Kuliah Lagi?

Sabtu, 02 Maret 2013

Dikuliahkan lagi? Yup! Langsung kuliahnya dari Allah. Kuliah managemen emosi, manajemen risiko, managemen organisasi, dan managemen diri.

Begini alur semua materi perkuliahanku hari ini. Yang membuatku belajar dari gambar kata di bawah ini…

Image

Pagi-pagi cetar membahana badai. Semua kesibukan berjalan beriringan dengan senyuman. Ada panik, cemas, dongkol, kasihan, cuek, khawatir, takut, malu, riang, sedikit marah, cetar, agak kesal, lembut hati, dan rasa penuh syukur. Semua campur aduk jadi satu.

Panik karena spanduk belum dipasang. Masya Allah, kami pesan spanduk sudah sejak tiga hari lalu dan janjinya Isya semalam mau datang, tapi ya sudahlah. Semua guru sudah pulang. Aku cukup menitip pesan pada bapak satpam sekolah agar backdrop spanduk yang kami pesan disimpan di meja kerjaku saja. Usai Magrib aku pulang. Terburu-buru. Malah bapak satpam bilang supaya aku santai saja sebab beliau di dalam hati justru senang karena ada yang menemani jaga. Haah, beliau tidak tahu aku sudah dipanggil kepala sekolah karena sempat pulang malam dua kali sewaktu begadang mengerjakan tugas sekolah. It’s enough. Aku gak mau dipanggil-panggil lagi cuma gara-gara hal sepele begituan. Cukup sekali-kalinya, deh! Maunya dipanggil karena sejuta prestasi yang aku torehkan. Bukan karena sisi negatif atau kekurangan diri. Next, aamiin.

Cemas, jika segala sesuatunya kurang berjalan sesuai rencana. Sedikit cemas saja, sih. Aku terbiasa menghadapi banyak hal yang terjadi di luar rencana. Ada Allah, ya ada Dia. Aku dan tim panitia Mentari Ilmu Mencari Bakat sudah merencanakan dan mengatur semuanya dengan baik dan matang, jika terjadi sesuatu berupa satu atau dua hal yang di luar rencana ya wajar-wajar saja. Semua pasti ada hikmahnya.

Dongkol. Banget! Ini siapa coba ketuanya. Ada yang main memutuskan boleh-boleh saja untuk menerima peserta dadakan tanpa konfirmasi terlebih dahulu padaku. Main bilang iya-iya saja. Nope! Semalam saja ada yang daftar sudah aku tolak. Cukup. Semua sudah dipersiapkan matang-matang untuk sepuluh orang. Sertifikat, formulir registrasi sudah terdata rapi dengan nama, asal sekolah, no kontak, jenis lomba, dan parafnya. Terus mau nge-print lagi begitu, buat sertifikat lagi, merombak hard copy yang sudah dipilah-pilah untuk juri, bikin name tag tambahan lagi, menambah konsumsi lagi yang sudah dipas untuk peserta. Terlalu banyak risiko yang harus ditanggung. Sudah ribet mengurusi pengondisian peserta masa mau ditambah lagi dengan menerima yang baru. Aku memikirkan P’Cepi dan Lil Cinta, dan juga panitia lain yang bakalan tambah ribet. Lagi pula, kurang profesional saja. Sudah hari H, masih menerima pendaftaran. Aku memilih menolaknya dengan maaf lalu fokus pada yang sudah ada. Paling tidak seharusnya semua peserta apalagi orang tuanya tahu, kami sudah memulai pendaftarannya sejak lama. Satu bulan, lho. Sudah tecnical meeting juga. Biar mereka menghargai profesionalisme pelaksanaan kegiatan di sekolah. Meski iya betul bisa menambah pemasukan dengan menerima tambahan peserta, tapi aku hanya harus bersikap adil dan asertif. Semalam saja aku tolak, pagi yang pertama aku tolak, lalu yang baru banget datang tadi masa harus aku terima. Biarlah, semoga jadi pelajaran untuk peserta kelak kalau melakukan sesuatu itu jangan terburu-buru. Setidaknya, ada langkah persiapan sebaik mungkin. Jangan main tembak simpati saja.

