Di Balik Sebuah Nama: Cantik

Tanah Jurai, 25 Juli 2014

Kejadian ini tepat pada saat pukul 11.30-an. Disaksikan menterengnya panas matahari yang weuh banget cukup bikin sakit kepala. Pun banyaknya pemudik dari bus daerah tanah Jawa yang turun di Pelabuhan Merak. Aku dan mereka, sama-sama hendak menyeberang ke ranah Sumatera.

Sumpah, tanganku sudah sakit banget, sudah tak kuat rasanya menjinjing tas segede kardus dispenser itu berganti-ganti, dari tangan kanan hingga tangan kiri. Ujung-jungnya, pas tiba di loket tiket kapal, aku riang banget. Ya, seneng bangetlah melihat barisan lantai berwarna hijau botol itu berkilau-kilau licinnya. Edewh, namanya juga terbuat dari bahan keramik… Ya, otomatis ini bakalan meringankan beban. Gimana enggak? Saya bisa mendorong-dorong tas berisi oleh-oleh mudik lebaran itu dengan santai, pakai kaki lagi… hehe 😛

Happy antrean pun terjadi. Serius banget orang-orang yang berbaris ini. Petugasnya juga kayaknya tegas banget. Panjang badai, sangat panjaaaaaang. Saya menunggu jatah dapat beli tiketnya lumayan lama. Berdiri pula. Uduuh. Sebutannya juga mudik lebaran. Gak lucu kan kalau malah antreannya sepi. “_^

Begitu tiba di kaca loket B, saat transaksi berlangsung.
“Berapa orang?” tanya Bapak-bapak yang bertugas di loket.
“Satu.” Sahut saya sambil mengacungkan telunjuk.
“Atas nama?” sambutnya lagi sembari bersiaga mengetik.
“Eva…”
“Kenapa ya setiap perempuan yang memiliki nama Eva itu wajahnya cantik sekali…” ujar Bapak itu tersenyum ramah padaku saat aku mengulurkan uang lembar dua puluh ribuan. Pujiannya cukup mengejutkanku.
Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya.
Demi melihatku tidak berkomentar, Bapak-bapak satunyalah yang menyahut. “Alhamdulillah ya, Mbak…”
Aku? Hanya konsisten tersenyum simpul. Mengendikkan bahu. Lalu menganggukkan kepala sembari mengucapkan terima kasih saat sudah menerima tiket dan uang kembalian. Selanjutnya, segera berlalu menuju pintu masuk ke Dermaga 1, tempat kapal tujuanku.

Sebenarnya, kejadian ini tuh nothing special at all. Malah sempat membuatku berpikir. Aduh. Sempat-sempatnya nih petugas, perasaan tadi pas banyak orang di depanku, gak pakai diajak bercanda-bercanda begitu.

Begitu di kapal, memilih kursi di Kelas Bisnis—pilihan ini hanya saya lakukan jika kapal roro yang saya tumpangi ini penuh sesak sangat oleh penumpang—saya becermin. Ya ampun, pantesan Bapak tadi bilang begitu. Saya agak terkejut. Rupanya, saya mendapati wajah yang terpantul di cermin dengan paduan kombinasi dwi-warna jilbab hijau-kuning itu benar-benar berbeda sekarang. Memang sangat manis sih… Hahaha. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s