SERENDIPITI YANG BERBAHAYA

 

Masih ingat enggak? Beberapa hari lalu saya pernah menulis status begini.

Finally, I find the serendipity. Finding the person who had taken care of me seven years ago, drew an unic classy picture, and on and on… This architect will always be my best friend.

Saya kira status semacam ini cukup berbahaya. 😀

Alasannya?

Hmm, seseorang menafsirkan bahwa saya akhirnya menemukan pendamping hidup sejati. Padahal, asli saya sama sekali enggak mengarahkan pada opini ataupun perspektif itu. Itu pure perasaan bahagia karena saya menemukan sesuatu yang tak saya sangka-sangka. Serendipiti. Gak saya cari-cari, tapi malah ketemu sendiri.

Teman lama saya yang komen, “Akhirnya… Ini jawaban dari statusmu toh…” itu, tampak begitu lega karena pada akhirnya saya share foto keluarga. What? Apa anehnya coba dari posting sebuah foto keluarga? Iya, foto keluarga besar  kami di ruang tamu saya share di muka buku. Orang-orang yang  belum tahu bagaimana keseharian dekorasi rumah kami, pasti menyangkanya sedang ada perhelatan acara besar—dengan tampilan cat berwarna cerah ceria, banyak bunga, penuh warna-warni. Aah, belum juga itu saya tempeli wall paper bergambar panorama indah Belanda, pesona alam Edensor atau daun-daun maple bercorak atumn.

Nah. Satu hal yang bikin saya agak tersentuh. Ketulusan perhatian. Hahai. Rupanya selama ini si mastah senior masih mengamati status-status saya. Gak geer sih saya, sudah punya bidadari dan buntut dia. haha. Saya hanya merasa cukup bahagia saja.

Udah  ah gitu aja.

#MyHomeMyParadise

1437104692793

 

Advertisements

KADANG

Kadang, kita suka tak mengerti apa yang dimau hati. Sampai ayat-ayat indah Allah membisik di dalam sini, memberikan sebuah petunjuk yang begitu terang untuk diikuti. Apa-apa yang menentramkan hati.

Kadang, kita tak paham seberapa dalam makna kehidupan yang sudah Allah berikan. Sampai banyak masalah membuat kita berbenturan dengan setiap sisi kehidupan. Entah manis, entah pahit atau bahkan asam, asin, dan sepat rasanya. Barulah kita rasa bahwa kesempatan hidup seberharga ini kapan lagi akan kita punya. Maka kembali kepada-Nya dalam selaksa kepasrahan rasa tetaplah menjadi rujukan paling utama.

Kadang, kita akan begitu kesal bahkan sangat marah saat plot twist terjadi dan alur hidup kita seperti dibanting, dibolak-balik, rasa percaya kita diangkat lalu dijatuhkan lalu diangkat kembali… Mulailah kita seakan menderita dengan menaruh kesalahan pada diri sendiri atau bahkan pada lingkungan sekitar—semoga bukan pada Tuhan yang telah menciptakan segalanya. Sampai akhirnya, semua berlalu, segenap kepedihan, bongkahan sakit hati, bahkan tumpukan hinaan berganti dengan keberhasilan yang amat melegakan hati. Kita ukir senyuman indah itu menghiasi hari-hari.

Kadang, kita tak mengerti saat kita pernah disakiti atau bahkan ditinggalkan seseorang atau banyak orang berarti yang justru Allah ujikan pada saat-saat terapuh kita, saat-saat terpuruk kita, saat-saat betapa tak berartinya kita. Di situ baru kita akan tahu siapakah kawan, siapakah lawan, pun siapakah musuh kita sebenarnya.

Kadang, kita bahkan lebih tak mengerti saat-saat tersulit dalam hidup kita, Si Dia kembali menguji keyakinan iman. Yang pada saat-saat seperti ini kita justru dibuat memilih untuk berpura-pura menyakiti seseorang—yang kalau dipikir-pikir akibatnya justru menyakiti diri sendiri lebih dalam. Atau pada saat seperti ini ada keputusan tersulit yang harus kita lakukan, meninggalkan seseorang. Untuk menjaganya dalam sebaris panjang doa-doa. Untuk melihatnya, apakah saat komunikasi sama sekali tak ada, telepati hati masih akan tetap kuat terjaga.

