Resmi Resign???

motivasi-4-300x225

Venice, 24 Juli 2015

Hari ini, sambil membayangkan duduk berlayar mendayung gondola di Venice, saya akan bercerita satu hal yang luar biasa mematok jiwa. Resmi sudah saya melepas status pengajar saya dari SMPIT Mentari Ilmu Karawang. Saya tidak tahu pasti, apa sesungguhnya yang membuat saya begitu ingin keluar dari tempat saya bereksplorasi dan mengaktualisasikan diri tersebut. Gaji besar, banyak tunjangan, aktivitas penunjang ibadah ruhiyah yang kuat, relasi yang hangat dan bagus, dan hubungan kekeluargaan yang begitu kental di antara kami semua. Buat saya tempat tersebut sudah membuat saya begitu nyaman. Atau jangan-jangan saya bahkan merasa sudah ‘terlalu’ nyaman hingga merasakan detak berbahaya untuk perkembangan diri saya sendiri secara signifikan? Wallahu a’lam.

Saat saya memutuskan resign, saya masih menyandang gelar wakasek kurikulum. Yang konon katanya gelar ini adalah gelar tersulit dengan amanah superbejibun tiap hari, tiap saat, tiap waktu bak maraton yang enggan untuk berhenti. Yang saya rasakan memang banyak amanah satu dan lain hal yang kadang belum selesai sudah menumpuk lagi amanah baru. Sementara, jika ditunda esok hari saya selalu merasa keteteran, apalagi dengan jam mengajar saya yang amat penuh. Sejauh ini saya selalu berusaha menikmati, meski kadang masih uring-uringan karena kurang tidur, atau merasa ‘so heavy’ saat sedang down dan butuh penyegaran. Saya senang bisa banyak bermanfaat di sekolah saya tersebut.

Saya tidak tahu apakah sekarang saya sedih, merasa kehilangan, atau takut merasa kehilangan. Yang saya tahu saya harus berani melepas ini semua untuk Allah berikan hal yang lebih baik dan lebih besar manfaatnya. Saya sangat ingin menebar banyak manfaat secara lebih luas. Saya pun masih menjalani hari dengan tenang, merasa baik-baik saja, fokus pada bisnis luar biasa yang mulai saya rintis, dan tidak pernah merasa kesepian. Saya selalu sibuk dan memilih selalu menyibukkan diri. Entah fokus training parenting online, berburu event lomba-lomba kepenulisan, atau berburu peluang bisnis, membaca persiapan pernikahan, serta promosi agensi Vadenfah Tour & Travel yang saya jalani. Fokus saya banyak dan harus saya bagi-bagi dengan bijaksana berdasarkan hemat alokasi managemen waktu.

Saya tidak tahu kenapa, justru merasa tentram, tidak mudah membuncah dalam pongah emosi, dan justru hati lebih tenang. Meski berbulan-bulan sebelum keluar, saya sempat dilarung bingung akan pertanyaan—bagaimana semisal orang tua saya bertanya begini, “Dapat pesangon berapa, Nduk?” Saya tahu pasti sekolah saya tidak memberi pesangon karena saya baru terhitung 4 tahun mengabdi di sini. Dan saya tidak pernah kepikiran mendapat pesangon atau lebih jelasnya cenderung tidak ambil pusing. Tapi kalau ditanya orang tua nanti, masa iya saya bohong. Gak mungkin, kan? Namun, menjelaskan bahwa sekolah saya tidak memberi pesangon, khawatir memiringkan image sekolah bagus yang selama ini selalu saya tanamkan dalam perbincangan kecil kami. Bahwa saya menjadi guru di sekolah bagus, keagamaan bagus, gajinya bagus, dan budaya kerjanya bagus.

Alhamdulillah, bapak dan ibu sama sekali tidak bertanya akan hal yang saya khawatirkan itu. Saya sempat berkata bahwa saya akan resign dari sekolah dan dijawab terserah saja bagaimana maunya saya. Saya pikir oke di sini, karena semua dikembalikan pada saya. Akan tetapi, rupanya saya lupa akan satu hal. Apa itu? Besok kita lanjutkan….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s