Black and White of The Day

Image

Black dan White bertemu pada suatu hari. Hari-hari yang sama pada tahun sebelumnya. Namun, karena kali ini adalah tahun kedua mereka bertemu, terjadilah sebuah percakapan panjang.

“Kamu tidak sebaik yang aku bayangkan!” Black ketus, seakan-akan mengajak White berdebat.

Dengan lugunya White hanya menanggapi sambil lalu.

“Ooh. Kamu juga tidak seromantis yang aku pikirkan sebelumnya. Melihat keseharianmu sekarang-sekarang meski tak bisa kuamati setiap kali, aku menyimpulkan kamu…” 

“Aku apa?” nada bicara Black semakin menantang. White hanya tersenyum merekami sikap spontan Black kali ini.

Black tidak tahu bahwa White sebenarnya memang sengaja memutus pembicaraan barusan tiba-tiba. White ingin tahu apakah pelajaran baru tentang ketenangan dan kesabaran  bisa didapat dari seseorang yang bernama Black ini. Sesosok penggemar kostum keseharian bercorak hitam, mencintai nuansa redup dan warna-warna keemasan yang bisa dibilang nyaris selalu menghampiri ketika White mendapatkan keuntungan atau hadian besar atau ketika karir White tengah memuncak daripada orang-orang yang lainnya.

“Kok, kamu malah tersenyum saja dari tadi? Aku apa, haah?” rasa dongkol mulai bercokol di hati Black.

“Menurutku, kamu itu sangat romantis. Bahkan sangat jauh romantis…” jawab White. Tentu saja masih dengan serangkum senyumnya yang seperti pendulum itu. Senyum dengan mudah akan terus berputar-putar di hati siapa pun yang menerimanya kembali dengan tulus hati.

“Kamu pasti meledek aku, bukan?” cadas kecurigaan semakin patas di hati Black. Keseluruhan bagian pada spons hatinya sudah tak mampu lagi menyaring yang mana yang sekadar ledekan atau nyala kejujuran.

“Kamu perhatian pada semua orang.” Jelas White sungguh-sungguh. “ Terutama pada orang-orang yang selalu berkelimpahan, pada mereka yang mendapatkan keuntungan atau hadiah besar, dan padaku yang memiliki kecerahan karir yang betul-betul sedang memuncak sekarang-sekarang.”

“Bilang saja terus terang kalau aku ini parasit! Kalau aku ini sisi yang menggelapkan sisi kecemerlangan hidupmu! Tidak perlu kamu sok manis berbaik hati menjelaskan siapa aku menurut kamu dan semua orang.” Kemarahan picisan yang cukup membuat getas.

White mencoba menerabas tuduhan ini dengan perenungan dalam. Aah. Entahlah! Rasanya, White ingin menukas setiap detil perkataannya. Tapi, momen berdekatan dengan Black seperti ini sungguh jarang terasa. Hanya setahun sekali, Black berkenan untuk menyambanginya. Dan itu sudah seperti keharusan yang dkhususkan oleh Black untuk White. Juga semua orang, mungkin.

“Aku merusak kebahagiaanmu? Aku membuat kegemilangan kalian koyak moyak? Atau aku menginjak-injak citra diri positif yang sudah dari dulu berusaha kamu dan teman-temanmu bangun? Menjatuhkan mereka juga mungkin?” keluh Black yang didominasi oleh sedikit rasa bersalah.

“Tidak sepenuhnya begitu kok, Black. Serius… Awalnya memang iya. Kami—aku saja mungkin—merasakan rasa sakit yang mendalam, sedikit trauma, terkena paranoya, dan uhm kamu tahulah. Sedikit drop karena terjangkiti mental block. Tapi biasanya setelahnya, kami akan bangkit lagi. Move forward! Bahkan jauh lebih hebat dari goncangan-goncangan yang kamu berikan. Semakin besar goncangan-goncangan itu membuat kami koyak-moyak, semakin hebat juga kami dalam merancang solusinya. Semakin kuat juga kami setelahnya…”

“Benarkah? Kamu dan teman-temanmu—mereka itu tak menganggap aku sepenuhnya buruk?” Ucapan White tadi diakui atau tidak cukup menghibur hati Black yang disusupi kabut rasa kalut.