IMG_87629751871835.jpeg

Dan ternyata, semua tak sesederhan itu. Dan ternyata semua juga tak sesulit apa yang dipikir begitu. Karena apa? Karena, aah Allah saja Sang Mahatahu mengukur semua yang sudah dibuat secara sengaja sesuai kadar kita. Ya, kadar kita. Barulah setelah semua kita rasa, kenikmatan hidup untuk menjadi semakin dekat kepadanya kian kita rasa.

Sebab sungguh bukan untuk menguji seberapa besar kekuatan kitalah semua ujian hidup itu dihadiahkan-Nya pada kita, melainkan untuk melihat seberapa sungguh-sungguh kedekatan kita untuk terus memilih-Nya. Menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sandaran yang diibadahi dan diandalkan.

“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu pulalah kami meminta pertolongan.”

Saat kita menangis merasai semua ini. Menghapus bulir-bulir air mata yang berleleran di pipi. Selalu, kembali pada kalimat paling pamungkas ini, segalanya lebih mentramkan dan maknyes di rongga-rongga hati. (Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih sekali lagi, lagi, dan lagi…)

#VadenfahRerisla

#VIP

#DOORChallenge8

#MultiPotMagneticWriter

 

YANG KECIL ITU…

 

download

Lagi bete.

Bingung bangetlah kehabisan ide mau menulis apa lagi.

Aah, kau. Tahu kau kenapa kuajak untuk bergabung di sini? Untuk kaya? Untuk eksis? Untuk terkenal? Atau bahkan untuk panen like plus komentar? Bukan. Bukan itu tujuanku.

Simak baik-baik kisah kecil ini. Semoga kau dapati jawabannya di dalam sini.

Suatu ketika aku dan temanku mengobrolkan perkara mencuci. Dasar seorang guru di Karawang dan pejabat yayasan di Bandung! Jadi apa-apa kita bahasakan dalam metode dan teknik yang pas. Bahkan pekerjaan mencuci yang mestinya lumrah dilakukan sebagian besar ibu rumah tangga ini—kami masih pakai mesin otot tangan, bukan mesin cuci—selalu hampir menuai keluhan. Kau bayangkan saja saat sebelum memiliki mesin cuci, terus-terusan seseorang akan mengeluh capek mencucilah, letihlah, sibuk tak ada waktulah. Sehingga ujung-ujungnya cucian menumuk tinggi di akhir pekan, tepat pada hari Sabtu atau Minggu. Tak percaya? Tanyakan saja itu pada kebanyakan kaum ibu bahkan kau sendiri. Apakah benar begitu?

Lalu saat mesin cuci itu bisa terbeli, entah dari kau yang menang jackpot undian, atau bahkan hadiah dari pasangan, atau sengaja ayah bundamu beli. Akan tetap kau jumpai hal menarik dari keluhan baru. Capek banget ih, bilasnya itu loh ribet, gak ada waktu buat mencuci, pekerjaan lain menanti, kabel selang atau bahkan kabel mesin cucinya digerogoti tikus, dan tetap saja toh tumpukan cucian meninggi di penangsangan cucian. Padahal toh, sebelumnya bilang bahwa akan lebih mudah mencuci kalau sudah ada mesin cuci. Nah loh! Jadi masalahnya itu apa?

Masalah itu cuma ada di kepalamu. Apa? Cuma di kepalaku…

Hmm, inilah yang membuat kami berbincang lama hingga terbetiklah sebuah kesimpulan.

“Aku melakukannya sehari sekali, bahkan dua kali. Setiap pagi sebelum bebersih diri atau bahkan setiap sore setelah pakaian seharian dikenakan.”

Saat kujelaskan aku tak pernah lagi keletihan mencuci, dia bertanya bagaimana metode mencuciku. Pakaian kotor kuguyur dengan air kran, kucelupkan dalam seember kecil atau bahkan segayung detergen—bergantung banyaknya pakaian kotor harian—kukucek-kucek ringan saja lalu membilasnya sebaik mungkin. Tak perlu banyak-banyak menghamburkan tenaga.

