Cemburu Oooh Cemburu

Aku terkejut. Anak itu tiba-tiba menelungkupkan wajahnya ke pangkuanku. Badannya menggelosor tiba-tiba dan  cukup lama ia bertahan dalam posisi begitu. Lama, tangannya memelukku. Pelupuk matanya basah dan berlinangan air. Ia menangis.

”Lho… Lho, kok menangis, Non? Ada apa?” tanyaku pelan-pelan.

”Enggak, Bu. Enggak ada apa-apa.” ia geleng kepala sembari menyeka kedua matanya. Seorang anak perempuan suka begitu. Sedang terjadi apa-apa yang menyabet ketentraman batinnya, tapi selalu bisa bilang tidak apa-apa.

Aku tersenyum menenangkan. Sesungguhnya, aku bingung. Mendapati dua perasaan ganjil, antara tersenyum dan sedih karena melihat anak didik yang aku sayangi menangis. Keadaan yang bisa dibilang membuat galau. Hhhh…

Lantas, anak yang kata banyak orang mirip denganku itu—bahkan ibu kandungnya sendiri bilang—memelukku lagi. Menangkupkan wajahnya dalam-dalam di pangkuanku kembali.

Rasanya mengajar di kelas ini membuat aku seperti ibu kandung mereka beneran, deh!

Dan aku yakin. Pasti telah terjadi sesuatu yang mengganggu ketenangan hati dan pikirannya. Sesuatu yang berhubungan dengan soulmate mengajarku. Pak Guru. Ada kejadian apa lagi ya?

”Gak apa-apa. Sabar ya…” ujarku sembari mengusap-usap kepala dan punggungnya.

Sumpah, deh! Aku sebenarnya salah tingkah juga. Sedikit. Ya, aku kan tidak sedang berada dalam posisi santai. Ketika anak itu menangis tiba-tiba di pangkuanku, di kelas Az-Zahra aku tengah memberikan bimbingan khusus pembelajaran Bahasa Indonesia untuk anak-anakku lainnya yang perlu di-upgrade lebih mendalam secara pemahaman. Anak itu spontan saja masuk kelas lalu badannya menujuku. Tanpa kunyana.

***

Aku keluar kelas. Masih dengan gurat-gurat tanya. Apa sih kejadian yang membuat anak itu begitu sensitif hingga sampai menangis? Aku penasaran sekali.

Uah, mana panasnya matahari pukul dua siang minta ampun… Aku sedikit berlari untuk bersegera menuju kantor.

Di depan meja penerima tamu yang bertuliskan Guest Room Only, aku melihat sesosok guru lelaki itu sedang begitu khidmat menyimak dan memerhatikan dua orang siswa akhwat yang tengah berbincang kepadanya. Curhat segitiga. Pak Guru, Savira, dan Achi.

Ooh, pantas! Pantas saja, tadi anak itu sampai menangis begitu. Rupanya, ia cemburu yang sangat karena guru yang begitu dipuja dan diidolakannya akrab dengan kedua teman sekelasnya. Benar kan analisis estimasiku sebelumnya. Pasti ada hubungannya dengan Pak Guru.

Aku pun langsung menyambangi Miss Soulmate. Menceritakan sekilas apa yang tiba-tiba terjadi barusan ketika aku bimbingan di kelas. Walah-walah… Miss Soulmate malah jadi naik timbre suara. Ia menjadi sedikit sewot juga dengan sikap Pak Guru. Katanya, Pak Guru terlalu baik pada anak-anak.

Aku? Aku sih, santai saja. Tidak terlalu ambil pusing. Lho, kan memang secara personal aku tidak bermasalah dengan Pak Guru. Jadi ya aku take it easy saja. Aku malah meminta Miss Soulmate untuk memelankan intonasi bicaranya. Menjaga perasaan Pak Guru juga kan. Pak Guru itu tampaknya orangnya begitu perasa.

Yaaa, namanya juga manusia. Beda kepala, beda pemahaman. Beda pula gaya kepemimpinan juga cara berinteraksinya dengan orang. Gak lucu kan kalau semua orang di dunia ini kepribadian, sifat, dan sikapnya justru sama semua? Gak unik. Gak ada nuansa warna dan rasanya! Monoton habis deh pastinya…

***

Bukan. Itu bukan berarti aku membela Pak Guru. Memihak Pak Guru dan menafikkan apa yang dikatakan Miss Soulmate. Aku justru berdiri di rel pendapat yang sama dengan Miss Soulmate. Bahwa Pak Guru memang terlalu baik dengan anak-anak, kadang-kadang lebih sering begitu. Aku bahkan menambahkan dengan statement hasil pengamatanku sejauh ini—aku sudah mengatakannya langsung kepada Pak Guru—bahwa Pak Guru juga cenderung permisif, susah menolak, dan tidak tegaan. Meski di sisi lain, Pak Guru memang sosok yang sangat baik, menyenangkan, menenangkan, pendengar setia, penyayang, cerdas, tenang, dan sabar di mata anak-anak.

Aku tahu itu. Selain banyak anak yang suka memberitahuku secara tiba-tiba, aku juga sudah bisa membacanya sejak awal kami bertatap muka. Aku pernah selama dua tahun belajar Personality Plus di sekolah kepribadian dari ELTAPS bersama fasilitator ELTAPS yang ada di Perusahaan Biofarma. Untuk membaca karakter seseorang berdasarkan raut muka, kontur jari-jemari, dan nada suara adalah hal yang sangat mudah serta sudah biasa bagiku.

