Chu-Anki

Selasa, 22 Juli 2014

Hai.
Kapan terakhir kamu makan bakso ini?
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Aku dua bulan yang lalu. Saat saling traktir dengan Miss TF. Itu pun jadinya aku yang ditraktir beliau. Karena ya, biasalah. Kalau sebelumnya salah satu di antara kita sudah mentraktir, maka akan selalu terjadi perebutan giliran traktiran. Heran? Ya, kami memang orang-orang unik. Kalau kebanyakan orang suka ditraktir, kami justru kebalikannya. Berlomba-lomba untuk bisa mentraktir. Kan, saling memberi hadiah itu semakin mengikatkan hati dan membawa banyak berkah. 😀

Chu-Anki. Ya, kali ini saya akhirnya bisa menikmatinya lagi. Bakso kuah chuanki merek Chu-Anki, si Mang yang cucunya bernama Anki–haha, ngarang bebas sayaah. 😛

Ooh iya, saya ceritakan sekilas pertama saya menikmati chuanki ini–sewaktu awal mula menetap di Karawang. Bersama seseorang yang begitu rigid—alias kaku yang akhirnya jadi banyak berubah alias berkembang sedemikian ‘wah’ semenjak dekat dengan saya. Kata orang-orang sih begitu…

Ceritanya, saya punya hutang amanah. Diberikan PR oleh ibu kepsek terdahulu, ditantang dengan titipan meng-upgrade kepribadian seseorang. Guru BARU. Untuk saya yang saat itu baru 2 bulan juga mengabdi di sekolah tempat saya mengajar sekarang, waktu itu saya sangat tidak siap. Secara gitu, pribadi gue sama dia beda banget… 😦 Saya begitu penuh energi, hidup, dan ceria. Dia… sangat kaku, dingin, dan flat pake banget. Saya paling gak tahan kalau kita sudah mengajak mengajak bercanda, seisi kantor sudah tertawa geli, sementara satu orang ini ekspresinya mati. Gereget banget kan. Ya ampuun, mimpi apa coba saya dikasih PR macam begini?

Tapi namanya juga saya. Saya gak mau menyerah gitu aja dong! Saya membuat 5 target. Saya bocorkan ya betapa aneh dan unik metode waktu itu.

Satu, membuatnya tersenyum. Saya gak tahu sejak kapan saya mengajaknya tersenyum. Dia tidak pernah melihat saya saat diajak berjabat tangan. Akhirnya, dengan tegas saya bilang begi, “Hmm, hei… kalau diajak salaman itu mbok ya tatap mata orangnya. Terus senyum. Senyum yang manis… oke?” Nah, sejak saat itu dia lebih sering tersenyum duluan pada saya. Selalu disiplin, seperti gelarnya. Bahkan dalam hal menghadirkan senyumnya.

Dua, membuatnya lebih romantis. Saya suka banget bermain gombal-gombalan dengan ibu-ibu di kantor. Alasannya? Simpel. Saya gak terlalu suka digombali lawan jenis. Risih. Aneh juga kenapa saya kepikiran buat menggombali pegawai TU yang baru ini. Berhari-hari saya mengajaknya ikut serta tertawa dalam gombalan riang kami. Nyatanya? Nonsense. Nihil.
“Ibu, punya peta enggak?” tanya saya dengan tatapan jahil kepadanya. Guru-guru lain sudah tahu nih kalau saya begini berarti kepala saya ruwet banget karena banyak tugas. Jadi butuh rehat sejenak. Mereka sudah siap-siap tertawa geli saat tiba-tiba….
“Peta apa dulu nih?” suasana jadi berubah gregetan. -_-
“Hmm. Peta, buat petunjuk arah dan tempat. Jawab aja iya deh?” kami memancingnya untuk mengangguk.
“Peta mana dulu? Peta geografi saya punya.”
“Oke. Berarti jawab iya. Jawab iya aja…” tanggap saya terarah.
“Maksudnya apa nih?”
“Boleh pinjam enggak?”
“Buat kapan?”
“Buat apa gitu harusnya?”
“Buat kapan dulu…” uduuh.
“Gini aja deh. Aku pinjam buat sekarang. Soalnya aku tersesat di hati kamu… “
“Ooh. Kirain beneran…”
“Haaaah? Gitu doang?!” tampik guru-guru lain.
“Aah, gak seru ah. Udah Nona, udah kelewat momen romantisnya. Dianya gek gak klepek-klepek atau ketawa…”
Saya nginyem.
“Ya ampun, jadi Bu Eva ngajak saya bercanda tho. Bilang dong Bu…”
Haaah… cape’ deh. 

