Before I Forget

“Sial!” rutukku pada Mas Harry yang tengah memasang jas almamater perkuliahan di badannya. Di ruang TV, tempat kami biasa bercengkrama bersama Sembilan orang teman KKN lainnya.

“Ada apa?” tanyanya kemudian, ingin tahu.

“Barusan aku dijebak. Ternyata aku disuruh datang ke sekolah itu cuma modus. MODUS, Mas! Kamu tahu?” matanya yang meneduhkan itu menatap ke kedalaman bola mataku. Hangat.

“Modus bagaimana, Cherie? Seperti apa jebakan itu, jelaskan padaku. Mungkin aku bisa membantumu.”

“Pastinya! Dan kamu memang harus membantu aku, Mas…” mataku mengerjap lemah. Aku bahkan sedikit putus asa kali ini.

Setelah aku jelaskan sedikit panjang lebar, Mas Harry mengangguk paham. Mas Harry bahkan tampak sangat tertarik kali ini. Padahal, biasanya ia hanya tersenyum dikulum, tidak terlalu banyak berkata-kata. Pembawaannya memang kalem, anteng, dan begitu terkendali. Berkebalikan denganku yang serba hidup dan ekspresif, tentunya.

“Kali ini, kamu ikuti saja apa rencanaku, ya. Aku akan membantumu. Dan aku kira cara ini pasti jitu. Setidaknya, untuk saat-saat genting seperti ini. Oke?” aku mengangguk menyetujui.

Aku sebenarnya sangat ingin tahu, apa yang direncanakan Mas Harry. Tapi aku ingin bersabar menikmati dulu proses rasa ingin tahu ini diendapkan. Toh, Mas Harry tidak akan membunuh karakterku atau bahkan mencelakakanku sedikit pun. Sejauh ini, ia selalu melindungi aku. Di balik sikap antengnya yang cool abis itu.

Jadi ya, sepanjang perjalanan dari posko KKN menuju sekolah tempat para KKN-ers Berbasis Sekolah melakukan praktik mengajar selama kurang lebih empat puluh hari kedepan itu, aku menjelaskan betapa menyebalkannya situasi yang terjadi. Dan sekarang? Oh mati aku! Mas Harry yang cool dan gentle itu malah mengajakku kembali ke sekolah.

“Tapi nanti kita akan ketemu Menwa, bagaimana? Nanti aku pasti dipaksa untuk bertemu dengannya. Dan aku akan kabur. Lalu membiarkan Mas Harry saja yang bertemu dia.” kataku sedikit panik.

Aku benar-benar tidak menyukai Menwa itu. Dan teman-teman seposko-ku sekaligus Bapak-Ibu asuh pemilik poskoku selalu saja mendorongku untuk bisa bersama Menwa. Dan aku kurang suka, dengan usulan-usulan konyol semacam itu. Uuh, gara-gara malam itu!

 Begitu sampai di depan gerbang sekolah.

“Cherie, nanti harus berjalan terus di sampingku. Jangan kemana-mana, ya…” katanya mengingatkan aku yang memang tak pernah bisa diam. Atau karena aku selalu ingin melihat-lihat ke semua penjuru tempat yang dirasa unik dan mengundang sejuta ingin tahu.

Misi kembali ke sekolah ini, terlanjur sulit ditebak. Apa sih yang sebenarnya Mas Harry rencanakan. Gila! Aku deg-degan sendiri dibuatnya.

Aku pusing dengan suara kemruyukan anak-anak yang tengah mengerumuni sesuatu. Mas Harry mengajakku ke arah suara kemruyuk anak-anak itu. Aku tersenyum ketika mendapati tim KKN-ers berbasis Lingkungan Hidup dirubungi anak-anak SD kelas satu hingga kelas enam, karena begitu lihai tangannya melukis tong sampah. Menyulapnya jadi tabung sampah yang  begitu full colours, sangat indah. Aku tersenyum menikmati Mas Harry yang juga tampak khusyu menikmati. Baginya yang mengambil Jurusan Mahasiswa Arsitektur, tentu hal ini sangat menarik.