Tapi tunggu, bukan itu yang menjadi inti dari pengalihan bete ini. Selalu ada yang lebih spesial dari perbincangan kecil seperti ini.

“Benar juga, sih. Sedikit-sedikit setiap hari itu kan lebih ringan. Dan bukannya itu yang Allah suka. Amalan kecil yang istiqomah itu lebih baik. Amalan yang dilanjutkan terus-menerus.”

Masha Allah. Merinding aku. Kepikiran sampai kesitu ya. Takjub aku. Indah sekali, benang emas kesimpulan yang ditariknya.

Lalu kau, pahamkah kenapa kuajak kau bergabung di Komunitas Multi Pot Magnetic Writer ini? Untuk menulis setiap hari itu… bukan terkait popularitas, pamer talenta menulis, bagusnya tulisan, banyaknya like, memanen banyak pujian dari para komentator. Aah, apalah itu semua karena bernilai semu dan hanya bersifat tentatif dari hal-hal duniawi. Sementara pahala Allah, bayangkan banyaknya pernak-pernik pahala yang akan kau temukan. Berkantung-kantung pahala itu semoga cukup untuk menjadi tambahan uang saku amalan baikmu bertemu-Nya di surga. Dengan amalan-amalan kecil dari aktivitas menulismu yang istiqomah itu.

APAKAH AKU CANTIK?

Rasanya aku perlu menanyakan ini kepadanya. Dan lagi-lagi seperti sediakala ia hanya tersenyum dikulum dan berkata tentu saja kau cantik. Selalu begitu. Tak pernah lebih atau bahkan bertambah beberapa senti kata.

Di kali lain aku pernah dengan sengaja mengajaknya berjalan-jalan menikmati waktu di tempat ternyaman dan paling damai dari negeri ini. Taman Nasional Hoge Veluwe. Di sini kami bisa tahu bahwa taman inilah salah satu cagar alam terbesar yang sangat terawat di negeri Belanda. Saat kedua pasang bola mata kami sempurna menatap padang rumput, bukit pasir, dan hutan akan kau temukan banyak kedamaian bebas di baris setiap pepohonan yang ada. Disini, kami bisa menggunakan sarana sepeda secara gratis sebagai pengunjung Hoge Veluwe, karena banyak daerah di tempat ini yang tidak dapat kami akses dengan mobil. Saat itu tempat wisata inilah yang menjadi tujuan terfavorit kami karena kami berdua sangat mencintai keindahan alam. Dan salah satu misi terbesarku menanyainya soal cantik atau tidaknya aku ini.

Berdua saja. Ya, saat itu kami hanya berdua saja. Taman Nasional Hoge Valuwe sedang sangat sepi. Tak banyak pengunjung yang datang. Bagi kami yang baru saja menikah, tentu hal ini menjadi bulan madu terindah. Tak ada buah hati. Ooh, belum ada buah hati maksudnya. Yaah, kami baru setahun melalui kebersamaan ini. Bukankah indah rasanya menjamu diri di masa-masa pacaran usai pernikahan? Indah. Kau tahu? Sangat indah. Itulah dari dulu alasan kami kenapa tak mau menanggung rasa rindu pada seseorang yang belum sah untuk menjadi hak kami. Syukurlah, prinsip kami sama. Sama-sama saling menjaga rasa dari keterikatan nafsu remaja.

Hmm, dan apa aku cantik tetap menjadi pertanyaan terfavorit sepanjang kami bersepeda. Aku memancing-mancing jawaban yang lebih panjang dari sekedar, “Ya, engkau cantik.” Tapi tak kudapat. Tak kudapat. Aaaargh, aku gemas. Aku ingin jawaban yang lebih panjang, lebih spesifik, lebih membuatku melambung atau bahkan wajahku dipenuhi semu-semu bunga berwarna merah jambu.

Oleh karena itu, kali ini aku harus berhasil. Aku harus tahu jawaban sebenarnya. Jawaban terjujur yang keluar dari lisannya yang begitu terjaga. Maka di sinilah kami sekarang di tengah-tengah pusat keramaian kota Leiden. Leiden adalah tempat kelahiran Rembrandt dan tentu saja memiliki kanal-kanal yang indah. Dia terus menggandeng tanganku saat kami berjalan di antara selisir banyak orang. Gandengan itu akan semakin erat saat kami—terutama aku, bersisian dengan lelaki Belanda totok dengan postur tinggi, bermata biru kelabu, dan bergaya menawan. Aah, tidak aku ralat. Tak ada yang menawan dibanding seseorang yang saat ini tengah menggandeng erat tanganku ini.

