Neuveau Esperanza (Ezta)

Hongkong, 05 Oktober 2015

download (2)images (71)

Akhirnya, aku benar-benar datang ke ruangan ini. Ini adalah kali pertama bagiku untuk menyaksikan persidangan yang didaulat oleh Jaksa yang sedari awal bertemu dengannya dua tahun lalu sangat aku kagumi, secara diam-diam.

Saat aku hadir, sidang lelaki bermata biru berbadan atletis dengan wajah teduh bak sinar embun itu sudah dimulai. Dia seniorku. Jaksa Muhammad Rauf yang kali ini berjibaku dengan patner kantorku, Pengacara Raina Hong. Nona Hong sebut saja panggilannya begitu, terkenal sebagai pengacara paling detil yang kerap kali suka menghujani rival sidang dengan banyak bukti. Seperti nama depannya itu.

Aku memilih duduk di salah satu jejeran kursi paling belakang. Beberapa peserta sidang yang mengenalku di barisan belakang tersebut turut menyalamiku terlebih dahulu, saat aku mencoba bersalaman dengan tetangga duduk di kursi kanan dan kiriku. Tiba-tiba, teropong pandang Jaksa Rauf menepi ke arahku. Habislah, aku! Entah kenapa dia tersenyum saat kami beradu pandang. Ada binar bahagia di sana dan di sini, di hatiku. Ingin rasanya tangan kananku melambai pada saat yang bersamaan jika logika tak menggedor kesadaranku. Hello, Nona pengacara yang terhormat di barisan belakang. Kau tahu kan kalau saat ini adalah sidang resmi? Aku pun merunduk sesegera mungkin dan tebengkalai sudah keberanianku. Saat ini tangan kananku berpagut dengan dagu. Kesadaran yang kulakukan untuk menyetir kekaguman rasa pada seniorku. Aku yakin, aku bisa melakukannya dengan apik. Dan aku harus! Ya, aku benar-benar harus bisa merengkuh pengendalian diri dengan baik karena saat ini yang aku rasakan adalah semacam neuveau ezperansa. Harapan baru yang indah dan bergetar sangat besar.

Kali ini kasusnya adalah seorang remaja dari salah satu sekolah umum khusus putra yang membaret mobil mewah milik juragan properti di kota ini. Tak heran jika banyak pula anak berseragam sekolah yang turut menyaksikan persidangan kali ini. Kulihat sosok tersangka yang dalam hal ini si remaja dari marga Ho, membenamkan kepalanya dalam tundukan yang semakin lama semakin dalam. Aku bisa meraba rasa malu, sedih, dan mungkin juga penyesalan mendalam dari sang anak. Menurutnya, orang-orang di ruangan ini bisa saja menguatkan atau melemahkan posisinya. Ada sanak-saudaranya di barisan keluarga yang tentu tak tahu-menahu atau bahkan menyaksikan kejadian sebenarnya. Ada salah seorang berseragam guru dengan identitas yang sama dengan sang remaja Ho, ada barisan teman sekolah sang anak yang entahlah apa saja mungkin berkejaran dalam kepala mereka. Bahkan ada barisan anak-anak berseragam lain, guru berseragam berbeda yang dianggap sebagai tamu undangan karena mungkin ya sedang melaksanakan pembelajaran kontekstual tentang kewarganegaraan dengan cara mengunjungi ruang pengadilan, dan hanya beberapa kursi untuk barisan para saksi atas kronologi kejadian  kasus yang berusaha dituntaskan kali ini yang pastinya membuat si Ho tersebut kebat-kebit dalam hati.

Dengan didatangkannya para saksi, secara langsung Jaksa Rauf meminta tersangka Ho untuk menyimulasikan aksi pembaretan mobil sang juragan properti yang disinyalir dilakukan secara sengaja tersebut. Remaja Ho mempraktikkan tindakan semi kriminalnya yang dianggap tidak beradab untuk dilakukan pelajar tersebut dengan wajah yang dilarung kesedihan menyala. Ketegangan semakin menyala saat remaja Ho tiba-tiba bersuara lantang dalam keperihan yang dalam.

“Saya ditantang oleh mereka. Saya terpaksa membaret mobil keren itu…”

“Ini artinya ada pihak lain yang sebetulnya menjadi dalang motif pembaretan mobil ini, Bapak Hakim yang terhormat. Bukankah begitu Bapak Jaksa Rauf?”

“Hmm. Lalu siapakah sebenarnya mereka yang sudara Ho maksud? Bisakah saudara jelaskan pada kami?” remaja Ho tampak bungkam. Ia hanya menggeleng, lalu melanjutkan tundukan kepalanya kian dalam.

“Tapi Bapak Hakim, saya mohon pertimbangkan anak yang masih SMP ini. Masa depannya masih sangat panjang. Dan lagi ternyata beradasarkan pengakuannya, dia ditantang oleh pihak lain?”