Oke. Saya gak boleh ngalah dong. Masuk pada ajian berikutnya. Tiga, membuatnya romantis dan lebih peka. Banyak komplain nih dari orang tua. Ya segala kurang ramah, terlalu cuek, dan apalah yang berkaitan dengan miss communication. Sampai ada julukan Misskom. Kasian banget kan… Padahal, saya juga belum peka dan gak romantis-romantis amat. Hanya saja, saya gak bisa tinggal diam nih. Aji mumpung banget, doa saya didengar Allah. Ada pasar malam. Kami janjian ketemu di Aljihad. Gak tahunya dia niat banget buat menjemput saya. Jeh, padahal saya bisa berangkat sendiri, kok. “_^

Sampai di Aljihad, sebetulnya saya yang berniat belanja lho dari rumah. Saya butuh sepatu, butuh tas, dan mungkin perlu membeli beberapa pernak-pernik baru yang lucu-lucu. Semacam asesoris gelang warna-warni begitulah. Bujug! Gak tahunya, saya yang malah menjadi pemandu belanja. Saya memilihkan tas yang anggun buatnya, memilihkannya bros, dan beride usil memasangkan cincin dari uang logam untuknya.
“Beli aja yang ini…” kata saya. “Siapa tahu setelah ini ada pangeran berkoko putih yang melamarmu terus ngajak nikah…”

Saya? Enggaklah. Saya gak beli kayak begituan. Saya gak bisa pakai cincin kalau bukan emas/perak murni. Alergi. Lagian saya pengennya dijemput pangeran tinggi nan tampan penghafal Qur’an yang bermobil putih, hihi… #ngarep.com

Besoknya, barang-barang belanja itu dipakai. Dan dengan bangga, dia bilang barang-barang belanjaan itu adalah pilihan saya. Ya ampun… saya jadi khawatir ini kalau dia jadi sayang banget sama saya. Nanti kalau saya menikah duluan, bakal repot kasihan kan dia gak bisa move on temenan dari saya… #Gabrug! -_-

Sekitar sebulanan, S-R itu saya jalankan. Eeh, sudah tahu kan prinsip S-R dari Sigmund Freud? Itu lho, jika kita memberikan Stimulus (rangsangan) yang tepat, insya Allah Respon yang muncul juga akan sama tepatnya bahkan lebih. Itu pun yang terjadi padanya. Sejak malam usai sesi belanja yang saya ikat dengan mentraktir bakso Chuanki itu, dia jadi sangat peka dan lebih romantis. Gimana gak romantis, orang kita makannya di bawah temaram lampu, pedas-pedasan, tertawa, dan selfie bareng. Dan saya yang mentraktir dong. Oya, beberapa kali dia salah sebut nama Chuanki jadi Thanki… Hoho, sahabat baru saya ini.

Uduh, beda ya sekarang mah yang udah sahabatan… 😛 Dulunya anti berdekatan, sekarang jadi sukar dilepaskan. Nohok banget kan ya QS.Albaqarah: 216 itu. Gak akan dituliskan di sinilah ayat dan terjemahnya. Biar apa? Biar pada rebutan gemar baca Qur’an. Apdet status FB, buka burung biru, dan BBM-an aja pada bisa, masa apdet terus sama surat cintanya Allah gak mau sih? Pasti maulah ya… ya… ya… 😀

So, masuk pada jurus selanjutnya. Empat, menginap di rumahnya. Kata sahabat Ali k.a juga kalau mau paham bagaimana sebenarnya seseorang itu lakukan tiga hal: pinjam uang padanya, lakukan perjalanan bersamanya, dan menginap/tidur bersamanya. Melakukan perjalanan mah sudah gak bisa dihitung kali ya. Lha wong, kami seatap tempat kerja.

