Ngapain Perempuan Sekolah Tinggi-tinggi

Bermula dari naik angkot, mendengar sebuah pembicaraan anak-anak remaja. Dengan suara khasnya yang ceria, anak berseragam putih abu-abu itu mendongeng cerita kesana-kemari, tentang dirinya. Lalu perbincangannya sampai pada satu titik yang membuat saya betul-betul menatapnya agak lama.

“Menurut aku sih ya, sekolah mah di mana-mana juga sama aja. Iya, ga?” tanya itu terlontar dari bibirnya.

Temannya membenarkan jawabannya.

“Mau sekolah di mana aja yang penting kan kitanya. Percuma kan sekolah di sekolah yang bagus kalau kitanya sendiri gak bener-bener belajarnya…” imbuhnya lagi. Temannya masih setia mengiyakan.

Saya mulai berpikir, anak ceria ini memiliki pemikiran yang cukup menarik.

“Terus lagian kita kan perempuan…”

“Iya betul banget…”

“Aku masih bingung lho, kenapa coba kita mesti sekolah tinggi-tinggi? Lagian perempuan mah ujung-ujungnya mau kuliah di luar negeri kek di UI kek atau cari universitas bagus mana-mana juga, ujung-ujungnya bakal jadi istri mah ya ngurusin dapur, anak, sama suami…”

Kali ini teman bicaranya terdiam.

“Wah, sembarangan ngomong nih anak!” protes saya dalam hati.

Mata saya pun langsung memindai sosok anak SMA itu sepenuhnya. Dari atas sampai bawah. Satu hal yang saya cari, bet sekolahnya. 

Saya memang bukan orang yang mendewakan untuk selalu bersekolah di tempat terfavorit atau di sekolah urutan pertama. Namun, saya punya pertimbangan lain tersendiri. Jika bisa menempuh pendidikan di tempat terbaik urutan pertama, kenapa kita mesti memilih bersekolah di tempat yang kualitasnya biasa-biasa saja?

Dan buat saya penting bahkan justru sangat penting bersekolah di tempat yang berkualitas bagus. Buktinya, semestinya bisa menjawab pemikiran sembrono anak ini.

Paling tidak di mana seseorang bersekolah akan sangat berpengaruh pada bagaimana pola pikirnya terbentuk. Muatan-muatan kurikulum yang digodok oleh sebuah lembaga sekolah berkualitas akan berdampak beda dengan yang digodok asal-asalan oleh sekolah asal-asalan, bukan?

Tapi kan sekolah yang bagus belum tentu menghasilkan out put lulusan yang bagus dan berkualitas?

Oke. Betul sekali! Oleh karena itu, mari kita berbicara tentang lfakta. Kalau kurikulum (baik current curriculum maupun hiddent curriculum) yang berada di sekolah berkualitas saja belum bisa menjamin 100% lulusannya berkualitas bagus, pertanyaannya kita balik ya. Lalu bagaimana dengan kurikulum yang ada di sekolah biasa-biasa saja? Bisa menjaminkah 100% lulusannya berkualitas bagus?

Dan satu hal lagi. Justru karena kita perempuan, seharusnya malah mesti semangat dalam menempuh pendidikan di tempat-tempat terbaik. Suatu saat perempuan adalah patner suaminya. Itu artinya ia adalah orang yang dipercaya sang suami dalam setiap pengambilan keputusan. Bagaimana bisa menghasilkan sebuah keputusan yang brilliant dan solutif kalau ternyata kualitas pemikirannya tidak bisa diajak berlari ke arah yang cemerlang itu? Belum lagi, perempuan itu kelak pasti menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya. Artinya, seorang perempuan itu bakal jadi sekolah rujukan pertama untuk anak-anaknya. Kalau kualitas pendidikan perempuan itu tidak mumpuni, bagaimana anak tersebut akan bisa menjadi penerus dan penggerak bangsa yang hebat untuk negeri ini? 

Salam perubahan. Salam mulia, cerdas, dan berkualitas

big

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s