Tiba-tiba kerumunan yang kemruyuk itu buyar. Bubar semua. Aku terpisah dari Mas Harry. Aku bahkan tidak ingat kalau aku tadi datang bersamanya. Kali ini aku memilih berjalan sendiri melewati lorong panjang sekolahan. Tercium bau rumah sakit yang menyengat karena memang letak lorong panjang ini bersebelahan dengan gedung rumah sakit. Ooh Tuhan! Rasanya aku mau semaput. Pingin pingsan, aku tidak tahan dengan sengatan tajam bau obat-obatan rumah sakit.

“Hai!” sapa seseorang.

“Chyeee!” Aku paksakan untuk tersenyum, teman-teman lain yang ujug-ujug datang di antara kami menyorakiku. Anak-anak Berbasis Sekolah dan Lingkungan Hidup. 

Ya. Ini karena aku disapa Menwa. Wajah Menwa yang sumringah, membuat aku jengah. Aku kali ini baru mengingat Mas Harry. Di mana Mas Harry? Tolong Tuhan, datangkan Mas Harry segera.

“Cherie!” panggil Mas Harry sedikit khawatir. Mas Harry lalu menyambangiku. Pandangan matanya bertukar lama dengan bola mata Menwa. Ada nada-nada kurang suka yang terpancar dari bola mata Mas Harry. Sepertinya ia cemburu, benarkah? Rasanya, bukan semata-mata karena aku… Ada Shena yang secara nyata mengaguminya dan selalu bisa mengambil hati dengan masakan-masakannya yang luar biasa.

“Ya ampun Mas Harry, kemana aja? Hampir saja aku…” protesku padanya begitu kami pulang dan berjalan bersisian.

“Kamu gak apa-apa, Cherie? Maaf ya, tadi ketemu Vianda. Terus dia ngajak keliling. Katanya, ada anak-anak yang pengin ketemu, buat kursus Bahasa Inggris selama kita di sini.”

“Tadi aku pusing banget. Bau rumah sakit. Terus tiba-tiba ketemu Menwa. Iih, abis deh aku diledeki teman-teman! Untung aja cuma sebentar soalnya kan ada Mas Harry langsung muncul…” aku tertawa.

“Yap. Setidaknya, misi kita berhasil.” Ujarnya puas.

“Misi yang mana, nih?” tanyaku menyelidik, penasaran.

“Mengajakmu berjalan bersama di depan Menwa. Di depan teman-teman juga…” aku melongo. Terpana.

“Ya ampun! Jadi tadi semua itu bukan alamiah ya… Jadi semua rekayasa. Ya ampun! Mas Harry sumpah, kamu cerdas plus nyebelin abis.” ujarku tanpa henti yang disambut dengan pecah tawanya.

 Tidak kusangka sama sekali.

***

Semua sedang sibuk membicarakan seseorang. Depi Purnama. Namanya sekilas sih, mirip-mirip sedikit dengan teman sekelasku di bangku perkuliahan. Tapi kesannya, Ya ampun… sangat menyebalkan! Memangnya tidak bosan apa setiap malam, selama sudah tinggal empat belas hari di sini nama itu melulu yang jadi tema perbincangan. Bête banget, dehh! I’m running out of patience… Mending juga aku masuk kamar, membaca buku, batinku.

“Cherie mau kemana?” tanya Mas Harry tanpa kunyana.

“Mmh, masuk kamar aja. Bosan. Habis orang itu mulu yang dibahas.”

“Ya ampun, Cherie! Kamu itu jadi cewek lugu banget, sih…” kata anak-anak yang lain, semua lalu pada tertawa.

Mas Harry mengikuti langkahku. Berjalan ke arah dispenser di samping kamar, mengambil segelas air.

