Always and Forever

 

Sokaguro, 11 Januari 2013

Dimulai dari Jumat pekan lalu. Hingga Jumat pagi ini.

”Aku hampa tanpamu. Tolong maafkan aku. Rasanya aku sangat ingin menangis di hadapanmu karena hatiku tak tenang sekali….” ujarku ceplas-ceplos. Aku tak perlu merasa khawatir kau marahi. Karena itulah hal jujur yang tengah aku alami. Aku selalu merasa nyaman mengungkapkan semua isi hatiku kepadamu.

”Jangan seperti ini. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Aku sudah memaafkanmu.”  kalimat bijakmu hangat mengaliri nadiku yang sudah dua tahun ini dihantam beku.

”Tapi aku ingin kamu kembali. Aku tak mau kita terpisah lagi. Aku akan utuh bersamamu…” aku yakin saat itu kamu melihat dengan jelas ekspresi wajahku yang begitu sayu. Seperti anak kecil yang polos meminta permen atau coklat pada omnya. Aku mulai merajuk kepadamu.

”Ayolah. Aku lebih bahagia kalau kamu tidak tersekap di masa lalu. Cerialah seperti biasanya. Jangan menangis lagi.”  hempasan angin pagi yang begitu kencang di Gunung Cempluk Rahasia mengobrak-abrik sisiran rambutmu. Entah kenapa air mataku berubah menjadi hujan yang aku sukai.

”Sekarang aku mesti bagaimana? Bagaimana kalau sekarang aku benar-benar suka kamu? Bagaimana kalau aku jadi menyayangimu sepenuh hatiku?”

“Akhirnya rasa itu sampai juga kepadamu. Kamu harus ingat, ada aku di sini. Aku selalu ada buat kamu.” Nada kalimatmu lembut, tapi terkesan tegas sekali. Aku rasa wajah teduhmu belum pernah setegas ini sebelum-sebelumnya.

Geez… Saking bahagianya aku. Aku berlari-lari kecil sambil melompat-lompat. Meneriakkan pada dunia bahwa aku punya kamu. Betapa cerianya aku. Kamu tersenyum manis menyikapi tingkahku. Usai membenarkan letak kacamatamu, kau pun bersiul riang sembari menyusul langkah-langkah lariku.

Kau mengajakku untuk pulang karena angin pagi semakin kencang.

”Sepertinya akan turun hujan lagi.” Kau memintaku untuk berjalan di depanmu. Penolakanku langsung terbungkam karena kau mendedah singkat bahwa adegan ini ada dan pernah terjadi di kehidupan Nabi Yusuf dan kedua putri Nabi Syuaib dulu. Nabi Yusuf berdiri di belakang kedua putri Nabi Syuaib untuk melindungi keduanya.

Pulang ke rumah bercorak bangunan klasik bercampur modern, dengan halamannya yang luas penuh ditumbuhi bunga aster ungu dan bunga daisy adalah hal paling romantis. Bunga-bunga itu dikenai pendar-pendar cahaya lemah matahari pagi yang bersirobok dengan dedaunan di sela-sela pohon yang ada di sekitar rumah klasik menawan itu.

“Rumah siapa ini? Rumah ini indaah sekali.” pujian dan rasa penasaran terlontar tanpa basa-basi dari bibirku.

“Ini rumahmu. Rumah kita. Rumah hati.” balasmu sangat meyakinkan.

Wait. Bagaimana bisa. Ini pertama kalinya aku datang kemari! Di mana ini, aku juga baru tahu….” protesku.

Kamu tersenyum simpul. Seperti sudah hafal benar adatku yang kerap kali protes jika ada sesuatu yang tak masuk di logika. Aku romantis logis.

“Di mana ini? Kau yang lebih tahu jawabannya. Hati selalu punya jawaban lirih lewat munajatnya. Yang jelas, rumah ini adalah tempat rasa kita tumbuh dan dimekarkan. Tidak dalam waktu sesaat untuk membangun rumah ini sampai jadi, tapi lewat intensitas dan keseringan.”

”Sejak kapan keyakinanmu semenyala begini, hah?” aku mendekat ke arahmu. Menatapi kebenaran dari kedalaman samudera matamu. Kamu terkejut sekali.

“Aku benar-benar tidak sedang bercanda atau berbohong, Nona.” belamu sembari agak menjauhkan badan.

