Tumben

Yang saya ceritakan ini adalah hal baru. Soal Fanta.

Hari ini entah mendapat angin segar darimana, saya secara tiba-tiba membuka pertanyaan pribadi pada Fanta.

“Bagaimana kabar Bapak, Fanta?”

“Baik.” Sambutnya. “Ibu?”

“Alhamdulillah. Kalau kabar Ibunya Fanta di rumah?” basa-basi saya lagi.

“Baik juga. Tumben nanya…”

Sebenarnya sih saya lagi gak pengen aja bertanya kabar ibunya. Udah hafal banget di luar kepala dong saya kalau si Fanta tuh sayang banget sama ibunya.

Aneh kali ya pertama kali buatnya, saya juga kok tumben-tumbenan bertanya itu. Iya, tumben. Lha wong, biasanya tensi adrenalin kami naik terus. Ohoo… Meski setelah baku hantam ide, banting kata-kata ‘pedas’, saling memicingkan mata, atau apalah tingkat berantem mulut paling ‘sarkastis’ kami bakal makin tambah akur besok-besoknya, setelah-setelahnya. Yang kalau saya lagi bener ya cuma senyum aja sama kelakuan ‘have fun’ usilnya. Tapi dia… hhh… sulit dijelaskan dengan kata-kata bagaimana kami berinteraksi secara normal.

Oya, saya sebenarnya memiliki banyak panggilan ‘ujug-ujug semaunya saya untuk si Fanta. Gak pake romantis-romantisanlah pastinya. Yang saya tahu Fanta memang berkepribadian magenta. Nah loh, apalagi sih itu? Baca saja sendiri ya googling banyak kok, lumayanlah bisa mendongkrak pemahaman tentang psikologis untuk terus baru.

Jadi begini, tadi siang kalau gak salah, saya dan Fanta BBM-an. Eits, bisa ketebak dong ya siapa yang duluan menyapa. Saya. Ooh, mohon maaf Anda kurang beruntung. Alhamdulillah kali ini, Fanta yang menyapa saya duluan. Menanyakan besok pakai kostum apa dan saya tambahi bahwa besok kami mesti datang lebih pagi untuk upacara. Di dalam hati saya menyemburat rasa bahagia saat bisa menjadi seorang ibu seutuhnya bagi sang anak…

Fanta… Fanta… tahu kan ya warna merah fanta? Susah banget buat ditebak karakternya. Lah, emang kita lagi main tebak-tebakan gitu? Enggaklah. Fanta itu superunic pupil aja buat saya. Orangnya supernyebelin sekaligus sangat baik hati, pada saya. Yang suka bikin gatal tangan saya buat jitak kepalanya pakai kunci jawaban DDUN atau menusuk pahanya pakai pulpen.

Saya tuh pernah nangis gak rela gara-gara apa-apaan gitu risih amat tuh Fanta mendekati saya melulu. Gangguin kalau saya ngajar di kelas-kelas lain, menyembunyikan tools pembelajaran saya kalau lagi di kelas, ujug-ujug ketuk pintu slonong boy masuk Zubair cuma buat kasih saya permen pas ngajar, berisik kalau papasan jajan di kantin, repot banget ngurusin berat badan saya yang chubby terus, suka maksa minta disuapin, megang golok gede banget terus ujug-ujug ditempelin dinginnya ke muka saya, ngotot banget buat mentraktir atau jajanin saya, paling gak rela kalau saya dibelikan makanan sama lawan jenis, nawarin nginap di rumahnya mulu setiap Sabtu-Minggu cuma gara-gara khawatir saya kesepian gak ada tivi, suka teriak-teriak heboh beib-beib yang bikin malu hati ini sewaktu main bola di lapangan—syukurnya ini tahun lalu, sekarang sih enggak parah gitulah ya meski masih parah.

Masih sangat parah karena suka mengajak saya berantem terus, gak akur-akur. Ini yang kadang bikin saya capek. Ada banget dah ulahnya buat buka komunikasi sama saya. Meski kadang saya suka galak, jutek, dan bahkan pedes sama sikap keras kepalanya. Dan itu yang lebih sering saya lakukan. Ribut mulut yang sampai buat statement orang-orang kalau kami bak Jodha Akbar. Hyeex, malas bener kan dengernya. #tobat saya mah.

