JUNE OF FORTUNE

Image

Sabtu, 01 Juni 2013

Hari-hari sebelumnya sempat menitikkan air mata karena mau berpisah dengan para siswa yang sering membuat para guru pusing kepala ini. Malam-malam, sampai aku update status berasa galau. Saking takutnya kehilangan. Kolokan bangeeet. Ckckckck…

And so on… Akhirnya, tiba juga.

Hari ini perpisahan dengan anak-anak kelas sembilan. Huuft, perpisahan yang paling menguras fisik, hati, jiwa, dan pikiran ini akhirnya berjalan baik juga. Sesi demi sesi setiap acaranya berjalan dengan lancar. Alhmadulillah

Dan hmm, sangat lelah. Meskipun begitu, mengenang ruh tema ”Bersama Meraih Keajaiban” membuat hati merasa mendapat suntikan semangat lagi. Mengingat ending Miracle Teater, momen penerbangan pesawat impian anak-anak kelas sembilan. Lalu semangat para orang tua yang mengambili pesawat satu per satu. Mengenang ekspresi peran anak-anak Miracle Teater yang begitu hidup dan total, dengan pakaian seadanya, dan juga dengan beberapa hambatan kecil. Subhanallah, rasanya ingin kembali memutar kenangan seharian ini.

Bersama seluruh siswa kelas sembilan Umar, Abu Bakar, dan Aisyah… rasanya perpisahan yang berlangsung tiga perempat harian tadi itu seperti sebentar bangeet.

 

Kamis, 06 Juni 2013

Aaaa…. akhirnya anak centil yang satu ini menikah. Widia Ningsih.

Hmm, aku menyaksikan prosesi ijab kabulnya dari awal sampai akhir. Ya iyalah, lha wong aku datang berbarengan dengan rombongan mempelai ikhwannya.

Pernikahan ini cukup spesial di mataku. Karena aku bisa bereunian dengan hampir semua fasilitator ELTAPS angkatanku juga para senior. Ketemu Abah dan Ambu pula.

Padahal, awalnya hatiku sangat berat untuk datang. Idih, pasti capek banget dah badan. Cuma sehari di Bandung kondangan doang, terus udah besok pagi-paginya kudu pulang ke Karawang supaya tidak terlambat masuk sekolah. Hmm, karena pada H-2 pernikahan ada yang mengirimiku sepatu kaca dengan gliter emas yang memang khusus untuk datang ke pernikahan, jadi ya mau tak mau aku pun datang.

Alhamdulillah, jauh dari rasa lelah itu tetap saja hati merasa senang dan tenang. Bisa mampir silaturrahim menengok bayi mahalnya Mang Aji—setelah penantian harap-harap cemas tujuh tahun pernikahan kedatangan dedek Alif ini begitu diidamkan. Akhirnya, bahagia bangeeet. Rasanya pengen nyulik bayinya, deh! Habis, lucu banget sih

Dan untungnya tadi sore Mbak Umi tak jadi mengajakku ke rumah Mang Aji lewat rute tangga seribu yang dulu itu. Ampun bangetlah…. Malam ini saja berasa gempor. Bayangkan saja, dia sengaja mengajakku melewati setiap jalan yang dulunya pernah kami lalui bersama-sama. Dari ujung ke ujung bho, si gue diajak jalan-jalan sama dia. Bener-bener jalan kaki lagi. Ampuun dah! Ahahahay, senengnya juga minta ampun.

Tapi dunia serasa mendadak kaku. Jantung serasa berhenti berdetak. Waktu serasa seperti slow motion, berjalan lambat kayak kura-kura. Sewaktu ba’da setengah pengajian Aa Gym kami berencana untuk istirahat ke rumah Mbakle, begitu Mbak Le tiba-tiba menanyakan ”Si Pemberi Botol Huai Hua-ku”. Bertepatan dengan aku menjawab, ”Tidak tahu, kabarnya sih sedang ta’aruf dengan gadis lain. Entahlah…” tiba-tiba seseorang yang tengah kami bicarakan itu ada di depan mataku. Di hadapan mata kami bertiga. Aku merasakan ekstasi di dadaku serasa mau meledak. Entah terlalu kaget, terlalu tidak percaya, atau terlalu senang mendapati kenyataan bahwa orang itu kini ada di depan mataku.

