Kata Bicara

Assalamu’alaikum.

Hei, kamu! Iya, kamu! 

Bukankah seharusnya kamu ketahui dirimu dengan baik? Bahwa kamu itu masih egois, baik pada diri sendiri maupun orang lain… 😦 Harusnya kamu banyak bersyukur, Bidadari Bermata Jeli. Masih ada yang jujur mengungkapkan seperti apa sebenarnya dirimu. Kenapa malah bersedih? 

Mau menangis sekarang? 

Jika selama ini tak ada yang sungguh-sungguh berani mendekatimu–karena menurut banyak orang begitu sempurnanya dirimu–kali ini banyak sekali bukan kekuranganmu terbaca. Karena yang mereka lihat kau selalu sempurna, sampai-sampai menganggap tak perlu disempurnakan, Tak perlu dikuatkan. Tak perlu dilindungi. Tak perlu banyak-banyak dinasihati. Padahal, jauh di dalam hati justru semua ini kan yang kau butuhkan? Agar pribadimu lebih baik dan bijaksana. 

Apa yang akan kau lakukan sekarang usai mendengar nasihatnya tentang jangan egois? Rasanya, ingin segera berlari ke arahnya dan bilang: Tolong tunjukkan letak egoisku di mana? #Rasanya hanya orang-orang egois yang tidak menyadari betapa egoisnya diri mereka sendiri. Dan apakah aku termasuk dalam bagiannya? Astaghfirullah, padahal baru banget dua hari sebelumnya berbincang dengan seorang rekan ajar–yang dulunya tinggal sekamar selama di Bandung–tipe kami berdua bisa jadi memang kerasa kepala, tapi insya Allah dan jangan sampai kami bersikap egois. Dan malam ini, mata hati saya sepertinya harus segera dibuka lebar-lebar. Banyak sekali yang harus dibenahi dalam hati saya. 

Aaah, saya yakin malam ini saya tidak akan bisa tidur setiap kali mengingat kalimat ini. Saya, apakah saya harus bertempur dengan baju-baju cucian larut malam begini? 

Saya betul-betul merasa kecil saat ini.

Tapi ini bisa jadi jawaban dari doa-doa panjangmu selama ini, kan? Meminta didikatkan pada orang salih yang bisa sama-sama untuk saling belajar dan saling menyempurnakan. Dan larangan ini pasti benar, kan? Bahwa seseorang melarang kita melakukan sesuatu yang ‘kurang baik’ karena sebetulnya sangat menyayangi kita. Dan saya akan diajak belajar untuk menerima kenyataan dengan lapang, bukan? Karena kabarnya kalau yang mengatakan adalah orang terdekat kita, di situlah letak kejujuran itu berada.

Dan kenapa sampai bisa saya tidak sadar dengan hal ini? Apakah ini ciri betapa egoisnya saya, Ya Allah… Bimbing hati dan tutur ini pada jalan-jalan yang Engkau ridai, agar ikhlas dibimbing oleh orang-orang yang Engkau ridai pula.

Saya pasti belajar lebih baik lagi, Ya Allah. Saya janji, dengan namamu. Insya Allah. Ikhlaskan saya diajari oleh siapa pun…

Dan untuk dirimu yang di seberang sana, maukah dirimu membantuku agar saya tidak egois lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s