Dan selalu. Menjadi cantik di depan pasangan yang dicintai itu sangatlah berarti. Bahkan rasanya amat membutuhkan semacam pengakuan di hadapannya. Seperti ya, apakah aku terlihat sangat cantik di matanya? Apakah hari ini aku cantik? Apakah besok, besok, dan besoknya lagi aku masih tetap akan cantik. Kadang-kadang aku merasa takut untuk menjadi tua dan wajahku berkeriput. Karena semakin hari kulihat lelaki di sampingku ini kian menawan. Hingga, rasanya tak hendak berpaling dari menatap pesonanya walau hanya sejenak. Meski tak banyak kata yang diucapkan, aku selalu merasa lebih nyaman saat jemari tangan kami saling bertautan. Dan saat itu terjadi aku akan selalu lupa dibuatnya untuk bertanya apakah aku ini cantik atau tidak.

“Kau ini, takut sekali kehilangan aku ya?” candaku berpura-pura sedikit berusaha melonggarkan genggaman jemari tangan.
“Jangan begitu.” dia melepas genggaman tangannya lebih dulu. Beralih memegang kedua pundakku. Aku, aah aku selalu merasa ada barisan kupu-kupu yang melabirin dalam perutku. “ Kita harus sangat berhati-hati. Ini sangat ramai, Sayang. Aku tidak mau kita saling kehilangan.”

Ada kuas berwarna merah jambu bersemilir panas yang menari-nari melukisi wajahku.

Sebelum terlalu jauh rasaku, ia sudah buru-buru menggamit jari-jemariku lagi. Lantas langkah-langkah kaki kami mengambil arah menuju sampan dari dua cabang sungai Old Rhine yang masuk ke kanal Leiden di sebelah timur dan bersatu di pusat kota yang juga berisi beberapa kanal kecil. Pusat kanal tua Leiden ini adalah salah satu yang terbesar ke-17 di pusat kota abad di Belanda dan hanya kedua dari Amsterdam, sehingga sudah menjadi rahasia umum jika tempat ini menjadi tempat wisata di Belanda selain Amsterdam yang paling banyak di kunjungi wisatawan. Pasti kami akan menemui banyak orang di sini. Dan aku akan tahu apakah sesungguhnya aku ini cantik atau tidak di mata suamiku.

Ia mengajakku memilih sampan yang khusus berbayar untuk kami berdua saja. Aku menolaknya secara halus. Kukatakan dengan lembut bahwa ini adalah saat yang baik bagi kami untuk saling berkomunikasi dengan penduduk asli. Agar aku, istrinya, yang dari Indonesia ini bisa semakin lihai dalam beradaptasi. Lagi pula jadwal persidangan dan S3 suamiku ini padat sekali. Kapan lagi coba kalau bukan saling berkenalan dengan banyak orang pada hari ini?
“Hallo. Nama saya Starla dari Indonesia. Ini suami saya, Jaksa Laurens. Asli Belanda totok.” Sebutku agak berbisik pada beberapa wanita dan ibu-ibu yang ada di sampingku.
“Ya Tuhan, jadi ini jaksa muda yang terkenal detil, bijaksana, dan sangat baik itu. Apa kabar, Jaksa Laurens? Kami sekeluarga mengagumi Anda. Semoga Anda sehat-sehat saja.” Aku nginyem menyenggol kecil sikunya. Merasa bangga dengan pujian tulus sang ibu yang barusan bicara.
Ia tersenyum santun dan bersetangkup tangan di dada.
“Kau dari Indonesia?” tanyanya berbahasa Belanda, aku mengangguk. “Kau cantik sekali, Nyonya Laurens. Aura kecantikan tropis. Bahagia heh, bersuamikan Jaksa muda setampan dan segagah ini?”