“Nanti kalau Cherie udah gak bosan, keluar ya. Kita nobar film Hollywood malam ini, seru deh…” pinta Mas Harry setengah berbisik. Aku tidak mengiyakan, tidak menolak. Senyum cuek saja malah.

“Chyee! Mas Harry diam-diam ngajak si Cherie nonton niye…” olok-olok Tyon yang tak sengaja lewat di depan kami berdua. Sama-sama mengambil segelas air.

“Dasar resek ih. Kalau Tyon mau nonton, nonton aja gih sono bareng Mas Harry. Hweee.” aku menjulurkan lidah sebal. Lalu menutup pintu kamar.

***

Pagi-pagi. Aku me-MC teman-teman yang pada request untuk dibangunkan salat Subuh berjamaah. Jiah! Mas Harry mungkin saking khusyunya mendapati hape berdering, malah kontan mengangkat MC-ku. Alhasil pulsaku amblas tiga ribuan.

“Lain kali, kalau aku MC gak usah diangkat dong, Mas. Itu cuma MC doang kali, gak usah seneng banget gitu terima telfon aku. Akunya jadi geer banget nih. Lagian siapa coba yang minta dibangunin buat Subuh bareng-bareng. Yang lain aja kagak diangkat…” aku mengomeli Mas Harry sebegitu kami menjalani piket memasak bersama-sama.

“Maaf, Cherie….” ujarnya tersenyum malu-malu.

“Sekali lagi diulangi, aku gak akan mau bangunin Mas Harry lagi.” ancamku setengah bercanda.

Anak-anak yang melihat laku kami kontan pada tertawa.

“Cherie, mau masak apa?” tanyanya kemudian.

“Enaknya masak apa ya, Mas?” aku balik bertanya.

“Udah Cherie, pagi ini biar Bunda aja yang masak. Bapak katanya kangen masakan Bunda tuh…” tawar Bunda padaku.

“Tuh Mas, Bunda yang masak. Jadi kalau mau request, bilang langsung aja ya sama Bunda…” kali ini aku sembari mencuci piring ketika mengatakannya.

“Cherie, tetap masak sayurnya aja, bisa kok. Coba lihat di kulkas, masih ada sayur apa aja? Lauknya sekarang biar Bunda aja yang belanja.” Mas Harry tersenyum mendapati fakta bahwa aku tetap bisa memasak pagi ini.

Aku pun mengerahkan pasukan untuk menyiangi bayam—memisahkan daun bayam dan batangnya yang masih layak untuk dimasak—, mengupas bawang merah plus bawang putih lalu mencincangnya, mengiris cabai merah panjang dengan bentuk persegi, dan tak lupa mempreteli jagung muda dari bonggolnya dengan pisau sayur. Menu sayur pagi ini adalah tumis bayam cah jagung. Sambil menunggu belanjaan Bunda dari pasar.

Mas Harry tentu saja tidak aku perbolehkan memasak. Aku akan sedikit risih jika ketahuan diam-diam diamati. Mas Harry, Tyon, dan Irka pun melakukan apa saja yang bisa meringankan pekerjaan kami, membereskan alat-alat main Nun di ruang TV, menyapu semua ruangan, mengepel ruang tamu dan beranda depan, membersihkan lapangan di beranda belakang rumah, tempat kami sore hari biasa berlomba main bulu tangkis. Aku senang sekali melihatnya begitu bersemangat setiap kali jadwal piket harian menyambangi jatah kami.

Saatnya makan berjama’ah

Aku menunggu dengan harap-harap cemas komentar Mas Harry dan teman-teman terhadap menu masakanku pagi ini. Menu baru yang baru kali ini seumur aku hidup aku coba. Tumis bayam cah jagung.

