Karena Ini Gitar Saya

Karawang, 22 Mei 2014

Apa yang akan saya tulis ini adalah tentang bagaimana keikhlasan diri kami untuk menyatu dalam hati dan harapan, agar kami hidup bagi kebaikan dan kebahagiaan satu sama lain. Saling menguatkan… dalam sebuah harmoni, ketulusan, keta’atan, dan keimanan.

Dari sebuah gitar yang saya dapatkan dari My Bright Star, adik bungsu saya. Inilah kisah yang akan saya tuturkan. Percaya atau tidak monggo silakan, ini adalah gitar yang dibelikannya khusus untuk saya dari gaji pertama kerjanya di kota Jogja. Harmoni gitar dengan sentuhan warna hitam seutuhnya, selalu menjadi bagian dari sisi misterius adik saya yang sangat melankolis ini. Lovable banget ya, adik saya ini. Padahal, sewaktu kami masih sangat unyu-unyu dulu setiap ketemu di rumah pasti bag-big-bug, berantem melulu. Sampai Momy pusing dengan ulah kami bertiga. Itu sudah sejak lama sewaktu masa kanak-kanak. Kini, selain postur tubuhnya yang menjulang tinggi—menjadi ciri khas lelaki dalam keluarga besar kami—sikapnya juga lebih matang, mendewasa oleh pengalaman dari beberapa tanah rantauan. Kalianda, Liwa, Gontor Jawa Timur, Aceh Tenggara, sampai kini kuliah di Jogjakarta. Kepribadian memimpinnya, orasi khutbah Jumatnya, plus kemampuan menjadi korlap baksosnya semakin terasah. Sebagian besar sikapnya sangat terpengaruhi saya memang. Saya akan menjadi satu-satunya orang yang paling bawel (Momy belum sebawel saya kalau ngomelin ini bocah) untuk urusan uang, salat, dan kedisiplinan belajar. Kalau mendidik adik perempuan cenderung penuh kelembutan (lewat musik, curhat, PDKT, bagi-bagi hadiah), berbeda halnya mendidik adik lelaki saya, FH ini. Saya sangat tegas, penuh perhitungan, dan penuh taktik politik. Misalnya, untuk membangunkannya salat Subuh dengan mudah saja, saya harus jadi orang paling terakhir yang tidur di rumah kalau lagi kumpul. Pastikan semua orang sudah tidur lalu saya menyelinap masuk kamar adik lelaki saya: memegang tangannya, mengusap ubun-ubunnya, merapalkan afirmasi hipnosis supaya besok pagi nurut kalau saya bagunkan untuk salat Subuh, dan mengecupi kedua matanya yang terpejam. Sampai sekarang belum saya kasih tahu dia kalau ritual saya ‘unik’ banget ke dia. Ini anak lelaki kesayangan Momy saya, euy. Dan saya ingat betapa balitanya dulu sakit-sakitan. Itu cukup membuat Momy pontang-panting mengobati dia. Lagipula saya masih ingat takutnya rasa kehilangan dia sewaktu masa-masa sulit itu.

Kenapa coba saya sampai sebegitunya menjaga adik saya? Dia itu satu-satunya yang ‘ngamuk’ sewaktu proses pernikahan saya sama seseorang di seberang sana di-cut dulu. Sebentar-sebentar menelfon saya semasa di Gontor, untuk menguatkan dan memastikan saya itu harus baik-baik saja meskipun sudah ditinggalkan menikah. Gak nyangka banget, apalagi kelihatannya dia selalu cuek. Support dari keluarga benar-benar nomor satu deh ya, alhamdulillah. Dari situ saya sadar, dia itu ternyata memiliki kasih sayang yang besar untuk saya.

Kalau terlalu dikerasi dia ngamuk, sangat dilembuti dia bakal ngelunjak, dan kalau dimanjakan… dia akan kolokan. Halo, dia itu laki-laki dan orang Jawa. Suatu saat pasti akan mengambil dan menghidupi anak gadis orang. Jadi yang dibutuhkannya adalah sikap tangguh memimpin, mandiri, dan melindungi. Saya gak mau dia jadi lelaki yang bersembunyi di balik ketiak harta orang tua atau perlindungan kedua Mbak-nya.

Saya masih ingat, sewaktu diminta Momy menasihati adik saya ini karena Ibu saya khawatir dengan pacarnya. Biasalah orang tua, kadang suka kurang cocok (karena khawatiràsayang anak) dengan cinta monyet anaknya. Gak tahunya adik saya kan memang kharismatik orangnya, malah membuat percaya orang tua pacarnya bahkan sampai sekarang selalu diwanti-wanti untuk tetap jaga anak gadisnya yang juga kuliah di Jogja meskipun beda universitas. Itu ya ampun, marahnya adik saya sewaktu saya nasihati. Merasa tersinggung dia karena seolah-olah saya mengusik urusan pribadinya. Berapa lama ya saya didiamkan. Telfon di-reject, SMS gak dibalas, chatting boro-boro dibaca. Saya juga merasa bersalah, berarti waktu itu belum tepat mengingatkannya ya… Jadi makin paham, kalau untuk sesuatu yang baik itu juga perlu menciptakan waktu yang baik juga untuk mengomunikasikannya. Terus pas sudah saya ikhlaskan karena diperlakukan kurang adil sama adik saya begitu, eeh gak tahu dapat angin segar apa dia, semakin kesini justru semakin dekat dengan saya. Yang saya rasakan dari dulu, setiap siapa pun yang sudah berantem dengan saya, pasti ujung-ujungnya malah jadi semakin dekat dengan saya. Jadi nurut banget dengan saya. Aneh ya? Allah memang Mahaunik, Maha Mengikatkan hati-hati hamba-Nya yang penuh kasih sayang. Semoga selalu bisa mengalirkan kasih sayang, ya…