“Baiklah. Aku menyerah.” aku menghempaskan badanku di sofa berwarna hijau muda di ruang keluarga.

Kau menyeduhkan teh hangat untukku. Mmh, harumnya teh bunga melati.

”Hei, ngomong-ngomong, dari siapa rumah ini, Tuan? Dari kamu? How sweet! Ini benar-benar menakjubkan, kau tahu…” kalimatku meleleh. Aku mulai keranjingan melihat-lihat semua sisi ruangan dalam rumah bernuansa klasik-modern yang elegan itu.

”Mmh. You wanna say anything more? Sekarang, apa kau benar-benar sangat menyukainya, Nona?” Hatiku meleleh demi mendengar tuturan pertanyaanmu.

Aku speechless sekarang.

“Sudah kubilang dari dulu, Nona. Kemana pun kau pergi… sejauh apa pun kau berlari, kau pasti kembali ke rumah hati. Kemana pun sungai mengalir, ia pasti bakal menemukan muaranya. And here I am. Dari dulu aku selalu di sini. Selalu ada buat kamu.”

”Seperti filosofi kata always and forever?” kau mengangguki tanyaku dengan senyuman priyaimu.

Iya. Aku benar-benar sangat menyukai rumah ini sekarang. Dengan adanya kamu di sisiku.

Bila saatnya berkata

Apa isi hati?

Aku cinta kamu

 

Sayup-sayup suara lagu itu terdengar di telinga. Aku dan kamu spontan saling bersitatap.  Sama-sama terkejut dengan hadirnya lagu itu. Sama-sama salah tingkah. Pasti musiknya tetanggaku deh itu! Aku berani jamin itu pasti masih suara lembutnya Ikke Nurjanah. Tapi apa judulnya? Makin lama lagu itu makin lekat di telinga.

Tiada yang tahu diriku

(Tiada yang tahu dirimu)

Mungkin hanya dirimu

(Mungkin hanya diriku)

Di mana cinta ini karena diyakini selamanya untukmu

 

Tiada yang tahu diriku

Saat badai menghampiri

Hati kecil ini buat aku bertahan karena cintamu….

 

Ya Tuhan!

Aku bermimpi rupanya. Sebegitu sadar, aku baru terbangun dari mimpi. Aku langsung berlari ke arah cermin. Ada hal yang aku rasa harus aku lakukan saat itu. Aku tepuk-tepuk pipiku di depan cermin rias. Ini gila! Ini gila! Aku tak bisa percaya ini semua. Kenyataannya sekarang, aku sudah bukan bocah kecil lagi.

Aduuh. Kenapa kemarin malam itu aku mesti mengirimkan SMS itu padamu? Kenapa pagi, siang, sore, dan malam pikiranku selalu tertuju ke kamu? Aku bahkan suka senyam-senyum sendiri mengingat semua tentangmu. Terutama mengingat adegan bertukaran jaket, pemberian bunga mawar merah selepas acara wisudamu, dan ekspresi melonjak-lonjak kegirangan karena mendapat kiriman kado ulang tahun darimu. Tidak hanya seperti Eun Soo, aku bahkan sudah seperti tokoh Bu Guru Gil Da Ran, di serial drama Korea “Miracle” yang gedebug love sama muridnya sendiri. Padahal, sebelum-sebelumnya Bu Guru Gil Da Ran hanya menganggap muridnya itu sebagai anak didiknya saja. Sekarang denganku?  Awalnya, aku yakin aku akan terus biasa-biasa saja menghadapimu. Apalagi dengan rumus ampuh, There is no special. Sekarang, kalimat ‘There is no special’ itu seperti percuma. Sekarang, apa pun yang terjadi selalu tersambung padamu. Semua bertahan padamu. Karena cintamu.

###

Advertisements

White Coffe dan Shine of Rine

 

Sokaguro, 04 Januari 2013

Sudah sejak beberapa tahun silam, tak pernah lagi…

 

Efek White Coffe yang aku sesapi ba’da Isya tadi. Tiba-tiba, kini di pelupuk ingatanku membayang wajahmu. Aku masih biasa. There is no special feeling. Itu afirmasiku pada diriku sendiri. Itu jawabku tiap kali orang-orang menanyakan perihal perasaanku terhadapmu.