Bagaimana aku tidak cemas, setiap kali jatah giliran memasak tiba, setiap kali itu juga aku puasa. Tanpa bisa kucicipi sedikitpun, aku mencoba untuk tetap konsentrasi memasak. Pantherai—nikmati, prosesnya mengalir saja—begitu orang-orang Yunani bilang. Ini mau tidak mau karena aku selalu jadi andalan timku. Kebetulan jadwal piket harian ini kami bagi dua. Satu adalah kelompok minoritas yang terdiri atas aku, Mey, Nci, Mas Harry, dan Irka. Dua adalah kelompok dominan alias mayoritas yang terdiri atas Shena, Achra, Vianda, Echa, dan Tyon.

Tapi anehnya, Tyon selalu saja membantuku selama kelompokku mendapat jatah piket. Tyon bahkan dengan rela memasakkan kami menu baru, pas aku kembali ketiban jatah puasa. Orang-orang baik ini… Syukurlah.

“Masakannya enak deh, Cher! Aduuh, jadi pengen nambah lagi…” ujar Nci.

“Ya ampun suer, Cherie! Ini masakan yahuut banget!” puji Tyon.

“Cherie, kamu tuh pintar banget masak ya… Ini enaaak banget. Makasih ya, Cherie…” kali ini Mey.

“Tuh, lihat! Nun makannya semangat banget. Sayurnya enak sih… segeeer!” Bunda juga tak kalah memuji.

Yang lain pujian dari Echa dan Vianda. Juga Irka. Kalau Shena dan Achra sih sudah biasa kalau tidak memujiku. Orang keduanya jelas-jelas kurang menyukai aku, kok! Keduanya sama-sama jago masak. Dan awal-awal aku memasak, suka sekali meremehkan aku. Aku sejujurnya sedikit ngenes dibuat keduanya, tapi bahkan Bunda sama Bapak pun mendukung kreativitasku.

“Cherie, kalau masak itu jangan ragu-ragu. Orang kalau masaknya pakai hati, pakai cinta yang tulus dari hati, meski bumbunya sama kayak orang kebanyakan, taste-nya pasti beda. Kenaa banget di hati. Kayak masakan Cherie ini…” pesan Bunda pemilik rumah KKN kami suatu ketika.

Tinggal komentar dari Mas Harry nih, batinku. Sederhana sajalah, aku akan tambah senang setidaknya kalau dia bilang masakanku kali ini benar-benar ada kemajuan.

“Mmh. Masakan Cherie lumayan.” katanya tanpa kuminta, sewaktu aku tengah merapikan piring-piring di rak perabotan.

“Apa, Mas? Boleh diulangi lagi?”

“Sayur masakan Cherie pagi ini lumayan…” aku ternganga. Ya ampun! Sebegitu enaknya kata orang-orang buatnya cuma lumayan? Apa aku tidak salah dengar?

“Cuma lumayan?” desakku sedikit tidak terima.

“Iya. Ibu juga suka bikin menu begini kalau di rumah. Ini menu kesukaanku.” Ouch! Aku terharu mendengar kalimatnya kali ini.

“Mmh, jadi lumayan kalau dibandingkan dengan masakan Ibu. Kalau itu sih aku percaya deh, gak usah pakai dibandingkan juga. Apalagi seorang ibu itu kan pasti penuh cinta kalau masak untuk anak-anak dan suaminya.”

“Ibu juga buka katering kue dan makanan berat begini di rumah…”

“Nah! Apalagi begitu. Ya jelas, ibu pasti nomor satu.”

Mas Harry melanjutkan acara makan paginya. Kali ini ia nambah. Waah, aku senang sekali. Lusa pagi masak menu baru apa ya?

***

Rabu pagi. Pada hari berikutnya.

Mas Harry protes dengan nadanya yang masih begitu lembut tentunya. Ia menyuruhku mandi duluan.

“Cherie, kan kamu tahu aku mandinya lama. Nanti kamu kelamaan nunggu lagi. Kan, jadi gak enak…” pintanya memohon pengertianku.

