Well, I Agree With…  

Well, I agree with your opinion about my character…

Memang benar katamu bahwa gadis sepertiku ini jika dilihat-lihat pastinya tidak ada tampang pendiam. Itu sepenuhnya benar! Tepat sekali dengan kenyataan yang selama ini bisa orang-orang temui.  Kau pun seringnya melihatku begitu, bukan?

Yap, di rumah, aku bukanlah gadis yang pendiam. Aku terbiasa ekspresif dalam mengemukakan dan mengungkapkan sesuatu. Ekstrovert sejati! Ketika aku bahagia, senang, sedih, luka, marah, kecewa, merasa bersalah bahkan mengharap-harapkan sesuatu pasti kentara jelas semuanya. Memang bukan tipeku untuk menyembunyikan apa-apa yang aku rasa.

Seperti ketika aku jatuh hati pada seseorang. Nyaris semua bilang, kalau aku suka dengan seseorang pasti deh ekspresi kebahagiaan juga salah tingkahku itu bakalan kelihatan. Aku bilang, tampaknya dalam hal ini orang-orang telah begitu sok tahu. Untuk hal ini aku sedikit berbeda. Aku akui kendati dalam pandangan sebagian orang aku memang agresif (maaf, aku lebih suka menyebutnya ekspresif sebenarnya), aku adalah gadis yang pemalu ketika soal hatiku sampai teraba oleh yang lain. Jauh di lubuk hatiku, memang ada rasa bahagia yang begitu membuncah ketika diberi perhatian-perhatian kecil oleh orang yang aku sukai atau bahkan aku sayangi. Dan yang perlu kau tahu, dengan rasa saking malunya ketika menyukai seseorang—saking ingin menjaga agar yang aku sukai jangan sampai tahu dan jangan sampai mengotori hati—aku cenderung memasang ekspresi lempeng.com, cuek, jutek, ceria, dan  bahkan cenderung menjadi lebih diam dari biasanya.

Itu baru ketika aku jatuh hati pada seseorang. Belum ketika aku senang, bahagia, atau saking gembiranya oleh sesuatu. Mendapati menu nasi goreng di siang hari ketika jam istirahat kedua, dibelikan es krim oleh Ibu Kepala Sekolah, menjilati potong demi potong es lilin rasa kacang hijau, berbelanja buku-buku bagus, mempunyai baju batik dengan corak karkter yang unik-unik, atau berhasil melakukan sesuatu yang sederhana sekaligus luar biasa. Semuanya serba Eva! CERIA.

Seorang Eva salah tingkah? Sudah lumrah jika manusia mengalami perasaan semacam ini. Tidak aneh. Aku kan juga manusia. Hanya saja kadang-kadang, beberapa orang yang kekuatan visualnya begitu kentara pasti saja memerhatikan dengan saksama. Entah aku yang tiba-tiba berlari, senyam-senyum kikuk mencoba untuk tetap bertahan, tiba-tiba menimbang berat badan atau bahkan yang paling asyik adalah dengan berbicara kepada binatang manis seperti kucing. Lagi-lagi kebiasaan ini kembali ditemukan oleh sang OB sekolah yang kelewat peka itu. Masya Allah, alangkah malunya aku…

Ketika aku sedih, hmm… Standar. Apalagi kalau bukan ciri khas bahasa tersulit perempuan. Menangis. Tapi alhamdulillah, aku memang orang yang sedikit sekali merasa sedih. Kebanyakan hari-hari dalam hidupku nyaris selalu kulalui dengan tawa ceria, penuh cerita, dan kertas-kertas mimpi. Aku masih bertahan untuk tetap tertawa dan banyak bercerita ini-itu meski rasaku sudah remuk-redam dalam dada. Paling-paling, hanya beberapa menit saja aku bisa sedikit murung. Tapi begitu menangis sejadi-jadinya di kamar mandi atau perpustakaan sekolahan, semua bakalan berjalan seperti sediakala. Seperti tak pernah terjadi apa-apa. Aku punya prinsip, lha wong bukan orang-orang atau sesuatu kok yang bisa membuatku sedih atau terluka. Aku bisa sedih atau terluka itu ya karena aku saja yang sudah mengizinkan semua itu terjadi pada diriku. Karena aku mengizinkan itu artinya ada keyakinan yang sedang bekerja di dalam kepalaku. Dan bukan salah Allah jika Dia mengabulkan keyakinanku, kan? Itu pilihanku.