Naah, yang paling saya sukai adalah sewaktu tadi mau turun dari Bus 2. Saya diingatkan agar jangan lupa membawa turun gitar dari adik saya itu. Siapa yang mengingatkan? Siapa lagi kalau bukan Pujaan Hati saya, Malaikat Penghibur Hati. So sweet ya? Alhamdulillah, apalagi gitar saya sempat dibawakan. Padahal, saya sudah khawatir pasti bakalan malu banget itu sewaktu diledeki sama anak-anak dan beberapa guru dengan heboh. Beneran kan, disoraki sama anak-anak ikhwan lain. Dan hebatnya, sewaktu saya amati ekspresinya itu cool dan tenang banget coba. padahal, saya sudah malu banget itu. Jadi sayanya kebawa tenang dan lantas menjawab ledekan mereka dengan tantangan,

“Apaan sih… Sini kalau mau ikut bantuin mah. Kalian mah suka banyak omong doang, da… Pada gak berani bantuin gitu…”

Pujaan Hati saya tetap stay cool dengan senyumnya. Saya suka banget karakter esnya ini. Penyeimbang saya banget kan, alhamdulillah. Bersyukur banget sama Allah didekatkan dengan The Most Special One seperti ini. Tapi jadi merepotkan, karena katanya gitarnya terlalu enteng pas di pertigaan di gang dekat rumah Iwapati, Malaikat Penghibur Hati saya lantas mengajak bertukar barang bawaan. Dia ambil sekantung plastik besar berisi oleh-oleh makanan (untuk tetangga rumah saya) dan baju untuk Ibu-Appa. Yang membuat saya takjub sekaligus kaget adalah pertanyaan yang dilontarkannya tiba-tiba sewaktu kami jalan beriringan,

“Mau diantar ke mana ini bawaannya?”

“Hmm, sekolah aja deh. Biar gak terlalu merepotkan… Berat soalnya…” jawab saya sekenanya. Soalnya dalam mindset pikiran saya, saya gak mungkin tega pulang duluan sementara anak-anak Khadijah masih di sekolah nunggu jemputan ortunya. Kredibilitas dan integritas diri sebagai guru Mentari Ilmunya itu lho yang dipertaruhkan. Masa sih, saya meninggalkan guru-guru senior masih stay di sekolah dan saya easy going sampai rumah? Kurang sopan banget kan saya… Because I’m teacher. Terus belum pamit sama Ibu Kepsek dan Miss Soulmate pula… “_^

“Ke sekolah? Gak ke rumah aja?”

“Iya, di sekolah aja. Emang kenapa?” saya balik bertanya.

“Ya, ke rumah aja…”

Masih berjalan, sambil saya lihat keseriusan di wajahnya, “Oooh, mau ke rumah aja? Boleh… Hmm.. emang gak ngerepotin banget? Kan berat. Gak sakit apa tangannya?” saya pastikan melihat lagi ke arahnya.

“Enggak. Bisa-bisa aja saya mah… “ jawabnya mantap sembari menyebutkan nama panggilan sendiri. Sudah saya duga, jawabannya pasti terkendali begitu.

“Oke… terima kasih…”

Dan alhamdulillah, logika pertolongannya memang bagus, ya. Memang lebih baik begini, kan? Barang-barang saya ditaruh di rumah dulu, baru balik lagi ke sekolah.

Dan berhubung ada oleh-oleh makanan yang tertinggal untuknya, saya lari-lari pagi deh mengejar langkahnya. Sempat motong arah ke rumah Kakek Lubis dan saya diingatkan agar hati-hati karena lari saya kenceng banget. Waah, Pujaan Hati saya cepat benar jalannya. Sudah sampai depan rumahnya coba… -_- Nyaris sudah membuka gerbang rumahnya kalau saya tidak berteriak memanggil namanya. Teriakan kecil itu cukup membuat tetangganya yang bernama H—saat itu sudah masuk rumah dengan keluarganya, melongokkan kepalanya keluar dan melihat saya. Jadi saya sempatkan dada-dada deh, menyapa mereka sekilas.

Intinya adalah… Ya Allah… jadi panjang benar begini tulisan saya. 😀 Terima kasih untuk adik saya, atas pemberian gitarnya. Jadi ini gitar baru saya… “_^ Terima kasih juga untuk Malaikat Penghibur Hati saya, telah membawakan gitar dan sekantung besar barang-barang belanjaan saya dari Jogja. Padahal pasti berat dan pegal banget itu tangannya… Harmoni ketulusannya kena bangetlah. Alhamdulillah, selalu bersyukur atas perhatian hamba-Mu, Ya Allah.

Kalau diperhatikan hamba-Mu saja rasanya tenang dan bahagia begini… Bagaimana dengan diperhatikan oleh-Mu selalu ya, Ya Allah… Harusnya sih lebih-lebih lagi… Betapa bahagia dan beruntungnya kami ini, Memiliki-Mu. Love you, Allah… Terima kasih selalu, selalu, dan selamanya. Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s