The Clamorous Day

Kamis, 28 Februari 2013

Riuh sekali! The Clamorous Day….

Di sekolah, pagi-pagi aku sudah sibuk mengerjakan ini itu. Printing, paper cutting, registration naming, place checking, and student choosing. Pokoknya, mengatur persiapan banyak hal yang mampu aku kerjakan sendiri sebisaku. Melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan, yang sepele namun sangat fatal kalau terlupakan.

Ada beberapa hal yang tentunya lebih membutuhkan banyak tangan, aku delegasikan pada teman-teman panitia. Peralatan, kesiapan registrasi, pengantar tamu, dan merapikan tempat pelaksanaan kegiatan.

Yup. The day is coming. Today is our MIMB Technical Meeting. The Clamorous Day. 

Hectic bangetlah pokoknya! Rasanya semua panitia yang terlibat terlihat sibuk sedari pagi. Sebab acara kami dimulai pada pukul delapan dalam kabar-kabari undangan, persiapan matang sedari pagi pun sangat perlu kami lakukan. Demi mengingat, aku yang suka panik kalau segala sesuatunya berjalan kurang persiapan so semua harus dicek dan recek secara sempurna.

Aku ketua pelaksananya. Memang tidak semua guru aku libatkan dalam acara ini–karena kegiatan belajar-mengajar di sekolah kami harus tetap berjalan–aku hanya meminta kesediaanku, lima anak OSIS, dan juga my Lil Cinta untuk mengisi acara technical meeting-nya. Meski agak berat juga karena aku kerap kali mesti rela meninggalkan kelas dengan serentengan tugas yang harus dikerjakan anak-anak tanpa aku dampingi di kelas belajar.

Whuuua, apalagi semenjak aku terpilih sebagai Pembina OSIS, Ketuplak Market Day For The First & The Second Grade, PJ Game Activity Mentoring seminggu kemarin, dan sekarang sebagai ketua pelaksana Mentari Ilmu Mencari Bakat. Tidak semua siswa bisa menerima, sih. Apalagi, aku nyata-nyata diprotes dengan kalimat yang benar-benar merontokkan kelelahan hati.

“Ibu kemana aja? Jangan pergi terus, dong, Bu. Jangan sering meninggalkan kami. Kami kelas sembilan. Sudah mau UN. Kami butuh Ibu, kami hanya ingin belajar di kelas di dampingi Ibu…”

Aku tahu kalimat itu tidak sepenuhnya benar. Ada juga sisi mereka yang senang aku tinggalkan, kok. Mengingat aku tidak pernah absen atau sangat jarang izin sakit. Paling-paling, pernah juga presentasi sekolah atau sebar undangan Seminar Bongkar untuk puncak Open House kami pada tanggal 09 Maret 2013 nanti. Namun, mendengar kalimat itu bisa terlontar, hatiku tersentuh juga. Aku bisa menjadikannya kalimat mujarab untuk tetap berada di kelas belajar selama menghadapi event-event tertentu yang bisa didelegasikan pada yang lain.

Image

Selain mengingat pernah suatu hari aku sama sekali tidak dianggap anak-anak ketika berbicara di depan kelas. Ceritanya, saat itu aku terpilh menjadi PJ game activity mentoring untuk kelas tujuh dan delapan karena semua guru ikhwan pergi meninggalkan sekolah. Semua harus bergerilnya menyebarkan surat sakti Diknas terkait pelaksanaan open house sekolah kami, menyebarkan pamflet, undangan, dan tiket gratis untuk para kepala sekolah se-Karawang. Itu anak-anak ikhwan kelas sembilan aduuuh,  pokoknya baru bisa mencair lagi setelah aku benar-benar minta maaf atas keterlambatan masuk kelas mereka. Ampuun deh, mereka tidak tahu sih, aku benar-benar sudah memperjuangkan menolak dengan jawaban lugas. “Lho, saya mengajar kelas sembilan full deh, Bu…” dan saat itu ibu kepala sekolah hanya menatap meminta pengertianku. Ya, aku tahu sekali semua guru yang memegang mentoring kelas tujuh dan delapan adalah guru baru. Dan satu-satunya guru muda yang mungkin dinilai paling sigap dalam mengendalikan game activity adalah aku. Mungkin. Aku tidak pede untuk mengatakannya dengan jelas karena aku masih banyak belajar lagi kepada yang lain.

Waah, alhmadulillah tadi semuanya lancar. Kendati selama satu jam berjalan peserta tak kunjung datang. Ada siswa yang mengundurkan diri dini hari. Ada yang tidak bisa hadir tanpa konfirmasi. Penjelasan aturan main lomba terjabarkan dengan baik. Pertanyaan terjawab satu-satu dengan pas. Pelayanan sempurna terberikan. Satu dua, ada hal yang tidak sepenuhnya berjalan sesuai keinginan tapi karena Allah Maha Pemberi solusi terbaik jadi sudah teratasi dengan baik. Allah bahkan memberi ganti peserta yang mengundurkan diri itu dengan tambahan peserta baru hari ini. Aku mengingat dengan baik pagi-pagi usai kami melakukan operasi semut di sekolah tadi. Saat aku dan Lil Cinta tengah memasukkan formulir untuk para peserta yang baru mendaftar via SMS.

“Cuma ada empat orang Cin, yang belum mengisi data di formulir. Jadi empat formulir aja yang dibawa keluar.” terangnya kepadaku.

“Ooh, gak apa-apa lima aja, ya. Siapa tahu Allah bakal mengirimkan satu orang lagi untuk melengkapi. Jadi pas pesertanya sepuluh orang…” ujarku senyum innocent.

Alhamdulillah bangetAllah yang Mahabaik benar-benar mengirimkan peserta baru untuk menggenapkan.

Meski pada akhirnya tetap ada yang bergemuruh dalam pikiran. Meninggalkan kelas belajar ketika kegiatan sekolah yang lain harus berlangsung sama baiknya atau lebih baik. Haaah, dilema banget kan tuh! Amanah sekolah, tugas mengajar, dan komitmen excellent service pada kedua-duanya. Meskipun sedikit mustahil, ya sejauh ini bisa dikatrol dengan pendekatan ke anak-anak pada waktu-waktu belajar yang lain. Intinya, adalah bersikap secara asertif. BERSIKAP asertif jauh lebih baik daripada menunda-nunda yang bisa kita kerjakan sebaik mungkin saat ini, bukan? Dan semoga ini adalah salah satu ciri jiwa ‘The Winner’ yang sering diujarkan banyak trainer itu. I hope so.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s