Kasihan. Sangat! Dipikir hati ini tidak diserang dilema apa? Ketika menolak peserta, pasti timbul rasa kasihan mendalam. Melihat raut wajah orang tuanya, mendengar penuturan keinginannya, mesti melihat mereka sedikit kecewa karena sudah datang, tapi tanpa hasil yang membuat senang. Tapi aku ketua kegiatan ini. Ini adalah bagian dari managemen risiko yang mungkin masih harus terus dipelajari. Baik atau tidaknya, aku belum sepenuhnya tahu. Tapi aku siap menanggung konsekuensinya. Itu adalah keputusan terbaik yang bisa dan harus aku ambil saat itu. Profesionalisme kerja, mungkin seperti inilah jalannya. Harus tegas meski rasa kasihan di dalam hati meremas-remas.

Cuek. Aku tahu, pasti banyak yang kurang sepakat dengan keputusanku. Menolak peserta dadakan yang mau mendaftar. Aku menegaskan tidak ketika ada beberapa guru yang bertanya. Nope! Cukup satu guru tadi yang dengan mudah bilang iya-iya saja untuk bisa mendaftar dadakan. Aku harus mengambil kendali sebagai ketua. Aku berusaha mengabaikan rasa sebal dengan senyuman. Dalam pikiran, aku menegaskan untuk tidak mudah terpancing emosi. Apalagi ketika aku nyata-nyata dikatai di belakang, “Perfect sih orangnya. Jadi semuanya harus berjalan sesuai yang direncanakan…” setelah sebelumnya aku diberi tatapan sedikit meremehkan. Aku bilang sedikit karena menurutku ah biarlah aku masih bisa tersenyum innocent untuk menghadapinya. Toh, aku kan ketua pelaksananya. Allah juga pasti Mahatahu apa-apa yang sudah kami persiapkan. Selama masih bisa kita kendalikan dan kita atur sesuai dengan yang kita rencanakan, why not? Aku pikir itu sah-sah saja, bukan? Meski yaa harus ada salah satu yang dikorbankan. Jangan sampai ribet mengurusi tiga orang yang sangat ingin mendaftar hari ini lalu menghiraukan sepuluh orang yang sudah nyata-nyata loyal dalam mengikuti alur perlombaan.

Setidaknya, dengan sikap cuekku yang tetap berusaha senyum innocentmenghadapi kritikan-kritikan kecil, aku jadi tahu. Seperti ini nih yang namanya management emosi. Cuek sekaligus tetap terkendali. Ya, mengingat my Lil Cinta yang sudah merah padam karena menahan kesal dan amarah alhamdulillah-nya sebagai ketua aku bisa menenangkan dia. Dengan sebuah tepukan halus dua kali di pundaknya, aku berusaha mengalihkan amukan emosi negatifnya.

“Memangnya mereka mau mikirin name tag kalau tambah peserta? Mau beliin konsumsi buat yang baru? Mau nanggung kalau kita repot?” aku nyengir dan senyum sesabar mungkin mendengarnya.

“Kamu pasti kesel banget ya, Cin. Sabar ya…” padahal, sejatinya aku sedang berusaha menentramkan gejolak pikiran, badai amarah, dan hujan kekesalan. Memang sedikit menyebalkan ketika menghadapi tim kegiatanmu diganggu ketentraman hatinya oleh orang-orang yang hanya tahu semuanya beres. Cuma yakinlah ketika suatu saat semua itu menimpamu dan timmu. Bersikaplah cuek, namun tetap penuh kendali. Kamu akan bisa bertahan, setidaknya dalam menghadapi masa-masa sulit yang menuai kritik.

Khawatir! Ya Allah, sungguh ada rasa khawatir di hatiku, keputusan-keputusan cepat yang aku ambil bisa berdampak kurang baik untuk nama baik sekolah ini. Khawatir, banyak yang protes karena anak-anaknya yang mau mendaftar dadakan kami tolak. Khawatir saja. Apalagi amanah ibu kepala sekolah kurang lebih adalah supaya kami bisa mengambil keputusan terbaik ketika terjadi permasalahan dalam perlombaan. Khawatir kalau enam peserta lomba menyanyi, keyboardis, dan story telling selesai lebih cepat dari peserta lomba melukis. Khawatir acaranya beku dan tidak secetar membahana yang kami harapkan. Khawatir ada kendala-kendala teknis yang menuai protes dari para pendamping peserta. Banyak kekhawatiran yang semakin menguatkan langkah. Bukan mundur ke belakang, tapi justru ingin lebih baik dalam maju ke depan. Genderang perlombaan sudah ditabuh, yang penting doa yang melangit di hati terus berlabuh. Benar kata seseorang bahwa ada keajaiban dalam setiap pengambilan keputusan. Bismillah terus awal, tengah, dan akhirnya.