“Gak apa-apa, sekali-kali menunggu Mas Harry mandi duluan. Pokoknya, Mas Harry sekarang juga harus mandi. Usahakan secepat mungkin. Kenapa aku minta Mas Harry duluan? Tanya dong, kenapa…” godaku usil.

“Iya, kenapa?” tanyanya pasrah.

“Karena aku mau, Mas Harry tuh tahu, kalau ada aku yang nunggu Mas Harry di luar. Jadi Mas Harry jangan pake kamar mandi ini lama-lama. Oke?” aku menantang.

“Nanti kalau lama banget gak apa-apa buat kamu?”

“Gak akan! Mas Harry gak akan tega lama-lama. Kan, tahu ada aku yang lagi nunggu di luar. Tenang aja, kalau lama, pasti aku gedor. Siap-siap aja gak tenang…”

“Ya ampun, Cherie….”

“Ayo, buruan…” dan Mas Harry sekarang sudah masuk kamar mandi. Aku melanjutkan menyetrika pakaian di kamar. Memangnya, aku benar-benar menunggunya di depan kamar mandi apa? Gila! Kurang kerjaan kali itu mah!

Lima belas menit, belum juga Mas Harry keluar. Oh my, untung saja begitu mau aku gedor, pintu kamar mandi sudah terbuka dan Mas Harry langsung tersenyum tenang dengan wajah fresh-nya. Kalau tidak, habis tuh orang aku omeli.

“Sekarang Mas Harry siap-siap. Lihat almamatermu masih tergantung rapi atau tidak, ya. Kalau tidak, segera setrika dengan rapi seperti gayamu biasanya. Begitu aku selesai, Mas Harry sudah harus rapi lho ya…” aku kali ini serius, tidak lagi setengah bercanda.

Aku beres dari kamar mandi. Nyaris saja begitu membuka pintu kamar mandi mau bertabrakan dengan Mas Harry. Ia baru saja keluar dari kamarnya. Ia sudah rapi dan wangi.

“Senang melihatmu sudah rapi sekarang. Selamat pergi mengajukan proposal ya! Sukses buat semua…” maksudku sih menitipkan semangat membara saja. Eh tapi…

“Cherie! Good, kamu ada…” teriak Vianda.

“Ada apa?”

“Ya ampun! Kamu udah mandi, kan? Kalian berdua—kamu dan Mas Harry—please sekarang juga kudu berangkat ke perusahaan daging yang semalam kita bicarakan. Mereka setuju sekali untuk menerima pengajuan proposal dan ajuan kerja sama kita. Peluang kita bakalan sangat besar kalau kamu dan Mas Harry yang menjemput donasinya.”

What?” Aku dan Mas Harry kontan saling berpandangan.

Please. Maaf banget udah mengganggu jadwal santai kamu. Padahal, kemarin kamu udah muterin seantero kota ini seharian buat tembus proposal. Karena cuma kamu yang berhasil dapat sejuta dua ratus kemarin, kami semua yakin saat ini kamu jugalah yang akan kembali menyabet dana dari perusahaan daging ini.”

“Oke. Kami akan pergi kesana. Berdua.”

“Haah! Mas Harry…” ingin rasanya aku menyikutnya yang menyetujui tanpa meminta pendapatku dulu.

“Yah. Thanks berat! Sukses deh buat perjalanan kalian berdua. Ketemu lagi nanti sore ya…” ujar Vianda setengah berlari menuju Honda Jazz-nya yang terparkir di depan rumah.

“Maas… kok, mau sama aku, sih? Kan, tadinya Mas Harry sudah janjian sama Irka.”

Nih, buktinya Ikra yang malah pergi sama Menwa. Diundang untuk menghadiri briefing terakhir buat suksesi acara Lokakarya nanti malam.” Hapenya ia angsurkan kepadaku untuk bisa kubaca.

“Aaah. Iya, deh. Aku siap-siap sekarang. Tunggu aku, ya…”

Don’t worry, Cherie. Slow down…” paparnya sembari tersenyum, menentramkan.

