MENUNDA

“Jangan pergi…” lelaki berpostur jangkung bermata bening bak telaga kanal Keukenhof Park itu mencegah tas ransel Starla.

Starla dibabat keraguan hebat. Antara bertahan mendampingi lelaki yang kini di sampingnya ini atau pergi membantu dosen favoritnya yang saat ini sedang terlibat masalah literasi karena telah membimbingnya. Ia tak mengerti setelah perdebatan hebat yang panjang dan melelahkan beberapa menit lalu, kenapa wujudnya masih setia bertahan di sini.

“Aku mohon. Kau bisa bersamaku. Sidangku dimulai sebentar lagi. Kau bisa memotret seperti sediakala.”

“Hhhaaah? Apa itu menyenangkan buatmu?” Wajah Starla tampak terperangah.

Jaksa Laurens mengangguk mantap.

“Ya, Jaksa Laurens, kau tahu? Kau ini hanya… selalu saja memikirkan persoalanmu sendiri.” Emosi Starla sudah naik ke ubun-ubun. Tak habis pikir dengan sikap Jaksa Laurens yang akhir-akhir ini sedikit agak posesif.

Starla duduk. Rautnya lelah, sangat lelah. Jaksa Laurens masih tak mengerti kenapa akhir-akhir ini Starla begitu sering marah. Diam seribu bahasa menjadi pilihan Jaksa Laurens. Hanya semilir angin yang berbisik melalui sela-sela gendang telinga. Mendadak susana kaku, beku, dan dingin merayapi dinding-dinding hati keduanya.

Selang beberapa saat, Jaksa Laurens baru kembali menata suara.

“Bicaralah…”  keduanya mengatakan secara bersamaan dan lantas saling bersitatap tanpa aba-aba.

Starla malu. Terpergoki secara bersamaan. Ia memalingkan wajah. Lalu hening lagi. Dan untuk saat seperti ini jelas bahwa tak ada kata-kata yang lebih berarti dari bahasa diam.

Jaksa Laurens mencoba sekali lagi. “Starla, kumohon. Bicaralah.” Suaranya halus selembut kain sutera.

Starla masih tampak merunduk. Tak bermaksud sekalipun untuk menatap atau mau membuka suara.

“Kau marah?” tanya Jaksa Laurens, masih sangat hati-hati.

Starla menegakkan kepalanya. Matanya menatapkan sembilu tajam. Di hatinya masih bersetangkup sebuah rasa. Ya, marah.

Starla lantas menerawangkan pandangannya jauh, jauh sekali.

“I dont mind when you bothered me. But actually, I… I feel so depressed and not be lucky when you stoped me to care others. I dont know what in your mind. I can’t believe it. I cant reflect, aren’t you?”

Starla menelan ludah dengan susah payah usai mengatakannya. Hatinya perih.

“Maaf. Hanya itu yang bisa aku katakan. Sekali lagi maaf.”

Starla tahu dan sangat tahu bahwa itu adalah permintaan maaf yang terdengar tulus. Tapi entahlah, dia tak ingin menyelanya. Bahkan untuk saat ini. Starla masih menunggu ada kata-kata lain yang lebih panjang, lebih menenangkan, dan membuatnya bertahan lebih lama di sini. Tapi hingga sunyi kembali menyapa, Starla tak lagi mendengarkan kata-kata yang diharapkannya itu.

“Aaah… Baiklah Jaksa Laurens…” Starla tampak menepuk-nepuk rok polka berbahan tebal yang dikenakannya. Selama duduk tadi beberapa daun musim gugur berwarna orange kemerah-merahan sempat mampir di roknya. “Aku sudah selesai. Kampus sudah menungguku. Dan aku baik-baik saja. Tak perlu mengantarku. Nikmati saja persidanganmu.”

“Kau benar-benar tak mau mendampingiku? Ini sidang tersulit. Sesuatu yang sangat berat…” Jaksa Laurens masih tampak berusaha mencairkan suasana.