Tantangan banget ngusir dia untuk menjauh dari kelompok mentoring saya. Acapkali saya bingung, diajak gabung tilawah gak mau, tapi kalau saya lagi tilawah bareng anak-anak binaan saya, dia terpaku melihat saya terus. Kadang di situ hati saya tersentuh. Mungkin ini hamba-Mu yang satu memang so special Ya Allah, apa di kubikel pikirannya lebih baik dia mendekam di kelompok saya sembari dengar kami tilawah dan mentoring daripada ngobrol ngalor-ngidul sama teman sekelompoknya yang suka ditinggal murabbiyah? Tak jarang hati ini juga ingin lembut mengajak dia gabung, tapi tuh Fanta bukan hak saya. Jadi suka memilih tersenyum sebaris memandangi wajahnya sejenak. Moga Allah curahkan sayang buatmu, Naak… T_T

Namun, sebenarnya ada jurang pertanyaan yang terus saya simpan dalam hati. Kenapa Fanta gak pernah mau buka topinya di depan saya bahkan dalam kelas sekalipun? Fanta akan panik banget cari peci buat melindungi rambutnya yang sempat kena razia dulu. Padahal, saya sudah bilang kalau dia lebih ganteng tanpa topi. Padahal, sama Miss Dewi dan Miss Teti atau Bu Ayu dia gak begitu. kadang-kadang, di situ hati saya merasa iri. Saat Fanta menjadi apa adanya di hadapan yang lain. Kenapa dia itu selalu menampilkan sosok perfect-nya yang kadang-kadang sok dewasa atau bersikap seolah-olah dia lebih tua dari saya? Seumur-umur, dia gak pernah memanggil saya Ibu atu Bu. Mau tahu? Si Fanta bahkan cuma pernah memanggil saya ‘Ibu/Bu Eva’ saat di hadapan guru/orang lain. Suka bingung saya, apa sih artinya sosok saya di lubuk hati Fanta? Ribet amat dia ke saya. Kenapa dia bisa menahan diri dengan baik saat diajari guru lain, diam duduk di kursi? Sementara saat saya ajar, dia akan mendekat di samping saya, di belakang saya, atau bahkan hanya berjarak seinci di depan saya. Fanta bilang itu seleksi alam. Dia yang gak bisa menahan diri saat berhadapan dengan saya. Anak-anak sekelasnya bilang Fanta hanya begitu dengan saya saja. Fanta melakukan itu karena Fanta sudah terlanjur suka sama saya. So what, Man? Sementara saya sudah buat aturan yang tegas di banding yang lainnya. Dan sejak saat itu saya selalu melakukan apa pun untuk membuat Fanta membenci saya, gak suka sama saya, dan saya lebih galak dengan Fanta. Sampai Fanta bilang begini pada saya.

“Iya, Ibu mah memang gak pernah memperhatikan saya. Ibu respect-nya ke yang lain terus. Kalau saya salah pasti dimarahin, kalau dia salah aja dibelain.”

Astaghfirullah. Ada yang berdesak di ulu hati saya. Sesak. Berarti saya sudah tidak adil sama ini anak…

“Udah deh Bu, percuma. Sabar aja Bu Eva mah.” Hibur seseorang, menguatkan saya.

“Mau gimana-gimana juga, sayangnya si Fanta tuh sudah kadung suka sama Ibu…”

Gleg. Saya cengkeram kepala saya yang terbalut jilbab merah. Speechless saya oleh pernyataan mereka.

“Hmm, terus kalian gak ada satu pun yang belain Bu Eva gitu kalau dia ngerjain Bu Eva habis-habisan?”

“Aduuh, Bu. Maaf nih. Kita gak berani…”

“Sama si Fanta? Satupun?” saya masih berusaha mengorek sisa-sisa keberanian mereka.

Mereka mengangguk kompak.

“Maaf ya, Bu. Soalnya si Fanta tuh udah baik banget sama kita…”

Oh My Allah. Degradasi macam apa ini?