Takut? Ya, rasa itu terjadi ketika ada perasaan di hati dan bersit di pikiranmu untuk memberikan yang terbaik, tapi realita sesungguhnya tidak sama seperti apa yang kamu cita-cita. Apalagi, aku ini bukan manusia sempurnya yang super bisa mengendalikan semuanya. Tetap ada Allah Sang Pengendali Sejati. Allah yang Mahasempurna… Tidak semua tindakan orang lain di luar kita, bisa kita kendalikan semau pikiran dan perasaan kita. Kita cukup mengendalikan apa-apa yang ada di luar secukupnya saja. Jangan terlalu berlebihan karena pasti akan membuat terkekang. Jangan terlalu lemah mengambil kendali karena pasti akan banyak yang lost nantinya. Takut juga mestinya secukupnya. Biar tidak stag di tempat karena saking takut menghadapi segala risikonya. Hmm, meski tidak bagus juga jika terlalu berani dalam menghadapi segala sesuatunya. Kita mesti butuh rasa takut agar tetap bisa melangkah hati-hati dan dengan persiapan matang.

Malu. Gile mameen! MC main tembak saja untuk memanggil aku yang akan memberikan informasi pelaksanaan lomba Robotik. Mau tak mau sebelum memberikan informasi, aku bertanya dulu. Dan oh My God! Informasi gedung pelaksanaan lomba Robotik yang aku sebutkan lantainya salah. Lantai tida jadinya malah lantai dua. Malu. Ini sedikit kurang profesional. Tapi gak apa-apa, aku bisa belajar banyak. Ya, aku cukup merevisi ucapan dengan permintaan maaf dan senyuman. Biar tidak kentara malunya setengah mati, woi…

Riang adalah ketika kamu bisa menyaksikan para peserta yang tampil lalu mendapat komentar dari para juri profesional dalam perlombaan. Riang adalah ketika semingguan lebih kamu berusaha merayu juri rujukan rekan gurumu, gak mau-mau lalu pas H-2 sebelum kegiatan juri rujukan itu menghubungimu menyatakan kesiapan.

“Saya terpaksa datang nih, terpaksa. Dipaksa sama Bu Eva….” ujar Mr.Tyo tadi pagi. Haha. Lucu ya husband-nya Miss Teti ini, terpaksa kok mau datang.

Riaaang! Dan demi Allah, rasanya riang dan lega banget.Yes, perfecto! Pak Ahmad Kusmayadi, A.Ma, Mli sebagai juri kesatu, Mr. Warih Setyo Anggoro, ST sebagai juri kedua, dan Pak Teguh Dwi Utomo, S.Pd sebagai juri ketiga. Dua juri dari luar, satu juri orang dalam. Semuanya multi-talenta, jago seni, bisa musik, jago nyanyi, visual adapting-nya juga keren, dan pada bisa akting. Tambahan lagi komentar-komentar yang diluncurkan ketiganya, wow orang-orang jago seni dan kebahasaan. Ini betul-betul tidak main-main. Kesannya seperti gabungan acara X-factor, IMB, dan Indonesian Idol digabungkan jadi satu. Seru! Alhamdulillah.