***

Di jalan. Menuju perusahaan pemotongan daging sapi.

Aku dan Mas Harry berjalan bersisian. 

Kami membicarakan rencana ngamen di jalan Dago, Kamis malam depan. Aku cukup senang mendengar kabar ini. Sangat malah.

“Wah, asyik. Ngamen beneran, kan? Kita nyanyi-nyanyi gitu, terus nanti sambil dapat uang buat tambahan dana proyek KKN kita begitu, kan?” Tanpa sengaja, aku berkomentar ringan. Penuh antusias.

“Iya. Memangnya nanti Cherie mau menyanyi lagu apa di sana? India?” jleb. Antusiasmeku dipatahkan oleh tuturan singkatnya.

Aku menghentikan langkahku. Memandangnya lama. Cukup lama. Udara seperti berhenti di hadapan kami.

“Ya ampun, Cherie… Kamu marah ya? Maaf, bukan maksud untuk menyindir atau meledekmu.”

It’s oke. Lagian aku gak akan nyanyi lagu India kok ketika di sana.” Kali ini aku bisa merasakan bahwa nada bicaraku sedikit datar.

“Kalau kamu mau menyanyi India juga gak apa-apa, kok. Suara kamu bagus, Cherie.”

“Oh ya? Bohong…” aku masih menatap jalan lurus sekali. Tidak sekalipun melihat Mas Harry.

“Ibu di rumah juga suka banget sama film India. Suka juga nyanyi India. Jadi Cherie itu kayak Ibuku…”

“Mas Harry…” tapi demi kulihat kami sudah sampai di gerbang perusahaan pemotongan daging, aku menghentikan bicaraku ini.

“Apa rencanamu sekarang?” tanya Mas Harry penuh persiapan.

“Mas Harry mau tahu?” ia mengangguk.

“Jadi begini. Di mana pun itu, ketika sedang menghadapi situasi genting begini, aku selalu mempersiapkan dua hal. Siap-siap untuk dua kemungkinan. Siap menghadapi penolakan dan siap-siap untuk diterima. Kemungkinan yang pertama, kita tidak akan terlalu kecewa atau sedih ketika berhasil menjalaninya. Kemungkinan yang kedua, kita tidak akan terlalu euphoria karena berhasil melewati kemungkinan tantangan yang pertama. Ngerti kan maksud aku, Mas?”

“Oke. Sekarang kita masuk.” Tanggapnya mantap.

“Bismillahirrahmaanirrahiim. Aku deg-degan banget nih, Mas…”

“Bismillahirrahmaanirrahiim. Semoga kita bisa menembus donasinya sebesar mungkin.” Aku mengangguk.

Negosiasi dengan satpam yang sedikit alot. Basa-basi sekilas dengan para buruh pemotong daging. Bertemu dengan yang empunya perusahaan. Alhmadulillah banget, lancar. Rabu depan, dana proposal yang kami ajukan bisa cair. Ya Allah, senangnya hati kami berdua mendapati fakta ini.

Mas Harry mendapati aku yang berlari-lari kecil mengukuri sepanjang jalan. Membersamai langkah-langkah lari kecilku itu dengan senyum tulusnya.

***

Malam dimulainya perjodohan dan perang dingin.

Pukul sebelas malam. Di ruang TV gaduh dan semrawut dengan candaan. Aku hanya berusaha menyikapi semuanya dengan santai.

“Wew, Cherie nih! Kayaknya hari ini harinya kamu banget deh, Cher…” celetuk Vianda riang.

“Tiap hari, hariku kali…” candaku.

“Iya nih! Udah tembus dana proposal bareng Mas Harry, eh malam ini jadi terkenal karena jadi MC acara Lokakarya KKN, dapat pujian dari Pak Camat karena suaramu yang merdunya banget-banget, terus dapat salam juga dari Menwa.” Tambah Echa.

