Bulat Cinta Sang Magenta

 

Payung_Modis_di_Waktu_Hujan3.jpg

“Lagi sibuk?” tanyanya spontan.

Aku mengangguk kikuk. Sebetulnya malas untuk kutanggap. Karena bahkan tanpa kujawab pun kupikir mahasiswa ambisius ini sudah sangat paham betapa maratonnya aktivitas keseharianku. Di sini…

“Nanti sore ada waktu?” hmm, pertanyaan menyebalkan ini lagi. Sergahku dalam hati.

“Ada apa?” sahutku akhirnya. Jengah.

“Enggak. Cuma kita sudah lama tidak….” kedua jarinya menunjuk kepada dua bola matanya lalu bola mataku.

“Oooh. Wow… romantisnya!” cibirku. Satir.

Dia menertawaiku. Salah satu kapabilitasnya untuk membalik kenyataan. Ngeri.

Ya, memang begitu. Seperti tak ada waktu bagi kami untuk berdamai. Sekadar bercengkrama atau saling bertatap lama. Apa dia berharap aku merindukannya bercerita, bersaing teka-teki silang, menyaksikan pertandingan debatnya di kelas MKDU Bahasa Indonesia, atau bahkan mengacak-acak konsentrasi bacanya di ruang perpustakaan dengan tes-tes kokologi saat kebetulan kami bertemu di kampus pendidikan paling bergengsi ini? Tidak mungkin. Takkan kuberikan secuil pun kerinduan atau bahkan perhatian buat mahasiswa menyebalkan itu. Aku menjadi sangat bersyukur karena pekerjaan menjadi dosen di kampus ini cukup menyita waktu kesendirianku dan memberangus kebersamaan kami. Meskipun ya, kami masih berada pada atap universitas yang sama. Aku yang seorang dosen muda, sementara ia adalah mahasiswa tingkat akhir yang dari dulu tak lulus mata kuliahku.

***

“Hai… sini!” volume suara gentle-nya tiba-tiba merakit rasa terkejut di dalam sini. Hati.

Timbre bicara tetap kuatur senormal mungkin. Dan aku memastikan kalau yang dipanggil memang bukan aku. So, aku tak peduli…

Karena masih terpaku di tempatku berpijak, mahasiswa jurusan Matematika yang bermata jenaka itu itu pun menghampiriku.

“Tempat peralatan tulis. Lihat, sini…” pintanya.

“Berani-beraninya dia!” umpatku dalam hati.

Demi tidak menciptakan suasanan keributan di ruang perpustakaan, tanganku pada akhirnya memang merogoh tas. Ada cepuk etnik berwarna hitam, tempat alat tulis.

“Apa kamu tidak melihat, aku sedang mengajar mahasiswa sekarang? Senang sekali sih, jadi pusat perhatian banyak orang!” bisikku ketus.

Dan benar saja kulihat mesin mata para mahasiswa di perpustakaan kampus ini seolah memindai laku kami berdua.

“Selesai.” tanggapnya girang. “Kamu masih sama, tempat alat tulismu tidak rapi…” ledeknya.

Heeh… Dasar makhluk tak sopan. Dia menyebutku apa tadi? Kamu. Sadar tidak sih, aku ini dosen MKDU-nya.

“Urusi saja pekerjaanmu sendiri.” aku tak kalah menaikkan harga diri setelah merebut cepuk alat tulisku. Selintas lalu berjalan meninggalkannya.

“Dasar keras kepala…” ledeknya padaku. Lalu setrengginas mungkin ia berlari dan kini posisinya sudah menjajari langkahku.

“Masih suka buku-buku klasik? Butuh bantuan untuk mencari?” tawarnya berusaha mengambil kendali atasku.

Thanks. Bisa Ibu cari sendiri genre buku lain yang Ibu suka. Sampai bertemu lain waktu dan urusi saja kuliahmu…” aku mengusirnya sehalus mungkin. Itulah yang bisa kulakukan. Membuat jarak dengan menyebut diriku sendiri‘Ibu’, ya Ibu Dosen…

“Oh ya… Ada sebuket bunga dan coklat di meja kerjamu. Dari aku. Selamat usia perak.”

Aku tersenyum manis sekali dan berjalan mendekat ke arahnya. “Apa kamu tahu apa itu cinta bertepuk sebelah tangan?” tantangku kemudian.

“Entahlah.” Paparnya cuek seraya mengendikkan bahu.

“Ya, kayak kamu sekarang. Setiap hari kamu mengejar-ngejar Ibu, memberi perhatian berlebihan pada Ibu, tapi Ibunya biasa saja gak nanggepin kamu…”

“Ya enggak apa-apa. Terserah Ibu aja itu mah. Yang penting kan perasaan saya ke Ibu.” tegasnya dalam kebulatan tekad.

Oh My God…” aku merasa speechless dan kehabisan bahan bicara sebelum benar-benar mengambil jarak yang jauh darinya.

***

Sudah sejak setahun lalu mahasiswa ahli matematika itu merecoki hidupku. Selalu ada saja inisiatifnya untuk dekat-dekat denganku. Terkadang aku bingung, kenapa sudah kutolak beberapa kali ia tetap ceria, optimis, dan terus memotivasi aku. Dia yang sangat cerdas, tapi tak pernah lulus ujian mata kuliahku. Dia yang selalu baik dan perhatian menghampiriku saat kuliah. Dia yang tak tahu kompromi. Menawariku untuk bisa membantunya ini itu. Memaksaku agar mau menerimanya menjadi bodyguard-ku. Melarangku makan malam agar tak semakin menambah berat badan. Menasihatiku agar tidak menjadi perempuan kepala batu. Mengingatkan untuk selalu memakai manset panjang di kedua pergelangan tangan. Membelikanku makan siang. Membuat beberapa kali humor agar aku mau berkunjung ke rumahnya pada hari Minggu, bertemu sang ibu.

Dan hari ini. Dunia kampus serasa dilarung muram. Suasana kelas perkuliahan tak sehidup biasanya. Dia yang biasanya berkarakter seimbang, kini diam seribu bahasa. Aku? Bahkan sudah nyaris tiga hari aku sengaja mendiamkannya. Sama sekali tak berkeinginan memandang wajahnya atau bahkan memanggil daftar presensi namanya, kecuali dengan sangat terpaksa. Dan itu amat memukul jiwanya.

Aku toh terpukul oleh sikap impulsif dan posesifnya. Saat itu ujug-ujug dia mengusap kepalaku yang dibalut kerudung selebar ini. Hanya gara-gara dia merasa cemburu aku menerima konsultasi semantik dari mahasiswa lain.

“Tuuut…” tiba-tiba bunyi asing terdengar di ruang perkuliahaan. Disambut bau busuk. Kentut. Kontan seisi kelas gaduh, saling tuduh. Seseorang terbirit-birit sembari mengucap maaf ke arahku. Keluar ruangan. Meninggalkan rasa puyeng.

“Saya tahu kok, Ibu sebenarnya kangen kan sama saya…” mahasiswa penyuka warna magenta itu berbicara sedikit formal di sampingku. Eneg bercampur geli beradu dalam hatiku.

***

Vadenfah Rerisla adalah nama pena dari Eva Dewi Nurkholifah sejak di bangku madrasah aliyah. Penulis yang akrab disebut sebagai Bidadari Bermata Jeli ini akan genap berusia 27 tahun pada 22 Juni 2015 mendatang. Aktivitas keseharian penulis saat ini adalah mengajar Bahasa Indonesia, Bengkel Sastra, dan Tahsin-Tahfizh di SMPIT/SMAIT Mentari Ilmu Karawang. Untuk memenuhi curious yang sangat tinggi, penulis paling suka jajan buku,  jalan-jalan hunting ide, ikut serta seminar pendidikan, dan menulis cerita-cerita fiksi. Buku perdana penulis yang berjudul “Skandal Cinta Kelas Bahasa” telah diterbitkan oleh Leutikaprio Yogyakarta, tahun 2012 lalu. Puisinya yang berjudul “Sebuah Oh’ dinyatakan sebagai Juara I dalam lomba tulis puisi Hardiknas. Kunjungi FB/twitter/instagram Vadenfah Rerisla, atau bisa juga di blog vadenfahrerisla.wordpress.com/vadenfahrerisla.tumblr.com untuk lebih dekat dengan penulis.

 

Guilin: Antara Takjub dan Malu

 

prayer_2014_02_07-850x707.jpg

Tahu bukit-bukit yang acapkali didaki Pho dan kawan-kawan pada film Kungfu Panda? Sudah tak sabar rasanya menyaksikan bukti-bukit melayang indah sebagaimana selalu dikisahkan dalam film Kungfu panda itu, juga dalam bentangan pertempuran film Avatar, dan gambaran perbukitan pada puisi-puisi klasik China.

Inilah aku sekarang, berdiri di ruang lobi Bandara negeri Hongkong. Aku tak sempat merasakan jetlag atau mabuk udara oleh gencatan desingan mesin pesawat. Aku yang semalaman tak bisa sekejap pun menganyam bulu mata sebab amat bahagianya untuk mengunjungi tujuan utama kami di negeri bambu, China. Maka Hongkong ini adalah transit perjalanan udara kami untuk selanjutnya menuju ke Guilin. Mewujudkan harapan itu.

Satu jam lagi penerbangan kami akan dilakukan. Maklum, jam terbang pesawat kami harus delay. Kabut menebal dan cuaca yang tidak kunjung istiqomah, kadang mendung kadang cerah. Aah, lamanya… Coba saja lihat, apa yang bisa kulakukan untuk membunuh waktu 3600 detik ini?

“Tenang. Santai. Kita bayangkan begitu tiba di Guilin nanti semua perjuangan menunggu ini akan terbayar oleh pesona Guilin yang indaaaaaaah betul.” suara Pak Pras memecah bisu.

