Perlu Telinga Lebih Banyak

Ingin menulis yang banyak. Sayangnya, tidak kuat menahan reaksi perut yang melilit-lilit tidak tentu. Rasanya sakit dan entah mungkin ini seperti gejolak perut yang begitu lapar. Begini nih, efeknya kalau makan malam setelah Isya. Memang tidak baik meski sesekali…. Rasulullah tidak pernah mencotohkan.

Dan aku hanya ingin menuliskan yang selama ini terbesit di dalam pemikiranku.

Izinkan aku menjadi kebahagiaanmu dan kamu menjadi kebaikanku. Dengan demikian, kita akan senantiasa beriringan dan tak terpisahkan.

Kalimat yang tidak kutahu ini sebenarnya aku tujukan pada siapa… hanya ingin menuliskan ini saja. Mungkin juga untuk aku dan hatiku sendiri.

Maaf ya… Aku memang sedang berusaha keras untuk menyimak sebuah rasa. Tak lagi hanya merasakan. Karena kadang-kadang perasaanku seperti tak ada. Mungkin karena sering menghadapi penolakan dan dididik dengan kekecewaan. Mungkin. Jadi aku perlu telinga ‘lebih banyak’ untuk lebih banyak mendengarkan. Agar aku berhati-hati dengan hatiku sendiri. Barangkali juga pada hati milik orang lain, hati banyak orang atau hati seseorang yang mendiami bahkan diberikan kepadaku. Karena aku selalu suka yang lebih banyak menentramkan dibanding dengan menyulut keributan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s