Aku tertawa dalam lautan terima kasih. Suamiku tak kuasa menatapku dalam kejut penuh pesona. Air kanal yang jernih seolah bersinar tertimpa cahaya matahari pagi yang semakin tinggi. Angin halus mengelus hijab warna burgandi yang kukenakan, turut mengamini galur-galur syukur penuh bahagia yang kurasa. Tak kusangka ada yang memujiku sedemikian rupa di depan suamiku. Waah? Jadi aku ini cantik dan bahagia karena mendapat aura ketampahan dan kegagahan dari suamiku. Aku mengambil jemari tangan suamiku. Menautkan jari-jari lentik panjangku di sela-selanya. Melengkapi kekuatannya.
“Lalu, apakah aku ini sangat cantik di matamu, Mr.Laurens?” tanyaku berbisik, tentu saja menggunakan Bahasa Indonesia.
“Selamanya. Karena karena kau milikku… Dan wajahmu terpelihara dengan air wudhu.” Ia, suamiku, menggenggam jemari tanganku lebih erat. Diiringi sorot mata hijau teduh mendalamnya menatapku dengan tatapan paling maut untuk membuatku selalu jatuh dalam lingkaran batinnya yang suci.

Rasanya gelora rasa berdebar penuh kencang mendobrak-dobrak ingin dimuntabkan keluar dari dalam dada. Putaran kupu-kupu membelit-melintang mengobok-obok isi perut. Aku melambung, terbang tinggi, dan tak ingin mendarat lagi—kecuali bersamanya untuk diterbangkan lebih tinggi lagi.
‪#‎DOORChallenge6‬
‪#‎VIP‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬

Kanal-Leiden.jpg

MENUNDA

“Jangan pergi…” lelaki berpostur jangkung bermata bening bak telaga kanal Keukenhof Park itu mencegah tas ransel Starla.

Starla dibabat keraguan hebat. Antara bertahan mendampingi lelaki yang kini di sampingnya ini atau pergi membantu dosen favoritnya yang saat ini sedang terlibat masalah literasi karena telah membimbingnya. Ia tak mengerti setelah perdebatan hebat yang panjang dan melelahkan beberapa menit lalu, kenapa wujudnya masih setia bertahan di sini.

“Aku mohon. Kau bisa bersamaku. Sidangku dimulai sebentar lagi. Kau bisa memotret seperti sediakala.”

“Hhhaaah? Apa itu menyenangkan buatmu?” Wajah Starla tampak terperangah.

Jaksa Laurens mengangguk mantap.

“Ya, Jaksa Laurens, kau tahu? Kau ini hanya… selalu saja memikirkan persoalanmu sendiri.” Emosi Starla sudah naik ke ubun-ubun. Tak habis pikir dengan sikap Jaksa Laurens yang akhir-akhir ini sedikit agak posesif.

Starla duduk. Rautnya lelah, sangat lelah. Jaksa Laurens masih tak mengerti kenapa akhir-akhir ini Starla begitu sering marah. Diam seribu bahasa menjadi pilihan Jaksa Laurens. Hanya semilir angin yang berbisik melalui sela-sela gendang telinga. Mendadak susana kaku, beku, dan dingin merayapi dinding-dinding hati keduanya.

Selang beberapa saat, Jaksa Laurens baru kembali menata suara.

“Bicaralah…”  keduanya mengatakan secara bersamaan dan lantas saling bersitatap tanpa aba-aba.

Starla malu. Terpergoki secara bersamaan. Ia memalingkan wajah. Lalu hening lagi. Dan untuk saat seperti ini jelas bahwa tak ada kata-kata yang lebih berarti dari bahasa diam.

Jaksa Laurens mencoba sekali lagi. “Starla, kumohon. Bicaralah.” Suaranya halus selembut kain sutera.

Starla masih tampak merunduk. Tak bermaksud sekalipun untuk menatap atau mau membuka suara.

“Kau marah?” tanya Jaksa Laurens, masih sangat hati-hati.

Starla menegakkan kepalanya. Matanya menatapkan sembilu tajam. Di hatinya masih bersetangkup sebuah rasa. Ya, marah.

Starla lantas menerawangkan pandangannya jauh, jauh sekali.

