Perhatikan Wajah Keduanya

tumblr_n6clmimxRo1qaobbko1_500

Denmark, 31 Juli 2015

Bermalam-malam saya dihantui night-mare kedua orang tua saya menangis sebab saya resign dari sekolah. Bahkan saat tidur siang, ada rasa tak tenang menggedor-gedor dalam diri saya. Rengsa menyergap kedalamam kalbu saya. Saya merasakan segala perasaan takut, panik, khawatir, dan terus menangis. Semua ini terjadi semenjak saya merasa terbebani karena menerima antam sebesar 5 gram kemarin. Tak ada jalan lain, saya pun mencoba membaginya dengan menelfon orang tua.

Suara ibu parau. Suara saya, kata ibu tampak seperti orang sakit. Saya katakan bahwa saya baik-baik saja. Hanya merasa tidak enak karena mendapatkan cenderamata dari sekolah semenjak saya resign.

“Jadi kamu bener-bener keluar?!” histerisnya suara Ibu.

“Iya…”

“Ya Allah, Naak…” ibu menangis dengan sangat keras.

Hati saya guncang di situ. Saya merasa berdosa.

“Kok, gak bilang-bilang dulu…” pekik ibu saya masih dengan tangis pilunya.

“Aku kan udah bilang, Mom. Aku resign… Kan, kata Mom dan Appa waktu pulang Ramadhan kemarin, terserah aku aja…”

“Jadi resign itu kamu benar-benar keluar. Kirain nanti aja, pas udah jadi nikah… Kan, kamu udah jadi guru tetap, Nak…”

Duaar!

Rupanya, ibu saya itu salah paham sewaktu saya bilang resign. Ibu gak paham kalau resign itu keluar. Saya merasa sangat bersalah di sini. Apalagi saya tiba-tiba teringat kalau pendidikan ibu kan hanya tamatan SD. Saya mulai menangis sesenggukan. Tidak kuat.

“Maaf ya, Mom, Appa… Aku sudah kadung bilang keluar. Sekarang aku bisnis sambil menunggu kelulusan beasiswa kuliah S2-ku di UPI.” hiburku.

Ibu menangis. Selanjutnya, ibu bilang kalau bapak langsung diam melamun. Mematung bak arca batu. Sebegitu mendengar kabar tentang aku.

“Ya Allah, Nak… padahal kamu bilang kamu mau jadi orang kaya. Kamu terus-terusan bilang begitu. Dan banyak saudara yang sudah doakan kamu karena kamu suka banyak berbagi. Kamu tahu seberapa bangganya Bapakmu waktu kamu jadi Wakasek Kurikulum?”

Jegeeer!

Bapak tak pernah sekalipun bilang kalau sangat bangga pada saya. Bapak yang saya kenal selalu diam dan cool saja dengan apa pun yang saya dapatkan. Saya benar-benar merasa sangat berdosa di sini. Saya merasa down stape dan dont know what to do. Maju salah, mundur gak mungkin. Balik lagi, alangkah malunya saya. Harga diri, tepatnya.

“Pantas, Mak masak nasi tiga hari ini kok aneh. Masak pagi, siang udah basi. Masak siang, sorenya basi. Terus gitu beberapa hari. Rupanya ini toh, Ya Allah…” ujar ibu, sedihnya memalu hati ini.

Saya tidak tahu harus percaya atau tidak, tapi itu sesuatu yang ghaib. Metakognitif. Ibu rajin dan kuat ibadah, feeling chemistry-nya sangat tajam. Dan saya selalu meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan terjadi. Semuanya pasti saling memiliki keterhubungan satu sama lain. Petunjuk tak langsung dari Gusti Allah akan kesusahan anaknya, barangkali.

“Maaf, Mom..” ujar saya lirih.

“Kembalilah, Nak. Mamak mohon, kembalilah ke sekolahmu. Mamak lebih ridha kamu di sana. Kamu itu perempuan. Bisnis itu ujian mentalnya susah. Mak mohon kembalilah…” nada ibu saya lebih terasa mengemis perhatian saya daripada meminta. Bagaimana mungkin saya tega…

“Moom, gak mungkinlah. Aku malu. Insha Allah rezeki tidak hanya di Mentari Ilmu saja. Aku mau bisnis…” perasaan bingung, terluka, dan sedih bergolak dalam batin saya.

“Gak usah malu, Nak. Kembalilah, bilang saja. Mamak yang suruh, Mamak minta…”

Di situ Ya Allah, kalau berdebat ngotot atau adu argumentasi dengan teman kerja bisa saya lakukan, tapi dengan orang tua lidah ini kelu terasa.

Akhirnya saya bilang, “Iya, Mom.”

Saat itu juga saya langsung mengetik layar-layar kata di Evercross 7 saya. Mengirimkannya lewat WA pada kepala sekolah dan wakasek kurikulum baru, teman saya. Bahkan demi ibu saya, saya sudah tidak memedulikan lagi rasa malu, gengsi, atau omongan apa pun yang akan membicarakan saya nanti. Saya tidak peduli.

Saya tahu dan saya sangat paham kedua orang tua saya butuh waktu penyesuaian atas kejadian ini. Ibu dan bapak biar saya kondisikan tenang dulu agar siap menerima kenyataan saya resign. Saya tetap masuk lagi menjadi guru terbang tahsin-tahfizh saja (saya sebelumnya adalah guru tetap Bahasa Indonesia selama 4 tahun ini) di sekolah sembari bisnis di saat-saat menanti pengumuman kelulusan beasiswa S2.

Betapa, ini semua akan sangat jadi pelajaran berharga buat saya kedepannya. Bahwa dalam mengomunikasikan sesuatu—dalam hal ini bermusyawarah keluarga—perhatikan wajah kedua orang tua kita dengan baik saat memberikan pendapat. Jika wajah keduanya cerah ceria, itu tandanya benar-benar ridha dan setuju. Jika hanya kata terserah yang meluncur, itu berarti dari wajah pasrahnya sesungguhnya menyiratkan keinginan hati yang lain. Ada keputusan terbaik lain yang seyogyanya lebih didambakan orang tua saya. Untuk anak gadis pertamanya.

Dan tak ada satu alasan pun untuk tak membuat keduanya tersenyum. Bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s