”Hai.” aku melambaikan tanganku, ”Assalamu’alaikum….” dengan senyuman khas agak canggung yang sepertinya takkan pernah aku berikan pada siapa pun. Dan ”Si Pemberi Botol Huai Hua” itu sama sekali tidak berucap apa-apa. Sepertinya aku telah salah menegur orang, karena hanya sorot matanya yang tampak begitu penuh kejut dan tampilan senyum di wajahnya begitu tipis. Entah, itu senyum heran atau enggan karena tak sengaja bertemu aku. Aku tak sempat memikirkannya lama-lama karena aku keburu dimarahi oleh Mbak Laila dan Mbak Umi.

Idih, Eva… Itu tadi kaku banget, deh.”

”Bukan kamu banget! Sayang banget tahu. Udah lama gak ketemu, pas ketemu cuma bilang hai dan salam doang….”

”Itu sudah lebih dari cukup, Mbak. Singkat begitu saja gak dia balas apa-apa tadi. Nanti kalau banyak obrolan malah gak bagus, kesannya aku sok dekat dan agresif banget. Lagian aku jamin, dia juga pasti sama kagetnya kayak aku. Terus dia pasti capek banget deh bawa koper gede banget gitu. Perjalan jauh, mungkin….”

”Eeh, ngomong-ngomong kok dia ada di sini, sih? Nah lho, pertanda apa ini ya, Va?” tanya Mbak Le kemudian.

Aku mengendikkan bahu. Lalu menggandeng sebelah-sebelah tangan Mbak Le dan Mbak Umi. Rasanya ingin segera sampai kosan.  

Entahlah. Kami sama sekali tidak merencanakan ini. Apalagi bertemu tepat di depan Toko Jilbab Aulia Gerlong. Tempat yang sama ketika aku dan teman kuliahku memberinya mawar merah dulu usai acara wisudanya, tempat dulu ia pamit untuk pergi jauh. Aah, tempat ini terlalu banyak menyimpan kenangan.

”Gimana perasaan kamu setelah lama tak bertemu, sekarang ketemu lagi, Eva?” canda Mbak Le. Aku tersenyum.

Aaah, mungkin ini yang dinamakan bertemu untuk berpisah. Semoga berpisah pun untuk bertemu kembali, dengan seseorang yang baru. Mungkin. Dalam hal ini, aku tak pernah berani berharap agar pintu lama yang sudah benar-benar tertutup rapat terbuka kembali.

Selamat jalan kenangan. Sampai jumpa masa depan….

 

Kamis, 13 Juni 2013

Kesedihan ini benar-benar jadi kilang air mata.

Gak mau pindah kelompok liqa. Gak mau pisah sama Ummi Rayhanah. Gak mau pisah sama kelompok Fathimah Az-Zahra. T_T

Ya Allah, kenapa ketika aku sudah merasa nyaman dan dekat banget dengan kelompok atau seseorang, perpisahan selalu saja datang….

T_T

 

Sabtu, 15 Juni 2013

Masih ingat dengan Woo Dal Chi? Tahu enggak, aku nonton The Faith lagi. Lebih mengena deh The Faith yang kedua ini. Dan aku ingin bilang, 22 Juni adalah tanggal lahir kalian berdua. Kalau tidak salah ingat, 22 Juni 1988 juga lahirnya si Bang Minho…

Parah! Anak ini betul-betul lebih banyak tahu dari aku. Perihal dia menonton The Faith lagi saja sudah membuatku panas. Tambahan pula dia menambahkan kalau tanggal kelahiran kami sama. Tentu saja itu membuat aku semakin terbakar. Terbakar rasa ingin tahu yang besar. Aah, jadi kepo banget nih! Bawaannya ingin tahu semua tentang Jendral Woo Dal Chi, Lee Min Ho. Fighting!

 

Ahad, 16 Juni 2013

Semingguan ini jadwalku padat merayap. Momen Class Meeting OSIS yang otomatis di bawah alur kendaliku sebagai Pembina OSIS. Mulai bangkit lagi juga, jadi betul-betul merangkak lagi dari awal. Semuanya dimulai dengan niat yang sangat keras. Ingin kembali dekat kepada Allah. Lalu jalan kedekatan itu betul-betul Allah buka lebar-lebar. Aku didaftarkan kelompok mengajiku untuk bersama-sama mengikuti Musabaqah Hifzhil Qur’an QS. Yasin: 1-36….

