari suamiku. Aku mengambil jemari tangan suamiku. Menautkan jari-jari lentik panjangku di sela-selanya. Melengkapi kekuatannya.
“Lalu, apakah aku ini sangat cantik di matamu, Mr.Laurens?” tanyaku berbisik, tentu saja menggunakan Bahasa Indonesia.
“Selamanya. Karena karena kau milikku… Dan wajahmu terpelihara dengan air wudhu.” Ia, suamiku, menggenggam jemari tanganku lebih erat. Diiringi sorot mata hijau teduh mendalamnya menatapku dengan tatapan paling maut untuk membuatku selalu jatuh dalam lingkaran batinnya yang suci.

Rasanya gelora rasa berdebar penuh kencang mendobrak-dobrak ingin dimuntabkan keluar dari dalam dada. Putaran kupu-kupu membelit-melintang mengobok-obok isi perut. Aku melambung, terbang tinggi, dan tak ingin mendarat lagi—kecuali bersamanya untuk diterbangkan lebih tinggi lagi.
‪#‎DOORChallenge6‬
‪#‎VIP‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬

Kanal-Leiden.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s