Rasanya begitu asing. Kau begitu lama tak mampir di telatah pikiranku. Dengan ritme rutinitas kerjaku yang pergi pagi pulang petang. Adanya setumpukan amanah yang membuat hari-hariku sempurna merekah. Meski tanpa hadirmu….

Dua tahun ini, sudah begitu lama tak pernah lagi.

Aku takkan menyadari bahwa aku tak merasakan kantuk kalau tidak kulihat setting arloji di hapeku. Gila, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Hei, what’s going on with me?

Aku kok belum mengantuk ya? Tak sengaja aku mengeluhkan dua bola mataku yang terus saja terjaga membacai semua karyaku.

Nope! Aku tersentak. White Coffe tadi!

Hmm, sebetulnya aku memang bukan penikmat kopi. Aku bahkan selalu berusaha untuk tak menyentuh minuman berkafein ini ketika banyak rekan guru menyeduhnya saat rapat atau ada event apa pun di sekolah. I had never take it for drinking! Lha, tadi usai Isya itu apa? Entahlah, tadi mendadak tergiur aku mau minum kopi. Aku pun menyeduhnya dengan air dingin. Haha, sudah kubilang kan aku bukan penikmat kopi jadi aku tak perlu menyeduhnya dengan air panas.

Malam kian beranjak menua. Lho… lho? Kenapa lagi ini? Kok, mendadak air mataku meleleh. Semua kenangan akanmu terpampang ceta sekali di hadapanku. Aku malah dibuat menangis sejadi-jadinya. Apalagi…

Byuuuur!!! Jedaar… jedeeerrrr!

Suara guyuran hujan dan jedar-jeder guntur tiba-tiba bertandangan. Sahut-menyahut. Deras sekali. Aku merasa takut sekali. Takut kehilangan kamu. Air mataku makin membanjiri pipi. Apa aku…. Oh, semua kebaikanmu kepadaku terekam jelas. Jelas sekali. Pikiranku seperti sedang dibentang lebar-lebar. Segala ingatan akan perlakuan cuekku, menganggap ungkapan perasaan hatimu hanya sebagai candaan kepadaku, dan sikap sleborku pada setiap kebaikanmu menguar. I dont know what I have to do now? Inginku cuma satu. Bertemu denganmu. Menelfonmu. Menghubungimu lewat SMS. Memeluk suara bijak hatimu dengan permintaan maafku dari palung hatiku yang terdalam. Sedalam samudera kesadaran dan logika yang aku miliki.

Aku merasakan sesaknya dadaku. Tersiksa rindu kepadamu.

Setelah kini semua berakhir

Betapa menyesal diriku tanpamu

Dan nyatanya aku tersiksa rindu padamu

 

Bila sebentar lagi aku kembali kepadamu

Coba maafkan aku

Kumohon buka pintu hatimu

 

Tunggu, lihatlah aku

Jangan berpaling dariku

Kini dengarkan dulu

Aku tak mau hidup tanpamu

 

Hal paling nyinyir adalah karena sekonyong-konyong lagu Ikke Nurjanah berjudul ”Nyatanya” itu malah menyindir hatiku. Malam-malam tua begini siapa sih tetangga yang menyetel lagu itu? Aaargh, aku tidak suka lagu danngdut!!!

Dengan berusaha kuat, sok-sok menghadirkan memori yang menyebalkan tentangmu, tapi nihil. Tak satu pun terjabarkan. Semua hamparan kebaikanmu padaku kian bertebaran. Aku semakin dibuat bingung. Kelabakan dengan energi shine of rain kamu malam ini. Aku merasakan hatiku yang telah lama mati seakan hidup kembali. Air hujan yang selalu kamu kagumi itulah yang memantiknya.

Aku mengumpulkan keberanian. Dengan semua rasa malu yang aku punya. Berani-beraninya aku meng-SMS kepadamu. Orang pertama yang langsung aku ingat untuk segera aku hubungi karena aku tak bisa tidur akibat rasa takut dan gelisah itu.

Meminta maaf. Air mataku semakin menderas. Merasa sangat bersalah kepadamu. Aku memohon keikhlasan padamu. Memaafkan semua kesalahanku, cueknya sikapku, dan betapa banyak kekurangan yang aku miliki dalam merespon setiap kebaikanmu sebagai orang penting dalam hidupku. Menjelaskan juga perihal tak bisa tidurnya aku malam ini.

