Perjalanan Hati

Ini obrolan singkat yang sarat makna di saat warna langit di atas sana menyemburat jingga. Yei, akhirnya saya mendapatkan warna ini juga. Jingga, the cover katrol of my character.

Saya: Ya ampun, segitunya banget deh, niat wawancara. Meuni gak mau diduain banget…

AM: Lho iyalah, memangnya Ibu mau kalau diduakan sama seseorang?

Saya: Gaklah! Gak mau. Dan gak akan.

MT: Kenapa coba, Bu?

Saya: Karena saya orangnya setia dan gak suka menduakan. Kan, perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik… 

AM: Betul… 100%. Jadi, insya Allah Ibu dapat laki-laki yang baik, setia, dan bisa dipercaya. 

SK: Masih pernah cemburuan atau suka cemburuan atau khawatir seseorang yang sangat spesial diambil orang?

Saya: Iya, pernah sih, dan sekarang sudah tidak lagi kok… 

EJ: Sudah tidak lagi, kok? Berarti sudah tidak cinta/suka lagi dong… Mulai berkurang dong…

SK: Hei, salah… Bukan begitu. Banyak cemburu dan khawatir si dia takut diambil orang itu terjadi karena gak ada sikap saling percaya.

Saya: Ooh, jadi begitu ya rupanya. Hehe, baru tahu. Thanks ya… Kalau saya berpikirnya baru bisa begini dari kemarin sih, karena saya percaya, lebih tepatnya belajar saling percaya. Jadi ya nanti sajalah cemburu dan khawatirnya kalau sudah benar-benar halal dan sah. Biar lebih berkah perasaannya. Kan, percaya 100%-nya karena Allah

MT: Ooo-oo, tampaknya saya perlu bilang W-O-W nih buat jawabannya.

Saya: Terima kasih.

EJ: Terus apa yang Bu SK lakukan agar dengan pasangan tumbuh kepercayaan itu? 

SK: Ya, saya sih gini aja Bu… Saling berlomba ajalah dalam menjadi lebih baik lagi untuk seterusnya..

Saya: Waaah, subhanallah ya… Oya, bisa tolong bantu saya maksud kalimat ini, LA.. Tidak ada yang pas dalam cinta, kalau gak kurang ya pasti berlebihan, apa maksudnya? Saya yang belum menikah, belum paham maksudnya…

LA: Iya… karena orang itu selalu merasa kurang kalau sudah mendapatkan cinta, ada juga yang menyikapi cinta secara berlebihan… Dapat sedikit cinta dan merasakannya berlebihan. Dan saya termasuk yang tipe kedua deh kayaknya…

Saya: Waduuh, Bu LA. Kita kan setipe karakternya… Berarti saya juga sama dong… Bener kata seseorang, saya selalu berlebihan. (Ujar saya sedih…)

LA: Tenang aja… Tampak dari luar memang seperti itu ‘berlebihan’, tapi dari dalam (nanti soulmatemu) pasti tahu dan bisa merasakan kok bahwa dari rasa kamu itu bersyukurnya yang dilebihkan. Bersyukur kamu dapat rasa itu dan bersyukur dipasangkan dengan pujaan hatimu itu. Sudah ada?

Saya: Kalau sudah ada, saya sudah menikah dong dari kemarin-kemarin. Gimana nih… menunggu dengan setia saya mah…

RY: Oh ya Teh, kenapa itu status semalam yang Insya Allah… saya tidak apa-apa. Terasanya sakit dan terpukul banget? Mau cerita, Teh? 

Saya: Tidak, terima kasih, Cantik. Insya Allah saya tidak apa-apa. Maaf ya kalau sudah membebani jadi ikut merasakan, lain kali akan update status yang lebih positif lagi. Itu rasanya menyesal banget bikin status itu… Tapi jadi banyak belajar ya.