“I dont mind when you bothered me. But actually, I… I feel so depressed and not be lucky when you stoped me to care others. I dont know what in your mind. I can’t believe it. I cant reflect, aren’t you?”

Starla menelan ludah dengan susah payah usai mengatakannya. Hatinya perih.

“Maaf. Hanya itu yang bisa aku katakan. Sekali lagi maaf.”

Starla tahu dan sangat tahu bahwa itu adalah permintaan maaf yang terdengar tulus. Tapi entahlah, dia tak ingin menyelanya. Bahkan untuk saat ini. Starla masih menunggu ada kata-kata lain yang lebih panjang, lebih menenangkan, dan membuatnya bertahan lebih lama di sini. Tapi hingga sunyi kembali menyapa, Starla tak lagi mendengarkan kata-kata yang diharapkannya itu.

“Aaah… Baiklah Jaksa Laurens…” Starla tampak menepuk-nepuk rok polka berbahan tebal yang dikenakannya. Selama duduk tadi beberapa daun musim gugur berwarna orange kemerah-merahan sempat mampir di roknya. “Aku sudah selesai. Kampus sudah menungguku. Dan aku baik-baik saja. Tak perlu mengantarku. Nikmati saja persidanganmu.”

“Kau benar-benar tak mau mendampingiku? Ini sidang tersulit. Sesuatu yang sangat berat…” Jaksa Laurens masih tampak berusaha mencairkan suasana.

“Hei, apa kau mau mulai lagi mengajakku ribut?” Kali ini Starla mengatakannya untuk menggoda Jaksa Laurens. Ya, sedikit menggoda. “Lalui karirmu dengan baik, Jaksa Laurens. Dulu kau bisa melakukannya tanpa aku. Sekarang pun seharusnya begitu. Bahkan seharusnya kau sangat bisa.”

“Tidak sebaik jika ada kamu.”

“Aaauft. Nanti kulakukan kalau kita sudah menikah, oke. Aku ada kelas sekarang.” Starla tampak berlari kecil usai mengucap selamat tinggal. Padahal, ini ia lakukan untuk menutupi rasa hati yang ingin terbang ke langit paling tinggi. Hatinya sedikit berbunga.

Kemudian langkahnya terhenti. Ia berbalik. Lalu berjalan mendekat lagi ke arah Jaksa Laurens.

“Jangan mengikutiku dari belakang. Jangan pernah. Dan untuk beberapa bulan kedepan aku butuh waktu sendiri. Jangan coba-coba menemuiku di kampus atau di mana pun. Kau paham?”

Jaksa Laurens tampak terkejut dan ia hanya menahan tawa.

Ia tak pernah habis pikir.

Gadis magister itu. Belum menyandang MBa saja dia sudah seberani itu padanya. Seorang Jaksa dengan wibawa yang tinggi, life for pride, dan begitu menjaga nama baik di depan rekan kerja bahkan klien.  Dan ia hanya bertekuk lutut pada si Nona Magister yang tinggal satu atap dengan rival kerjanya, sang pengacara yang sangat ceriwis membeber pembelaan. Nona Evelien.

***

Starla turun dari commuter line. Ia berjalan tergesa-gesa. Di hatinya masih bertanya-tanya. Apa yang dikatakannya semua tadi benar? Apa yang dilakukannya tadi tak akan menyakiti Jaksa Laurens? Akankah Jaksa Laurens sakit hati, berpaling lalu meninggalkannya? Baikkah keputusannya untuk tak bertemu sama sekali dengan  Jaksa Laurens selama beberapa bulan kedepan?

Starla merekatkan outfit sweeter pink polka yang dikenakannya. Sebentar lagi musim dingin. Cuaca mendadak mengirimkan udara yang temperaturnya melebihi hari-hari biasanya.

Tetiba beralunlah nada Canopus. Androidnya berbunyi. Dirogohnya saku sebelah kanan outfit. Saat WA-nya terbuka, ada pesan mencengangkan berbunyi di sana.

Nanti kita akan lebih banyak bertemu. Akan kita lakukan itu kalau kita sudah menikah.