Sedikit marah. Parah! Masa’ iya, sertifikat peserta yang sudah kami persiapkan hilang empat. Aku ingat dengan baik–karena menghitungnya–Pak Cepi membuat sebelas sertifikat khusus untuk para peserta. Tiga sertifikat juara, delapan sertifikat peserta biasa. Dan empat sertifikat raib gak tahu kemana. Peserta dari SDIT Al-Ghifari lagi yang belum mendapatkan jatah sertifikatnya. Mmh, mana tadinya sudah protes terkait kategori pemenang lomba pula. Terus sekarang? Innalillah… Marah, iyalah aku sedikit marah. Ini nih cuma ada dua kemungkinan alasan. Anak-anak OSIS salah memberi sertifikat atau ada peserta yang mengambil sertifikat dobel. Lha, kalau melihat sertifikat pendamping yang masih banyak–padahal cuma dibuat sepuluh juga terkait ada sepuluh peserta yang ikut lomba–apa pikiran yang bermain di otakmu? Aaaargh! Malas berspekulasi siapa yang salah, siapa yang harus bertanggung jawab. Malas banget nih, gak rapi begini. Masa’ minta Pak Cepi nge-print lagi kan merepotkan lagi. Kasihan, tadi saja sudah aku repotkan dengan membuat sertifikat untuk juri karena tiba-tiba di otakku mengalir ide dadakan. Juri mestinya juga dapat tanda bukti sertifikat. Tapi demi melihat muka-muka para peserta plus pendamping mereka, aku tak tega. Mending kami repot-repot nge-print lagi daripada peserta kecewa. Sedikit menunggu dan permohonan maaf untuk meredakan emosi peserta dan kami hanya perlu melakukan printing segera untuk secepat mungkin memberikan sertifikatnya. Lain kali anak-anak ini harus tetap didampingi guru. Biar jadi pelajaran buatku dan Lil Cinta. Ya, pada awalnya aku memang menitipkan amanah pembagian ini untuk didampingi olehnya dan ia lupa. Banyak belajar nih, dari kasuistik sederhana begini. Pokoknya, sebisa mungkin utamakan memberikan pelayanan sempurna. Selama kita bisa mengusahakannya.

Cetar! Wow, tunjukkan cetarnya bakatmu kentara sekali. Temanya begitu merasuki jiwa peserta. Pemenang pertama adalah peserta melukis yang bertema “Selamatkan Penyu Hewan Langka” yang subhanallah begitu kita lihat hasil lukisannya langsung memukau mata, kerumitan objek plus gradasi warnanya yang kompleks kontan membuat hati jatuh cinta, dan tersentuh dengan temanya. Mantap! Pemenang kedua masih peserta lukis bertema “Seni Tari Bali”, pakaian penari pendetnya indaah sekali. Ini satu-satunya peserta dari SD Yos Sudarso, saudara nonmuslim yang ikut berpartisipasi dalam lomba tanpa rasa sungkan. Amazing fact banget, kan! Pemenang ketiga adalah gadis cilik berumur sepuluh tahun dengan postur tubuh super tinggi. Peserta lomba yang story telling-nya jago. Bagus sekali spelling, grammar, dan touching value-nya dalam alur cerita. Anak yang lahirnya di New Zealand dan berwajah campuran Jawa-Arab ini menggelikan ketika ditanya juri.

“Mau sekolah di SMP mana nanti?” tanya Mr. Tyo.

“SMP Mentari Mencari Bakat…” ujarnya lugu dan refleks yang tentu saja menyemarakkan tawa penonton. Maksudnya tentu SMPIT Mentari Ilmu. Wah, bahkan kata ‘mencari bakat’ sudah terinternalisasi dengan baik dalam pikiran bawah sadarnya sampai-sampai anak ini salah jawab. Syukurlah.

Agak kesal itu ketika kamu tahu ada salah satu anggota timmu tidak melaksanakan tugasnya karena sibuk mengurusi diri sendiri dan kurang banget inisative thinking-nya. Sudah kemarin main kabur karena ada kegiatan mengajar di tempat lain, hari ini sama sekali gak membantu apa-apa. Ustad Dadan dan Pak Firman–Sie Dekorasi yang merekap Sie Peralatan untuk membantu Ustad Dadan yang sendirian hanya dibantu para laskar OSIS. Sumpah! Tega baget sih tuh orang! Aku sengaja memilihnya di peralatan itu biar beliau belajar peka. Paling tidak, timbul kek perasaan tidak enak kalau tidak melaksanakan amanah. Kan, kasihan Ustad Dadan! Masa selama persiapan H-1 repot sendiri dibantu anak-anak OSIS dan para guru lain, hari ini juga sama? Beres-beres penutupan sendirian lagi. Main pulang lebih dulu lagi. Aduuh, bikin kesal hati banget! Mana tadi lomba Robotik masih berlangsung. Anak-anak OSIS dan guru lain kan pada fokus di robotik karena memang ranah amanahnya di situ. Ujung-ujungnya, aku lagi yang ketempuhan. Selalu saja menanggung getah atas perbuatan orang lain. Aku mesti mengerahkan semua anak OSIS ikhwan untuk membantu. Yang membuat aku tidak tega plus kasihan adalah aku baru sempat memesankan mereka makan sebanyak 23 porsi mi rebus pakai telur. Belum makan siang, sambil menunggu dimasak di warung, Ya Rahman ampuni aku… aku sudah meminta semua anak OSIS yang ikhwan di kru panitia robotik untuk kembali berjibaku membantu beres-beres peralatan dengan Pak Firman dan Ustad Dadan. Dan saat itu, hanya itulah hal terbaik yang bisa aku lakukan. Aku tidak bisa mengatakannya hal bijak, aku belum pantas mengatakannya. Ukurannya belum jelas.