“Menwa? Maksudnya? Resimen Mahasiswa? Yang mana emang? Gak ada tuh yang titip-titip salam segala ke aku. Karangan kamu aja kali, Cha…”

“Aduh, Cherie! Kamu itu beruntung banget tahu gak sich… Kita-kita yang suka ngobrolon Menwa, kita-kita yang ngecengin dia, eh nyesek banget pas dia deketin aku tadi bukannya nanya aku, malah tanya kamu namanya siapa. Udah gitu dia langsung titip salam buat kamu lagi. Busyeet, dah! Iri gue…” ceplos Achra tanpa basa-basi.

“Mmh, gitu. Kalau Achra mau, ambil aja. Aku ikhlas banget kok! Lagian aku gak kenal ini.” Timpalku sederhana.

“Sumpah lu, Cher? Lu bakalan nyesel! Si Menwa tuh cakeep banget tahu gak sih. Putih, ganteng, cutegentle,smart, manis, ramah, baik hati, dan penuh pesona lagi. Jabatannya Menwa pula…”

“Apa orangnya yang papasan sama aku waktu mau salat Isya tadi ya, Mey?” kali ini aku bertanya pada Mey. Karena sebelum acara peresmian Lokakarya dibuka, aku dan Mey betul-betul menyempatkan waktu untuk salat terlebih dahulu.

“Iya. Makanya aku menyikut-nyikut kamu tadi. Habis, kamunya lempeng amat sih, Cher…” jelas Mey.

“Oouch! Yang itu toh. Menurutku sih, Mennwa itu biasa saja. Gak ganteng-ganteng amat. Bukan begitu, ganteng versi aku…”

“Tapi dia kan juga soleh! Buktinya saat anggota Lingkungan Hidup yang lain gak salat Isya, dia salat Isya bareng kamu…” ucap Shena.

“Aduuh repot ya promosi kalian. Gini aja deh, gak ada salam-salam segala. Gak ada suka-sukaan dari Menwa. Itu pasti asli cuma bisa-bisanya kalian aja untuk buat aku melambung setinggi-tingginya, deh…”

“Tapi bener lho, Cherie. Menwa itu memang menanyakan namamu dan titip salam buat kamu.” Aku garis bawahi cara Mas Harry mengatakan Menwa itu, sepertinya ada nada-nada kesal saat mengucapkannya. Mungkin ia terpaksa mengatakannya padaku.

“Naah, tuh kan! Beneran. Kita gak bohong dan lagi Mas Harry itu jujur. Orang tadi Mas Harry mendengarnya langsung, kok. Iya kan, Mas?” Achra menyodokku dengan baik kali ini.

“Iya.” Sahut Mas Harry pelan.

“Mas Harry…” aku merajuk, memintanya untuk menarik lagi ucapan ‘iya’-nya barusan.

“Oke. Menwa titip salam. Senang sekarang?” semua tertawa.

“Horreee! Pokoknya, jadi nih. Yes! Kita jadikan keduanya pasangan serasi. Setuju semua?!” histeria Ikra membuatku membenci ini semua.

Semua mengatakan hore, kecuali dua orang. Satu, Tyon. Ia membentaki gaduh seisi ruangan. Membuat sorak-sorai seketika berhenti.

“TIDAK! AKU TIDAK AKAN PERNAH SETUJU PERJODOHAN INI. Cherie juga belum tentu menyukainya, bukan?” kalimat terakhir ini diucapkannya dengan sangat lelah. Aku mengangguk dan tertawa bersamanya. Ooh Tyon, kamu memang sahabatku yang baik hati. Meskipun kamu kadang-kadang menyebalkan jika sudah kumat meledeki aku dengan Mas Harry.

Dan satunya lagi Mas Harry dengan sikap diamnya. Wajahnya jelas-jelas terluka. Aku kini memahami kenapa sewaktu aku turun dari panggung MC tadi, wajahnya tersaput mendung. Padahal, ketika berangkat bersamaan, wajahnya riang dan masih baik-baik saja.