White tersenyum lembut.

“Dan apakah kamu sudah tahu? Kami memenangkan banyak piala kemarin. Waktu berjam-jam sebelumnya kamu membuat air mata kami terkuras, kami sedikit linglung karena gemparnya kabar yang kamu bawa, kami nyaris putus asa… Dia memberikan kami banyak hadiah. Hadiah yang membuat pelangi senyum kami melengkung kembali. Sore itu… ya, sore itu, Black. Aku rasa kamu perlu tahu itu.”

“Aku yang begitu jelaga ini sangat mengejutkanmu, ya? Kalian tidak menyangka bahwa aku akan datang lagi di waktu yang nyaris bersamaan seperti episode pada tahun sebelumnya?”

“Terkejut dan memukul kami dengan sangat, Black. Kadang-kadang, pikiranku suka usil bertanya. Kenapa sih, kamu mesti datang secepat itu. Tanpa aba-aba, tanpa nyana. Kamu hadir saja begitu tiba-tiba.”

“Lain kali, mungkin aku perlu memberimu sebuah tanda. Kalian membutuhkan itu?” tanya Black sungguh-sungguh.

“Tidak begitu. Kami bahkan terkejut dengan hebat ketika kamu hadir tiba-tiba lagi dan lagi. Kami senang juga kamu begitu berbaik hati menyambangi kami. Jika kamu tiba dengan sebuah tanda, mungkin itu akan terasa sedikit beda. Dan kami tidak akan penasaran lagi. Lagipula kami juga sudah menelisik sebuah tanda. Kamu pasti datang pada saat itu juga.”

“Baiklah. Terserah apa maumu saja.” Black tampak menyerah.

White menghela nafas, ringan dan lebih panjang.

“Tapi jangan terlalu berharap saja, White…” celetuk Black kemudian.

“Apa?” White ingin tahu kali ini ke arah mana maksud pembicaraan Black akan membawanya.

“Mengenai kemenangan itu. Jangan terlalu banyak berharap akan hal itu.” Seketika tubuh White seolah melemas. Tulang-tulang rasa percaya dirinya seakan dilolosi satu-satu.

Bagaimana mungkin aku dilarang untuk banyak berharap … White menampik di dalam hati.

“Harusnya kamu tahu jauh-jauh hari, kalian sudah mendapat tiga kemenangan. Dan sekarang kamu berharap lagi kedua-duanya akan kembali mendapat piala kemenangan berikutnya. Sadarkah kamu bahwa yang lainnya sama sekali tidak menang?” kesedihan merayapi nada bicara Black. Rasa ingin untuk menjadi yang terbaik masih begitu cahaya di petala pikiran White.

“Tapi aku kan banyak berharap kepada yang paling memberiku harapan, Black. Bagaimana bisa kamu melarangku demikian? Itu terlalu menyakitkan.” White tampak membela diri.

“Tidak ada yang paling bisa memberimu harapan di sini, kau sudah tahu itu dengan baik.”

“Aku punya.” Klarifikasi White. “Aku punya yang bisa memberikan aku harapan bahkan yang paling mustahil menurutmu pun…”

Black tampak terkejut dan nyaris marah. Roman mukanya tampak geram.

“Aku betul-betul punya, Black. Kamu jangan khawatir begitu.” Nada bicara White melunak. Kegeraman Black mulai sedikit banyak terkurangi.

“Apa aku mengenalnya, White? Kamu tampak sangat yakin, kurasa.” Kali ini Black yang penasaran dan ingin tahu.

“Ya. Sangat baik kamu mengenalnya. Dia adalah Sang Maha Pemberi harapan. Sang Maha Pemberi solusi. Sang Mahaadil. Dia selalu paling tahu siapa aku. Paling bisa mengerti aku. Sepenuhnya…”

Black hanya tertunduk. Mematung arca batu. Bungkam seribu kata.

Black lalu menghilang bersamaan dengan tetes-tetes hujan segar di pagi berikutnya. Black pergi untuk berjanji datang lagi pada tahun-tahun berikutnya. Berjanji pada semuanya. Dan pada Dia-nya White.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s