Memunguti Daun Waru

Waru adalah serpihan bentuk hati yang tercerai.

Saat pohonnya bertumbuh, akan kaudapati dedaunan

terungkai satu-satu, menjadi sebuah bentuk hati,

yang terbentuk dari benih-benih nuranimu yang beradu.

Selalu, usai hujan simpati, daun-daun waru tumbuh di hati.

Serupa pagi yang sempurna hangatnya oleh sinar mentari.

(Daun Waru, Hujan Simpati: Vadenfah Rerisla)

 

Hari ini, sedari pagi hingga malam menjelang, hatinya merasakan sensasi hujan simpati yang manis tercecap di hati. Parasnya mengukir kalimat bahagia. Di sisi lain, dia juga amat malu pada Allah. Sangat malu belum mampu menata hatinya sendiri. Aku sangat yakin akan hal itu. Dia sahabatku sendiri.

“Lucy, mohon doakan sahabatmu ini ya…” ujarnya tiba-tiba. “Tampaknya, sekarang ini benih-benih daun waru makin tumbuh bermekaran di hatiku. Kamu tahu Lucy, sudah enam bulanan ini aku mendapat beasiswa melanjutkan kuliah S2-ku di Australia. Ingat? Seperti bulan-bulan sebelumnya, aku menjalani hari-hariku dengan biasa-biasa saja. Sampai akhirnya…” aku mendengarkan dengan baik apa-apa yang disampaikannya.

Gadis manis sederhana itu merasa harus bercerita semuanya kepadaku bahwa tahap pertama di di depan Fakultas Kejuruan Teknologi dan Desain Grafis dan selama tenggat pengurusan surat-surat tandatangan di KBRI Australia, ia bersama kedua temannya dari Indonesia bertemu kembali dengan sosok yang begitu lekat di memorinya itu. Si Mata Beringin!

Pertemuan yang terjadi secara elegan dan eksotik, katanya.

Sebelumnya, akulah yang bercanda kalau suatu ketika ia akan bertemu tambatan hatinya di sana. Sebab sebelum kepergiannya ke sana dulu, sebelum masing-masing dari kami berpisah, kami sempat melakukan permainan hompimpah. Waktu itu ialah yang mendapati urutan pemenang pertama untuk menikah. Selanjutnya, barulah aku yang keduanya.

Memang, sempat terpikir di otakku bayangan tentang pertemuannya itu. Tapi dengan ‘Si Mata Beringin’ itu? Yaah, dia kan kecengan aku juga, dulunya sewaktu kuliah. Meskipun tak pernah sekalipun aku membahas hal ini kepadanya, juga teman terdekatku yang lain. Ya sudahlah… Lagipula, aku juga tidak yakin akan menjumpai sosok Si Mata Beringin lagi di Indonesia ini. Selanjutnya, kekuatan law of expectation-ku akan kehadiran Si Mata Beringin itu, mungkin berpindah pacunya pada temanku ini. Setelah sekian lama aku melupakannya dari ingatan…

Katanya tadi, sebegitu ia selesai bertandatangan di KBRI sana, lekas-lekaslah ia beranjak dari tempat duduk. Tujuannya hanya satu yakni ia ingin segera keluar dari tempat yang terlalu memesonanya itu. Namun, Allah berkehendak lain. Ketika akan melangkahkan kaki keluar ruangan sambil menundukkan pandangan, ia malah berpapasan tanpa sengaja dengan Si Mata Beringin. Demi Allah, katanya ia sangat terkejut dan ingin sekali menangis sendiri saat itu karena saking malunya. Bahkan lebih terkejut lagi tatkala Si Mata Beringin malah memandanginya lama dengan pandangan lekat-lekat. Dunia sekitarnya seperti slow motion.

Dan tahu apa yang akhirnya terjadi? Si Mata Beringin memberi temanku ini seulas senyum yang sangat bijak, manis, dan meneduhkan hati. Astaghfirullah, aku bingung untuk masuk memberi penjelasan kepada temanku ini mesti bagaimana sebaiknya. Menurutku, seseorang memberikan senyum kepada kita itu kan sebetulnya sesuatu yang biasa-biasa saja… Itu wajar tho! Tidak ada yang spesial.

“Lucy… tanpa bisa kutolak, aku pun malah berbalik membalas senyumnya.” imbuhnya tadi.

Demi Allah, senyum itu aku yakin pasti sangat terkesan malu-malu, perpaduan antara perasaan terkejut, bahagia, dan ingin menjaga hati. Aku tahu seperti apa sebetulnya kebagusan akhlak temanku yang sederhana ini. Sebelum-sebelumnya, hatinya begitu terjaga, kok.

Kira-kira, bagaimana caranya ya, aku bisa membantunya untuk memunguti daun-daun waru di hatinya? Ketika keadaannya tengah bergelora begini dalam cinta?

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s