Serigala dalam Gua

Apa yang kau rasakan, saat beberapa hari sebelumnya kau belajar tentang cara memahami kondisi “serigala dalam gua”, tiba-tiba hari ini, 28 April 2014 kau mendengar kata-kata serigala tersebut kembali disebut-sebut… dan yang mengatakannya ada di hadapanmu sendiri? Meskipun kali ini dalam edisi film “Ganteng-Ganteng Serigala”.

Bingung? Kaget? Terkejut? Terdiam? Atau malah terpesona?

Terpesona dan semua rasa campur-aduk ada di dalam kepala juga hati saya.

Kok, bisa sih nyambuung terus apa-apanya… Unik ini. 🙂 Saya masih ingat betul bagaimana teori ‘serigala dalam gua’ menjadi bahan pembelajaran saya dalam menata hubungan dengan orang lain kemarin-kemarin. Bahwa setiap orang memiliki guanya sendiri-sendiri, yang tak ingin siapa pun memasukinya, kecuali dia seorang.

Bahkan pembaca pun pasti pernah merasakannya, bukan? Saya juga pernah merasakannya. Adakalanya semua bisa dijelaskan dengan kata-kata, ada kalanya pula kata-kata tak mampu menjadi alat untuk bercerita. Dan diam adalah salah satu cara untuk menaunginya. Nah, setelah semua rasa diam ini dimainkan, seni menjalin komunikasi dengan diri pastilah jadi lebih mendalam. Di sinilah kita akan tahu seberapa baik kita, seberapa sempurna Allah menciptakan kita, seberapa beruntungnya kita, dan seberapa besar kemampuan kita untuk menyelesaikan segala yang kita hadapi dengan cara-Nya.

Dan ini yang saat ini juga tengah saya lakukan. Bahwa saya tahu apa yang sedang saya rasakan, saya tahu apa yang harus saya lakukan, saya juga tahu bagaimana saya harus menghubungkan semuanya dengan baik. Mungkin tidak bisa semuanya, tapi yang pasti hal-hal yang baik, benar, dan bermanfaat itu yang selalu saya pertahankan. Kenapa? Karena saya punya hati nurani, saya punya iman, dan saya punya Allah. Dengan-Nya, saya menjadi semakin kuat atas segalanya. 

(Walaupun saya serngkali tidak bisa 100% yakin pada diri saya sendiri–karena memang tidak boleh terlalu berani kan jika kita benar dan tidak boleh terlalu takut jika kita salah, semoga tetap dijaga Allah dalam keseimbangan-Nya.)

Tiga hal di atas semuanya. Saya memiliki rasa cinta kepada Allah (semoga cinta yang lebih besar dibanding pada semua hal). Saya memiliki rasa takut kepada Allah. Saya pun memiliki rasa pengharapan yang tinggi pada Allah.

And here I am. The real of me! Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s