“Hei, apa kau mau mulai lagi mengajakku ribut?” Kali ini Starla mengatakannya untuk menggoda Jaksa Laurens. Ya, sedikit menggoda. “Lalui karirmu dengan baik, Jaksa Laurens. Dulu kau bisa melakukannya tanpa aku. Sekarang pun seharusnya begitu. Bahkan seharusnya kau sangat bisa.”

“Tidak sebaik jika ada kamu.”

“Aaauft. Nanti kulakukan kalau kita sudah menikah, oke. Aku ada kelas sekarang.” Starla tampak berlari kecil usai mengucap selamat tinggal. Padahal, ini ia lakukan untuk menutupi rasa hati yang ingin terbang ke langit paling tinggi. Hatinya sedikit berbunga.

Kemudian langkahnya terhenti. Ia berbalik. Lalu berjalan mendekat lagi ke arah Jaksa Laurens.

“Jangan mengikutiku dari belakang. Jangan pernah. Dan untuk beberapa bulan kedepan aku butuh waktu sendiri. Jangan coba-coba menemuiku di kampus atau di mana pun. Kau paham?”

Jaksa Laurens tampak terkejut dan ia hanya menahan tawa.

Ia tak pernah habis pikir.

Gadis magister itu. Belum menyandang MBa saja dia sudah seberani itu padanya. Seorang Jaksa dengan wibawa yang tinggi, life for pride, dan begitu menjaga nama baik di depan rekan kerja bahkan klien.  Dan ia hanya bertekuk lutut pada si Nona Magister yang tinggal satu atap dengan rival kerjanya, sang pengacara yang sangat ceriwis membeber pembelaan. Nona Evelien.

***

Starla turun dari commuter line. Ia berjalan tergesa-gesa. Di hatinya masih bertanya-tanya. Apa yang dikatakannya semua tadi benar? Apa yang dilakukannya tadi tak akan menyakiti Jaksa Laurens? Akankah Jaksa Laurens sakit hati, berpaling lalu meninggalkannya? Baikkah keputusannya untuk tak bertemu sama sekali dengan  Jaksa Laurens selama beberapa bulan kedepan?

Starla merekatkan outfit sweeter pink polka yang dikenakannya. Sebentar lagi musim dingin. Cuaca mendadak mengirimkan udara yang temperaturnya melebihi hari-hari biasanya.

Tetiba beralunlah nada Canopus. Androidnya berbunyi. Dirogohnya saku sebelah kanan outfit. Saat WA-nya terbuka, ada pesan mencengangkan berbunyi di sana.

Nanti kita akan lebih banyak bertemu. Akan kita lakukan itu kalau kita sudah menikah.

-Jaksa Laurens-

Ooouh, unbelievable. Starla geleng-gelengkepala. Jaksa keras kepala itu. Jaksa yang kata banyak orang bahkan Nona Evelien sendiri bilang sangat bijaksana, look so cool, dan begitu menjaga wibawa diri. Jaksa yang sangat lembut itu akhir-akhir ini memperketat pendekatannya. Starla tampak senang—hei, siapa sih yang tak senang didekati oleh orang yang disukai—namun, Starla sekaligus merasa ada yang salah dan masih sangat kurang nyaman.

Dan hari ini, Starla membuat keputusan untuk menunda pertemuan dala waktu beberapa bulan. Semacam sebuah metode menjauhi untuk mengenalnya lebih dalam. Apakah ini sebuah perasaan yang tulus karena Tuhan ataukah hanya sebuah perasaan nyaman dan senang karena terus-menerus diberi bibit perhatian secara mendalam? Bukankah ini, maksudnya perasaan cinta ini, hanya sebuah sarana. Ya, ini hanya sarana untuk menjadi lebih dekat pada-Nya. Bukan sebuah pencapaian atau tujuan akhir. Tentu saja bukan, karena muara akhir bagi keduanya dalah mengharapkan surga. Meraih rida-Nya.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s