Senyum saya sangat satir saat itu. “Terus kalian semua emang bisa lulus dengan baik gitu kalau gak saya yang meluluskan nilai sikap kalian?” sayangnya saya hanya bisa melakukan protes satir ini di dalam hati.

“Sabar ya, Bu…”

Dan kesabaran macam apa lagi yang mesti saya tanam saat akhirnya anak bernama Fanta itu melukai harga diri saya sebagai muslimah? Dengan tanpa dinyana, Fanta mengobrak-abrik prinsip teguh saya. Saya gak tahu apa yang membuatnya dengan tanpa aba-aba mengelus kepala saya saat saya sedang menerima sambutan konsultasi beberapa teman sekelasnya.

Saat itu saya sontak kaget. Saya merasa dunia sekeliling saya melambat atau bahkan seolah bumi berhenti berotasi. Saya raba kepala saya perlahan. Berusaha sebisa mungkin menyalakan pertahanan logika.

“Gila lu, Fanta. Gak sopan banget sih, Lo!” hardik seorang siswa yang tengah bernegosiasi soal konsul Bahasa Indonesia sore itu.

Fanta kaget.

Saya melihat Fanta dengan tatap bingung paling nyalang.

“Fanta Magenta!!! Kamu jahaaat…” jerit saya tertahan oleh luka. “Mulai detik ini, saya tidak akan lagi mengajak kamu berbicara.”

Dan benar saja. Selama lima hari berturut-turut saya tidak menganggapnya ada di kelas belajar. Saya terluka. Fanta kecewa. Bahkan senyumnya atau rekah senyum saya akan langsung mengatup saat kami tanpa rasa duga saling bertemu muka.

Sebetulnya saya hanya ingin membenci sifat dan sikap ‘kurang hati-hatinya’. Saya tidak ingin membencinya. Tapi hati ini terlalu sakit karena 5 hari yang sebetulnya terhitung 3 hari efektif sekolah itu, sama sekali belum ada inisiatifnya untuk mendatangi saya untuk sekadar minta maaf. Padahal, jauh di lubuk hati ini, saya mengharapkan dia dengan sikap ksatrianya mengetuk ruang kerja saya, mengucap maaf. Saya merindukan suaranya. Karena saya sudah menganggapnya sebagai anak sendiri kali ya. Jadi langit hari saya serasa muram saat kami harus pecah ukhuwah begini. Saya jadi paling ‘sesak’ kalau ada jadwal mengajar di kelasnya. Saya jadi paling takut saat didekati anak-anak ikhwan lain di kelasnya atau dari kelas lain. Saya jadi sangat sentimentil hingga ujug-ujug suka menangis saat mengajar di kelas lain atau setelah mengajar di kelasnya. Saya gak pernah tidak bertegur sapa hingga lebih dari 3 hari lamanya. Dunia serasa neraka buat saya, buat Fanta. Buat kami semua. Keceriaan tak lagi ada saat kami belajar Bahasa Indonesia di kelasnya. Semua serasa murung karena membaca sorot pertikaian dan kekecewaan kami berdua. Di suatu waktu—hari kedua pertengkaran bisu—Fanta sengaja tidur di meja belajar dan sangat individualis tak mau bergabung dalam kelompok drama. Saya? Dengan semprotan kalimat dingin yang paling pedas, saya sindir kelasnya tanpa sekalipun melihat wajahnya. I DONT CARE, BOY! I IGNORE YOU MORE AND MORE… Setelah saya mengajar, saya akan meringkuk di pelukan Miss Teti. Menumpah semua kesah, semua lelah hati. Menangisi nasib diri dipertemukan dengan murid seperti Fanta.

“Berarti dia tahu Bu, kalau kamu marah. Apalagi dia gak berani memandangmu. Dia tahu kalau dia itu buat salah banget. Tapi lucu juga ya Bu, anak satu itu…”

“Lucu apa-an. Nyebelin banget gitu…” delik saya. Protes dong anak kurang ajar gitu dibilang lucu. (Saya istighfar sekarang Ya Allah, Fanta itu tidak kurang ajar… Mohon tumbuhkan rasa sayang di hati saya buat anak satu ini, wahai Rab penggenggam hati… Jadikan ia penyejuk hati dan peneduh pandangan kami, guru dan orang tuanya…)

“Tahu gak sih, Bu? Dia itu kalau di mentoring, kita lagi bahas apa, ujug-ujug ingat nama kamu. Terus ngomongin kamu. Lamun ceuk Sunda mah, diogo ongkoh dilebok ongkoh…

“Hah?”

