I Need Help

Penulis kawakan, Mbak Asma Nadia, bilang kalau menulis itu harus dijadikan rutinitas harian yang kalau enggak kita kerjakan berarti bakalan kerasa banget ada yang hilang. Nah lho!

Lah ini ndilalah lagi-lagi kehilangan ide mau menulis apa. Tentang telunjuk kiri yang teriris sewaktu menjabat sie.konsumsi PLT di Pantai Pisangan Cibuaya kemarin? Atau tangan yang terciprati minyak goreng panas sewaktu saking kemecernya makan empek-empek yang niat banget digoreng sendiri? Atau telapak tangan yang tertusuk jarum pentul sewaktu membenahi gasper baju dinas hijau?

Oolala… Come on! I need help…

pink-button-md
Ayolah, wahai ide cemerlang! Muncullah… Bim salabim, abrakadabra… Man jadda wa jadda. Otak kanan… Otak kanan bersinarlah. Bantulah aku ini untuk menulis.

Duaaar! Wahai mentok, hilanglah! Whuust! Sinarilah otakku dengan ide brilliant yang membuka cakrawala hidup. Yay…

Advertisements

Koleksi Daun Ahorn

images (11) images (12) images (13)

Senaang. Membolak-balik kontur daun-daun Ahorn dari Jerman ini. Bayangkan saja perjuanganku untuk mengambilnya. Demi jejak tanah tanaman Jerman ini, aku mesti melalui rute panjang antre naik kereta. Dari Karawang ke Bandung menuju Solo berkunjung ke titik nol Jogjakarta lalu putar arus lagi ke Bandung melalui Stasiun Lempuyangan. Akhirnya, bablas dengan travel Selamat Trans pukul 9 pagi karena ya ampuun gak tahu kenapa bisa ketinggalan travel, padahal mesti masuk kerja pagi-pagi. Sedih… -_-

Itu tuh pengalaman sesuatu banget. Tragis yang so sweet soalnya di pool travelnya ada lawakan jadi bisa menertawai ‘kesialan’ pagi itu. Hehe… Alhamdulillah.. Tetap ada hikmah.

Dan tentu saja takkan sia-sia. Selain dibawakan daun Ahorn, aku juga dibekali bibit paprika, lho. Asyiiik! Bakalan bercocok tanam deh nanti di pekarangan Momy pas pulang kampung. Akan kita lihat, apakah Jerman dan Lampung bisa bersatu? Tunggu tanggal mainnya yaa… 😛

PS: Semoga segera bisa berkunjung dan menginjak tanah Jerman betulan ya… Syukur-syukur bisa dampingi suami kesana… Aamiin

Mengamati

Bukan! Insya Allah, sorot mata yang tajam dan menelisik ini bukan karena membenci, bukan pula untuk mengorek-korek kesalahan ataupun kekurangan.

Aku hanya sedang mengaktifkan radar pengamatan. Mengamati dari dekat sebagai atasan. Karena sebelum 3 bulan, ini masih tahap percobaan. Ya, bisa dibilang masa-masa penilaian. Karena ini adalah tugasku dan ya aku dituntut untuk lebih banyak mengamati. Lebih kepada tuntutan dari diri sendiri sih sebenarnya.

Dan siapalah aku ini? Aku toh masih belajar. Sama-sama belajar meski rentang pengabdian kita berbeda. Terpaut rentang waktu lebih lama beberapa tahun ada di sini, bukan berarti aku ratu banyak tahu akan segalanya. Tak berarti membuat posisi kita lebih rendah atau lebih tinggi.

images (15)

Di mana?

Suatu pagi, aku mendapati bunyi SMS berdering di sela-sela rutinitas persiapan berangkat sekolah. Dari seorang sahabat lama. Maria!

Hampir setiap kali SMS, sahabatku ini pasti mengatakan telah bermimpi bertemu denganku? Aku? Biasa saja, tapi selalu senang mendapati hujan rindu dari nada-nada SMS-nya. Begitupun dengan pagi ini.

Katanya, ia merindukan malam-malam kami bangun tahajud bersama. Muhasabah berdua setiap malam Jumat. Belajar bareng di aula Astri Madaliyansa. Berjalan di tenggalan sawah saat langit senja berwarna orange cerah, sembari bernasyid ria.

Pertemanan kami terjalin makin erat kian hari, padahal yang lain sedang musim-musimnya gonta-ganti kawan bermain. Kami? Hanya butuh teman sejati yang menguatkan tekad belajar dan langkah panjang menjaga hati ini.

Huaah… Serasa baru kemarin ini teh, padahal terhitung 10 tahun kami mengukir jejak persahabatan ini.

Kadangkala, aku menangis membayangkan kemanisan ukhuwah di antara kami. Perasaan ruhani yang mengikat kuat dalam jiwa. Subhanallah, sahabatku ini nun jauh di seberang pulau sana, tapi selalu nempel di hati.

Dan apa coba kalimat di ujung SMS-nya?
“Semoga Ayesha mendapatkan sahabat sejati sepertimu, Va…”
Terenyuh aku membacanya. Duuh Rab, malu hati ini. Ada banyak khilaf di masa lalu, banyak kekurangan di masa kini. Betapa sahabatku masih begitu memuliakan aku… Love you, Sahabatku sayang…

Di mana kira-kira Ayesha salihatmu bisa mendapatkan sahabat sejati itu? Di mana pun! Allah pasti akan menjaganya, mengaruniai Ayesha sahabat sejati peneduh hati yang tak kalah manis dari ukhuwah kita.

Berpeluk doaku dari sini. Beriring rabithah pengikat jiwa. Kututup dengan lantunan “Senandung Ukhuwah”. Merinduimu selalu. Menyayangimu atas nama Allahu Rabbul ‘izzati.

doa1

Dekati

rrrr

Memang tak semudah yang dibayangkan. Saat hubungan yang semula terbina rekat, kini tampak memudar. Ibarat jaring laba-laba, satu saja simpul jejaringnya putus, maka ikatan itu takkan lagi sekokoh awalnya. Hanya ada dua pilihan, tetap bertahan pada hubungan yang terasa ‘rapuh’ atau beralih membangun jejaring hubungan baru yang tentu saja lebih kokoh dan kondusif. Pilihan seperti itu? Tenti saja ada di tangan teman-teman.

Menjauh? Jangan atuuh. Dalam sebuah nasihat ulama besar Islam dikatakan bahwa suatu waktu bisa   jadi temanmu berbuat salah, di kali lain bisa saja ia melakukan hal yang benar.

Jadi? Kuncinya, tetap dekat dengan mendekatkan diri pada Allah. Tampaknya, hal begini bisa jadi lebih bijak, ya?

Ooh, satu hal yang mesti diperhatikan juga adalah tetap tersenyum. Senyum saat semua kelelahan menjelma di hati kita, ini bisa jadi jembatan ukhuwah yang baik, kan… Karena Allah selalu ada bersama seorang mukmin yang mencintai saudara seimannya atas nama Allah.

Itu!