Kau benar-benar mencuri semuanya. Bahkan stok keramaian yang biasanya aku miliki. Aku merasakan hatiku sunyi sekali malam ini. Bahkan sampai pukul setengah tiga dini hari tak mampu sekejap pun memejam mata. Aku menunggu-nunggu reply SMS darimu. Perasaanku tak enak bila terus begini. Rasanya ledakan rasa hatiku mau jebol dari dalam. Membuatku serasa mau mati saja. Aku berguling ke kanan dan ke kiri. Memandang langit-langit kamar tak beraturan. Mendekap dadaku dengan bantal berwarna biru karena di dalamnya ada hatiku yang makin berdebaran tak tentu.

Ini terlalu melankolis buat aku. Ini pertama kalinya buat aku. Biasanya kalau suka dengan seseorang cuma sebatas pujian, ngefans, dan mengagumi saja. Apa namanya perasaan sedikit gelisah, sekejap khawatir, tapi banyak rindunya ini? Mana pernah aku tak bisa tidur cuma karena kepikiran seseorang. I had never feel this feeling before…

Aku berusaha mengabaikan suara hujan dengan tetap mendengarkan setiap rinci gemerisiknya bergesekan di tanah-tanah depan rumah. Tersekap perhatian oleh jawaban SMS-mu yang sedang aku baca. Dan memang aku benar-benar baru bisa tidur karena membaca balasanmu. Aku tersenyum lega seperti riangnya ekspresi remaja ketika bertemu pacarnya. Meski balasan SMS-mu terkesan begitu lugas, kaku, dan dingin.

Aku tahu itu bukan kamu. Aku tahu itu karakternya Jendral Choi Young alias Lee Min Ho di serial drama Korea berjudul “The Faith”. Jendral Choi Young awalnya selalu bersikap dingin dan sinis seperti itu pada Eun Soo—dokter perempuan dari langit yang selalu ceria, sedikit slebor, dan sembrono—karena selalu memerhatikan kesehatan Jendral. Hmm, meski dengan nada sinis dan dingin, Jendral tetap selalu merespon setiap perkataan Eun Soo. Dan aku senang kau juga begitu, selalu membalas SMS-ku. Meski dengan bahasa yang sangat singkat, seperlunya, plus terkesan datar.

###

Berawal dari survei lokasi, sekaligus penetapan tanggal yang tak kunjung pasti sepenuhnya karena berkali-kali ada saja perubahan. Tanggal 29 Mei, 09 Juni, bahkan 01 Juni 2013. Semua itu terjadi karena lobbying tempat belum ada yang sesuai dengan tanggal yang sudah direncanakan. Mulai dari Lebak Sari Indah, Indo Alam Sari, Alam Ceria, Sindang Reret, sampai Aula Pemda Husni Hamid.  Hal tersebut kami lakukan sejak bulan April hingga bulan Mei. Akhirnya, karena satu-satunya tempat yang paling sesuai dengan estimasi kemungkinan besar semua orang tua siswa kelas IX bisa hadir—Sabtu, 01 Juni 2013—maka diputuskanlah Aula Pemda Husni Hamid sebagai tempat berlangsungnya acara Pelepasan Siswa Kelas IX SMPIT Mentari Ilmu Karawang (MEKAR). Semua ketidakpastian itu akhirnya menjadi pasti.

Berapa panjang rapat harus ditapaki, berapa banyak peluh keringat yang menetes di sepanjang persiapan dan latihan-latihan… Semua ini untuk menjawab seberapa besar kita memupuk toleransi dan kesabaran selama 3 tahun alur pembelajaran anak-anak di sekolah MEKAR.

Pembaca yang budiman, mungkin tak jarang kita merasa kecewa oleh perilaku anak didik kita. Ketika apa saja yang kita sampaikan, terasa seperti mereka abaikan. Ketika kita melahirkan aturan-aturan baru dengan harapan agar mereka menjadi semakin lebih baik, justru malah mereka seperti ‘sengaja membangkang’. Atau ketika apa saja yang kita ajarkan di dalam kelas belajar, kerap kali diprotes oleh mereka. Namun, jauh dari semua itu… kekurangan dan kelemahan tersebut dapat kita bangun bersama. Lalu apakah kita akan terus mencari-cari kekurangan juga kelemahan masing-masing diri kita?