Lembut hati. Apa yang akan kamu lakukan? Ketika kamu mendapati anak-anak yang kamu bina, kamu libatkan dalam kepanitian, dan ternyata mereka hanya mendapat snack yang cukup tidak cukup harus cukup karena keterbatasan anggaran. Mereka bahkan tidak mendapatkan jatah makan siang. Apa ada yang lain di pikiranmu, selain merogoh uang yang kamu simpan lalu memesankan makanan untuk mereka? Aku tidak punya. Apalagi ini sudah terkait kebijakan managemen dari atas. Uang itu hal yang sangat sensitif. Daripada mengajukan dana atau konsumsi sebanyak 23 porsi ke sekolah, mending juga aku rogoh kocek OSIS. Paling tidak, itu solusi yang paling logis. Anak-anak tetap bisa makan siang dengan kenyang, aku aman dari kritikan. Itu sudah lebih dari cukup dan anak-anak sangat senang karena perut mereka sudah kerucukan dari tadi. Alhamdulillah. Obrolan Pak Daud denganku, membuatku menjadi semakin lembut hati.

Rasa penuh syukur yang begitu tak terukur karena semuanya berjalan dengan lancar. Persoalan teratasi dengan baik, setidaknya sampai saat ini begitu. Tiga puluh menit waktu menunggu selesainya peserta lomba melukis, bisa kembali dialokasikan menampilkan tim marawis anak-anak Mentari Ilmu sehingga tidak sepi dan kesannya tetap cetar membahana terpampang nyata. Anak-anak OSIS bisa belajar meningkatkan loyalitas dan kebersamaan dalam tim. Insentif untuk juri sudah terbagi rapi. Sertifikat semuanya sudah dapat. Tinggal LPJ kegiatan lomba ini. Lil cinta sudah mengajakku untuk merumuskan semua dana yang terpakai. Tinggal pembagian piala dan uang pembinaan di puncak acara Open House SMPIT Mentari Ilmu tanggal 09 Maret 2013 Sabtu depan. Alhamdulillah banget, satu urusan terselesaikan untuk menuntaskan urusan lain yang terus berdatangan, bergantian.

Public Relation Department of Mentari Ilmu give pride, honour, and thanks to Miss Eva Dewi Nurkholifah for dedication and contribution in MIMB. (y) Allah doesn’t sleep, Bu… And Allah will give the best appreciation to you.

Allah doesn’t sleep. Allah tidak tidur. Ya, aku rindu dengan kalimat itu. Kalimat motivasi pertama yang Pak Daud ajarkan kepadaku di awal-awal aku menjadi guru SMPIT Mentari Ilmu. Kalimat yang getarannya adalah seikhlas daun yang tak pernah membenci angin.

Subhanallah! Wow banget kan! Semua materi perkuliahanku membuat aku melek inspirasi. Semoga niat untuk memberikan yang terbaik dari semua yang terbaik yang aku punyai selalu mendapat arahan dan dukungan dari Allah. Selama aku masih berada di sini, inilah satu-satunya harapanku yang tak pernah mati. Menambah kebaikan dengan menambah manfaat diri.

Terima kasih untukmu yang selalu melangitkan doa-doa kebaikan untukku. Bersamamu aku selalu lebih baik. Bersama-Mu pasti lebih baik.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s