Masya Allah. Aku dibetot-betot perasaan ingin bergabung dengan tim Mentari Ilmu. Ingin yang sangat. Namun, Allah berkehendak lain, Allah punya rencana lain yang indah. Mungkin. Aku pun memilih bertahan setia dengan kelompok pertama yang telah mendaftarkan namaku tersebut. Kelompok mengajiku, Kelompok Fathimah Az-Zahra.

Jujur saja, ada rasa takut yang hebat dalam hatiku. Bagaimana kalau aku lupa, bagaimana kalau aku belum hafal? Dengan keterbatasan hafalanku yang tak terlalu dhabit seperti Ustad Iik atau teman-teman lain di kelompok mengajiku. Terakhir, setor hafalan saja, aku baru sampai ayat dua puluh tujuh.

Akhirnya, aku melakukan berbagai cara. Menandai dengan bolpoin tinta hitam dan merah untuk setiap penjedaan kata-kata sulit yang suka belibet kalau dihafal. Bertanya batas-batas pemberhentian terbaik kepada Ustad Iik. Minta dukungan doa dan motivasi dari Ustad Dadan, para murid, dan kedua adik kandungku. Muraja’ah mandiri di depan anak-anak OSIS dan MPK sepulang sekolah. Memakai bacaan surat yang dihafal dalam setiap regulasi waktu salat. Alhamdulillah, progres hafalanku lumayan. Rasa percaya diriku meningkat.

Namun, o-oo…. Aku harus mengerem niat juga ambisi. Sempat speechless adalah ketika mendapat pertanyaan dari Ustad Iik.

”Sebenarnya apa sih, niat dan tujuan Bu Eva ikut lomba Tahfizh ini?”

”Apa ya Ustad, hmm saya diajak teman liqa. Dan hmm, jujur sih… ya, kita pasti berniat ingin menang juara 1. Kalau bisa itu juga…”

“Kalau sudah menang dan dapat juara, terus buat apa?” o-oo. Filosofis dan jleb.

“Jadi saya menyetting niat ikut Tahfizh ini sebaiknya untuk apa, Ustad?” tanyaku polos. Sumpah, aku benar-benar ingin tahu niat yang baik untuk hafalan Al-Qur’an itu seperti apa.

“Ya, niatkan saja untuk menguji kemampuan diri yang sudah Allah beri. Bukan diniatkan untuk menang atau juara dapat piala… Karena Al-Qur’an itu tidak mau diduakan Bu Eva. Sekali Bu Eva duakan, pasti bakalan susah banget. Jadi niat harus total, muraja’ah juga harus total. Jangan Bu Eva jadikan hafalan Al-Qur’an sebagai sambilan…”

Naah, makin maknyes di hati kaan. Oke, ini penting. Ini sangat mendesak. Aku pun mem-forward perkataan Ustad Iik tersebut lalu aku kirimkan kepada semua tim mengajiku.

Ya Allah, mudahkan kami dalam menghafal Al-Qur’an. Akhirnya, hanya ini niat yang bisa kami setting dalam hati masing-masing kami. Kami sepakat, untuk tidak mengejar kemenangan atau juara duniawi. Kalau menang yang haq, biar Allah saja yang memberikan surga untuk kami di akhirat nanti. Apalagi mengingat kelompok kami baru berlatih Sabtu sore. Itu pun dengan kordinasi pemenggalan ayat, kompromi yang paling banyak aku lakukan karena nafasku ternyata paling pendek, dan aku sering salah kalau muraja’ah bersama-sama. Alhamdulillah-nya, kami tak lupa mengimunikasikan tenggat waktu tampil dan kostum untuk hari H esok hari juga kehadiran yang kami atur lebih pagi agar bisa berlatih berkali-kali di dekat masjid Pemda Karawang.

Dan rencana Allah memang indah. Ini ternyata adalah kebersamaan lomba pertama sekaligus terakhirku karena ternyata sebagai pementor ADS aku mesti disatukan mengaji dengan para pementor ADS lain, biar kapasitas otak dan kapabilitas mentoring kami sepadan. Mungkin… Tapi jauh dari semua kenyataan ini, aku bersyukur. Untung, aku lebih dulu didaftarkan oleh kelompok liqaku. Aku berjanji untuk memberikan semua kemampuan terbaik yang aku miliki untuk lomba ini. Ooh, tidak. Untuk kemampuan yang sudah Allah berikan.