Bahkan ketika aku marah, wajahku akan memerah dan intonasi suaraku akan melengking tinggi. Kau sendiri pernah kaget dan menjadi berubah ekspresi bukan ketika rem suaraku blong? Ini bahasa Mas Didin—Office Boy di sekolah yang diam-diam rajin mengamati perubahan perilakuku. Dan untuk itu, aku sudah meminta maaf. Efek positifnya sih, sekarang aku lebih memilih mengerem diri jika marah. Diam? Oooh bukan, maksudku aku hanya menjadi lebih sedikit mengerem kata-kata saja. Ini pun selama aku nyaman. Ketika kurang nyaman dan merasa nelangsa ketika banyak diam, tabiat asliku yang periang dan blak-blakan akan kembali terpasang. Eva gitu, lho

Lalu kalau aku kecewa? Misalnya target agenda rapat yang tidak sesuai planning awal yang sudah aku buat, menunggu sesuatu yang terlalu lama, atau ketika aku jajan di kantin Cordova, tapi di sana tidak ada makanan pedas asin—tahu Jeletot kesukaanku. Biasanya sih, aku akan berlalu dari kantin sembari menekuk wajah. Ini tentu saja masih sangat mudah. Hal yang agak sedikit sulit dihilangkan adalah ketika aku kecewa terhadap diriku sendiri karena telah melukai orang-orang yang aku sayangi. Ujung-ujungnya, nanti aku akan nyerocos panjang-lebar seperti menggombali orang-orang sekitarku. Ini adalah wujud kekecewaan yang kadang-kadang tak kalah membingungkan. Padahal toh, no body’s perfect, heh? Berarti aku kudu pandai-pandai memaafkan diriku sendiri juga thoIt’s ok! I’ll try too…

At last, intinya aku tak bisa jauh-jauh dengan budaya berbicara—aku pikir tak apa-apa lho, soalnya kan aku bisa mengimbangi kerajinan berbicaraku dengan keterampilan menulis… Habisnya, mau bagaimana coba? Kalau aku sakit lalu aku diam, aku merasakan badanku ini lemas sekali tanpa daya. Terkadang, berbicara dan sharing dengan banyak orang membuatku semakin semangat menyemai harapan-harapan kehidupan yang selalu baru dan terus baru. Tentunya, sharing seputar hala-hal sederhana, bukan seputar hal yang rumit atau penuh rahasia. Soal rahasia, selain curhat dengan Allah, aku memilih untuk selalu lebih banyak berdiskusi dengan Bayu, Cinta, Cita, Surga, dan Gajah Mada.

Mmmh… Aku ini sanguinis-koleris. Kehidupanku selalu ceria, penuh tawa, dan cerita. Jadi ketika dihadapkan pada persoalan berat, aku lebih nyaman berdiskusi dengan nuraniku sendiri. Soalnya tak sedikit juga ketika berbicara dan sharing dengan orang-orang tertentu justru malah membuatku terjebak dalam lingkaran gamang, galau, dan bimbang. Sampai akhirnya ada tiga buah prinsip sederhana yang selalu aku tegaskan ketika hendak berdiskusi dengan orang-orang terpercaya. Pertama, apakah yang kuceritakan ini baik? Kedua, apakah yang kuceritakan ini benar? Ketiga, apakah yang kuceritakan ini ada manfaatnya? Lain-lain dari itu, pastinya hanya seputar cerita lucu-lucuan saja. Tak lebih.

Sokaguro, 22 April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s