-Jaksa Laurens-

Ooouh, unbelievable. Starla geleng-gelengkepala. Jaksa keras kepala itu. Jaksa yang kata banyak orang bahkan Nona Evelien sendiri bilang sangat bijaksana, look so cool, dan begitu menjaga wibawa diri. Jaksa yang sangat lembut itu akhir-akhir ini memperketat pendekatannya. Starla tampak senang—hei, siapa sih yang tak senang didekati oleh orang yang disukai—namun, Starla sekaligus merasa ada yang salah dan masih sangat kurang nyaman.

Dan hari ini, Starla membuat keputusan untuk menunda pertemuan dala waktu beberapa bulan. Semacam sebuah metode menjauhi untuk mengenalnya lebih dalam. Apakah ini sebuah perasaan yang tulus karena Tuhan ataukah hanya sebuah perasaan nyaman dan senang karena terus-menerus diberi bibit perhatian secara mendalam? Bukankah ini, maksudnya perasaan cinta ini, hanya sebuah sarana. Ya, ini hanya sarana untuk menjadi lebih dekat pada-Nya. Bukan sebuah pencapaian atau tujuan akhir. Tentu saja bukan, karena muara akhir bagi keduanya dalah mengharapkan surga. Meraih rida-Nya.

 

 

 

 

GREEN LOW LIN MASKER

Selamat siang semua… Duh, yang lagi pada istirahat. Seneng ya ada di rumah bareng keluarga.

Oya, sudah lama nih gak share soal masker. Wuidih, puanas banget kayak gini, enaknya pakai masker apa ya? So, saya akan share masker yang cocok banget dipakai di siang benderang begini. Eksperimen terbaru Vadenfah Beauty Writer.

Let’s check it out….

Pertama, siapkan bahan-bahannya dulu ya. First of all, panaskan air 4 gelas di magic com. Tuang agar-agar Swallow green kedalam air saat air sudah panas. Bubuhkan bebera sendok gula pasir. Aduk rata semua bahan hingga mendidih. Kemudian pisahkan beberapa sendok agar yang sudah matang tersebut kedalam sebuah mangkuk masker. Tunggu agak dingin. Buka kapsul spirulina lalu masukkan kedalam mangkuk masker. Teteskan sedikit saja minyak zaitun kalau mau bertambah wangi–kebetulan saya gak pakai minyak zaitun karena spirulina wanginya sudah khas. Aduk rata semua bahan dengan kuas. Diamkan sejenak sambil cuci bersih muka teman-teman dengan menggunakan air hangat (perlu dilakukan sebelum menggunakan masker sehingga membuka pori-pori wajah lebih besar untuk lebih mudah menyerap sari-sari vitamin masker). Barulah kemudian sapukan masker unik ini secara merata ke wajah hingga leher depan teman-teman. Diamkan selama 15-30 menit hingga masker mengering dan pecah-pecah alami sendiri.

At the last, cuci wajah teman-teman dengan air segar. Selanjutnya, duduklah bersantai sambil menikmati sajian agar-agar yang sudah melambai-lambai untuk dihabiskan. Selamat makan! Eeh, selamat mencoba, maksud saya.

NB: Masha Allah, sejuk dan dinginnya di wajah. Mungkin karena efek agar-agar rumput laut dan spirulina yang berasal dari lautan kali ya. Belum lagi efek gula pasir yang bagus untuk peremajaan kulit. Serasa dipijit-pijit wajah ini. Alhamdulillah.
‪#‎VadenfahBeautyWriter‬
‪#‎vip‬
‪#‎DOORChallenge4‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬

RINDU…

Saya…
Ya Allah, merindukan kajian hafalan qur’an berjuz-juz.
Kajian tafsir. Mabit dan qiyamul lail satu juz. Tertawa bersama dalam mengisi training motivasi untuk acara WCOY, edukasi kebahagiaan sukses-mulia bagi sahabat-sahabat yatim dhuafa, mendengarkan MQFM, menangis tersedu-sedan dalam sujud panjang qiyamul lail, menjadi seseorang yang tawadhu, berbagi kesana-kemari dalam dakwah dengan tak kenal lelah, mengisi kajian liqa ibu-ibu, berakhlak manis, dan menjadi apa adanya yang terbaik dari diri saya, terbaik di hadapan-Mu…. Saya rindu itu, Ya Allah… rindu sekali.

bunga