“Beneran lho, asli gak sangka banget Prodi bakal meng-ACC liburan kita ke Guilin ini. Usul Bu Putri nih, keren. Kapan-kapan promote Belanda ya, Put. Biar namamu itu tersegel di sana juga. Gak cuma di China doang…” senggol Bu Vera kepadaku.

Duh, Mbak Vera. Ini kan tugas juga kali…” ralat Bu Rara. “Kita diminta membuat laporan perjalanan dan penelitian inspirasi geologis pembuatan puisi-puisi klasik negeri ini.”

“Waduh, Ibu-ibu… Bapak-bapak, kira-kira nanti dari Guilin itu apa ya yang bisa kita boyong buat pelajaran abadi di tanah air kita sana? Kayaknya, terlalu mainstream deh ya, kalau kita cuma punya dokumentasi foto-foto, belanja pernak-pernik, atau sekadar memenuhi tugas penelitian doang…” sekonyong-konyong Pak Sastro memberondong isi pembicaraan.

Otomatis pertanyaan sekaligus penyataan diplomatik Pak Sastro itu menyeret pemikiran kami secara mendalam. Bahkan, Bu Rara yang tadinya meralat pun sekarang sudah move on ekspresi. Yang awalnya cemberut, kini menjadi mengerutkan kening. Oke fix transfer pikiran ini berhasil memutihkan suasana.

***

Lima belas menit sebelum keberangkatan.

Kami masih mencatat target masing-masing di dalam Android kami tanpa saling memberi tahu satu sama lain. Kami hanya menulis dan menulis banyak target.

Hingga ada seseorang yang menawari aku kotak teh kemasan.

“Ooh, terima kasih. Mohon maaf karena saya sedang puasa…” tolakku dengan bahasa Inggris sesantun mungkin.

Lelaki berbadan tinggi itu tampak tak mengerti penolakan halusku. Ia masih mengangsurkan teh kemasan itu kepadaku.

Suasana mendadak sedemikian tegang.

“Makasih, Brur.” ujar Bu Vera mengambil kendali suasana. Dia memakai bahasa Inggris gaulnya. Diambilnya kemasan yang diangsurkan lelaki tinggi itu lalu dicekalkan pada salah satu tanganku.

Sesegera mungkin Bu Vera pamit pada lelaki itu dan buru-buru menggandeng koperku untuk membantu.

“Ayo, pesawat kita sudah mau berangkat…” aku merasa seperti orang linglung. Karena… yaa, gak ngerti aja. Kenapa tuh orang mesti maksa  aku buat menerima tehnya.

***

90 menit kemudian. Sesaat sebelum mendarat.

Aku buka tas kecil bawaanku. Android-ku mengeluarkan suara Canopus. Tanda khusus kalau ada pesan WA yang masuk.

“Hati-hati. Selamat menikmati perjalanan ke Guilin. Minum air yang cukup. -Putra Kuswendra-

Sontak saja aku kaget. Ini kan kiriman WA dari calon suamiku. Tahu darimana dia aku mau ke China?

Bingung aku mau jawab apalagi, kecuali terima kasih. Kumasukkan kembali smart phone ke dalam tas. Tanpa sengaja, tanganku menyenggol kemasan teh.

Upz. Ya ampuun!” pekikku.

“Kenapa?” tanya Bu Vera heran.

“Teh ini sewaktu di bandara Hongkong tadi… Ini dari calon suamiku, Bu. Itu Mas Putra yang pernah aku ceritakan. Dia memang tugasnya di Hongkong. Aduuh, tengsin banget aku. Gak kenal dia sama sekali lagi…” terangku sembari tersipu. Sumpeh… sumpeh. Aku maluu.

“Lah kok bisa gak kenal, sih?” Bu Vera tampak merasa janggal dengan penjelasanku.

“Aku tuh ketemu cuma sekali-kalinya, Bu. Dan itu tiga bulan lalu. Singkat banget! Pas proses ta’aruf doang. Kami juga baru kali ini saling berkirim pesan…”

“Ooh. Dijodohkan tho maksudmu?”

“Iya.”

“Parah juga ya memori kamu… “ aku semakin tak kuasa menahan malu. Bagaimana ya kalau aku bertemu dengannya nanti?

***

Ternyata, bayangan-bayangan indah itu betul adanya. Panorama Guilin yang dibelah sungai indah dengan gugusan bukit dan gunung-gunung itu tampak menjulang. Dan lihatlah itu, pemandangan setiap gunung serta bebukitan yang terjejer bagai piramid tajam, mereka dibalur lumut dan tumbuhan liar berwarna hijau.

Saatnya menuju tempat seperti terowongan serta goa-goa… Hoho, di dalamnya lebih memukau kalbu. Di mana keberadaan stalagtit dan stalagnit terhampar indah. Kristal-kristal bebatuan dengan pesona yang penuh warna.

“Wooow! Here I am.” ketakjuban yang berhasil membabat segerumbul malu akibat tak mengenali calon suami sendiri. Tadi.

***

Vadenfah Rerisla adalah nama pena dari Eva Dewi Nurkholifah sejak di bangku madrasah aliyah. Penulis yang akrab disebut sebagai Bidadari Bermata Jeli ini akan genap berusia 27 tahun pada 22 Juni 2015 mendatang. Aktivitas keseharian penulis saat ini adalah mengajar Bahasa Indonesia, Bengkel Sastra, dan Tahsin-Tahfizh di SMPIT/SMAIT Mentari Ilmu Karawang. Untuk memenuhi curious yang sangat tinggi, penulis paling suka jajan buku,  jalan-jalan hunting ide, ikut serta seminar pendidikan, dan menulis cerita-cerita fiksi. Buku perdana penulis yang berjudul “Skandal Cinta Kelas Bahasa” telah diterbitkan oleh Leutikaprio Yogyakarta, tahun 2012 lalu. Puisinya yang berjudul “Sebuah Oh’ dinyatakan sebagai Juara I dalam lomba tulis puisi Hardiknas 2015. Kunjungi FB/twitter/instagram Vadenfah Rerisla, atau bisa juga di blog vadenfahrerisla.wordpress.com/vadenfahrerisla.tumblr.com untuk lebih dekat dengan penulis.

 

Paket Misterius

 

satu

Aish! Hari yang melelahkan. Seharusnya, aku sudah pulang menggunakan Yamaha pribadiku dan sekarang aku masih harus melewati lift kantor jurusan.

Jreg! Jreg! Jreg! Seketika lift yang aku tumpangi tak berjalan, macet, dan berhenti di lantai II.

Ouh… Ada apa ini? Apa yang terjadi? Aku merasakan panik dalam hati. Kutekan tombol keluar agar pintu lift terbuka. Berkali-kali… satu… dua.. tiga…

“Halo, seseorang!” teriakku sambil menggedor-gedor pintu lift. “Bantu saya, tolooong…”

Dug. Dug. Dug. Aku masih berusaha menggedor dan berteriak dari dalam untuk mencari bantuan.

Haaah. Waktu di arloji biru metalikku sudah menunjukkan pukul 16.45. Hopeless. Aku mengobrak-abrik isi Oriflame bag-ku. Ya Allah, android mati pula. Aaah, habislah aku! Berapa lama aku akan bertahan terkurung di sini?  Sampai magrib? Larut malam? Besok pagi?

Aku masih menggedor-gedor pintu lift dan separuh badanku mulai menggelosor di lantai lift.

Dug! Dug! Dug!

“Ada orang di dalam?” tanya seseorang.

Dug! Dug! Dug! “Saya… Ada saya, Pak… terjebak di dalam sini…” balasku sekuat mungkin.

“Sabar ya. Kami sedang berusaha membuka dan memperbaiki lift ini. Rusak. Semoga Anda bisa bertahan di dalam…”

Rusaak! Ya Tuhan…

Shruut! Akhirnya terbuka juga. Seorang satpam, OB, beberapa mahasiswa jurusan Bahasa Asing, dan pegawai TU jurusan tampak memelasi keadaanku. Aku masih belum beranjak dari TKP. Memandangi pintu lift yang terbuka dan meyayangkan kok bisa-bisanya aku terjebak di dalamnya. Setelah menanti 10 menit perbaikan lift dan ini berarti tepat sudah 45 menit aku terkurung di dalam lift menyebalkan itu.

Setelah menyaksikan permintaan maaf mereka berkali-kali, aku pun tak mau kehilangan kesempatan berbicara.

“Lain kali seharusnya jika ketahuan rusak dari tadi siang, diberi plang atau notice keterangan bahwa lift ini memang sedang dalam perbaikan deh, Pak…” mereka mengangguk penuh penyesalan dan aku pun bergegas menggunakan tangga untuk menuju ke lantai 4.

“Wah, Bu… Darimana saja kamu? Itu ada Green Packet menunggu dari tadi.” Kerling Bu Citra kepadaku

“Ooh… Tadi ada insiden kecil jadi terjebak di lift.” jelasku.

“Apa? Terjebak di lift? Hahaha. Kasihan sekali. Aku juga pernah lho merasakannya. Gimana rasanya, asyik dan mendebarkan, bukan?” aku mengendikkan bahu sekaligus berusaha mendeteksi maksud respon yang diberikan Bu Citra.

“Satu cobaan Allah datangkan–ya anggaplah terjebak di lift itu begitu—tapi Allah datangkan pula nikmat yang lain, kan? Buktinya, mendadak dapat kiriman Green Packet ini.” wajahnya tersenyum amat cerah.

“Thanks.”

“Nah… sekarang ayo buka paketmu itu. Aku penasaran deh, siapa pengirimnya. Hampir dua tahun di sini, kamu selalu mendapatkan paket misterius.” tangannya membimbingku untuk menyentuh Green Packet yang dimaksud.

“Tahun lalu kan Blue Packet. Kan, sudah lihat sendiri isinya beberapa novel best seller dari Tereliye…”

Sreet. Aku robek sampul hijau paket itu dengan cekatan. Kepo deh, isinya berat banget!