RY: Kenapa tidak mengatakan langsung kalau sakit dan terpukul, Teh… Pada seseorang yang membuat sakit dan terpukul itu. Eeh, sok tahu ya… Kalau emang itu seseorang sih…

Saya: Buat apa? Jangan membuat khawatir orang yang kita sayang, kan… Dan jangan membuat khawatir orang-orang yang juga akan banyak membaca status ‘negatif’ kita. Itu akan menular, lha buktinya sudah disulap “saya tidak apa-apa” aja masih bisa terbaca. Itu jadi look so greedy dan terkesan miskin perhatian banget. Khadijah gak pernah melakukan itu pada Rasulullah. Khadijah selalu menentramkan hati Rasulullah. Dan saya ingin mengambil teladan dari sebaik-baik perempuan yang dicintai Rasulullah ini. Dari dulu cita-cita besar saya ingin semulia Ibunda Khadijah… 

RY:  Bener juga ya, Teh. Hehe. Walaupun kita jauh, hati kita selalu terpaut, Teteh,

Saya: Nuhun, Cantik.

 EJ: Oya, khawatir gak kalau sekarang dia lagi berhubungan sama orang lain? 

Saya: Orang lain itu siapa? Laki-laki atau perempuan?

EJ: Perempuan lain lah…

Saya: Insya Allah, khawatir mah ada… Tapi enggak perlu dibesar-besarkan. Kan, saya percayanya sama Allah. Saya punya Allah. Kalau memang dia jodoh terbaik saya, ya sama siapa pun dia sekarang, ujung-ujungnya juga pasti bakal kembali pada saya. Saya tidak sedang bersama laki-laki lain, jadi jodoh saya juga pasti tidak akan bersama perempuan lain. I trust him of Allah, kok. I’m commit of this proof. Dia pasti akan jadi laki-laki yang baik buat saya. Laki-laki terbaik hadiah dari Allah buat saya.

LA: Iya, betul. Kayak hadiah istimewa berupa suamiku yang kau berikan kepadaku. Terima kasih, Cinta…

Saya: Iya, sama-sama.

SK: Dia-nya ini siapa? Apa sudah ada di depan mata orangnya?

MT: Hmm, bukan itu yang patut jadi bahan pentingnya. Bukan hanya dengan siapanya kita menikah… Tapi bagaimana sikap kita dan sebaik apa persiapan kita untuk bisa mewujudkan pernikahan itu. Kesungguh-sungguhan kita dalam menjaga dan mendekatkan diri di hadapan Sang Pencipta. Itu yang utama.

Saya: Insya Allah, that’s great!

EJ: Terus sekarang apa yang sedang kamu lakukan?

Saya: Tobat aah… Gak mau kalau berlebihan suka dan sayang sama seseorang mah. Jadi, sekarang bertahan menjadi yang terbaik sesuai maunya Allah saja. Ikuti kode-kode Allah. Mengikhlaskan semua yang terjadi pada saya… recently…. Menahan diri untuk menghubungi seseorang yang spesial. Sangat menahan diri. Tetap membersamainya dengan doa dan kekuatan ibadah… Soalnya kata Mr.DMY, kalau jodoh mah geura suka ada banyak kejadian-kejadian unik yang berupa kebetulan terus mengikatkan dan membuat dekat da. Jadi yakin aja sama Allah. 

LA: Bagus. Kapan kembali dan bertemu lagi dengan pujaan hatinya?

Saya: Sebetulnya saya tidak pernah pergi dan meninggalkan, kok. Hanya hening saja dan bersyukur atas semua ini. Bersyukur sudah diingatkan kalau saya Soalnya, baru dapat ilmu nih bahwa orang orang yang selalu beryukur dan pandai berterima kasih adalah kekasih Allah, carilah mereka, dan jadikanlah kekasihmu. Jadi saya menikmati waktu-waktu menunggu di ruang tunggu dengan yakin, tenang, pasti saja pada Allah. Tapi mohon dicatat ya, saya tidak pernah diam untuk siap-siap dijadikan pujaan hati yang nanti Allah pilihkan buat saya. Do the best in everything of me saja. Da saya mah gak akan pernah nyerah…

EJ: Alhamdulillah, akhirnya…

LA: Oya, masih suka angka 9? 

Saya: Masih dan sangat kali dari dulu. Kamu? Kode ngajarmu kan 18 (=9) dan kamu pernah milih rumah nomor 18, suka enggak?

LA: Waah, itu sebenarnya suami sih. Suami kayak kamu, suka banget angka 9. Tapi gak tahu kenapa alasannya? Kamu kenapa suka?