Pak Guru memang harus tetap menjadi dirinya sendiri. Seperti yang diujarkan Kanjeng Mami Ani—guru Sejarah di sekolah ini. Aku juga sepakat. Dan sekarang letak persistensinya, seberapa besar kadar kita menjadi diri sendiri itu? Dalam pandanganku, sejadi diri sendirinya kita ya kudu tetap dikendalikan juga. Dibatasi. Ambang batasannya kudu tetap senormal mungkin dan sewajarnya. Karena aku pikir kalau terlalu menjadi diri sendiri juga justru akan menjadi bumerang untuk kita sendiri nantinya.

Tidak, tentu saja ini tidak akan seperti buah simalakama untuk Pak Guru. Orang dengan cord-character yang melankolis-plegmatis atau sebaliknya, setahuku cerdas dan nyaris selalu punya cara yang benar sekaligus mudah dalam mengatasi setiap persoalan hidup. Pak Guru akan menemukan jalan keluarnya. Jalan tengah yang terbaik. Semoga saja.

***

Angin senja begitu kencang. Tak menyurutkan langkahku untuk menuju ke Bank Mandiri. Secara, aku harus segera mentransfer uang ke PT Orindo Alam Ayu melalui bank tersebut. Kapan lagi coba kalau bukan sore ini. Mumpung ingat dan aku sempat.

Setelah transfer, aku memutuskan langsung pulang. Sepertinya bumi hendak kejatuhan hujan angin. Aku sedang tidak berkenan mendapati hujan membasahi tubuhku di jalanan. Aku pulang dengan langkah gegas dan bisa dibilang cukup terburu-buru.

Sembari berjalan, aku meminta kiriman pulsa pada agen pulsa langgananku. Selanjutnya, meng-SMS anak itu. Mengklarifikasi tangisnya tadi siang, menemukan hubungannya dengan forum hangat di ruang tamu yang aku lihat siang tadi juga.

Huuaaa, aku sontak begitu membaca balasan SMS dari anak itu. Kalimat per kalimat anak itu… kalimat yang histeris! Penuh nada jealous. Kecemburuan, prasangka, dan rasa sakit hati. Merinding, geli, sekaligus prihatin membacanya. Kasihan, sampai sebegitu mendalamnya rasa sukanya pada rekan mengajarku. Ckk.. ckk.. ckk.. Anak-anak SMP zaman sekarang ya…

Aku menenangkannya. Memujinya, memberinya saran. Mengangkatnya lagi lalu memberinya masukan kembali.

Aku perempuan. Aku pun seorang ibu kedua untuk anak-anak didikku. Aku juga pernah menyukai seseorang—walaupun alhamdulillah tak sampai semendalam rasa yang dimiliki anak itu.

Aku mengerti perasaan anak itu. Aku paham dengan baik apa dan bagaimana rasa cemburu ketika sudah menjelma di dalam dada. Cemburu karena orang yang kita sukai dekat atau didekati oleh perempuan yang lain. Aku juga sempat merasakan hal yang sama, dulu sekali. Setiap perempuan juga pernah pastinya. Sekarang tinggal bagaimana cara kita menyikapinya. Solusi! Temukan solusinya.

Lagi pula Pak Guru-nya juga lempeng.com dan memang ramah dengan siapa saja. Jadi, kenapa tidak ikuti saja pola kartu yang dijalankannya? (Hehe… anak SMP sudah paham belum ya tentang pola kartu ini?)

Aku memberikan dua tawaran kepada anak itu. Alamiah saja. Pada prinsipnya begini. Pertama, kalau memang anak itu siap melepaskan Pak Guru, berarti lupakan semuanya. Kedua, kalau belum siap melepaskan, berarti kudu tahan banting. Emosi ditata secantik mungkin.

Anak itu tidak siap dengan kedua pilihan yang aku tawarkan. Terus mau bagaimana, dong? Masa, mau meminta semua teman-teman akhwat-nya untuk tidak lagi dekat dan curhat dengan Pak Guru? Lha, pastinya banyak juga anak-anak lainnya dari kelas tujuh dan delapan yang dekat dengan Pak Guru. Memang sudah bawaannnya Pak Guru menyenangkan ya pasti banyak yang mau dekat, kan…

Aku menegaskan tawaran yang kedua lagi. Tahan banting emosi. Apa sih maksudnya, aku juga bingung sendiri. Cuma ya pakai logika sajalah. Untuk anak dengan tipe begini, menjauhi Pak Guru memang pasti sangat berat. Mana mungkin, lha wong ketemu saja setiap hari sekolah, kok! Tambahan pula namanya juga orang suka, ya pastinya ingin dekat-dekat teruslah…

Jadi, mau tidak mau kalau anak itu tidak siap melepaskan, ya harus rela menanggung risiko, dong! Risiko yang harus anak itu tanggung karena telah memilih menyukai orang sebaik Pak Guru. Pilihan kedua. Dia harus belajar mengendalikan rasa cemburunya. Sebijak mungkin.

Kasihan sekali ya anak itu. Itu mungkin pilihan yang agak pahit dan memprihatinkan. Ya, semoga saja dengan kesabaran yang dimilikinya, akan menghasilkan buah yang manis juga ujung-ujungnya.

”Sudah. Tenang saja tho, Nduk. Kalau memang jodoh kita, pasti akan jadi milik kita juga.” hiburku akhirnya.

Ooh… Syukurlah. Akhirnya, kalimat sumringah anak itu kembali lagi. Setelah aku berikan ending pembicaraan dengan kalimat begitu.

Aku lega.

 

Sokaguro, 21 Maret 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s