“Aaapeel?” kejut Bu Citrasasmi.

Tuk! Aku menyentil dahi terdepannya. “Ini buah persik, tahu. Memang bentuknya agak sama seperti apel, tapi sensasi rasanya beda. Lebih enak ini. Mau coba sekarang?”

“Hei, tunggu. Cari dulu pengirimnya. Jangan-jangan kayak di cerita-cerita detektif, buah persik ini mengandung racun.”

Ckckck. Aku geleng-geleng kepala. Kayaknya Dosen Bahasa Indonesia yang satu ini kebanyakan baca cerita dongeng zaman dulu, deh.

Aku mengangkat dus pada lapis kedua paket ini, karena di dalamnya terdapat 2 dus. Tergeletak di bagian dasar paket itu, sepucuk surat. Green letter.

Dear Hollanda Putri Preludia,

Sudah sampai di tanganmukah paket ini? Selamat mencicipi sensasi lezat Persik Hongaria ini! Tahukah kamu? orang Cina yang mempopulerkan persik ini memiliki kepercayaan kuno bahwa buah ini adalah simbol persahabatan dan kehidupan abadi. Terlepas dari apa pun dasar kepercayaan itu, aku juga memaksudkannya sebagai titipan Ibu sepulang liburan dari Hongaria bersamaku. Makan segera buah persik ini karena di dalamnya tersimpan belasan manfaat bagi kesehatanmu. Aku rasa kamu perlu melakukan diet. Karena profile terakhir yang kau unggah di instagram dan FB menunjukkan betapa chubby pipimu. Persik ini sangat cocok untuk itu. Kau tahu, buah ini rendah kalori dan tanpa lemak. Jangan sesekali memancing orang lain untuk gemas mencubiti pipi tembammu. Hahha. Hindarilah perasaan stres dan tertekan. Nah, makanlah buah ini. Persik ini terkenal sebagai “Buah Penenang” di Hongaria. –Secret Admired-

“Yaah! Apa katanya? Pipimu tembam? Berani-beraninya orang ini. Haha…”  sama dengan si pengirim Green Letter, setelah protes toh Bu Citra juga menertawaiku.

Cekrek!

Tiba-tiba blitz jepretan kamera DSLR memotret laku kami.

“Siapa di situ?” aku sempat menatap kejut kedua layar mata yang empunya kamera.

Dia langsung lari tunggang langgang. Aku dan Bu Citra lantas mengejarnya. Tapi kami hanya sempat mengejar sampai turun tangga ke lantai tiga. Lift diplang tahap perbaikan.

Anehnya, selintas tadi aku seperti mengenal si yang empunya mata, tapi siapa? Lelaki berperawakan tinggi. Pakaian serba gelap. Wajahnya tertutupi cadar seperti guru Kakashi dalam kartun Naruto. Mungkinkah ia seorang paparazi atau pengirim paket misterius? ***

 

***

Vadenfah Rerisla adalah nama pena dari Eva Dewi Nurkholifah sejak di bangku madrasah aliyah. Penulis yang akrab disebut sebagai Bidadari Bermata Jeli ini akan genap berusia 27 tahun pada 22 Juni 2015 mendatang. Aktivitas keseharian penulis saat ini adalah mengajar Bahasa Indonesia, Bengkel Sastra, dan Tahsin-Tahfizh di SMPIT/SMAIT Mentari Ilmu Karawang. Untuk memenuhi curious yang sangat tinggi, penulis paling suka jajan buku,  jalan-jalan hunting ide, ikut serta seminar pendidikan, dan menulis cerita-cerita fiksi. Buku perdana penulis yang berjudul “Skandal Cinta Kelas Bahasa” telah diterbitkan oleh Leutikaprio Yogyakarta, tahun 2012 lalu. Puisinya yang berjudul “Sebuah Oh’ dinyatakan sebagai Juara I dalam lomba tulis puisi Hardiknas. Kunjungi FB/twitter/instagram Vadenfah Rerisla, atau bisa juga di blog vadenfahrerisla.wordpress.com/vadenfahrerisla.tumblr.com untuk lebih dekat dengan penulis.

 

 

SERUMPUN BAMBU KENCANA UNGU

🌾🌳🌾🌳🌾🌳🌾🌳🌾🌳
“Sst, di tempat itu kamu bisa prosotan, mendengar Putri Bung menyanyi buat bayi, mencium wangi yang hmm, haruuum.” Suara itu diaturnya membisik pelan dan magis.

Hari ini seharusnya ia mengunjungi hutan bayur bersama teman-teman SD dari sebelah rumah. Berkeliling setiap pohon bayur rendah, mencari dua atau tiga potong daun muda, dan menikmati jeruk pasar manis yang suka rontok di hutan. Tapi ia urung. Rasa penasaran dan penuh ingin tahu membuktikan ucapan itu. Ucapan dari teman SD-nya sendiri. SDN 1 Kelaten.

Ya, ada dua area sekolah dasar di kampungnya ini. Pertama, gedung SDN 2 Kelaten yang terletak persis samping rumahnya yang hanyan terpisah oleh belahan bantaran sungai Sidorejo. Sekolah ini tempat para kebanyakan anak orang kaya, suka kemewahan, modernisitas, cewek-ceweknya centil, cowok-cowok Pahabung asli yang ‘ganas’ bahasanya, dan kurang ramah. Kedua, gedung SDN 1 Kelaten yang menjadi tempat orang-orang susah bersekolah, siswanya gigih, rajin belajar, masih tradisional, dan kerap jadi juara umum di tingkat mana-mana. Tempat sekolahnya dan sekolah di samping rumahnya hanya di batasi oleh lebar lapangan kampung yang biasa digunakan untuk pelaksanaan salat Idul Fitri. Luas lapangannya bisa menampung seluruh penduduk 5 bahkan sampai 6 kampung.

Sebenarnya tidak hanya letak geografis dan psikologis para siswanya yang berbeda, namun jenis naturalisme pasokan tanaman yang tumbuh dari kedua sekolah pun berbeda. Sekolah dasar persis di samping rumahnya banyak ditanami pohon kakao merah dan hijau. Sementara, sekolah SD-nya sendiri tumbuh pohon beringin, albasiah, alkasia, mlanding, pohon pisang, ubi jalar, singkong, dan terhampar sawah hijau yang luas di bagian timur sekolah.

Dan di sinilah ia sekarang. Masih di sekitar area timur sekolah. Tempat ini banyak tumbuh serumpun bambu hijau, tinggi, rimbun, dan teduh. Kali kecil berair jernih yang suaranya bergemericik mengalir dalam alunan damai. Sebatang pohon kencana ungu yang tinggi, dan tanah sekitar itu berkarpet daun-daun bambu kering berwarna coklat, kuning, atau abu-abu.

Ditungguinya suara tangisan Putri Bung yang katanya cantik jelita besuara merdu. Tapi yang keluar hanya induk kucing yang sedang melalui masa nifas karena sepertinya baru saja melahirkan 6 ekor kucing. Dihirupnya aroma kembang kencana wungu yang tengah mekar dan dipungutinya kelopak-kelopak berwarna ungu itu dalam setangkup telapak tangan.
“Hatchii!” Bukannya merasa nikmat mencumbui wangi, hidungnya malah sepertinya lebih tepat merasa alergi. “Ha-hatchii! Hatchh-chi!”
Diusap-usapnya pelan-pelan hidung mancung itu dengan ujung-ujung jemari. Tentu saja setelah, setangkup kelopak mung kencana wungu ia buang, berhamburan di atas karpet daun-daun bambu kering yang berserakan.

Ia lalu bernyanyi-nyanyi sendiri di bawah pohon bambu. Berkeliling, berputar-putar kecil, dan aah, menyebalkan. Ia lantas terdiam. Pikirnya lebih baik pulang saja daripada tak menemukan apa-apa. Tak ada Putri Bung yang menyanyi, tak ada lagu yang menidurkan bayi, yang ada malah cuma bayi-bayi kucing. Sial…

Ia pun memutuskan untuk memanjat dinding tangga dari undak-undakan tanah. Kembali ke atas dataran. Karena tempat yang dkunjungi kali ini berada di bawah, hampir bisa disebut jurang kecil. Terdengar bunyi berkerasak di balik rimbunan bambu. Hilang begitu ia tengok. Saat ia naik satu undakan tanah lagi. Terdengar bunyi kerasak lagi. Lebih keras dari yang tadi. Ia turun beberapa tangga. Hilang suara. Ia berhenti. Setelah celingak-celinguk tak ada apa-apa. Deg. Deg. Deg. Jantungnya memburu. Ada yang aneh ini, batinnya. Ia sedikit gemetar menaiki undakan lagi. Berkerasak lagi. Semakin kencang. Kencang. Kencang. Terdengar lebjh dekat.
“Whhaaaaaaaaaak!!!” Teriaknya kaget. Penuh ketakutan melihat makluk melata bersisik tebal itu matanya melotot ke arahnya, membuat kakinya terus menghentak undak-undakan tanah.
“Mbaaah! Mbaaaah!” Panggilnya keras-keras pada kakek-nenek yang sedang menyemprot pupuk di sawah dan mencabuti tumbuhan genjer, begitu ia sampai ke tanah bagian atas. Kakek nenek yang dimaksud menoleh kaget. Kok, ada bocah kecil dari bawah jurang sih? Pikir mereka. “Mbaah, cepat panggil Bapaak, Mbah! Ada trenggiling. Gede, Mbaaah! Tangkap, Mbaah…” Terangnya kemudian masih terengah-engah.
Yang disebut Mbah langsung meninggalkan pekerjaannya. Kakek meletakkan tangki semprot, berlari ke arahnya. Nenek langsung berlari ke sekolah. Setelahnya akan menyeberang lapangan, SD samping rumahnya, sungai, dan ke rumahnya. Bertemu Bapaknya, sang penakluk trenggiling.

