Tes Tangis

Sebetulnya, judul ini saya ambil karena tendangan inspirasi dari segelas teh manis. Ya, antara teh manis dengan tes tangis memiliki homorgan fonetis yang nyaris berdekatanlah. Mirip-mirip sedikit walaupun cenderung maksa. ­čśŤ

Izinkan saya bercerita seuntai kisah yang terjadi pada malam itu. Malam yang saya lalui begitu aneh itu karena omongan saya serba tentang hati. Sebenarnya paling merasa mati kalau sudah diajak bicara soal begini. Dan apa boleh baut–jieh, segala baut dibawa-bawa, mau benerin pintu, Mbak…:) Naah, begini lho yang saya maksudkan suka error itu ya ini. Imajinasi tingkat dewi ini harus ditata lagi.

Oke, fokus lagi. Saya tiba-tiba diberikan pertanyaan untuk pergi. Meninggalkan seseorang tepatnya. Ya, otomatis dong, saya yang berbakat melakukan protes ini langsung melancarkan serangan diplomatis. Awalnya, melembut. Saya sadari betul itu adalah nada terhalus yang pernah saya berikan pada orang lain–biasanya tarik nada tinggi melulu, mohon maklum… Tiba-tiba, saya merasakan alur perbincangan kok jadi menyayat hati. Seseorang yang saya anggap Malaikat Penghibur Hati buat ortunya dan saya ini, secara mendadak meminta saya menghentikan perhatian. Meminta saya meninggalkannya. Mengatakan pada saya bahwa hidupnya lebih baik saat sendirian. GILA! Apa maksudnya coba? Hati saya kayak dibetot-betot. Ada sayat luka yang seketika menggirisi hati saya. Rasanya seperti kulit sobek disirami air cuka. Perih, sesak. Kenangan lama atas kejadian saya meminta ‘the special one’ untuk meninggalkan saya beberapa tahun silam menyeruak penuh dan nyata di labirin memori saya. Napas saya tersengal-sengal. Saya menangis terisak-isak, dengan tak beraturan. Saya tahu ini yang selama ini selalu saya hindari. Tangis Ini yang selama ini ingin saya keluarkan sekaligus ingin selalu saya hilangkan dari diri saya. Dan usai┬átangis ini saya tidak akan bisa berdiri dengan yakin, kepala saya akan ‘sangat indah’ rasanya, dan lemasnya raga tak bisa diajak kompromi. Mata saya untuk mengajar esok hari, entah bagaimana rupanya.

“Ya Allah… Rasa apa ini? Kenapa Raden Mas Dokter ini begitu sadis?┬áTolong hati saya…” saya menjerit di dalam┬ábatin.

┬áPembicaraan otomatis langsung saya hentikan. Saya kapok. Pagi-paginya, saya limbung. Sudah saya katakan bahwa saya begitu jarang menangis untuk hal-hal cengeng. Malam aneh itu entah kenapa langsung terluka begitu saya ingat, saya memang pernah melakukan salah–karena telah memaksa ‘the special one’ itu pergi atas perminataan saya, padahal jauh di dalam hati… saya begitu mengharapkan ia untuk tetap tinggal di sisi saya.”

Ice Prince, pagi-pagi buta sudah menemui saya lewat percakapannya. Meminta maaf. Sepertinya, semalaman ia juga menderita kepanikan. Saya tidak tahu persis bagaimana seseorang yang super cool itu merasakan panik. Dengan jujur, saya sampaikan ucapan terima kasih dan rasa kapok. Bahwa semalaman saya menangis tak bisa berhenti kalau tidak ketiduran. Bocah banget ya saya. Yang membuat saya tertawa malu adalah karena ternyata perbincangan semalam itu hanya tes belaka. Alamak! Siapa sih sebenarnya yang umurnya 26 tahun? Benar-benar, how incredible ini orang! How dare he is..

Tes tangis yang ternyata rasanya gak sama kayak teh manis. Tahu cuma dites doang mah, mestinya jawabannya mengikuti petunjuk tesnya secara utuh ya… ­čśŤ ┬áBut anyway, thanks in advance-lah ya… Saya sempatkan┬átetap mengucap syukur atas kalimat indahnya pagi itu juga. Selalulah tersenyum seperti apa pun kondisimu, Bidadari Bermata Jeli…. ┬á

tangis374438_549888348381798_1588022995_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s