Pilih “Oke’ atau “Ya”

04 November 2013
Hari ini aku belajar tentang makna kata ‘oke’ dan ‘ya’. Berdasarkan versi pendapat kepala sekolahku tercinta—Ibu Evi Kurniawati, S.Si—bahwa penggunaan dua kata persetujuan tersebut memiliki kandungan entitas yang berbeda. Ketika kami para guru mengirimkan surat izin untuk tidak hadir karena sakit atau meng-SMS beliau karena keperluan mendesak dan bahkan terlambat hadir masuk ke sekolah, beliau tak jarang membedakan penggunaan dua kata persetujuan tersebut sebagai balasan jawaban dan tentunya dalam konteks yang harus bisa dibedakan. Menariknya, ketika kata ‘oke’ yang terucap sebagai balasan, ini dimaksudkan beliau bahwa selama ini beliau sangat puas terhadap kinerja yang telah dilakukan kami sebagai para guru atau yang menjabat amanah lebih di sekolah. Namun perlu diperhatikan lebih lanjut, jika yang terlontar sebagai balasan adalah ‘ya’, kami patut berhati-hati karena sesungguhnya di belakang kata ‘ya’ tersebut pasti akan beliau tambahi dengan pesan yang panjang. Ini menandkana bahwa beliau menginginkan tingkat kinerja kami selama ini haruslah segera diperbaiki. Aha, untungnya setelah diingat-ingat selama ini banyak sekali kata ‘oke’ yang aku terima. Terima kasih, Ya Allah….

Nah, amazing banget kan pemikiran dan penggunaan pola bahasa kepala sekolahku ini. Sederhana sekaligus cerdas! Waah, jadi tertantang nih untuk terus menjadi sosok yang semakin smart, kreatif, dan jadi teladan dalam setiap kebaikan apa pun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s