Catatan Hati Seorang Pemilih

Pagi-pagi ini, sekitar pukul 9, saya menyengaja hadir ke TPS Pemilu terdekat. Jika pada pemilu sebelumnya, saya sempat lara hati karena tak bisa mencoblos, kali ini saya mencobanya lebih keras lagi. Ada banyak jembatan komunikasi yang saya bangun. Mulai dari WA, Twitter, Facebook, BBM, dan lain-lain yang bisa menambah pengetahuan saya tentang bagaimana bisa mencoblos hari ini, 9 Juli 2014. Dan saya akhirnya mendapatkan juga formulir A5 setelah lari kesana lari kesini.

Formulir A5… Apalah arti sebuah kertas berukuran A5 ini? Akan saya katakan bahwa ya ampun ini formulir penting banget buat saya dan mungkin juga buat semua pemilih nomaden yang tinggal di tempat barunya sekarang. Bayangkan saja, di TPS tertentu, hanya cukup membawa KTP saja—itu pun fotokopinya doang—sudah bisa lho menggunakan hak pilihnya untuk nomor 1 atau 2. Makanya tadi sebelum mendapat A5, saya coba dulu tanpa membawa itu. Setelah lari sana-sini ditolak, ya saya mencoba lari lagi ke Al-Jihad, Islamic Center lantai II tepatnya. Di sana, antrean panjang banyak orang yang berbondong untuk mendapatkan surat keterangan A5 ini. Wow! Tuh kan, apa kata saya sebelumnya di paragraf dua ini. Ini formulir tuh pentingnya gak main-main… buat para pendatang.

Dan ya, paniklah! Namanya juga sudah pukul 10. Tapi saya tetap berusaha membantu petugas di Islamic Center melayani orang-orang yang kebingungan. Kenapa saya mesti melakukannya, toh terlihat seperti tidak ada untungnya buat saya. Oke, fix. Karena saya awalnya datang ke tempat ini penuh kebingungan, saya pontang-panting sendirian, memberanikan bertanya meski sungkan pada orang-orang di gedung yang nyaris tidak saya kenali ini… Antah berantah banget. Jadi saya tidak mau orang-orang yang datang mengalami kebingungan yang akut seperti saya tadi. Kasihan kan… Walhasil ada banget kok untungnya, saya didahulukan dalam soal pelayanan oleh Si Bapak Petugas—Bapak Ela Suharta. Semoga bapak yang baik banget ini dilimpahi kebaikan—beliau rela belum mencoblos lho karena melayani kami yang datang berduyun-duyun ini. Saya bisa bertegur sapa dan mengenal lebih banyak orang dalam waktu singkat, meskipun belum saya kenal satu pun sebelumnya. And I’ll get my privilage for general election soon…

Saya senang. Sangat. Orang-orang yang menyaksikan saya ditolak pada saat kedatangan pertama juga sempat sumringah ketika kemudian saya datang lagi. Saya juga menyapa dan mengangsurkan surat keterangan A5 dengan penuh percaya diri—percaya sama Allah bahwa apa yang saya lakukan untuk nomor 1 ini gak akan sia-sia.

But anyway… Allah said different things.
“Tunggu nanti aja ya Neng, jam satu nyoblosnya… Soalnya, kasihan yang punya kertas suara di tempat ini kalau Neng udah keburu kita kasih nyoblos duluan…”
Jleb! Rasanya tuh kunyit asam. Seorang ibu yang tinggal persis di depan kontarakan saya lantas menghibur saya demi melihat raut sedikit kecewa yang menjelma di wajah saya. Kata beliau, nanti siang saya pasti banyak temannya mencoblos di pukul 1 itu karena yang tinggal di daerah ini memang banyak pendatang dari luar.

Dengan hati yang masih didera rasa belum lega, saya pun memutuskan pulang. Otak dan nurani saya tiba-tiba saja bekerja hebat. Tanpa nyana merangkum dan menangkap sebuah makna ‘tunggu nanti jam 1” yang sempat dilontarkan petugas TPS. Suhanallah… Yang saya takjubkan adalah tempat TPS yang saya datangi itu TPS 25 dan saya diminta/baru dapat hak izin mencoblosnya nanti saja pukul 1 siang. Catat ya! Pukul 1, $odara! Untuk presiden ke-7 (dari TPS 2+5) saya dikodei pukul 1 nanti nyoblosnya… Pasti semua sudah Allah atur, kan. Pasti kebetulan ini bukan sekadar kebetulan biasa kan? ‪Ini kan kode‬ Allah banget coba. Ya, apalagi setelah Brazil-Jerman skor tandingnya 1-7… Masya Allah…

Syukurlah, perjuangan saya ini pasti akan Allah catat kan… Perjuangan menyuarakan hak pilih ini pasti bisa ditegakkan, kan… Semoga. Karena ini hak pilih!

Hak pilih? Lho, kenapa mesti sebegitu kukuhnya sih memperjuangkan ini. Ya, karena pemilihan satu hari ini mengusung risiko dekade pemerintahan presiden selama lima tahun. Jadi perwajahan baru Indonesia tercinta ini akan kembali kita lukis dan kita gemakan mulai hari ini. Satu suara saja bisa mendorong pada pemilihan yang tepat atau kurang tepat, risiko pertanggungjawabannya besar. Eits, bukan berarti kita bebas untuk tidak memilih lho ya… Kita bangsa demokrasi, jika kita adalah warga negara yang baik gunakan aplikasi hak pilih kita pun mesti sebaik-baiknya. Nomor 1 dan nomor 2 gak ada yang terbaik buat jadi teladan masa depan bangsa ini tuh, Va? Oke, benar banget! Saya sepakat deh dengan kamu… Betul memang manusia terbaik sepanjang zaman mah ya cuma Rasulullah Muhammad saw., dan maka dari itu pilihlah pemimpin yang paling banyak mencontoh kebiasaan baik dari ajaran Rasulullah atau pilihlah yang paling sedikit membawa mudaratnya. Jalan terang lainnya juga, coba pilihlah siapa teman-teman perkumpulan yang lebih banyak nilai positifnya di belakang pemimpin itu. Karena seseorang teman itu merupakan cermin bagi seorang teman yang lain. Kalau saya sih, karena saya mencoba selalu setia dan ingin mendapatkan pasangan yang setia juga, pasti jelaslah kemana arah pembicaraan saya. Setia itu Satu. Garuda merah putih di dadaku…

Dan satu hal lagi deh ya, mencintai negeri ini sebagian dari iman lho. Begitu kan pepatah Arab berbicara. So, ngapain ragu lagi. Yang belum mencoblos, ayo gunakan hak pilihmu. Banyak hal positif kok yang bakal bisa kita dapat. Silaturahim, tebar senyum-salam-sapa-sopan-santun, dan terima ksih sudah ikut menyukseskan pemilu 2014 ini. Saya salut pada orang-orang yang berani menyuarakan hak pilihnya dan kedepannya tetap saling menguatkan plus mengingatkan pemimpin yang dipilihnya. Selamat menjadi warga dan bangsa Indonesia yang baik dan bermartabat. Allah sayang kita.

Oke. Fix. Sudah mau pukul 1 siang… Nomor 1-nya Garuda sudah tak sabar menanti coblosan saya… Terima ksih sudah membaca, Fans. Love you as always. “_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s