Saya: Dari SD dulu sih sukanya…Gak tahu alasan pasti sukanya apa saya. Cuma tambah makin suka pas kuliah karena dikasih tahu di kedua telapak tangan kita ada angka 18 (=9) +81 (=9) =99. Perfect number aja. Asma Allah juga sih, jadi suka. Lovable.

TM: Dari tadi diam aja, jadi pengen nanya. Kenapa sampai sekarang belum menikah, Bu? Pernah dibantu proses dengan siapa saja?

Saya: Di sini pernah dibantu 2 kali, dengan dua orang yang berbeda. Di Bandung berkali-kali. Tapi yang serius ke orang tua cuma satu sama yang di Pinang itu aja, itu juga malah dicut sama beliaunya karena tidak dapat izin dari orangtuanya. Because I’m Javanese and from Sumatra. Tapi jadi lucu teh, sekarang sahabat saya itu sudah menikah dengan akhwat tetangga kampung saya di Lampung dan Javanese, sesuai cita-citanya sih.

LA: Hmm, da jodoh kita mah cuma 1 sih. Jadi kalau memang bukan jodoh kita ya gak akan Allah buat jadi.

TM: Iya ya, Bu. Dan kayaknya Bu Eva ini bukan tipe yang mudah jatuh cinta sama orang deh… Jadi bakalan sukanya hanya sama orang yang betul-betul dipercaya menjaga hatinya saja.

Saya: Betul. Itu kata Momy, Ibu saya. Dan udah minta sama Allah, dijatuhcintakan benar-benarnya sama orang spesial yang nanti jadi pendamping hidup saja. Jadi kalau sekarang udah suka duluan dan terasa berlebihan, Allah pasti menolong dengan mengingatkan saya lewat seseorang/banyak orang. Sebenarnya saya sangat sadar kalau ada yang berlebihan. Tapi kadang-kadang, memang diri kita butuh orang lain untuk mengingatkan dengan cara pedas. Saya bersyukur didekatkan dengan orang-orang yang tegas dan selalu meluruskan dengan kritikan terhadap sikap saya yang kadang-kadang suka tidak lurus… Alhamdulillah, Allah sayang banget sama saya. Jadi makin tenang hati ini…

TM: Bu Eva, cerita dong tentang sama yang di Pinang itu? 

Saya: Tidak akan pernah menyangka tiba-tiba dilamar romantis kayak gitu atau beliaunya sangat romantis dan penuh kejutan kayak gitu–atuh da saya kurang nyambung dan risih banget dulu mah. Gak berharap bagaimana-bagaimana sama dia. Soalnya dari awal semester dua kuliah… dia itu jutek, cuek, angkuh, dan pedas banget ke saya. Gak pernah menganggap saya ada, kerjaannya ribuuut terus. Saya juga suka mengkritik tulisannya jleb banget. Ari ke sahabat-sahabat saya mah deket dan akrabnya baik banget… Sampai saya merasa diperlakukan tidak adil. Terus dia kerja di Pinang 2 tahun. Dia bilang udah suka saya selama 8 tahun. Saya kaget. Lho, berarti sikap jutek, pedas, angkuh, dan cueknya waktu itu adalah caranya untuk menutupi perasaannya pada saya, dong… Dan udah aah. Saya bersyukur banget sekarang dia udah nikah plus dapat istri yang karakternya kayak saya. Paling tidak, istrinya akhwat baik-baik, jadi kita juga tenang dan bahagia melihat dia bahagia. Istrinya sudah mengandung lho.

TM: Terus kalau ada yang mendekati suka membandingkan enggak?

Saya: Insya Allah enggaklah… Masa lalu biar menjadi masa lalu. Da Allah mah Mahaadil atuh, kasih kita bukan cuma yang kita inginkan, melainkan yang pasti kita butuhkan… Yang pasti yakin selalu sama Allah. Trust and believe in Him.

Dan setelah semua itu, kami semua bubar… Saya? Masih fokus melanjutkan pembuatan jadwal. Pasti deh ada banyak hal yang mau Allah seimbangkan ketika saya diberikan amanah sebagai Wakasek Kurikulum di sekolah.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s