Kaleidoskop Pertemuan

Semangat itu begitu menggejala saat saya melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Ada yang menderap pelan-pelan di pintu kalbu, ketika sepasang bola mata saya bertumbukan di ujung jalan. Saat orang yang saya sayangi datang bersamaan  dengan hantaran wajah teduhnya. Teduh sekaligus angkuh. Seseorang yang belakangan ini selalu menolak saya dan baru menerima pemberian penting dari saya jika saya sertai dengan kalimat pamungkas, “Tidak ada kalimat penolakan dan tidak menerima penolakan!”. Mengingat sikapnya memang sangat dingin dan nyaris selalu mengerjai saya, sebenarnya saya tidak terlalu yakin dengan kalimat saya yang akhirnya toh pamungkas itu. Saya bersyukur Allah mempertemukan kami kini. 

Aneh banget, kan? Perbedaan usia kami terpaut cukup jauh. 11 tahun! Bisa dibayangkan betapa ego masing-masing kami begitu tinggi, bukan? Tapi kok tidak ya… Sejauh ini saya selalu berusaha ‘nurut’. Selama apa yang diajarkannya mengandung prinsip 3 B. Apa itu 3 B? Ya, betul! Selama apa yang disampaikannya baik, benar, dan bermanfaat maka saya akan betul-betul mendengarkan juga sebisa mungkin melaksanakannya. Dia pun begitu, sepertinya. 😀

Katanya, banyak perkembangan dalam hal positif yang dirasakan selama kami dekat. Semoga rahmat dekat ini adalah dekapan ukhuwah yang indah dan berkah. Saya memang mencoba mengevaluasi rentang waktu kebersamaan kami, di sela-sela kecerewetan saya memprotes begini begitu, memberi masukan ini itu, bertanya macam-macam dari hal paling sederhana, ringan, sampai hal berat yang nyaris membuatnya pecah kepala. Hal yang tak pernah habis saya pahami adalah kok bisa ya dia sabar banget menghadapi saya… Menerima saya yang semakin kesini semakin sering terlihat sisi kelemahan juga kekurangan saya.

“Cukup dengan mengetahui kelebihan seseorang, maka kita bisa menggaguminya. Dan cukup dengan mengetahui kekurangan seseorang, maka kita bisa menyayanginya dengan tulus…”

Jleb banget, tho! Kalah telak saya. Lha waktu itu saya yang memberikan materi itu dalam pembelajaran mentoring sekolah. Sekarang, saya malah disuguhi alasan ‘so sweet romantic’ itu… Saya memang selalu diuji dengan hal-hal yang sudah atau bahkan sedang saya ajarkan. Sebetulnya, ini malah justru bagus untuk mendongkrak integritas, kan?

Iya. Saya mempercayainya dan saya menghargainya. Sikap itu selalu saya pupuk terus. Sok penting banget, ya? Aaah, tidak juga! Toh, itu adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan terhadap orang lain. Apalagi, mengingat saya ini orangnya memiliki tingkat kecurigaan tinggi alias tidak mudah percaya pada seseorang. Sangat ‘topi hitam’ dan cenderung analitis terhadap seseorang. Dan selalu, hati ini hanya mampu terketuk oleh seseorang yang sikapnya benar-benar tulus.

I trust you. I believe in you. Saya sangat menyenangi kedua hal tersebut saya ucapkan padanya, sebanyak mungkin saya bisa. Ketika ditanya mengapa? Dengan tegas saya pun akan menjawabnya begini, “Bahwa ketika kita percaya pada kebaikan seseorang, sesungguhnya kita percaya (berbaik sangka) pada kemahabaikan Allah. Insya Allah….”

Hmm. Ada dua momen sederhana juga yang tak luput mengetuk hati saya yang bisu. Pertama, saat sosok tingginya menjemput saya untuk menimba ilmu. Saya tidak malu untuk mengatakan bahwa darinya saya belajar sangat banyak. Keriangan hatinya untuk memuliakan saya, kendati sesungguhnya pelajaran saya adalah satu-satunya pelajaran paling absurd yang cukup menjadi tantangan buatnya. Kedua, saat dua tahun lalu sebagai orang ketiga, ia menyelamatkan saya dari kejamnya fitnah dunia. Tatkala itu kondisinya–saya juga tidak paham sampai sekarang kenapa ada seorang ikhwan yang menunggui saya di lantai dua–sewaktu saya tengah sibuk mempersiapkan slide presentasi. Karena saya memang sedang butuh sendirian, jauh di dalam hati saya berharap seseorang tersebut segera pergi dari ruangan. Allah memang tak pernah ingkar janji, tiba-tiba saja sosok tinggi berwajah teduh sekaligus penuh misteri itu masuk ke ruangan. Hati saya sangat bersyukur kala itu. 

“Berdua aja, Bu Eva?” masih terekam jelas pertanyaan yang  cukup membuat risih sekaligus telah menyelamatkan saya itu. Di dalam hati saya mengukir rasa syahdu yang begitu dalam. Karena khawatir dikira SKSD, saya hanya mampu berterima kasih padanya lewat sebungkus biskuit bayam. Kaleidoskop pertemuan itu kini terbuka lagi bersama jejak-jejak keyakinan dalam hati. Alhamdulillah.

temu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s