***To Be Continued***
“Sang Penakluk”

‪#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOORChallenge17‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬

g

PAYUNG DEWI PELANGI

🌂☔🌂☔🌂☔🌂☔🌂
Mentari terbit di ufuk timur, menjelmakan sirobok resah di celah-celah pohonan jati samping rumah. Angin fajar dusun menyisir sumilir, sebentar pelan sebentar tergesa. Menggebah-gebah dedaunan teh-tehan yang keempat pohonnya berdiri kokoh dengan 2 bentuk runcing segitiga ala-ala cemara dan 2 bentuk bulan setengah purnama. Pohon itu ditanam sejak awal tahun 1992. Tentu saja di pertengahan tahun 1995 ini teh-tehannya sudah berjuntai bunga-bunga wangi berwarna ungu dan putih dengan biji-biji kuning cerah nan cantik. Kembang-kembang beugonia berwarna merah muda rontok, jatuh kebawah menghiasi area sekitar batang pohonnya. Bunga asoka dalam barisan warna orange, putih, merah, dan pink terlihat membasah, sisa-sisa tetesan embun masih meninggalkan jejak di keempat kelopaknya yang mungil-mungil itu. Di sisi kiri depan rumah, tampak mayang-mayang kelapa gugur, mengotori permadani asli halaman rumah yang terbuat dari suket Jepang. Terlihat seorang ibu berkulit kunkng langsat memboyong sapu lidi, serok besar dari daun kayu jati lebar berwarna kuning kecoklatan, dan seember teko bekas untuk menyiram kembang setaman.
“Air panasnya tolong nanti diangkat ya Pak, kalau udah mendidih.” Pesannya melongok ke dalam rumah berukuran sederhana itu.

Ciiiiit! Jeees! Tak lama, dari arah dapur terdengar bunyi cerek air panas yang terutup rapat di atas bara api tungku kayu. Air mendidih. Suaranya berdenyar dalam getar tekanan 95-100°C. Asap air panas yang dibawa di atas pucuk moncong cerek berpusar-pusar nanar. Bapak yang sedang memenuhi berember-ember air untuk mandi anaknya dan untuk membantu mencuci meringankan tugas istri pun beralih fokus.

Dipontalkan tali katrol timba, dan whuuut bersuara menyentak laju timba saat itu terjadi. Diangkatnya cerek air panas mendidih, diisinya termos untuk menjaga suhu panas air mendidih jika sewaktu-waktu ada tamu berkunjung hendak dibuatkan teh atau kopi, dipenuhinya poci besi bercorak vintage dalam balutan warna hijau putih. Hendak mengambil lap kain, karena tangkai pegangan poci berbahan besi itu panasnya menyengat telapak tangan. Tiba-tiba…
“Awwwwwh!” anak perempuannya mengaduh dengan posisi badan terperosok menggelosor di lantai depan sumur, dekat tempat pencucian piring.
Innalillah! Masya Allah, Naak!” Bapaknya yang baru kembali mengambil lap kontan berlari bersamaan dengan sang ibu yang telah membanting ember hitam khusus penyiram tanaman. Menuju Annisa Puspa Wulaning Syafi’i yang mengaduh dalam tangis. Setengah tubuhnya memerah lebam terguyur tumpahan air panas. Saat tadi bapaknya lengah belum menutup teko poci berbahan besi, entah kenapa Puspa, bocah kelas dua SD itu, usai melepas baju hendak mandi berniat melompati sebaris cerek, teko poci, dan termos di pelataran sumur.

Dengan tergopoh-gopoh, Puspa dibopong bapaknya yang telah berurai air mata. Dipakaikan baju seadanya, hendak dibawa lari ke pak mantri yang jaraknya cukup jauh, sekitar dua kilometer dari rumah. Beruntung pakde, kakak kedua ibunya, muncul dengan menaiki motor vespa yang kebetulan mesti lewat di depan rumahnya jika akan mengunjungi kampung neneknya, mengambil hasil cangkokan dari batang sawo tua.
***
Bertemu di rumah pak mantri.
Pak Anjar, mengusap-usap kepala bocah kelas dua SD itu miris. Kasihan… Anak sekecil ini harus menderita kerusakan kulit begini, batin sang mantri.
“Pak, anak saya bakal cepet sembuh, kan? Kulitnya bisa normal lagi kan, Pak? Gak ada bekasnya kan, Pak. Anak gadis saya.” Cecar bapaknya sesenggukan dalam tangis penuh sesal.
“Tenang saja. Sabar ya, Nduk…” Ujar Pak Anjar, pak mantri itu, sembari meyuntikkan antibioti kedalam pantat Puspa. “Insya Allah, dua bulan lagi juga sembuh,” Imbuh Pak Anjar sembari menjentik kecil hidung mancung Puspa.
“2 bulan?” Bapak sudah terpukul, makin terjungkal lagi perasaannya.
Sungguh malang nasib anaknya ini, pikirnya.

Saat hendak dipeluknya, bapaknya mengurungkan niat. Dia lalu sontak mencekal lengan, pundak, dan melihat paha, serta kaki kiri anak gadisnya dengan tatapan bingung, sedih, kasihan, dan marah pada diri sendiri. Kini kulit-kulit pada bagian tubuh anaknya yang dicekal tadi sudah melepuh berwarna putih merah, menggembungkan air dari balik selaput kulit yang tampak setipis membran, dan sudah ia ketahui bahwa jikalau pecah maka bau anyirnya akan sangat luar biasa.
“Ini tablet buat diminum rutin 3x sehari setelah makan.” Jelas Pak Anjar seraya mengangsurkan kertas bercap izin praktiknya, kertas kantong kecil itu berisi pil tablet besar-besar, bubuk amphysilin, dan lain-lain.
“Terima kasih, Pak.” Sahut Bapak santun. Sudah bisa menguasai diri sehingga tak sepanik tadi.
“Sampai di rumah, baiknya jangan pakai baju. Tidur jangan langsung di kasur. Ndak nanti lukanya mlecet. Terus pecah, nyeri. Alasi pakai sesuatu yang teksturnya licin-lincin buat kulit aja.” Pak Anjar tampak menghelas nafas panjang sesaat. “Yo, nunggu dua bulan, bener-bener sembuh. Dua mingguan lagi paling luka melepuhnya kempes. Terus tinggal nunggu pengeringan, sembuh total. Nanti baru mbok olesi masker tumbukan jagung muda, biar cacat lukanya memudar. Nanti kapan-kapan tak tengok anakmu ke rumah.”
Bapak mengangguk. Setelah membayar pengobatan, bersalaman, baru kemudian pamit.
***
Berhari-hari makannya disuapi. Makan tak terasa enak sama sekali. Makannya pun mulai berkurang porsi. Tak bisa sesemangat biasanya. Pelupuk matanya berurai air mata. Kantung matanya bengkak, menahan sakit. Tangisnya jatuh tanpa suara. Ia anak yang sangat bawel, ceriwis, dan energik ketika sehat.

Tapi saat begini? Tak bisa ia merengek manja, bagaimana mungkin dia anak orang tak berpunya… Meski tubuh kecilnya yang ringkih nyeri setengah badan, tak kuasa bangun. Tidurnya hanya bisa beralaskan plastik putih bening di atas kasur kapuk padat yang kalau ditiduri justru membuat sakit badan–saking padat dan kerasnya kasur murah buatan tangan kedua orang tuanya sendiri.

Tentang alas tidur daruratnya… Kadangkali, untuk menjaga tetap bersih dari anyir air luka lepuhan yang pecah dari gesekan kulit, sewaktu-waktu bapak-ibunya akan mengganti alas tidurnya dengan selembar pelepah daun pisang yang dipangkas dari kebun di pekarangan belakang.

Hari ini nafsu makannya libas. Belum ada secuil makanan pun yang masuk. Bahkan biskuit bala-bala jadul pemberian pemberian neneknya, yang bundar-bundar besar dan selama ini selalu jadi rebutan ia dan adiknya pun sama sekali tak berhasil mampir di mulutnya. Susu Bendera coklat yang diseduh dengan air hangat, sebagai kiriman besuk dari pakdenya juga hanya ditanggapi dengan gelengan kepala. Jadi sudah setengah harian ini lambungnya kosong.
“Kamu mau maem apa, Nduk?” Tanya sang ibu penuh welas asih.
“Enggak.” Kepalanya menggeleng lemah.
“Bubur kacang ijo, ya?” Tawar ibunya masih tak menyerah. Ia tahu, ibunya akan dapat itu di mana? Kemana? Beli pakai apa? Maka ia pun menggeleng lagi.
“SUN? Anggur? Jeruk? Apel merah ini. Ini dari pakdemu.” Gigih usaha ibu sembari membelah apel membentuk sabit bulan. Meski buah-buahan mahal yang sangat enak ini tak pernah kebeli oleh ibunya, nihil nafsu makan masih dirasanya. Ia tetap menggeleng lemah.
“Biat cepet sehat Nak, cepet kering lukanya. Bisa ikut ngaji di masjid lagi sama teman-teman.”