“Fanta tuh ngejek kamu iya, sayang banget sama kamu iya…”

Deg. Atiku njenggirat. Matek aku. (bagian ini sulit dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia, terlalu sempit untuk membahasakan apa yang waktu itu saya rasa).

Tepat di hari mati, deadline gak teguran dalam Islam maksudnya. Saya akhirnya, gatel buat ngomong sama Fanta. Di pelajaran Matematika, saya minta Nine-Nine untuk memanggil Fanta.

Lama beneeer. Saya sudah dag-dig-dug membayangkan perseteruan ego masing-masing kami. Fanta gak muncul-muncul di kantor saya. Oke fixed. Saya keburu dipanggil ibu kepsek. Rapatlah. Apalagi? Kan saya wakasek kurikulum… hehe, ngacoo… Iya, rapat koordinasi tentang data-data UN.

Selepas rapat. Jam berdentang, tepat pukul 12 siang.

Para guru berkata, Fanta mencari-cari saya di meja kerja. Fanta sudah datang ke ruangan saya.

“Jeng, tadi si Fanta sempat takut dan pucat lho pas kamu panggil buat menghadap kamu. Tapi aku suruh dia, terus dia udah mau tuh ke ruanganmu. Nah lho, kamunya kok gak ada katanya, Jeng.” Innalillah. Saya pasrah deh waktu itu kalau gak bisa baikan kami. Saya pasrah banget…

Sampai gengsi saya saya cerabut. Usai ritual pendampingan Al-ma’tsurat dan evaluasi, saya minta maaf sama semua siswa dan sama seseorang yang sudah saya panggil, tapi sayanya ujug-ujug gak ada.

Setelahnya saya lupa. 100% lupa kalau saya masih berharap kami berdua bertemu untuk saling mengucap maaf. Eits, menyimak Fanta mengucap maaf, tepatnya.

“Hai… jadi enggak nih?” saya terkejut, sontak melihat Guess yang saya kenakan. Arloji menunjukkan pukul 17.20 WIB.

“Apa?” saya memastikan sapaannya buat saya dan saya menunjuk diri saya sendiri.

“Jadi enggak nih, katanya mau ngobrol?” sambutnya.

Saya takjub. Jadi dia sengaja menunggu saya hingga selesai mengajar bimsus cuma buat mewujudkan janji ngobrol yang tertunda tadi siang? Saya terenyuh. Allah Sang Mahabaik, sayangi anak didikku yang satu ini juga yang lainnya.

Pada saat itu kami ngobrol bertelekan meja bundar. Saya menantinya mengucap maaf. Pada permintaan maaf ketujuh, barulah keluar kesungguhan dan ketulusan hatinya yang membuat salah, melukai hati saya, dan berjanji tak mengulangi lagi dengan menjadi pribadi yang lebih baik mulai hari ini.

Saya tahu. Dia akan mengelak. Paling gak suka kan kamu buat bikin janji, Fanta… Tapi kamu harus buat kebaikan kamu juga kok nantinya. Riak-riak hati saya gembira. Ada pernyataan lucu di tengah-tengah pernyataan maafnya yang kelima.

“Ini nih yang gua gak mau Nine, kalau pacaran. Ribeet kalau udah bikin cewek marah…” seloronya tiba-tiba memalingkan topik pembicaraan pada Nine-nine yang senyum terpesona.

“Cewek? Hello, kita gak pacaran ya, Fanta. Nope. Guru-murid…” tudingku ke arahnya.  “Enough.” Kami tertawa bersamaan.

Selanjutnya, dia mesem jahil. Lengkung lesung pipinya mendekik. Tatap matanya ujug-ujugnya terpasung mendalam.

Aneh nih bocah. Picing mata saya. Dan itu selalu jadi senjata paling mutakhir. Dia gak akan tahan melihat sorot mata saya yang menyabit bak sembilu begitu. Nggiris banget kali ya…

“Boleh Bu Eva tanya?” pancingku kemudian.

