Berubah Tak Mau Diubah

Dan akhirnya, tibalah kita pada sebuah titik jenuh. Mulai merasa lelah dengan keadaan hidup kita yang begitu dirasa-rasa kok begini-begini saja. Pada saat titik jenuh itu ada, apakah yang ada di pikiran kita?

Pernahkah kita berpikir bahwa seringkali kita ingin menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih berarti untuk sesama? Berubah menuju ke arah yang lebih baik bagi semesta ini, tapi tak suka jika diubah? Iya. Tentu saja. Memangnya siapa yang mau diubah oleh orang lain! Kesan yang tertancap dari kata ‘diubah’ itu cenderung bahwa sepertinya kita begitu gampangnya dikendalikan orang lain. Dibentuk sesuai kemauan dan keinginan orang yang bukan kita sendiri tentu sangat mengganggu. Apalagi, sesungguhnya tak ada orang yang 100% persen benar-benar memahami siapa kita, bukan? Kebanyakan dari orang-orang sekitar kita hanya menerka-nerka, sekadar kepo atau ingin tahu, atau bahkan karena benar-benar berusaha ingin memahami kita itu seperti apa. Padahal, diubah itu bisa saja kesan menjengkelkannya hanya lahir dalam otak kita sendiri. Sementara, mereka yang kita sangka seperti menjadi pengubah kita, tenang-tenang saja. Santai. Ya, karena sebetulnya saya yakin, bukan pemaksaan ‘mengubah’ itu yang berusaha mereka lakukan. Justru yang sejatinya mereka lakukan hanyalah berusaha menanamkan pengaruh sehingga seolag-olah kita diubah.

Menanamkan pengaruh? Apa itu? Ada-ada saja! Hei, serius loh. Kalau setelah proses menanamkan pengaruh itu kita berubah, dijamin ada rasa lega yang membahana dalam jiwa-jiwa mereka. Jika kita belum berubah? Oke, pertanyaan bagus! 😀 Dan tolong dengarkan jawaban ini juga ya. Bahwa kalau kita belum berubah setelah ditanamkan pengaruh positif itu, berarti ada masalah tuh dalam labirin otak dan nurani kita. Masa? Iya. Yakin. Berarti ada masalah! Lah, katanya mau menjadi lebih baik. Sudah memang gak mau diubah sama orang lain, masa berubah ke arah lebih baik juga enggak mau. Parah-parah amat. Nah lho, jawaban yang bagus kan… 😛

Terus gimana caranya? Simpel aja. Berubah dari dalam diri kita. Dengan kemauan dan keinginan positif diri kita untuk menjadi lebih baik. Bangun dengan tekad yang kuat dalam dada sini.

Sudah? Saya baru bisa melanjutkan kalau betul-betul pembaca sudah memiliki tekad yang kuat buat berubah, loh! Alasannya? Begini deh, bakalan omong kosong banget kan apa-apa yang saya tulis, kalau cuma memiliki tekad yang kuat aja gak bisa! Jangan cemenlah… Buat galau-galauan aja bisa, masa buat berubah menuju masa depan dan hidup yang lebih baik gak bisa dan gak mau sih… Oke. Fix.

Thanks. Kita lanjutkan gencatan senjatanya ya–mumpung, sekalian mengismei semangat dukung saudara-saudara di Gaza sana… “_^ Sini-sini, duduk mendekat dengan saya. Kita belajar bareng-bareng menerapkan rumus 3M. Hah, rumus 3M? Iya, masih ingat kan… Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil, dan Mulai saat ini.

Itu? Itu kan punyanya Aa Gym. Huussst, sudah malam. Jangan keras-keras menyebut guru ngaji kita. Yang penting, selama itu baik, benar, plus bermanfaat ya kita lakukan saja. Tak ada salahnya, toh…

Okelah kalau begitu. Terima kasih ya, sudah nyumbang ide… Kamu itu DERMAWAN, ya..

Eeeh, ralat. Bukan. Kan, saya perempuan…”_^

Ooh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s