Kata-kata ibunya menggantung di bawah saraf pendengaran. Berebutan untuk disimak bersama tumpahan kristal dari langit yang melebur jadi air hujan deras tanpa nyana. Ibunya tampak bangkit menyerukan ingatannya sendiri pada jemuran pakaian di pekarangan samping rumah. Sementara ia, sudah memejamkan mata. Bayangannya telah menari-nari bersama payung dambaan hati yang dijanjikan Tuhan.
“Aisyah! Aisyah!” Sapa seseorang saat tubuh kurus tinggi, bercaping anyaman mendong emas, dengan rambut digelung anggun itu masuk rumah sembari menggaungkan nama ibunya. Pakaian kebayanya yang bercorak kembang ceprok merah besar, keproh, sedikit kuyup. Nenek bersuara cempreng dan ramah itu tampaknya kehujanan di luar. Ia lantas masuk ke kamar tempat cucu jauhnya, terbaring menanggung sakit. Mengelus-elus kepala si cucu.
“Oalah Ngger-Ngger, nasibmu kok apik temen…” Kata-katanya sungguh berlainan dengan keadaan yang kini dialami si cucu.
“Loh, Mbok Sum? Kok ndak ngabari kalau mau kesini?” Sapa ibunya sambil mencium takzim tangan Mbah Sum.
“Lho ya wong sekalian lewat seko Pendowo e. Mumpung bubar dagang, tak ketemu puthu wedok.” Sebaris senyum tersampir dari wajah tua Mbok Sum itu, adik dari nenek ibunya.
“Oalah. Yo wis, tak buatkan minuman dulu. Teh nopo kopi, Mbok?”
“Alaah, yo teh noh! Kok, ndadak repot.” Timpalnya, merasa senang karena dihormati.

Ibunya berjalan menuju dapur. Mencatut sesendok teh Bung, menambahi satu setengah sendok gula putih, menuang air panas kedalam gelas besi gendut bercorak vintage, berwarna ungu sulur kembang terong. Setelah diaduk-aduk, dibawanya segelas minuman itu dengan nampan. Disuguhkan pada Mbok Sum, di meja dekat pembaringan si cucu.

“Puus… Puspa!” Setelah menyeruput sedikit teh hangat, suara Mbah Sum disambung dengan menggoyang-goyang dipan kayu, ranjang tempat si cucu, Puspa terbaring. “Kamu ndak mau bangun ketemu Mbah toh, Pus? Iki loh Mbah Sum bawain kamu oleh-oleh banyak. Anggur merah, jeruk Bali, Apel, sama Payung Dewi Pelangi.” Goda Mbah Sum kemudian.

Tiga kata terakhir ucapan Mbah Sum seolah-olah bergetar menjadi berkali-kali kata di telinganya. Payung Dewi Pelangi. Payung Dewi Pelangi. Payung Dewi Pelangi.

Demi mendengar sebutan Payung Dewi Pelangi yang seolah-olah memanggilnya, suara itu akhirnya mengetuk alam bawah sadarnya juga. Serta-merta ia tergeragap bangun dan kedua matanya terjaga.
“Mana Payung Dewi Pelangiku, Mbah? Payung cantikku…” Mbah Sum dan ibunya saling bersitatap aneh. Lantas mengambil payung yang dimaksud di karung dagangan.

Payung berwarna-warni tujuh pelangi yang besar dan masih terbungkus plastik putih bening baru itu diberikan padanya. Dipandangi dengan tatapan dalam, dipeluk, dan diciumnya berulang-ulang sambil bulir matanya merepih dalam tetes-tetes keharuan. “Terima kasih payungnya, Ya Allah. Bapak… Benar kata Bapak, Engkau baik sekali…” Ia seperti tengah berbicara pada bapaknya. Padahal, sedang berbicara sendiri.

Payung Dewi Pelanginya. Payung dambaan hati, buah harapan dari meminjamkan jambu brongsongannya untuk membahagiakan teman-temannya selama beberapa bulan ini.

Payung barunya yang indah. Bukankah Allah, Tuhan Yang Maha Menepati janji? Dikembalikan-Nya sesuatu yang telah dipinjamkan hamba-Nya. Payung itu, ya Payung Dewi Pelangi itu dihadiahkan-Nya melalui Mbah Sum, untuk turut menjadi saksi bahagia di masa hari-hari penyembuhan setengah tubuhnya yang melepuh tersiram air mendidih.

‪#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOORChallenge16‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬
Payung_Modis_di_Waktu_Hujan4

TENTANG GADIS PENCARI KUTU

Gadis ini orang kampung. Semenjak SD darah bisnis sudah mulai mengaliri nadinya. Ia terpaksa harus pandai membaca keadaan keluarga, tetangga, dan masyarakat saat itu… Untuk mendapatkan tambahan uang jajan karena memang terlahir dari keluarga tak mampu.

Hal yang paling ngetrend dan meruyak di kalangan anak-anak kecil seusianya saat itu adalah kemunculan genderuwo, si Buto Ijo, bahkan Vampir. Mungkin karena efek film layarbtancap Suzana atau film Hongkong jadul. Banyak fenomena anak-anak hilang yang konon kabarnya disinyalir sebagai tumbal pembuatan jembatan pembatas daerah Lorkali. Jembatan pembatas Lorkali ini menjadi tanda bahwa kira-kira hanya sampai situlah tempat ini dihuni banyak manusia.

Oya, Ada yang tahu dari nama Lorkali itu maksudnya apa? Ini adalah semacam hutan bergerumbul yang tak berpenghuni rumah manusia, tempat penduduk kampungnya dan beberapa kampung tetangga bertanam jagung serta sejenisnya, dan tempat untuk mencapainya keluarganya harus selalu menyeberangi derasnya air sungai yang dalamnya kira-kira setinggi bahu orang dewasa. Allah yang Mahatahu sehingga menjadikan anak-anak seusia kelas tiga bahkan sampai kelas 6 SD atau SMP hanya bisa kesana saat air sungai menyurut, kira-kira setinggi ketiak bocah-bocah.

Oleh karena berita menggemparkan mengenai jembatan berdarah itu, ia selalu tak nyaman jika harus melewati jembatan kayu hutan, jembatan rotan, atau jembatan gantung, dan semacamnya. Karena yang terbayang adalah pembunuhan rekan-rekan seusianya. Maka dari itu, ia tak pernah sanggup untuk setiap kali diajak ke ladang nun jauh di antah berantah itu. Ia akan kleyengan karena panas, kadangkali pingsan, tak ceria, dan lantas murung setiap kali ditanya. Dan itu tidak sekali dua kali, tetapi terjadi berkali-kali. Dia baru akan senang kalau diminta berburu buah-buahan (waktu itu banyak tumbuh buah nanas, mangga pakel/limus dan arum manis, jambu batu, buah salam, loba-lobi, buni, dan anggur dawet), memetik bebungaan hutan, atau menyate singkong bakar. Tapi dia akan lantas kembali merasa resah dan bersalah saat diganggu sekawanan kalanggrang dan menjadi berang hingga dengan tanpa sadar menyatai kalanggrang itu dengan serta-merta di atas bara panas. Baru kemudian menangis karena telah merasa begitu tega pada makhluk-Nya.

Lantas kemudian, ia tak pernah mau lagi ikut ke ladang hutan karena semakin dirasa semakin sedih pula hatinya saat setiap hari merekam betapa kurus, lelah, dan pontang-pantingya orang tua menghidupi kehidupan keluarganya. Dengan pergi dari pukul 05.30 pagi, membawa bekal makan dan peralatan salat yang harus disunggi di atas kepala dengan satu tangan sebab tangan satunya digunakan kedua orangtuanya untuk saling bergandengan menyeberangi sungai dalam, setelah kemudian pulang lekas-lekas hingga sampai rumah pada pukul setengah enam petang.

Hidup yang amat keras.

Hidup yang amat keras itu membuatnya tak setiap hari mendapat uang jajan. Hingga kala itu seratus perak harus digunakannya untuk biaya jajan selama 4 hari sekolah. Sebab untuk makan keluarganya saja–gaji PNS bapaknya–hanya sanggup untuk makan telur sebulan dua kali yang digoreng tebal dengan campuran tepung terigu dan sengaja diberikan banyak garam agar bisa dibuat lauk makan hingga siang hari.
Protein hewani seperti ayam, daging kambing/kerbau/sapi, dan ikan laut hanya didapat dari punjungan hajatan tetangga atau oleh-oleh hasil kenduri karena bapaknya diundang sebagai pemanjat doa. Iwak Pe alias ikan layang lebar hanya baru bisa keluarganya nikmati sebulan atau dua bulan sekali. Itu pun jika jualan terong, sawi, dan bayam yang keluarganya tanam di halaman depan dan belakang rumah terpanen dengan sangat baik.

Maka bapaknya yang seorang guru agama itu bekerja semakin keras, dibantu ibunya yang sangat taat beribadah sehingga kerap didapati keduanya setiap malam berlama-lama menangis dalam sujud sepertiga malam. Ia pun tak kalah bersusah-payah saat menanti pulang orang tuanya di rumah. Ia memasak, menimba, memenuhi berbak-bak air untuk mandi orang tuanya, mencuci piring, mengucak baju-baju kotor, membersihkan penjuru rumah, menyiram bebungaan kesayangan ibunya, menyiapkan makan malam, dan menuntaskan hal-hal lain yang sudah harus beres agar kedua orang tuanya senang hati meskipun sangat lelah setelah seharian penuh bekerja di ladang Lorkali. Dan itu sudah rutin dilakukannya semenjak kelas 4 SD.

Beritanya sebagai anak SD yang harus matang, gigih, dan menjalani hidup dalam disiplin dan kesahajaan hidup yang sangat keras ini terdengar oleh segenap tiga penjuru, dari tiga kampung tetangga. Sehingga tetangga-tetangganya mengasihi keluarganya dengan mengirimkan jantung pisang, buah gori nangka muda, kluih, labu sayur hijau nan panjang, dan buah labu hallowen berwarna kuning.

Allah yang Maha Pengasih, memberikan keluarganya hadiah yang sangat baik juga untuk pemenuhan kebutuhan protein keluarganya dengan mendatangkan segerombol lebah madu yang bersembunyi, membangun benteng sarang lebah, dan beranak-pinak sangat banyak di belakang lemari baju dan perabot yang mendepis di samping kanan pintu belakang rumah. Istana penangkaran lebah madu itu dipanen keluarganya kadang seminggu sekali, kadang sebulan sekali. Cangkang putih tempat madunya diperas dalam beberapa botol bekas limun, setelahnya beberapa cangkang disayur santan pedas, lebahnya digoreng atau dibotok dengan campuran bumbu kelapa muda berbungkus daun pisang untuk kemudian dipanggang sebagi lauk makan berhari-hari.