“Boleh aja…” tanggapnya ramah. Tumben, bantinku. Biasanya bakalan jawab sekenanya. Enggak. Yee. Kepo. Sok tahu…

“Kenapa ujug-ujug Fanta pegang kepala Bu Eva? Alasannya apa?”

“Gak tahu. Kepengen ujug-ujug pegang aja. Setan kali…”

“Hah, kepengen aja…” busyet benar dah nih bocah. Segala setan dia bawa-bawa buat jadi objek pelaku sekaligus penderita.

“Iya. Tiba-tiba aja… Udah gitu.”

“Ckckck. Gak ngerti Bu Eva sama kamu, Fanta. Gak bisalah kamu gak adil gitu dengan nyalahin setan…”

“Ya gak tahu. Refleks, mungkin.”

Perbincangan masih berlanjut hingga tanpa terasa langit senja mulai temaram. Magrib menjelang. Saya meminta Fanta dan Nine-nine pulang.

“Gak. Situ dululah yang masuk kantor duluan. Baru saya pulang. Ladies first…” bantahnya kokoh.

“Fanta. Ingat ya, kita ini baru baikan. Gak perlu naikin adrenalin lagi. Bu Eva lagi shaum.”

“Ya udah makanya, masuk duluan. Kalau udah masuk, saya bakal pulang.”

“Ooh, Boys. How dare you!” Only heaven knows. Betapa kamu sangat menyebalkan… batin saya tak kalah menghardik Fanta.

“Udah Bu, sabar aja. Masuk duluan…” pinta Nine-nine pada saya.

“Bu Eva baru akan masuk kalau kalian sudah pergi dan azan datang, Nine-nine. Ngeyel bener sih…”

“Lah, ibu juga ngeyel diminta masuk gak mau.” tukas Fanta. Dia asyik duduk bertelekan tangan menanti saya masuk ke dalam kantor. How bossy you are, Man…

Saya jengah dipandangi begitu.

“OK. I come in. You go out, Fanta Magenta. Now…” ancam saya serasa menggebah mereka untuk pergi. Fyuuh.

“Nah, gitu aja repot amat.” Gaya tengil Fanta kumat.

“Kamu yang repot, Fanta. Assalamu’alaikum…”

Saya melambaikan tangan pada mereka saat mereka menuju pelataran kantor.

“Hati-hati, Nak.” Pesan saya dalam hati. Atuhlah, takut GR kalau dijaharkan. Fanta kan GR-an kalau sama saya.

Dan tahu enggak sih? Sewaktu hari terakhir piknik, Si Fanta asyik banget. Selepas Subuh, kira-kira pukul 05.40 si Fanta Magenta teriak-teriak di bus. Saya sedang asyik bercerita sembari menikmati gorengan Jawa ala penjaja bus keliling.

“Cewek kerudung orange mau nitip dibelikan sarapan enggak nih?” teriak si Fanta.

Saya sedang asyik bercerita sembari menikmati gorengan Jawa ala penjaja bus keliling. Bersama Bu Ayu.

“Tuh si Fanta ribut amat dah manggil cewek kerudung orange.” sergah Bu Ayu agak berbisik ke arah saya.

Aku senyum. Masih asyik menikmati kudapan pagi dengan sebotol You C1000 rasa orange.

“Hei, cewek kerudung orange yang duduk paling depan…” Bu Ayu lantas menyikut saya. Menyadarkan bahwa panggilan kedua si Fanta dari tadi itu ditujukan untuk saya.

“Kamu dipanggil tuh, Jeng…” godanya.

Lensa pandang saya langsung bersirobok dengan si Fanta.

“Mau nitip sarapan enggak? Nasi kuning gitu?” tawarnya cool, sedikit bossy, dan keramahan yang asing buat saya. Saya bingung gimana menjabarkannya karena ‘sesuatu’ tuh anak pagi itu.

“Hmm, ini lagi makan gorengan.” papar saya polos, sembari mengunyah dan menunjukkan bakwan goreng yang tengah saya nikmati.

“Ya titip eskrim, mungkin?” tawarnya lagi. Ralat. Paksanya kemudian.