Dan rencana Allah memang selalu lebih indah. Alhamdulillah, kelompok kami lancar dan dimudahkan sekali ketika tampil menghafal. Makhraj kami kompak, penjedaan sesuai kesepakatan, kami diberi kepercayaan diri yang baik oleh Allah, semua ayat terlantuntan sesuai semestinya, dan waktu tampil kami tidak lebih dari sepuluh menit karena hanya sampai 00:08:02 bacaan hafalan kami rampungkan. Apresiasi kelompok tahfizh lain usai kami tampil juga penuh ucapan selamat, pujian, dan doa-doa positif. Rasanya, kok banyak sekali ya yang mendoakan kami jadi pemenang. Alhamdulillah.

Dan rencana Allah memang selalu yang paling indah. Kami kelompok Fathimah Az-Zahra yang tampil pada urutan kelima mendapat nikmat yang tidak kami sangka-sangka. Juara terbaik I. Subhanallah…. Terima kasih Ya Rahman, terima kasih atas doa para panitia di meja pendaftaran, terima kasih untuk semua yang turut memotivasi dengan doa-doa kebaikan.

Ya Allah, tumbuhkan rasa candu di hati kami terhadap Al-Qur’an… untuk mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an….

 Image

 Sabtu, 22 Juni 2013

Bangun dini hari, pukul 01.39 WIB. Subhanallah, udara dingin menyapu wajah.  

Bunyi SMS di-HP terdengar ramai. Inbox di FB meluber. Tengah malam begini. Ada apa?

Semua pesan di HP dicek satu per satu. Mengucapkan doa-doa milad, subhanallah. Iya ya, aku milad. Maklum, bangun tidur jadi otak sadar baru ON. Subhanallah. Banyak doa baik dari keluarga dan rekan. Senangnya, adikku mengucapkan selamat dan doa pada urutan pertama. Harta yang paling indah adalah keluarga. Love it bangeeet!

FB, ramai doa. Sama semua, mengucapi selamat milad. Rasa rindu di hati untuk bertemu dengan Ilahi makin terasa nikmat. Alhamdulillah, masih diberi nikmat usia hingga seperempat abad. 25 tahun yang ditunggu-tunggu. Semoga menjadi kebaikan dan kebahagiaan untuk semuanya. Semoga hati, jiwa, pikiran, dan keseluruhan diri senantiasa ON untuk terus terbuka dalam kebaikan jalan yang diridai Allah.

Siangnya, pemotongan kue syukuran… Bersama guru-guru MEKAR. Lalu dikerjai para siswa Khadijah dan mendapatkan kado—yang tak dinyana dari seorang wakil presiden OSIS. Ujung-ujungnya, blackforest yang sudah kupotong dipalak juga oleh anak-anak… Alhamdulillah, Allah masih memberikan rezeki yang baik untuk senantiasa berbagi pada sesama. Berbagi itu indah.

Menjelang sore, menghadiahi diri dengan investasi buku. Membeli buku-buku best seller-nya Ippho Right Santosa, Jamil Azzani, dan Munif Chatib. Hati dan pikiran adalah sebuah alat untuk mendekatkan diri pada Ilahi. Tentunya, harus diberi nutrisi. Buku adalah jendela ilmu yang akan membuka jalan terang kedekatan itu.

Pulangnya. Entah mungkin karena 3 malam begadang berturut-turut menggarap buku PKN Plus (Bina Karakter Siswa), otak serasa renyek. Tanpa dinyana, aku disemprot tukang angkot. Hmm, dua tahun lalu—saat tahun pertama milad di Karawang—disemprot takmir masjid alun-alun Karawang karena duduk di selasar masjid dan tidak salat Magrib. Lha, gimana mau salat orang lagi dapat jatah dispensasi. Takmirnya sok tahu sih, bukannya bertanya dulu baik-baik main semprot aja.

Loveable banget, kan? Ayoo, siapa yang pernah mengalami hal-hal spesial menjelang hari ulang tahun atau saat hari ulang tahun berlangsung? 

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s