Menghadapi hal itu, ia yang amat menyukai opak telo, lontong sayur, dan kemplang memutuskan untuk mencari tambahan uang jajan. Setiap pagi saat musim jambu tiba, ia berkeliling memunguti jambu tetangga Nasraninya yang jatuh tergelepak di atas tanah dan sudah dihalalkan.

Berhari-hari hingga genap satu minggu didapatkannya sekantung dua kantung jambu air itu untuk dijual pada beberapa teman. 4 jambu air putih atau jambu air hijau semu untuk 25 perak. Namun, dipekan kedua ibunya mengetahui tindakannya. Dengan menangis sang ibu menasihati untuk jangan meminta-minta atau mengambil jambu tetangga seperti pengemis. Harta punya sendiri dari keringat sendiri itu lebih baik daripada meminta-minta belas kasih pada tetangga. Maka ia menangis, dibuangnyalah dua keresek jambu air jualannya itu ke sebuah aliran sungai di samping rumah. Dan mulai mencari-cari, ia harus kerja apa untuk bisa menghasilkan uang yang banyak. Tak membebani kedua orang tua dalam hal uang saku hariannya. Ya, begitulah pikiran anak-anak yang dididik untuk kuat dan tangguh menanggung keperihan hidup…

Siangnya, rezeki Allah yang tak diduga-duga itu datang lewat permintaan seorang ibu kaya di kampung yang memiliki banyak harta, membangun warung, rumahnya luas, namun tak pernah bisa menikmati tidur siang digeleber-geleber angin kampung. Ia pun diminta untuk ‘petan’, membelai-belai rambut kepala ibu itu dan mencari-cari sesuatu yang mengganggu di kepalanya.

Dengan lihai ditemukannya beberapa rambut putih yang berdasarkan pesanan si empunya mesti dicabuti, mengambil rambut-rambut pendek tebal dan agak keriting yang sangat menentramkan kalau dicabut karena adanya selama ini membuat gatal kepala menjadi terasa menjadi tiada tara.

Dari situlah, ia memulai jejak bisnisnya ditambah kemahiran mencari, menangkap, dan memitas kutu-kutu kepala. Menemukan lisa yang menjepit di area terdekat dengan akar rambut, mencari lisa yang berada di antara ribuan helai rambut panjang orang dewasa, dan membunuh kor merah (anak kutu rambut) yang selalu membuat gatal kepala terasa luar biasa.

Ia seorang anak cadel yang bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah sebesar 50, 100, 200, 500 atau jika sedang sangat banyak pesanan bisa sampai 1.200 perak. Dan itu terhitung pendapatan yang lumayan besar bagi seorang anak SD di kisaran tahun 1996-1998. Sementara anak-anak lainnya masih asyik bermain teplek wayang, adu jangkrik atau kinjeng capung, bermain undur-undur, melempar kelereng, bermain tingtong bongkar pasang, dipunji di atas leher bapak masing-masing, atau pasar-pasaran ala anak kecil perempuan.

Ya, orang tuanya memang berbeda. Ia pun dari kecil sudah dididik keras dengan cara berbeda sehingga tak heran jikalau tampak pulalah ia sebagai anak yang berbeda.
“Suatu saat kamu akan jadi orang besar, Nduk. Yang bisa memuliakan keluargamu, menyantuni semua orang yang ada di sekelilingmu.”

Dan itulah ia. Betapa ia sangat senang karena akan bisa membeli sepeda untuknya memudahkan pergi kemana-kemana. Dengan uang kerja kerasnya sebagai gadis pencari kutu.
‪#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOORChallenge13‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬

prayer_2014_02_07-850x707

Rindu Kata-kata

Dan pada hamparan baris-baris puisi nurani
Terketuklah segala ingin yang membuncah dalam pikir
Saat kedua lensa mata terbuai oleh nyanyian rindu kata-kata
Yang tertuang dalam segala isi buku
Segala cemas dan resahku yang tak berbilang
Seketika menghilang
Tenggelam
Hingga rajutan bibir ini terdiam
Saat laku dudukku ditegur satpam
‪#‎DOORChallenge12‬
‪#‎GramediaMatraman‬
‪#‎JakartaMyBookFair

blackrose

JIKA SAJA DIA…

Suasana di luar Jozen Kaatje Cafe hanya terdapat beberapa gelintir orang yang tengah lalu lalang. Bumi Netherland diselubungi rerintik salju. Menatapi satu per satu bulir putih salju yang jatuh itu, ada keinginan besar yang melonjak-lonjak dalam dadaku yang semakin kencang berdebar. Hanya Tuhan yang paling tahu apa dilema yang bertasbih dalam hatiku.

Bagaimana ini? Aku dan dirinya berada dalam satu ruangan yang sama, hanya berdua saja. Hatiku tampak kebat-kebit. Kurapatkan mantel berbahan polar tebal dengan corak ungu gelap itu di badanku. Kuhentakkan burai rambut coklatku yang panjangnya sudah melebihi batas pinggang. Dari balik kaca, di samping tempatku duduk, kuamati lamat-lamat ia tampak menatap sekilas ke arahku. Lalu kembali menenggelamkan tatapnya dalam buku. Menekuri tarian kata-kata yang berbaris rapi di situ.

Dia seorang arsitek muda yang dingin, sama sekali tak bermurah hati pada perempuan, dan kaku seperti tak memiliki sentuhan perasaan bernama kasih sayang. Aku selalu keki dibuatnya. Takut tak dianggap dan selalu tak yakin untuk memulai percakapan lebih dulu. Entahlah, aku memilih untuk tak terlalu memusingkan keadaan terjepit seperti ini. Tapi lama-kelamaan ini toh menggangguku juga.
“Nona Muda, pesananan Gile Great-mu datang.” Sapa seorang waitress sembari mengangsurkan segelas minuman paduan sari ginger, lemon, dan green tea. Memungkasi pagar lamunanku.
“Aaah, iya. Terima kasih.” Aku menyambutnya dengan mengalihkan kepala yang sedari awal kuatur miring ke arah jendela menjadi mengarah pada sirobok matanya. Sang waitress kembali menyuguhkanku senyuman dalam.

Kutambahkan sepotong dadu gula—sengaja hanya sepotong, aku suka sensasi rasa segar ginger, asam lemon, dan sepatnya green tea—lalu kuaduk-aduk ringan segelas pesananku itu sebelum kunikmati. Tentu saja, kepalaku ikut merunduk saat melakukannya. Sang waitress masih di dekatku, belum juga beranjak dari tempatku duduk. Dia lantas mengambil kursi, mengatur arah duduknya berhadapan denganku. Mencuri pandang pada wajahku sekilas.
“Tampaknya ada yang mengganggu kenyamanan hatimu, Nona? Apa kau baik-baik saja?” tanya sang waitress tampak khawatir atau jangan-jangan hanya sekadar ingin tahu. Aku kembali mendapatinya dengan wajahku yang sedikit menyimpan kejut.
“Tidak. Tidak. Aku baik-baik saja.” Aah, sial. Kenapa saat mengatakannya aku malah menatap ke arah lain? Saat di mana kedua lensa matanya bersitatap langsung dengan kedua layar pandangku. Sorot mata dengan tanda tanya yang begitu besar.

Waitress itu seakan paham dan berusaha menghargai privasiku. Meskipun belum mendapat jawaban yang memuaskan, dia kemudian kembali ke bilik kitchen room-nya yang terbuka pada bagian depan. Kudengar samar-samar, rekan kerjanya menanyainya kenapa wajahnya tampak berkerut begitu. Dikatakannya bahwa hatinya turut sedikit khawatir akan keadaanku.

Diberi setangkai mawar berwarna merah darah di hadapan sahabat-sahabatmu beberapa hari lalu itu rasanya seperti melayang. Perlakuan seperti itu akan membuat kata-katamu bersembunyi di balik tercekatnya tenggorokkan, dada berdebur kencang, dan dont know what to do. Ada bongkah-bongkah rasa yang meruah penuh dalam jiwa. Meski sederhana, selalu terasa istimewa saat hadirmu dianggap begitu berharga olehnya. Namun, saat bertemu berdua begini, kau seolah-olah orang asing di hadapannya? Kau akan sedikit kesal, menahan gurat-gurat kecewa yang meskipun kecil, dan di dalam hati akan uring-uringan sendiri. Saking bingungnya apa hal terbaik yang mesti kau laku.

Haruskah aku menyapanya duluan? Memanggilnya? Menyebut namanya? Dan…
“Mau membaca buku astronomi bersamaku?” tawarnya kemudian.
“Boleh. “ Deg… Deg… Deg… Ya Tuhan. Hatiku berdebur semakin riang. Matanya kembali menarik persetujuanku.
“Buku apa yang kau suka?” Diangkatnya kemudian tubuh tinggi itu dari kursi duduk. Lantas mengambil tempat duduk di depanku, ah bukan… setelah di dekatku, ia memilih untuk duduk di sampingku.

Oh Tuhan. Hati ini sudah mau lepas kiranya. Syukurlah dia tidak jadi duduk di depanku. Aku akan kehilangan konsentrasi membaca, akan lebih gugup kalau didadapatinya dengan jelas rona wajah ini memerah, akan terus-terusan terpesona kalau wajahnya searah pukul 12 denganku.
“Pemandangan di luar kelihatan sangat indah ya dari jendela ini. Pantas dari tadi betah menatapi jendela.” Wajahnya mengukir senyum jenaka. Nyengir kuda.
“Begitulah.” Sahutku agak malu. Rupanya ulahku ketahuan. Mati aku.
Dibukanya buku Astronomi Pole itu. Saat bertemu pada halaman yang berpapar tentang Andromeda, ditunjukkannya buku itu kepadaku. “Jelaskan padaku tentang sejarah andromeda.” Telunjuknya menunjuk-nunjuk materi yang dimaksud. “Kudengar ayahmu seorang astronom terkenal di negeri ini? Tidak mudah rasanya buatku untuk memahami hal ini sendirian…” Candanya kemudian.
“Ah, kau bercanda, Mister Arsitek. Sepertinya kau tengah mengujiku?” Balasku. Kukatakan ini dengan ringan karena hampir sebagian besar desain ruang atau bangunan yang diciptakannya kerap berbau hal-hal astronomi. Aku tahu itu, aku selalu mengamati perkembangannya. Stalker setia web desainnya.

