Petrichor

Pangkal Perjuangan, 15 September 2015
00:00

hjnn
Kurang lebih tahun 2010, saat-saat terakhir saya masih suka menyanyikan lagu-lagu India. Gak usah dibayangkan sedetil begitulah betapa merdu dan bagusnya suara emas saya ini. Dan kali ini… Menuliskan apa yang akan saya tuliskan ini, saya kembali diiringi dengan instrumen musik Hindustani. Berarti tepat lima tahun ya saya berpuasa dari menyetel musik-musik tersebut. Sebuah kelangkaan yang estetik karena setelah bertahun-tahun hiatus dari hal-hal yang berbau negeri kain saree itu, saat ini saya kembali memutar genre musik ini lagi.
 
Salaam E Ishq Meri Jaan judul lagunya. Dengan ritme musiknya yang mengalun sendu, penuh suasana melankoli, kita akan ditarik-ditarik oleh hentakan-hentakan musik paduan Persia, Turki, dan Hindustani. Magic sound… yang sesungguhnya lebih cocok disampaikan sebagai perasaan salam penuh kasih sayang pada sang pujaan hati. Intinya mah, my dear accept this greeting of love. Kebetulan saya masih berjuang menanti pangeran berkuda putih J, jadi lagu ini untuk susunan kata per kata yang saya tulis di sini saja ya… Siapa tahu kan kalau kisah kasih yang akan terjalin di masa depan seindah miliknya Fathimah Azzahra ra dan Ali Bin Abi Thalib ka. Tersimpan rapat, rapi, suci, dan bahkan setan pun tak kuasa mencium gemuruh renjana keduanya. Duh, subhanallah ya. Kebayang banget tuh indah banget happy ending ujungnya. Makanya, buat teman-teman yang masih muda seperti saya kalau masih suka TP-TP, sibuk di-PHP, resek mem-PHP orang lain, atau PHO-in orang ya terserah saja sih. Saya tidak akan menyalahkan yang masih begitu karena semua tindakan kita kan dipengaruhi oleh pemahaman pola pikir, ya. Nah loh, jadi yang masih ribet gak bisa move on dari VMJ begituan, pemahaman pola pikirnya masih… Simpulkan sendiri sajalah. Toh, derita kan menjadi hak milik masing-masing. Oho! Yang jelas, saya sih lebih prefer dengan prinsip halal cinta itu indah pada saatnya yang tepat buat merekah. Kalau bikin galau berarti itu mah nafsu, bukan cinta. Kalau ujung-ujungnya cuma berantem, putus, terus jadi ‘bekas’ berarti itu mah bukan cinta. Gak asyiklah, gak indah begitu mah. Uhuy! “_^
 
Duh, jangan sedih deh bacanya! Saya yang menulisnya sedang sangat bahagia, kok. At last, lagu ini cocok banget ternyata untuk menyatukan feel tulisan saya tentang judul di atas.
 
Monggo dibaca.
 
Sebelum berbuka puasa menjelang Maghrib saya sempatkan me-like status sang akhwat salihat. Doa dalam posting statusnya sangat sederhana. Kurang lebih permintaan agar dikabulkan turun hujan hari ini. Hingga ba’da Isya diri yang begitu lelah berpikir ide episode lanjutan novel ini, merebahkan badan di lantai. Bermaksud sedikit santai atau agak berleyeh-leyeh merasai dinginnya si keramik krem. Namun sayang sungguh sayang, malah saya ketiduran hingga pukul 23.00 dengan posisi masih terkapar di lantai. Ini sih bukan santai, protes saya dalam diri. Melainkan bermalas-malasan. Astaghfirullah. Ampunilah jiwa raga yang suka berbuat lalai hari ini, Ya Allah…
 
Betapa  beruntung karena diri ini dibangunkan oleh rasa dingin yang cukup menggigit.  Saat itu diri ini hendak langsung mengambil selimut saja jika saja indra penciuman ini tak mendeteksi jejak-jejak petrichor yang begitu kentara dari halaman depan kosan. Aroma tanah yang yang harum dari sisa-sisa hujan yang tertinggal begitu memantik syaraf penciuman. Saya merasakan bahagia dan ketentraman luar biasa. Setelah nyaris dua tahun, tak bisa ‘sehat hati’ saat hujan menumpah kristal bening pada bumi di malam hari, kini hati saya bisa benar-benar pulih dan merasa sejuk lagi.
 
Duh, sungguh romantisme ini malam, Gusti…
Tiba-tiba tujuh warna pelangi
Mengekori diri
Menancapkan lintang-gemintang harapan
Di pelupuk nurani

 
I love this scene setting, deh! So sweet romantic! Makin terasa sweet dan lebih meleleh hati ini saat ujug-ujug teringat doa yang teraamiinkan dari status teman tadi sore. Yang dengan begitu kanak-kanak saya aamiin-kan plus juga saya tambahi permintaan kepada Allah begini, “Ya Allah, coba ya malam ini hujan yang deras gitu. Pasti sejuk…”
 
Terima kasih telah menghadiahi saya dengan terkabulnya doa-doa kami, Ya Allah. Hujan adalah air suci surgawi sebagai limpahan rahmat-Mu. Segala kebaikan berawal dari rahmat-Mu yang Kau turunkan dari langit ketujuh malam ini.  Terima kasih karena Kaulah satu-satunya Dzat yang Mahasenang saat dimintai oleh kami dengan banyak keinginan. Terima kasih telah selalu menginspirasi saya menulis selama ini. Terima kasih karena dengan menuliskan judul ini saya jadi menemukan kosakata indah yang baru. Terima kasih jika tulisan ini bisa turut menjadi problem solving untuk banyak orang. Terima kasih karena dengan menulis membuat diri ini melakukan perbaikan terus-menerus. Terima kasih dengan contoh tulisan ini bisa turut membantu tercapainya process & result oriented sehingga kinerja menulis ‘One Week One Story’ kami tercapai lebih maksimal. Terima kasih, dengan menulis seperti ini kami bisa memperjelas peta-peta decission making yang memudahkan kami dalam pengambilan keputusan penting untuk lini hidup kami, untuk kebaikan banyak orang. Terima kasih atas nama-Mu, yang telah memberi kami kekuatan berbentuk kesempatan dalam menetapkan target MPMW, mengomunikasikan tujuan atau sasaran yang ingin kami capai bersama, mengelola dan membagi sumber daya secara efektif, melakukan monitoring pelaksanaan, dan mengevaluasi pencapaian writing skill kami. Terima kasih sebab dengan menulis, kami bisa memiliki apa yang disebut-sebut banyak orang cerdas dengan core competences. Empat keahlian penting dalam hidup manusia yakni membaca, menulis, menjelaskan alur pemikiran, serta memimpin yang sangat bermanfaat untuk masa depan kami. Terima kasih yang sangat… lagi dan lagi karena dengan menulis kami berusaha selalu ada untuk Indonesia tercinta.
 
So, I love this petrichor. This inspiring rain to write what I wanna write. Do love You too, Allah.
 
Dengan demikian, untuk menutup tulisan ini dengan lebih touchy, saya mencuplik salah satu lirik yang terdapat dalam lagu Hindustani jadul di atas saja ya. Saya suka betul pada lirik bagian ini. De duaen, de duaen tujhe umr bhar ke liye. Semoga akan ada semakin banyak orang yang mendoakan keberkahan untuk kita. Untuk Anda semua yang membaca tulisan singkat ini juga tentunya. They will bless you, they will bless you for your whole life.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s