Neuveau Esperanza (Costa)

senja

Peserta ruang sidang satu per satu sudah berpendar keluar ruangan. Sang tersangka sudah lebih dulu diamankan. Kedua orang tua tersangka menangis terpukul dan putus asa, membayangkan kedua anaknya paling minimal mesti tinggal di bui sekurang-kurangnya dua bulan jika tak sanggup memenuhi sejumlah pembayaran uang ganti rugi. Nona Hong yang menjadi pengacara remaja Ho menghibur mereka semoga hakim memiliki penyelesaian yang bijak. Di barisan, tampak sang empunya mobil memandang dengan tatap pongah yakin bahwa kekuasaannya akan mengunggulinya penuh kemenangan atas kejadian ini.

Hhh. Aku jengah. Dan ingin rasanya buru-buru keluar sebegitu mengamati laku kepongahan itu. Bergegas aku menuju pintu.

“Hmm.” Hatiku terasa terlonjak ingin keluar. Terkejut akan deheman seorang lelaki yang tampak dari kelakuannya menungguiku keluar ruangan.

“Maaf. Maaf. Membuatmu terkejut, Nona Pengacara.” ujarnya kemudian menawarkan sebaris mutiara putih giginya.

Aku mengangguk, mencoba maklum.

“Baik. Tak apa, terima kasih.”

Lalu entah atas aba-aba siapa, kami berjalan seiringan.

“Wah-wah. Sudah mau copot jantung juga kalau perempuan pasti tetap menjawab baik, tak apa, ditambah terima kasih juga ya… Lain kali mungkin aku akan lebih sering mengejutkanmu, Nona Vien.”

Aku memandangi ekspresi wajah Jaksa Rauf saat mengatakan kalimat tersebut. Kemudian senyum jenakalah aku dalam menyambutnya.

“Begitu ya… Ada apa, Jaksa Rauf?”

“Apa kau yakin?” mataku tampak bertanya, apa maksud yakin di sini. “Teks yang kau kirimkan padaku barusan?”

“Absolutelly possitive yes!”

“Oke, let’s see.” Ujarnya semangat sekali.

“Ke masjid gedung persidangan?” tanyaku kemudian.

“Iya. Mau berjalan bersama?” tawarnya sungguh-sungguh.

“Ini sedang jalan bersama.” timpalku sekenanya.

“Cerdas kamu!” pujinya kemudian.

“Saya sedang tidak bisa salat ke masjid, Jaksa Rauf bisa duluan kesana sekarang. Silakan…” ujarku sembari mempersilakan, khawatirnya dia terus ikut berjalan seiring denganku.

Ia mengangguk mantap. Aku masih mengantarnya dengan tatapan penuh penghormatan. Seketika tubuh gagahnya bertolak kembali ke belakang. Melihat ke arahku. Aku terpana sejenak, bahkan sebelum aku meminta pada Tuhan agar ia menengok kepadaku.

“Sampai jumpa di ruangan, Nona Pengacara.” Lambai tangannya ditujukan kepadaku. Aku tersenyum serekah mawar dan turut membalas lambaian tangannya.

“Doakan Nona Pengacara-mu ini ya, Jaksa Rauuuf.”

Tiba-tiba aku tersentak oleh bisikan itu.

Masha Allah. Nona Hong, kau baik-baik saja?” berondongku. Nona Honglah rupanya pembisik yang sudah berdiri di belakangku dengan raut wajahnya yang cengar-cengir.

“Kau lihat sendiri kan, betapa masih kerennya aku!” jawabnya sembari memutar-mutar badannya bak pragawati cat walk.

“Syukurlah. Nona Hong tampak berapi-api dan tegang sekali tadi. Bersitegang terus dengan Jaksa Rauf.”

“Mana berani aku bersitegang dengan jaksa pangeranmu itu. Dia terlalu lihai dan cerdas. Begitu itu musuhku ya, tapi dia sangat menghormati aku. Kau lihat kan Nona Vien, caranya membantah pendapatku tadi di ruang sidang?”

“Ooh. Jadi itu yang ingin Nona Hong tunjukan padaku?”

Nona Hong mengangguk mantap. “Kau harus belajar mengenali lawanmu yang sangat tangguh dan begitu kau kagumi itu jikau suatu saat bertemu sidang dengannya. Bukan hal sulit bagi Tuhan kan membuatmu bertarung dengan lelaki yang paling kau kagumi sedunia?”

“Iya. Makanya aku datang memenuhi panggilan.”

“Panggilan siapa? Aku? Atau Jaksa Rauf?”

“Panggilan nuraniku sendiri, dong!” paparku tanpa gentar.

“Hei, aku mengejarmu mau bertanya sesuatu.” ingatnya kemudian.

“Benarkah? Tentang teks kirimankmu?” tebakanku benar, Nona Hong mengangguk.

“Kau yakin, kan?”

“Sure. I’m not doubtfull about it! Insha Allah.” tak tersisa sedikit pun keraguan dalam ucapku.

Nona Hong tersenyum. “Tahukah kau, bahwa Jaksa Rauf dan aku sempat berbicara diam-diam untuk menyelamatkan nasib remaja Ho tadi semalaman melalui WA? Menyelamatkannya dengan cara yang paling adil, tapi bahkan sampai sekarang kami belum menemukan caranya.”

“Mungkin ini salah satu cara yang Tuhan kirimkan pada kalian. Melalui aku…” sahutku riang.

“Mungkin saja. Semoga…”

Kami pun berjalan menuju balkon di depan ruang seleksi yang biasanya untuk para pengacara baru, ruang bernomor 4545. Menikmati juz buah persik dengan racikan potongan kecil daun-daun mint yang sudah kami pesan dari kantin persidangan. Dengan senandung jantung yang masih dag-dig-dug memikirkan keputusan final dari sidang remaja Ho hari ini.

#*#

To be continued… “_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s