Ya ampuuun. Subhanallah. Kosannya bersih banget. Ukurannya sempit, pakai banget. Panasnya juga pakai banget. Dan hawanya Nasrani banget. Hehe. Kebetulan ibu kosnya memang seorang Nasrani yang baik banget. Dan hawa ini selalu saya rasakan, ya dua keluarga di depan rumah saya juga Nasrani dan saya sering main ke tempat mereka. Sama kayak pas masuk gereja—hehe, dulu pernah diajak teman masuk gereja dan hawanya ya begitulah sulit dijelaskan kata-kata… Oya, satu hal. Sahabat saya ini, disiplin abis. Sampai ke jadwal tidur, bangun, makan, pun ibadahnya. Perfecto banget. Kalau saya? Hmm, da’ saya mah apa atuh… Jauh banget dibanding dia mah… 😛 Cuma ada satu yang sama: kami sama-sama suka lagu berbahasa Inggris. Dia menyukai lagu-lagu Barat sebelum liqa lalu ditinggalkannya semua itu, sementara saya menyukai lagu-lagu Barat justru setelah saya liqa. Saya pengen banget mahir berbahasa Inggris, ceritanya. Beda kan baik-baik ya… 😀

Ciee.. Makin paham nih. Makin kudu sabar beranjak ke jurus terakhir. Lima, pinjam uang terhadapnya atau sebaliknya. Jujur, saya paling gak mau melakukan jurus ini. Mendingan meminjami orang lain uang deh ya, daripada kita yang berutang uang pada orang. Punya utang itu, siang serasa dikejar-kejar pas melihat wajahnya, malamnya tidur hati berasa tak tenang karena belum bisa bayar. Akhirnya, saya ganti judulnya. Bukan soal pinjam-meminjam uang. Tapi soal, tukar-menukar kado. Eeh, jauh amat! Saya mengajaknya berbelanja di Robinson. Membelikannya bunga berwarna orange yang dipadu kuning muda keemasan. Bersama-sama dengannya mengantre pembayaran di kassa. Dan ternyata uang saya kurang. Ujung-ujungnya, jadi juga saya yang pinjam uang padanya. Tanpa disengaja lho, kan tadi rencananya sudah diubah. Uang baru dikembalikan sekitar 7 hari berikutnya, karena nyebelinnya ATM BJB saya selalu decline pas mau narik uang di gerainya. Tapi ketidaklancaran ini turut menyempurnakan penerapan pesan Khalifah Ali k.a yang tiga itu.

Pegawai TU yang baru ini care banget kok sebenarnya, di balik sikap dingin dan cueknya. Dia lho yang bolak-balik mengantar saya ke kantor pusat BJB, ke gerai ATM BII-Mandiri-BJB juga.

Dan sepertinya, lima jurus saja sudah cukup. Apalagi pas saya tahu ternyata, wisudanya cumlaude dan saya adalah orang pertama yang di-tag kiriman fotonya. Lulusan terbaik. Betapa gak pantas banget saya mengajarinya ini itu. Siapalah saya ini…

Oya, pas kami makan chuanki itu—dengan cincin barunya yang asih terpasang di jari manis—saya bilang, “Nanti yang nikah duluan pasti dirimu deh… Kan, udah aku pilihkan cincin yang manis. Setelah ini dirimu pasti bertambah romantis…”

Saya masih ingat, usai makan chuanki itu kami berpamitan. Dia memeluk saya erat sekali. Dan terbukti. Dia akhirnya, sudah menikah duluan.

Ohook. Mau tahu enggak, kenapa saya mejengin 2 mangkuk chuanki? Akan ada masanya saya menikmati chuanki ini bersama pujaan hati sejati saya… Mr.Right, alias my own soulmate. #Kreatif yang dipaksaain ya…

W.O.W. Padahal, idenya cuma satu kata doang: Chu-Anki. Gak nyangka jadi sepanjang sungai Ciliwung gini…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s