“Sebentar Bapak Hakim yang bijaksana, saya ingin mengajukan pertanyaan terakhir.” terlihat Jaksa Rauf tampak melakukan negosiasi dengan ketiga para hakim.

“Silakan, Jaksa Rauf.”

“Benar apa yang dikatakan Pengacara Hong. Dan pengacara Hong, kita perlu mendengar jawaban atas pertanyaan terakhir saya kali ini. Bisa kan?”

Nona Hong tampak pasrah meskipun masih berusaha menahan sikap tak sabar alias gregetan. Jaksa Rauf mengangguk pada Nona Hong yang sesungguhnya secara otomatsi juga meminta anggukan sepakat dari Nona Hong.

“Baiklah Ho, ini pertanyaan terakhir dari saya. Pada akhirnya apakah kamu sendiri yang melakukan tindakan pembaretan mobil mewah tersebut persis di depan Kafe Canopus? Lalu biasakah saudara Ho mengatakan pada kami tentang siapa sebenarnya ‘mereka’ yang tadi Anda sebutkan?” selidik Jaksa Rauf.

Sayangnya, iya! Pembaretan itu murni hanya remaja Ho seorang yang melakukannya. yang ini sudah dipastikan oleh sekian banyak saksi mata yang saat itu tercengang akan kelancangan remaja Ho. Dan lebih sayang lagi saat remaja Ho tak bisa mengatakan lebih lanjut tentang siapa mereka yang dia maksud tersebut karena menurutnya mereka berasal dari sekolah lain dan saat pulang sudah berpakaian atasan bebas. Dan baru sekali itu saja dia bertemu di gang menuju Kafe Canopus.

Aku sendiri bahkan benar-benar tertegun dengan perkataan banyak orang sebelumnya. Jaksa Rauf memang sangat luar biasa dalam membababarkan bukti otentik. Dia lembut, sekaligus sesekali tegas saat menuturkan bagian-bagian yang memang sangat perlu ketegasannya. Timbre suaranya dalam menguak kronologi kasus, bukti, dan bahkan saat mendatangkan saksi yang akhirnya ditanyai olehnya di ruang sidang telah menerbangkan serbuk-serbuk kekaguman untuk semua mata peserta sidang.  Tetiba sirobok matanya kembali menyegel konsentrasiku, tak sekalipun mengusikku untuk berpindah alur pandang. Let’s see, aku sangat menikmati sidang ini.

Hoho. Tantangan untuk berani membaret mobil mewah yang saat itu berhenti di depan Kafe Canopus. Sebuah ide gila, bukan? Toh, sebenarnya itu adalah sebuah kafe yang paling favorit aku kunjungi karena di sana selain bisa memilih duduk di pojok ruangan, memikirkan sebuah pekerjaan, baca buku, atau memesan makanan kita bisa menikmati setiap koleksi sang empunya kafe yang serba bernuansa astronomi. Aku memeriksa agenda harianku. Wah, padahal pada hari kejadian aku ada di TKP, loh. Tapi kok aku sama sekali tak menyaksikan tragedi pembaretan mobil mewah itu ya. Everest green, siapa sih yang rela mobil sekeren itu dibantai dengan kerikil pinggir jalan? Disindikasi dalangnya oleh para remaja SMP pula? Ampuun, deh!

Aku melihat tangkai jarum nakas di ruang sidang memamerkan detak yang menyerang pertahanan Nona Hong. Meski dalam keadaan seperti ini, semangat Nona Hong masih kentara sangat berapi-api. Tapi bukan itu sebenarnya yang dibutuhkan oleh sidang kali ini, penyelesaian dan solusi itu saja.

Tapi…

Sebentar!

Kalau tadi remaja Ho mengatakan dia ditantang dan didesak teman barunya—katakanlah begitu, bukankah ini berarti remaja Ho dalam kondisi terdesak oleh ancaman semi? Keadaannya saat itu adalah semi terancam yang jika dia lakukan atau bahkan tak dilakukannya, remaja Ho bagai menelan buah simalakama. Kenapa hal seperti ini luput dari penjelajahan Jaksa Ho ataupun Nona Hong?

Aku tersenyum canggih. Sudah kukirimkan 2 teks pada dua orang yang berbeda, teks atas kondisi yang sebetulnya terjadi dengan remaja Ho.

Ooh, Tuhan yang Mahabaik, ketuklah hati para hakim di depan untuk memutuskan waktu istirahat.

Drog! Drog! Drog!

“Jaksa dan pengacara yang terhormat serta peserta sidang sekalian, kita istirahat sejenak untuk menjernihkan pikiran dan perasaan atas sidang yang berlangsung cukup alot hari ini. 45 menit kemudian kita akan kembali ke ruang sidang. Bersama-sama menyaksikan ending kasus ini.”

Terang jaksa yang berada di posisi paling tengah memutuskan dengan serta merta sebagai jawaban doaku.

#*#

To be continued ya, Readers…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s