Namun, tetap saja ia harus bertanggung jawab atas kalimatnya barusan. Bahwa ia mendengar dengan baik kalau Menwa yang sama sekali tak kukenali itu menitipkan salam buatku. Dan fakta bahwa semua itu benar tentu saja sangat menyebalkan. Mulai malam ini Mas Harry, lihat saja perang dingin kita bakalan dimulai. Kamu akan aku buat menyesal seumur hidupmu di sini. Kamu tidak akan tenang karena telah membuat hidupku tidak tenang.

Aaah, pokoknya Mas Harry harus bertanggung jawab.

***

Sebelum Subuh tiba, aku meng-SMS semua rekan di posko. Semua aku lakukan, kecuali pada Mas Harry. Piket memasak dan bersih-bersih, tidak seramai biasanya. Teman-teman tahu aku agak ngambek. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, berpapasan dengan Mas Harry di depan kamar mandi, aku lurus saja. Cukup tersenyum, tanpa sedikit pun niat untuk bertegur sapa seperti biasanya. Dia memuji masakanku ketika makan pagi pukul sembilan pun, aku hanya bilang terima kasih. Dan ya sudah, semua perang dingin terlanjur jadi. Siapa suruh Mas Harry terlalu jujur kemarin malam?

Tyon menghiburku agar tak mencemaskan perjodohan yang semakin menjadi dengan Menwa. Parahnya, Menwa dan teman-temannya hari ini sengaja diundang untuk santap siang. Acara syukuran KKN Berbasis Sekolah-ku, ini soal menjaga image tim kami sebagai tuan rumah yang baik dalam memperlakukan tamu-tamunya—jadi ya tetap saja aku yang ketempuhan dimintai memasak yang enak-enak.

Entah syukuran apa? Tidak ada kejadian yang terlalu spesial, setahuku. Setelah aku klarifikasi, ternyata kata anak-anak, syukuran jadianku sama Menwa. Kapan ih ada ikrar konyol begitu! Aku punya prinsip untuk tidak bermain-main dalam menjalani hubungan khusus soal cinta, aku maunya nanti saja. Yang langsung segera ke pernikahan. Dan itu bukan sekarang. Aargh! Aku berdoa agar Menwa ketiban sakit perut sehingga menyengajakan tak bisa datang.

And look! Fortunately, Menwa doesn’t come here today. Oowh, heaven knows….

But, now… I’m so worried now.

Mas Harry juga berwajah pucat pasi siang ini. Rupanya, sedari pagi ia menahan sakit. Untuk pertama kalinya aku harus rela menghilangkan egoku, demi merawat musuh perang dinginku yang tengah terbaring tak berdaya di kamarnya. Demam.

“Kamu kenapa Cherie, kok kayaknya benci banget sama aku beberapa hari ini?” tanya Mas Harry lirih sekali. Sempat-sempatnya menanyakan aku kenapa? Pikirkan dirinya sendiri dulu, kek

“Enggak, kok. Cuma ingin menguji Mas Harry aja…” timpalku masih ngeles.

“Begitu ya. Maaf ya. Gara-gara malam itu aku bilang Menwa beneran titip salam buat kamu, sampai sekarang kamu makin parah diledeki dan dijodohkan sama semuanya. Jadi nyesel nih, apalagi aku juga yang harus ketempuhan membantumu…” senyumnya mengembang meski tipis.

“Udah dong, Mas… Jangan ngomong gitu terus. Aku jadi sedih nih… Ayo dong, Mas Harry cepat sembuh. Biar aku ada teman berantem lagi kayak biasanya. Kondisimu ini mengkhawatirkan aku, tahu enggak sih… ” aku merajuk. Ada bulir-bulir air mata berjatuhan di lembaran pipiku.

“Jangan nangis. I miss your banana smile…” ujarnya polos. 

Orang baik itu meski sakit tetap saja ya menghibur sahabatnya. Luar biasa.

 

To Be Continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s