“Hmm. Eskrim?” saya berpikir sejenak. “Boleh deh!”

“Terserah apa aja ya rasa eskrimnya…” tegasnya langsung turun bus.

Ya aku sih terserahlah. Orang dia yang mau membelikan. Yang penting aku gak minta-minta, Ya Allah. Bismillah

So sweet romantic amat tuh anak, tumben.” Heran saya.

“Ini tuh kepagian tahu, Nong. Kamu yakin mau makan eskrim pagi-pagi begini?” tantang Bu Ayu.

“Kamu mau kan Jeng, bantuin makan eksrimnya. Kayak kemarin…”

“Enggak ah…” tolak Bu Ayu. Waah, habislah aku.

Eeh tunggu deh ya. Kayak kemarin? Demi Allah, apa karena saya cerita soal traktiran eskrim dari teman ikhwannya yang uangnya tinggal selembar ratusan ribu gegara traktir para akhwat eskrim? Terus dia cemburu dan pagi-pagi begini ngotot membelikan saya sesuatu… Tapi dia ngotot untuk membelikan saya sesuatu itu gak cuma sekali ini, setiap hari sekolah dia mah suka maksa supaya saya mau ditraktir, tapi gak pernah berhasil. Tapi sewaktu pagi-pagi dia tahu kalau saya malamnya dipesankan kebab Turkey khas Blok A Perumnas BTJ, sorenya dia langsung mewanti-wanti saya kalau mau pesan kebab paling enak seberapa banyak pun bisa dia belikan. Gak usah minta tolong sama si Sujud 26 detik. Atuhlah Bro, saya juga kan dipesankan oleh orang lain yang menitip pesan pada si Sujud 26 detik temanmu itu. Sejak saat itu, bahkan sewaktu anak-anak memergoki sandal saya rusak, mereka akan lapor pada si Fanta Magenta kalau sandal beib-nya rusak. Beib dari Hongkong?! Si Fanta dengan keyakinan kokoh bilang pada saya kalau dia yang akan membelikan saya sandal. Terserah sandal merek semahal apa aja, sepatu kaca, atau apa pun asalkan jangan sepatu high heels tinggi kayak punya Bu Sukma.

“Dahsyat nih bocah, dia kira aku seleranya sama dengan Mbak Sukma kali ya. Aku tuh sukanya kesederhanaan yang elegan kalee.” Menang saya dalam hati.

Saya ngakak. Bahkan saya tertawa sampai keluar air mata saat seorang Fanta Magenta misuh-misuh bilang begini,

“Kalau dinasihatin itu, dengerin Bu. Ibu bakal norak banget kalau sampai berani-beraninya pake high heels kayak Bu Sukma gitu…” haha, pakai modest penampilan seperti selera guru baru pengajar Bengkel Sastra musuh bebuyutan si Fanta itu.

“Hmm, gimana ya. Kalau Bu Eva tetap pakai dan pilih model sepatu kayak Bu Sukma terus gimana?”

“Gak pantas. gak cocok. Gak suka…” ujarnya memalingkan muka.

“Fanta… Fanta. Lucu banget ya kamu. Kamu kira kita ini suami istri apa, mudah banget kayaknya kamu buat melarang dan membolehkan Bu Eva ini itu…”

Pokoknya begitulah manis, asam, pahit, dan pedasnya kenal sama Fanta. Semoga selalu dieratkan hati kita sama Allah ya, Nak. Rabbana hablana min azwajina wa dzuriyatina qurrata a’yun waja’alna lilmuttaqiina imaama… Ya Allah, sang penggenggam hati… jadikanlah anak-anak kami, penyejuk hati dan peneduh pandangan bagi kami. Dan jadikanlah kami termasuk golongan hamba-Mu yang brtakwa dalam keimanan kepada-Mu semata.

#Menuliskan ini dan setiap kali melihat si Fanta, aku selalu terfokus pada Mas yang tengah sungguh-sungguh study S2 di Timur Tengah sana. Moga Allah menjagamu dalam keimanan terbaik untuk segera menjemputku, Mas. Beruntung dan bersyukur diri ini diingatkan terus akan setia menanti-Mu… Alhamdulillah, ‘ala kuli hal…#

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s