Selanjutnya, ia menunjukkan scetch book yang penuh berisi desain rancangan arsitekturnya. Ada kilau hijau, biru cerah, pink, ungu, dan putih yang akan menjadi corak warna-warni dinding ruangan pada sebuah rumah.
“Rumah buat siapa, sih?” Tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Rumah?” Sergahnya halus, seraya menggelengkan kepala. “Ini kafe, kok. Kafe Jozen Kaatje tiga tahun lagi.” Aku mau tak mau terperangah. Terus kenapa ditunjukkan kepadaku?

Dijelaskannya bahwa betapa ingin rasanya kafe terfavorit dekat Keukenhof Park ini menjadi tempat istirahat yang nyaman, rujukan utama orang-orang untuk mencari inspirasi, tempat menuang segala kenangan lewat sajian makanan dan minumannya yang terkesan klasik, sederhana, dan terus akan membuat rindu.
Kuantar segala pemaparan mimpi itu dengan sebaris senyuman bangga. Rupanya, aku disukai oleh seseorang yang dari luar tampak sederhana, sangat kaku, namun di dalam hatinya sangat hangat begini. Saat kemudian kutanya apakah mewujudkan Jozen Kaatje Cafe menjadi seindah rancangan arsitekturnya itu pasti akan membuatnya bahagia?
“Tentu saja. Kafe ini kan punyaku.“ Jawabnya sembari membelai lembut kepalaku. Jawaban yang begitu mencengangkan hati dan perasaanku.
“Jadi? Kafe ini? Buku-buku itu? Kamu?” Berondongku dalam pertanyaan yang seakan-akan tak pernah habis untuk dilontarkan.

Dia tampak tertawa. Penuh suka ria. Dan baris-baris mutiara putih itu membuatku bersalawat. Betapa, karisma apa adanya dari orang satu ini sungguh membuatku tertawan.
***
Kuberikan buku-buku astronomi itu kepada siapa pun yang dengan sengaja memintaku. Kupecahkan botol kaca yang di dalamnya tertulis puluhan mimpi kami berdua. Kubuang kotak-kotak hadiah penuh barisan love berwarna bebungaan musim semi itu di dalam bak sampah depan rumah. Kubakari surat-surat cinta kami di dalam kobaran api yang menyala-nyala. Dalam nyanyian isak tangis dan derasnya dawai air mata.

Hanya dua saja yang masih tertinggal. Satu, lukisan bungan teratai dengan banyak ikan koi putih berpalet orange muda kemerah-merahan yang sedang asyik berenang kesana-kemari. Lukisan kenangan berukuran 2 x 1 meter itu itu masih bertengger rapi di dinding ruang tamu, ayahku sangat menyukainya. Dua, sketsa seorang gadis muda tersenyum anggun dan manis saat berdiri di samping seorang lelaki yang tengah asyik menabur rancangan gedung-gedung tinggi, yang tergambar pada tampak muka kaos panjang putih. Kaos itu pun masih tersimpan rapi di dalam lemari baju, kakak perempuanku memintaku menyimpannya untuk keponakanku.

Apa memang begini rasanya ditinggalkan mantan? Seminggu. Sebulan. Setahun. Dua tahun. Tiga tahun. Hatiku masih memiliki perasaan yang sama, luka. Luka lama itu akan seperti digariti cuka saat beberapa hari lalu dari kepulangannya, aku bisa dari jauh menatap wajahnya yang kini justru semakin tampan ketika kami tak lagi bersama.

Mengerikan.

Dan batinmu akan semakin tercekik lebih mengerikan tatkala begitu ingin kau datang ke kafe indah miliknya, tapi takut disangka dalam hatimu ini masih berseliweran namanya.

Bukankah di depan beranda kafe itu juga engkau dilupakan? Dia pergi, pamit pada semua orang. Menitip pesan singkat pada sahabat-sahabatmu, pada karyawan-karyawannya, tapi tak satupun yang ia tinggalkan sebagai kenangan manis terakhir untukmu. Bahkan saat kau hubungi lewat SMS, undelivered. Kau telfon, tak aktif. Kau WA, kau hidupkan surel, semua line medsosnya off. Pedih, bukan? Kepergiannya terlalu halus, sekaligus terlalu menyakitkan.

Dia. Aah, dia memang selalu terlihat cuek, tapi penuh perhatian. Dan kau yang terlihat perhatian, tapi sebenarnya begitu cuek. Hubungan kalian itu terlalu membingungkan, tahu. Dan kau ingin kembali kesini? Untuk sekadar mengenang? Kau sungguh… Hei, kau perempuan. Kau tahu kata itu, bukan? Yang dengannya, kau harus pandai-pandai menjaga harga diri. Protes keras ini membetot-betot dalam hati. Tapi aku sudah tak tahan. Sampai kapan aku akan dihantui kenangan demi kenangan yang terus berkejaran di labirin otak kanan? Sampai kapan…

Sampai di sini aku berdiri bersiap menghadap pintu yang terbuka, dibukakan oleh waitress kafe dari dalam ruangan. Kutarik nafas dalam-dalam. Bersiap bertemu atau tak bertemu siapa pun yang aku kenal. Kubenahi letak sisi jilbab biru safirku saat kedua tatapku bersirobok dengan langkah-langkah seseorang. Pipiku hanya bisa mengukir senyum sekilas saat dia melambai ke arahku.

Aku memilih duduk di tempat yang sama dengan beberapa tahun lalu. Di tempat terpojok, paling dekat pada sisi jendela kaca. Hanya bedanya kini adalah musim semi. Semoga musim ini berpengaruh baik untuk hatiku. Semoga Tuhan menambahkan kebersihan dan kemurnian di dalam jiwa, seperti nama tempat ini: Jozen Kaatje Cafe.
“Mau membaca buku ini bersamaku?” Tawarnya kemudian saat mengambil tempat duduk searah jam dua belas denganku. Bibirku masih lumpuh kata. Terlalu terkejut dengan keberaniannya.
“Boleh. Kau suka buku apa?” Sial. Kenapa saat mengatakannya aku malah menatap ke arah lain? Dia jadi mengikuti arah pandangku. Serta-merta langsung mengambil langkah duduk di sampingku.

Di luar jendela, tampak berdiri sesosok lelaki berperawakan gagah, manis, dan tinggi. Saat di mana kedua lensa matanya bersitatap langsung dengan kedua layar pandangku, sorot bahagia memancar sempurna pada bola matanya yang berwarna hijau zamrud. Diukirnya tulisan semu di kaca dengan jari telunjuknya.

Titip sebentar ya. I miss you.

Aah, mantan! Ingin rasanya aku menjitak orang itu jika posisinya berada dalam jangkuangku. Sayangnya…
“Tante, aku mau diceritakan yang ini…” pintanya manja sembari menunjuk-nunjuk materi bacaan berjudul Andromeda. “Rasanya aku kesulitan deh, untuk memahami bacaan ini sendirian.”
Aku nginyem. Menggerutu dalam hati. Merasa greget, seolah diambrukkan kembali dalam kejadian kebersamaan masa lalu.

Ooh, Tuhan. Sebetulnya, bukan orangnya yang kadang-kadang suka susah membuat move on. Melainkan kenangan-kenangan kecil seperti ini. Kenapa sih susah sekali berdamai dengan kenangan yang sebelumnya sempat indah dirasakan? Semoga ini ikatan terakhir dari sebuah perusahaan hati yang bernama perasaan. Ya, semoga.

*****Ini, nyebelin ih ngebuat tulisan kayak gini. Lama banget selesainya, banyangin aja dari pukul 11.00-15.41 WIB. Susahnya amit-amit ya kalau gak memiliki pengalaman real mah.****

#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOORChallenge9‬
‪#‎MultiPotmagneticWriter‬

BG

WINTER MURAJA’AH

Maka aku mendatangi masjid besar itu. Tempat di mana aku merasa paling nyaman untuk menghafal pelajaran Biologi atau tahfizh qur’an, selain di belakang kandang ayam yang telah dialihfungsikan sebagai tempat mojokku dalam belajar.

Dan di antara sekian tempat yang luas dalam masjid jami’ Islamic Center, aku paling nyaman memilih tempat di balik hijab hijau tua yang tebal dan tentu saja sangat lebar, sebagai pertanda batas antara jama’ah laki-laki dan perempuan. Di masjid inilah aku pertama kali bertemu dengannya. Menyapai punggungnya dari jauh yang selalu saja terlihat tanpa sengaja.
Bahkan kali ini pun… Punggung tegapnya tetap khusyu merunduk. Melakukan murajaah pada ayat-ayat suci Al-Qur’an, tepatnya juz 27. Surat yang tengah dilantunkannya adalah surat An-Najm. Barisan bintang-bintang. Aku sangat menyukai bunyi surat ini. Aku selalu jatuh hati pada gugusan bintang. Sinarnya kemerlap sederhana menyinari kegelapan malam.