Kekurangan dan kelemahan adalah sumber dari sesuatu yang spektakuler. Mari kita gunakan kacamata yang berbeda, kacamata yang lebih positif dibanding sebelum-sebelumnya. Kacamata kehidupan yang positif tersebut akan lebih membuat hidup kita bersama menjadi benar-benar hidup.

Dengan demikian, tema acara Pelepasan Siswa Kelas IX tahun 2013 ini adalah BERSAMA MERAIH KEAJAIBAN. Ya, sesuai dengan tema tersebut, kami berusaha bersama-sama untuk bisa menjadi bagian dari keajaiban-keajaiban dalam kehidupan ini dan bahkan berusaha saling melengkapi untuk meraih keajaiban-kejaiban hidup di masa kini dan masa depan nanti. Bersama-sama…

Barangkali, kali ini terlihat sederhana karena tema tersebut sengaja kami buat dalam Bahasa Indonesia. Kesederhanaan tersebut justru terkesan luar biasa karena pelepasan siswa kelas IX tahun ini betul-betul kental dengan nilai kebersamaan dalam meraih keajaiban. Tidak hanya kerja sama yang baik antara guru dan seluruh siswa, tetapi juga kerja sama dan kontribusi (partisipasi aktif) dari orang tua, terutama Parenting Club dan Dewan Komite Sekolah MEKAR. Bersama-sama mempersiapkan, bersama-sama merancang secara matang, bersama-sama melakukan latihan demi latihan, bersama saling melengkapi, bersama saling memotivasi, dan bersama-sama saling memberi masukan untuk saling menyempurnakan.

Sama, tapi berbeda. Kendati sama-sama acara perpisahan untuk kelas IX, banyak juga lho perbedaannya dibanding perpisahan pada tahun sebelumnya. Perpisahan atau pelepasan siswa kelas IX kali ini banyak hal baru, selain temanya yang berbahasa Indonesia, Student Award ada 12 kategori (sertifikat award + piala award untuk kategori), Miracle Teater Scene I dan Scene II, sesi penerbangan Pesawat Impian, Lengser, pembagian tanda kelulusan berupa selongsong dan medali, ada sesi penampilan guru, marawis, angklung, drum band, dan dance. Semua terasa semakin sempurna karena kehadiran Bupati Karawang, Bapak H. Ade Swara, tepat waktu sesuai dengan rencana yang sudah kami jadwalkan di dalam rapat dan rundown yang dimusyawarahkan oleh seluruh dewan guru. Bapak Bupati Karawanglah yang mengisi sambutan sekaligus Opening Speech pada acara Pelepasan Siswa Kelas IX kali ini. Alhamdulillah…

Dan jika pembaca penasaran siapa saja sih peraih 12 Student Award tersebut? Let’s check it out!

1.    The Most Religious Student: Alfiansyah

2.  The Most Creative Student: Faris Habiburrahman

3.  The Most Entrepreneurship Student: Adim Mahmuda

4.  The Best Cognitive Achievement: Hamzah Syahid Al Amjad

5.  The Best Psychomotoric Development: Yusuf Gamma

6.  The Best Atitude Development: Fitrianna Rahmadhani

7.  The Best Interpersonal Intelligences: M. Irham Abdul Basith

8.  The Best Logical Analitic Improvement: M.Faza Pambudi

9.  The Best Master of Information Technology Product: Ravaka Haraditya

10. The Best Tahsin-Tahfizh Achievement: Dinan Kurnianti

11.  The Best Art Talent: Ramdhani Yanuar

12.  The Best UN Result of The Year : Hamzah Syahid Al Amjad

 ImageImageImageImageImage

Pembaca yang budiman, jika dilakukan sendiri, tentu acara seperti akan sangat rumit. Artinya, tidak semua bisa mengomposisikan acara perpisahan/pelepasan kelas IX yang rumit, tapi sederhana seperti ini. Akan tetapi, dengan bersama-samalah sesi demi sesi acara pelepasan siswa kelas IX SMPIT Mentari Ilmu Karawang tahun 2013 ini berlangsung lancar, tertib, dan sukses. Terima kasih untuk semua pihak yang telah turut menyukseskan acara Pelepasan Siswa Kelas IX ini… SALAM SUPER! SALAM BERSAMA MERAIH KEAJAIBAN!!!