Aku seketika dibuat merinding. Merasa bergidik sendiri, dengan getar halus yang berdesir di dalam hati. Bibirku begitu erat merapal istighfar. Aku merasa sangat berdosa, datang ketempat ini untuk malah secara tak sengaja mengotori hati. Sebab apa? Telah kuhafal pula surat itu. Malah baru kemarin kusetorkan pada ukhti mudabbirah. Dan aku semakin merasa malu pada diriku sendiri, pada Tuhan. Betapa halus tipu daya setan melemparkan aku pada perasaan seperti ini. Apalagi, saat di pikiran ini melayang-layang pada awal surat juz 29, surat Al-Mulk ayat 5. Yang di dalamnya dikatakan bahwa sebenarnya Allah telah menjadikan bintang-bintang itu sebagai senjata untuk melempari setan.

Bergeragaplah hatiku untuk segera mundur dari tempat ini. Menjauh, sejauh-jauhnya untuk menolong hatiku yang sudah dibuai angan-angan duniawi. Besok, besok, dan besoknya lagi aku tak pernah belajar di masjid ini seorang diri, kecuali bersama barisan teman-teman atau para muslimah mualaf untuk mengikuti kajian bulanan.

Karena aku yakin tak ada seorang pun yang bisa menolong kemurnian hatiku jika bukan aku sendiri. Tak kuceritakan risau ini pada siapa-siapa, sebab keluhan hanya akan menambah deret permasalahan. Sementara target hafalanku yang masih 20 juz lagi harus segera aku rampungkan.
***

Miniatur besar bertulis ‘I AMSTERDAM’ menyambut hadirku. Hembusan angin winter menderai-deraikan syal biru tebal yang tengah aku kenakan. Aku mengenakan winter coat tebal sepanjang mata kaki yang berwarna blue lagoon, sepatu tebal anti ceblok salju, dan kupluk klasik berbahan bulu domba halus yang kusarangkan di atas kepala. Penutup hijab panjang pashminaku. Tanganku menggenggam erat sarung tangan yang telah dengan rapat menutupi keseluruhan jemari dan tanganku. Hari ini dingin sekali. Aku buru-buru menuju tempat yang kumaksudkan untuk kutandangi.

Seminggu lagi, aku akan mengikuti ujian hafizhah untuk 30 juzku. Seminggu itu seolah masih lama karena berbilang tujuh hari, tapi rasanya akan begitu cepat terlalui. Sehingga kembali ke sinilah aku sekarang. Dengan kekuatan hati yang lebih berani. Dengan semangat kuat dan tekad baja. Ooh, sudah begitu lama kiranya diri ini tak merasai tempat indah ini. Masjid Jami’ di Islamic Center Amsterdam City.

Tidakkah aku takut untuk bertemu seseorang yang dulu sempat mengobrak-abrik hati? Tidak. Karena aku sudah lupa seperti apa saat itu, tidak lagi berfokus akan hal itu, dan begitu yakin kalau lelaki yang dulu itu tidak akan datang atau bahkan berada di sini.
“Akhi bla…bla…bla… Lulus seleksi jadi dokter di Rumah Sakit Palestina, loh! Keren ya. Dia jihadkan ilmu dan hafalan Al-Qur’annya untuk mengabdi pada tanah darah para syuhada di sana.”
“Hmm. Begitu. Baguslah.” Apresiasiku saat itu.

Dengan tenang, kubolak-balik lembar-lembar murajaahku dari mulai juz 1. Alhamdulillah lancar. Setiap satu juz hanya berkisar antara 20-30 menit. Jadi, dalam waktu dua jam berada di masjid ini aku bisa menyelesaikan muraja’ah sebanyak 4-5 juz. Nanti sisanya bisa dilanjutkan seusai salat fardhu. Aah, kapan lagi, bisa berlama-lama di sini, coba….

Kututup kitab Al-Qur’anku yang sangat muat dikantongi saku itu. Tetap aku masukkan kembali dalam tas ransel berbahan jins yang hendak aku gendong.
“Ukhti, sudah selesai?” Tanya Mister juru rawat masjid.
“Sudah.” Sahutku santun. Kuamati gerak-geriknya seperti hendak bersih-bersih. “Waah, maaf ya kalau sudah membuat menunggu. Mau dibersihkan ya, Mister?” Dia tampak menggeleng seraya tersenyum.
Mister Salim, selanjutnya dia memperkenalkan dirinya demikian kepadaku, mengatakan bahwa sedari tadi ada tiga orang yang tengah menungguku di ruang perpustakaan Masjid Jami’ Islamic Center ini.

Aku beranjak menuju ruang perpustakaan yang dimaksud. Benar, di situ sudah ada seorang perempuan dan dua orang laki-laki. Aku tampak mengernyitkan dahi. Karena yang kuhafal hanya wajah Ukhti mudabbirahku, yakni sang perempuan itu. Sementara, dua lelaki ini? Aku serta-merta mengernyitkan dahi.
“Yang berkulit putih itu suami Ukhti.” Ukhti berbisik kepadaku dengan Bahasa Melayu-Netherlandnya.
Aku lantas tersenyum takzim untuk menyapa sang suami yang dimaksud. Suami Ukhti berarti guruku juga.
“Sudah dapat berapa juz muraja’ahnya?” Sambut suami Ukhti. Mengurai keheningan di antara kami.
“Baru lima juz, Ustad.” Sahutku jujur. Aku bingung mau menyapanya bagaimana agar setara dengan panggilan Ukhti.
“Tadinya kami mau langsung memotong muraja’ahmu di tengah-tengah…” Jelas Ustadz. “Tapi Akhi satu ini sabar sekali. Meminta kami agar menunggumu sampai selesai.” Sambung Ustad lagi sembari tersenyum dan menepuk-nepuk bangga pundak sang lelaki yang terus menunduk dengan senyum sekilas di sebelahnya itu.
“Wah! Gak kebayang kalau saya memutuskan terus lanjut muraja’ah.” Selorohku kemudian.

Lantas kemudian Ukhti mudabbirahku menjelaskan segala sesuatunya. Bla. Bla. Bla. Panjang lebar, sangat sederhana, sekaligus membuat aku agak-agak speechless dibuatnya.

Aku hanya diberi waktu 3 hari untuk istikharah. Semua pemaparan visi-misi hidup tinggal aku baca-baca.
“Lha wong, mumpung Dokter ini sedang liburan. Cuma satu bulan ada di Amsterdamnya. Untuk selanjutnya, bakal kembali ke Palestina…”
“Palestina? Jadi dokter ini?” Aku menimbang-nimbang pemikiranku. Mendekap amplop biodatanya semakin erat.
“Iya. Akhi bla…bla…bla… ini kan sudah 2 tahun bertugas ke Palestina. Jadi dokter di rumah sakit sana. Beritanya heboh loh. Masa kamu gak tahu..” Heboh? Aku tidak tahu? Ya Allah, aku memang benar-benar tidak tahu lagi, perasaan macam apa yang sedang berkejaran dalam hati ini.
“Saya sudah kenal kamu lama. Sering melihatmu belajar di masjid ini. Sejak dua tahun lalu.”
Masha Allah…” Cuma itu. Hanya kalimat agung penuh ketakjuban ini yang bisa aku ucapkan.
“Ibuku memimpikan wajahmu. Berturut-turut selama tiga malam, beberapa bulan lalu.” Paparnya, cukup mengejutkanku. “Ibu lalu menceritakan mimpi itu pada paman kami yang ahli menggambar wajah dan mahir psiognogami. Saat digambar, jadinya terlihat seperti ini…” Sebentar kemudian, dia tampak merogoh sesuatu di dalam black ranselnya.

Saat dikeluarkannya kertas bergambar wajah seorang perempuan berlesung pipi dalam itu, dengan refleks kusentuh wajahku. Aku takjub. Itu aku. Ya Allah… Aku dan dia kan sama sekali tak pernah bersitatap wajah. Hanya menatapi punggung tegapnya dari jauh. Hanya begitu. Tapi kuasa-Mu, sebegitu indah begini. Sampai sedetil begini.
“Saat aku dikirimi Ibu gambar wajah di kertas itu, yang langsung aku pikirkan adalah Mister Karst-jan.” Sebutnya pada Ustad, suami Ukhtiku itu. “Kukirimkan screenshoot picture ini kepada beliau sebulan lalu. Mr.Kaarts-jan meminta istrinya melakukan penyelidikan. Lalu akhirnya, ya begitulah hingga pertemuan ini sekarang.”
Aku memandang wajah Ukhtiku dengan tatapan sangat dalam.
“Aku menyeleksi para mutadabir di sekelilingku. Berdasarkan sifat-sifat dan karakter yang dituturkan ibunya. Aku bahkan langsung berkunjung ke rumahnya untuk secara langsung bertemu sang ibu.”
“Lalu?” Pancingku kemudian.
“Aku hanya yakin dan menemukan kalau karakter yang dimaksud ibunya itu jelas-jelas kamu.” Lontar Ukhti puas. “Lihat saja, nih!” Telunjuknya mengetuk-ngetuk sesuatu yang dekik pada bagian wajah di kertas gambar itu. “Lesung pipi ini kan kamu banget.”
Aku tersipu.

Ya Allah… Mimpi apa aku semalam? Hingga hari ini ujug-ujug aku mendapati orang-orang ini sudah Engkau atur untuk mengatur masa depanku. Mana seminggu lagi ujian tahfizh pula.
“Rabu kan hari pertama Cooling Day. Rencananya mau kemana, nih?”
“Mau muraja’ah saja. Di Masjid Jami’.”
Sahutku riang sekali.

Aah, andai aku tahu apa yang ada di pikiran Ukhti Lesliej saat itu. Sayangnya, beberapa hari lalu, dia sudah merekam dengan baik apa rencanaku, sedangkan aku santai-santai saja membeber tempat tujuanku, tanpa sedikitpun berpikir akan dipertemukan untuk hal ini. Di sini.

***Kalau nulis yang misterius gini, baru suka… Yay, akhirnya bisa buat cerita tentang gambar Winter Muraja’ah
‪#‎VadenfahRerisla‬
‪#‎DOOORChallenge11‬
‪#‎MultiPotMagneticWriter‬

1916997_10203950645285955_6303695817865547887_n.jpg